Pulau
itu tidak hanya memisahkan manusia dari dunia luar. Ia memisahkan manusia dari
kemungkinan untuk menjadi manusia. Dalam banyak cerita yang dituturkan oleh
tetua Enggano, keterasingan bukan sekadar kondisi geografis, melainkan
pengalaman ontologis yang hidup di ambang antara harapan dan kehampaan.
Dari
Enggano, tradisi lahir bukan sebagai romantisme, tetapi sebagai kebutuhan. Ia
menjadi cara untuk bertahan dari sesuatu yang lebih kejam daripada lapar yaitu
kesepian.
Dan
di dalam kisah-kisah sejarah kelahiran leluhur Enggano, yang diwariskan melalui
ingatan kolektif terdapat satu garis yang terus berulang, meski tidak selalu
disebut secara eksplisit yaitu garis perempuan. Garis ibu. Garis yang tidak
hanya melahirkan manusia, tetapi juga melahirkan dunia sosial itu sendiri.
Dalam
versi kisah yang dituturkan oleh Alfared Kaitora, dua rombongan manusia yang
terdampar di Enggano perlahan-lahan dihancurkan oleh penyakit, oleh alam, oleh
keterbatasan tubuh mereka sendiri. Mereka mati satu per satu, hingga hanya
tersisa dua manusia. Seorang perempuan dan seorang laki-laki. Kisah ini tidak
dimulai dari kelimpahan. Ia dimulai dari kehancuran.
Di
sini, Enggano bukan sekadar ruang hidup. Ia adalah ruang seleksi. Hanya mereka
yang mampu bertahan secara fisik dan psikologis yang tersisa. Namun bahkan
“bertahan” pun menjadi problematis ketika manusia kehilangan yang lain, kehilangan
relasi, kehilangan percakapan, kehilangan pengakuan. Dalam kondisi seperti itu,
manusia tidak hanya berjuang melawan alam. Ia berjuang melawan dirinya sendiri.
Dalam
titik paling sunyi dari kisah itu, muncul tindakan yang berulang yaitu
memecahkan kerang. Tindakan ini, dalam pembacaan pertama, tampak sederhana. Ia
adalah aktivitas mencari makan. Namun dalam lanskap pengalaman yang lebih
dalam, memecahkan kerang adalah praktik eksistensial.
Perempuan
yang hidup sendirian itu memecahkan kerang sambil berharap, berharap bahwa
sesuatu akan muncul. Bahwa ia tidak sendirian. Bahwa dunia belum sepenuhnya
kosong. Ketika laki-laki itu muncul, ia tidak melihatnya sebagai manusia lain
yang kebetulan datang. Ia melihatnya sebagai hasil dari tindakannya sendiri sebagai
sesuatu yang “dilahirkan” dari kerang yang ia pecahkan.
Di
sini, kita menyaksikan sebuah momen penting. Perempuan menjadi subjek
penciptaan. Ia bukan sekadar yang menemukan, tetapi yang “menghasilkan”.
Nama
yang kemudian dilekatkan padanya. Nanipah, ibu yang memecahkan bukan sekadar
penanda identitas. Ia adalah penegasan kosmologis bahwa kehidupan baru dimulai
dari tindakan perempuan.
Jika
kita membaca kisah ini tidak sebagai mitos yang terpisah dari kehidupan sosial,
melainkan sebagai fondasi simbolik, maka kita dapat memahami mengapa masyarakat
Enggano memiliki kecenderungan sistem matrilineal.
Dalam
sistem matrilineal, garis keturunan ditarik melalui perempuan. Identitas,
warisan, dan posisi sosial sering kali ditentukan oleh garis ibu. Ini bukan
sekadar struktur sosial yang “dipilih”, tetapi sesuatu yang berakar pada
ingatan kolektif.
Kisah
Nanipah, perempuan yang bertahan, yang memecahkan, yang memberi makna pada
kehidupan menjadi semacam arketipe. Ia adalah figur asal yang terus hidup dalam
praktik sosial. Dengan kata lain, matrilinealitas di Enggano bukan hanya sistem
kekerabatan. Ia adalah cara komunitas mengingat asal-usulnya.
Dalam
konteks ini, perempuan tidak hanya penting karena fungsi biologisnya, tetapi
karena posisinya sebagai penjaga kontinuitas. Ia adalah jembatan antara masa
lalu dan masa depan. Namun, seperti semua sistem sosial, matrilinealitas juga
tidak bebas dari relasi kuasa. Ia bisa menjadi ruang emansipasi, tetapi juga
bisa menjadi ruang kontrol. Yang penting adalah bagaimana komunitas terus
menegosiasikan makna dari sistem tersebut dalam konteks yang berubah.
Menariknya,
narasi tentang Enggano sebagai “pulau perempuan” tidak hanya muncul dari dalam
komunitas, tetapi juga dari luar.
Dalam
catatan Elio Modigliani melalui bukunya L'isola delle donne, Enggano
digambarkan sebagai semacam “pulau perempuan” sebuah ruang eksotik yang
dipenuhi oleh imajinasi tentang dominasi perempuan.
Namun,
pembacaan seperti ini perlu dilihat secara kritis. Bagi Modigliani, Enggano
adalah objek. Ia adalah sesuatu yang dilihat, diamati, dan ditafsirkan dari
perspektif luar, perspektif kolonial yang sering kali eksotifikasi. Pulau
perempuan dalam narasinya bukanlah refleksi dari realitas sosial yang kompleks,
melainkan konstruksi imajinatif yang memadukan kekaguman dan ketidakpahaman.
Di
sinilah terjadi ketegangan. Di satu sisi, memang ada jejak kuat peran perempuan
dalam kosmologi dan struktur sosial Enggano. Namun di sisi lain, reduksi
Enggano menjadi “pulau perempuan” berisiko menghapus kompleksitas tersebut. Ia
mengubah tradisi menjadi tontonan.
Jika
kita bandingkan antara kisah kosmologis yang hidup dalam komunitas dengan
catatan Modigliani, kita akan melihat dua cara berbeda dalam memahami Enggano. Yang
pertama adalah dari dalam, tradisi sebagai ingatan hidup. Kisah Nanipah bukan
sekadar cerita, tetapi bagian dari cara komunitas memahami dirinya.
Yang
kedua adalah dari luar, tradisi sebagai objek pengetahuan. Dalam perspektif
ini, Enggano menjadi sesuatu yang bisa diklasifikasikan, dijelaskan, dan secara
halus dikontrol.
Perbedaan
ini penting, karena ia menunjukkan bahwa tradisi tidak pernah berdiri sendiri.
Ia selalu berada dalam relasi dengan kekuatan yang lebih besar, kolonialisme,
ilmu pengetahuan, dan modernitas. Dalam banyak kasus, representasi dari luar
justru lebih dominan daripada suara dari dalam. Tradisi yang hidup di komunitas
sering kali kalah oleh narasi yang ditulis dalam buku.
Sekarang
mari kita kembali pada kisah asal-usul, kita melihat bahwa tubuh perempuan
menjadi pusat dari segala sesuatu. Ia adalah yang bertahan, yang berharap, yang
menciptakan.
Namun
tubuh ini juga rentan terhadap interpretasi.Dalam narasi internal, tubuh
perempuan adalah sumber kehidupan. Dalam narasi eksternal, tubuh perempuan
sering kali menjadi objek eksotifikasi.
Ini
menciptakan paradoks. Perempuan dihormati sekaligus direduksi. Dalam konteks
matrilineal, perempuan memiliki posisi penting dalam struktur sosial. Namun
posisi ini tidak otomatis berarti kekuasaan penuh. Ia tetap berada dalam
jaringan relasi yang kompleks dengan laki-laki, dengan adat, dengan negara.
Karena
itu, penting untuk tidak melihat matrilinealitas sebagai sesuatu yang ideal
secara otomatis. Ia perlu terus dibaca secara kritis. Siapa yang diuntungkan?
siapa yang dirugikan? bagaimana ia berubah dalam konteks modern?
Dalam
seluruh lanskap ini, tradisi muncul sebagai sesuatu yang ambivalen. Ia adalah
sumber kekuatan karena ia memungkinkan komunitas bertahan. Ia menyediakan
kerangka untuk memahami dunia, untuk mengatur kehidupan sosial, untuk menjaga
hubungan dengan alam.
Namun
ia juga bisa menjadi ruang pembatasan ketika ia digunakan untuk mempertahankan
struktur yang tidak adil. Dalam konteks Enggano, tradisi tampaknya lebih sering
berfungsi sebagai mekanisme bertahan. Ia menyimpan pengetahuan tentang
bagaimana hidup di pulau yang terisolasi. Ia mengajarkan pentingnya
kebersamaan, karena kesepian adalah ancaman nyata. Ia juga menjadi alat untuk
melawan, melawan penghapusan, melawan marginalisasi, melawan narasi luar yang
mencoba mendefinisikan komunitas dari luar.
Jika
kita menarik satu garis dari seluruh cerita ini, maka garis itu adalah garis
ibu. Garis yang dimulai dari Nanipah, perempuan yang memecahkan kerang dalam
kesepian dan terus berlanjut dalam sistem matrilineal masyarakat Enggano.
Garis
ini bukan hanya tentang keturunan. Ia adalah tentang keberlangsungan. Dalam
dunia yang terus berubah, di mana komunitas-komunitas lokal semakin terdesak
oleh kekuatan global, garis ini menjadi penting. Ia adalah pengingat bahwa kehidupan
tidak hanya ditentukan oleh kekuatan besar, tetapi juga oleh tindakan-tindakan
kecil. Memecahkan kerang, berharap, dan terus hidup, di sinilah makna terdalam
dari tradisi, bukan sebagai sesuatu yang diwariskan begitu saja, tetapi sebagai
sesuatu yang terus diperjuangkan dalam diam dan dalam ingatan. Dan mungkin, di
balik semua itu, ada satu pelajaran yang paling sederhana namun paling mendasar,
bahwa manusia tidak pernah benar-benar bisa hidup sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar