Bebas di Atas Tanah Sendiri - Erwin Basrin

Breaking

Kamis, 01 Oktober 2026

Bebas di Atas Tanah Sendiri

 


Erwin Basrin


Di Indonesia, kata anarki hampir selalu berarti rusuh. Polisi memakainya untuk demonstrasi yang berujung bentrok. Media memakainya untuk massa yang membakar ban. Saya sering membaca berita yang menyebut warga kampung yang menghadang alat berat di kebunnya sendiri sebagai massa anarkis.


Arti asal kata itu jauh berbeda. Anarki berasal dari bahasa Yunani, an-arkhos, artinya tanpa penguasa. Para pemikir anarkis membayangkan masyarakat yang mengatur dirinya sendiri tanpa negara yang memerintah dari atas dan tanpa segelintir orang yang menguasai tanah dan alat produksi. Mereka tidak membayangkan kekacauan. Mereka membayangkan orang-orang yang saling bantu dan memutuskan urusan bersama secara setara.


Saya tertarik pada satu persinggungan yang jarang kita bahas di sini. Sejak lebih dari seratus tahun lalu, sebagian pemikir anarkis menoleh ke masyarakat adat. Sebagian aktivis adat di Amerika Utara juga menoleh balik ke anarkisme. Pertemuan dua arah itu punya nama: anarko-indigenisme. Pertemuannya tidak selalu mulus, dan justru bagian yang tidak mulus itu yang paling banyak mengajari saya.


Akhir abad ke-19, Peter Kropotkin dan Elisee Reclus mulai menulis tentang masyarakat adat. Keduanya ahli geografi. Keduanya juga anarkis. Mereka melihat banyak masyarakat adat hidup tanpa negara dan tanpa hak milik pribadi atas tanah. Menurut mereka, masyarakat seperti itu sudah menjalankan semacam komunisme dalam keseharian. Tahun 1902 Kropotkin menerbitkan buku tentang tolong-menolong. Ia menentang pembacaan Darwin yang menganggap hidup hanya soal persaingan. Ia menunjukkan bahwa hewan dan manusia bertahan karena saling bantu.


Kalau Kropotkin datang ke kampung-kampung Rejang, saya kira ia akan menemukan banyak contoh. Orang di kampung kami bergiliran membuka ladang, bergiliran menanam, dan bergiliran memanen. Keluarga yang punya hajat tidak menanggung bebannya sendiri. Semua itu berjalan tanpa surat perintah dari kantor mana pun.


Tradisi itu berlanjut sampai sekarang. David Graeber, antropolog yang ikut menggerakkan Occupy Wall Street, banyak menulis tentang masyarakat tanpa negara. John Holloway, yang dekat dengan gerakan Zapatista di Chiapas, Meksiko, menulis tentang mengubah dunia tanpa merebut kekuasaan negara. Lalu tahun 2005, Taiaiake Alfred, pemikir Mohawk dari Kahnawa ke di Kanada, memakai istilah anarko-indigenisme. Ia memakainya untuk menyebut titik temu antara orang adat yang memegang teguh tradisi dan kaum anarkis yang menolak globalisasi korporasi.


Titik temunya tidak sulit dicari. Kaum anarkis menolak negara. Banyak masyarakat adat di Amerika Utara tidak pernah meminta negara datang. Kanada dan Amerika Serikat berdiri di atas tanah yang mereka rampas, sering tanpa perjanjian apa pun. Kaum anarkis menolak kapitalisme. Masyarakat adat berhadapan langsung dengan wajah kapitalisme yang paling kasar: tambang, pipa minyak, pembalakan, dan bendungan.


Di lapangan, keduanya sering berdiri di barisan yang sama. Mereka bersama-sama menolak pipa minyak dan gas, menghadang alat berat, dan menjaga hutan. Tapi kerja sama itu punya catatan buruk. Kaum anarkis juga lahir dari masyarakat pendatang kulit putih. Luka kolonial ikut terbawa, bahkan ke dalam gerakan yang mengaku anti-penguasa.


Gord Hill, seniman dan penulis dari bangsa Kwakwaka'wakw di pesisir barat Kanada, menyebut perbedaan itu dengan terus terang. Ia menilai kaum anarkis cenderung individualis. Banyak dari mereka menjalani gaya hidup yang bagi orang adat terasa ganjil, misalnya mengambil makanan dari tempat sampah atau mengabaikan kebersihan badan. Ia tidak menyebut semua anarkis begitu. Tapi kebiasaan itulah yang paling terlihat oleh orang luar. Banyak aktivis adat akhirnya menganggap anarkis sebagai versi lain dari hippie dan anak punk.


Hill lalu mengutip nasihat seorang tetua. Saat seseorang mulai membersihkan dirinya dari pengaruh kolonial, ia akan menjadi berbeda dari kaumnya. Itu baik. Tapi kalau ia melangkah terlalu jauh, kaumnya akan memandangnya sebagai orang asing. Ia tidak bisa lagi bekerja bersama mereka. Menurut Hill, banyak anarkis sudah sampai di titik itu. Mereka membenci masyarakat tempat mereka berasal dan makin terasing dari masyarakat itu. Aktivis adat bergerak dengan arah sebaliknya. Mereka bekerja dari dalam komunitas dan untuk komunitas.


Bagian ini membuat saya bercermin. Kami yang bekerja mendampingi masyarakat adat juga menghadapi godaan yang sama. Kita membaca banyak teori, ikut banyak pertemuan di kota, dan pulang membawa istilah yang tidak dipakai siapa pun di kampung. Kalau tidak hati-hati, kita menjadi orang asing di tanah yang kita bela.


Clifton Ariwakehte Nicholas berasal dari Kanesatake, komunitas Kanien'kehaka atau Mohawk di Quebec. Tahun 1990 ia ikut dalam peristiwa yang orang kenal sebagai krisis Oka. Pemerintah kota Oka ingin memperluas lapangan golf ke hutan pinus dan pemakaman milik orang Mohawk. Orang Mohawk memblokade jalan. Polisi menyerbu, lalu tentara Kanada datang dan mengepung Kanesatake. Pengepungan itu berlangsung 78 hari, dari Juli sampai akhir September 1990.


Nicholas punya keberatan kepada kaum anarkis yang menurut saya sangat jujur. Banyak anarkis mengkritik pemuda adat yang masuk tentara. Bagi anarkis, tentara adalah alat negara. Nicholas kesal dengan sikap itu. Kaum anarkis bicara soal menolak tunduk pada aturan, tapi mereka menuntut orang lain tunduk pada aturan mereka. Ia merasa anarkis memintanya patuh besar-besaran pada cara hidup yang tidak ia pilih.


Di banyak kampung, menjadi tentara atau polisi adalah salah satu jalan keluar dari kemiskinan. Saya tidak sedang membela militer. Saya hanya melihat bahwa orang kota mudah menilai pilihan orang kampung dengan ukuran yang tidak pernah mereka jalani sendiri.


Kisah yang paling lama tinggal di kepala saya datang dari Freda Huson dan Toghestiy. Keduanya orang Wet'suwet'en di utara British Columbia, Kanada. Toghestiy adalah kepala adat turun-temurun dari klan Likhts'amisyu. Huson adalah juru bicara kamp Unist'ot'en. Sejak 2010 ia tinggal di kamp itu, di atas tanah leluhurnya, menghadang rencana pipa minyak dan gas yang akan melintasi wilayah Wet'suwet'en.


Kamp Unist'ot'en awalnya pos pemeriksaan di jembatan Sungai Morice. Siapa pun yang ingin masuk ke wilayah klan harus meminta izin. Lama-lama kamp itu tumbuh menjadi pusat pemulihan. Orang adat datang untuk berobat dari trauma kolonial dengan cara kembali hidup di tanahnya.


Perusahaan Coastal GasLink ingin membangun pipa gas dari timur laut British Columbia ke pelabuhan Kitimat di pesisir. Para kepala adat turun-temurun Wet'suwet'en tidak pernah memberi izin. Mereka menyatakan wilayah itu milik mereka karena leluhur mereka tinggal di sana jauh sebelum Kanada berdiri, dan mereka tidak pernah menandatangani perjanjian apa pun dengan negara. Perusahaan pergi ke pengadilan dan mendapat perintah agar jalan dikosongkan. Januari 2019, polisi federal Kanada menegakkan perintah itu. Februari 2020, mereka datang lagi dengan pasukan bersenjata. Mereka menangkap Huson bersama saudarinya, Brenda Michell, dan keponakannya, Karla Tait. Saat polisi membacakan perintah pengadilan, para perempuan itu tetap menabuh drum dan bernyanyi dalam lingkaran.


Ada satu detail yang membuat kasus ini dekat dengan kita. Dua puluh dewan adat terpilih di sepanjang jalur pipa sudah menandatangani perjanjian keuntungan dengan perusahaan. Dewan terpilih ini ciptaan hukum Kanada. Negara membentuknya lewat Indian Act untuk menggantikan sistem kepemimpinan asli. Para kepala adat turun-temurun menolak pipa itu. Perusahaan lalu bisa berkata bahwa mereka sudah mendapat persetujuan masyarakat adat. Pertanyaannya, persetujuan dari siapa?


Kami di Rejang mengenal pertanyaan itu dengan baik. Dulu orang Rejang hidup dalam kutei, kesatuan kampung yang mengatur dirinya sendiri dengan adat dan musyawarah. Belanda lalu menata wilayah kami ke dalam marga dan menunjuk pasirah sebagai kepalanya. Marga sendiri bertahan cukup lama dan sempat menjadi wadah adat. Lalu Undang-Undang Pemerintahan Desa tahun 1979 menyeragamkan semua kampung di Indonesia menjadi desa dengan bentuk yang sama. Di Sumatra bagian selatan, termasuk Bengkulu, marga hilang.


Hari ini, ketika perusahaan atau pemerintah butuh persetujuan, mereka mendatangi kepala desa. Kepala desa punya stempel. Ketua adat tidak punya. Saya tidak menganggap setiap kepala desa berkhianat kepada adat. Banyak yang justru membela warganya. Tapi saya melihat pola yang sama dengan Wet'suwet'en. Negara membuat lembaga, lalu memperlakukan tanda tangan lembaga itu sebagai suara masyarakat adat.


Di titik ini saya paham kenapa sebagian aktivis adat di Kanada merasa dekat dengan anarkisme. Mereka tidak sedang membayangkan masyarakat tanpa aturan. Mereka ingin aturan mereka sendiri kembali bekerja, tanpa campur tangan lembaga buatan negara.


Tapi ada peringatan yang juga perlu kita dengar. J. Kehaulani Kauanui, profesor kajian Amerika keturunan Kanaka Maoli atau Hawai'i asli, menilai hubungan antara prinsip anarkis dan tatanan adat secara lebih hati-hati. Tidak semua masyarakat adat setara. Hawai'i sebelum Amerika datang punya kerajaan, bangsawan, dan rakyat biasa. Banyak masyarakat adat lain juga punya pemimpin turun-temurun dan aturan yang membedakan laki-laki dan perempuan.


Peringatan ini penting bagi kita. Adat Rejang juga punya lapisan. Ada keturunan pendiri kampung, ada pendatang. Ada urusan yang hanya boleh diputuskan laki-laki tua. Kalau kita memuja adat sebagai sistem yang sempurna, kita menutup mata dari orang-orang yang suaranya kecil di dalam adat itu sendiri. Perempuan sering berada di barisan itu.


Karena itu saya memperhatikan siapa yang berdiri paling depan di Unist'ot'en. Wet'suwet'en menarik garis keturunan dari pihak ibu. Freda Huson kini memegang nama kepala adat. Saat polisi datang tahun 2020, perempuan-perempuan tua yang menabuh drum di jalan. Mereka tidak menunggu teori anarkis untuk tahu cara melawan.


Ada satu perbedaan lagi yang sering membuat kerja sama retak. Kebanyakan anarkis di Barat sangat sekuler. Bagi mereka, agama sering dianggap alat penguasa untuk menjinakkan rakyat. Bagi banyak masyarakat adat, hubungan dengan tanah justru bersifat spiritual. Veronique Hebert, penulis dan sutradara teater dari bangsa Atikamekw di Wemotaci, Quebec, membahas soal ini cukup panjang. Ia bekerja membuat teater bersama anak-anak muda Atikamekw.


Di kampung kami, orang masih minta izin sebelum membuka hutan. Ada tempat yang tidak boleh orang tebang karena penunggunya. Ada sungai yang punya pantangan. Seorang aktivis kota bisa saja menganggap semua itu takhayul. Tapi bagi warga, pantangan itulah yang selama ini menjaga hutan dan sungai tetap ada. Kalau kita menertawakannya, kita kehilangan alasan terkuat yang warga punya untuk menolak penebangan.


Para aktivis adat di Amerika Utara jarang tertarik pada teori anarkis. Banyak dari mereka bahkan tidak mau memakai label itu. Kaum anarkis justru sering terpesona pada masyarakat adat dan ingin mengajak mereka bergabung. Ketimpangan ini menurut saya adalah inti persoalannya. Yang satu ingin belajar, yang lain sudah lama hidup dengan pengetahuannya sendiri dan tidak butuh nama baru untuk itu.


Dari pengalaman mereka, saya mencatat tiga hal untuk kerja kami di Bengkulu. Pertama, solidaritas berarti datang untuk mendengar, bukan untuk merekrut. Masyarakat adat tidak perlu menjadi anarkis, aktivis lingkungan, atau apa pun yang kita bayangkan. Kedua, kita perlu bertanya siapa yang berhak bicara atas nama kampung, dan tidak berhenti pada siapa yang memegang stempel. Ketiga, kita tidak boleh menutup mata pada ketimpangan di dalam adat, terutama yang menimpa perempuan.


Kembali ke kata anarki. Saya tidak berharap media di negeri ini tiba-tiba memakai kata itu dengan arti aslinya. Tapi saya ingin kita berhenti menyebut warga yang menjaga hutannya sebagai massa anarkis. Mereka tidak sedang membuat kekacauan. Mereka sedang menjalankan aturan yang lebih tua dari negara, di atas tanah yang mereka tempati jauh sebelum ada peta dan izin konsesi. Freda Huson pindah ke kampnya tahun 2010 dan bertahan di sana bertahun-tahun, menghadapi perusahaan, pengadilan, dan polisi. Saya ingin tahu berapa banyak warga di kampung kita yang sanggup bertahan seperti itu, dan siapa yang akan berdiri bersama mereka.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar