Etnografi Kosmologi, Tubuh, dan Kuasa dalam Tradisi Masyarakat Adat Enggano - Erwin Basrin

Breaking

Recent Posts

 photo Untitled-1_1.jpg

Minggu, 05 April 2026

Etnografi Kosmologi, Tubuh, dan Kuasa dalam Tradisi Masyarakat Adat Enggano

 


Pulau itu tidak hanya memisahkan manusia dari dunia luar. Ia memisahkan manusia dari kemungkinan untuk menjadi manusia. Dalam banyak cerita yang dituturkan oleh tetua Enggano, keterasingan bukan sekadar kondisi geografis, melainkan pengalaman ontologis yang hidup di ambang antara harapan dan kehampaan.

 

Dari Enggano, tradisi lahir bukan sebagai romantisme, tetapi sebagai kebutuhan. Ia menjadi cara untuk bertahan dari sesuatu yang lebih kejam daripada lapar yaitu kesepian.

 

Dan di dalam kisah-kisah sejarah kelahiran leluhur Enggano, yang diwariskan melalui ingatan kolektif terdapat satu garis yang terus berulang, meski tidak selalu disebut secara eksplisit yaitu garis perempuan. Garis ibu. Garis yang tidak hanya melahirkan manusia, tetapi juga melahirkan dunia sosial itu sendiri.

 

Dalam versi kisah yang dituturkan oleh Alfared Kaitora, dua rombongan manusia yang terdampar di Enggano perlahan-lahan dihancurkan oleh penyakit, oleh alam, oleh keterbatasan tubuh mereka sendiri. Mereka mati satu per satu, hingga hanya tersisa dua manusia. Seorang perempuan dan seorang laki-laki. Kisah ini tidak dimulai dari kelimpahan. Ia dimulai dari kehancuran.

 

Di sini, Enggano bukan sekadar ruang hidup. Ia adalah ruang seleksi. Hanya mereka yang mampu bertahan secara fisik dan psikologis yang tersisa. Namun bahkan “bertahan” pun menjadi problematis ketika manusia kehilangan yang lain, kehilangan relasi, kehilangan percakapan, kehilangan pengakuan. Dalam kondisi seperti itu, manusia tidak hanya berjuang melawan alam. Ia berjuang melawan dirinya sendiri.

 

Dalam titik paling sunyi dari kisah itu, muncul tindakan yang berulang yaitu memecahkan kerang. Tindakan ini, dalam pembacaan pertama, tampak sederhana. Ia adalah aktivitas mencari makan. Namun dalam lanskap pengalaman yang lebih dalam, memecahkan kerang adalah praktik eksistensial.

 

Perempuan yang hidup sendirian itu memecahkan kerang sambil berharap, berharap bahwa sesuatu akan muncul. Bahwa ia tidak sendirian. Bahwa dunia belum sepenuhnya kosong. Ketika laki-laki itu muncul, ia tidak melihatnya sebagai manusia lain yang kebetulan datang. Ia melihatnya sebagai hasil dari tindakannya sendiri sebagai sesuatu yang “dilahirkan” dari kerang yang ia pecahkan.

 

Di sini, kita menyaksikan sebuah momen penting. Perempuan menjadi subjek penciptaan. Ia bukan sekadar yang menemukan, tetapi yang “menghasilkan”.

 

Nama yang kemudian dilekatkan padanya. Nanipah, ibu yang memecahkan bukan sekadar penanda identitas. Ia adalah penegasan kosmologis bahwa kehidupan baru dimulai dari tindakan perempuan.

 

Jika kita membaca kisah ini tidak sebagai mitos yang terpisah dari kehidupan sosial, melainkan sebagai fondasi simbolik, maka kita dapat memahami mengapa masyarakat Enggano memiliki kecenderungan sistem matrilineal.

 

Dalam sistem matrilineal, garis keturunan ditarik melalui perempuan. Identitas, warisan, dan posisi sosial sering kali ditentukan oleh garis ibu. Ini bukan sekadar struktur sosial yang “dipilih”, tetapi sesuatu yang berakar pada ingatan kolektif.

 

Kisah Nanipah, perempuan yang bertahan, yang memecahkan, yang memberi makna pada kehidupan menjadi semacam arketipe. Ia adalah figur asal yang terus hidup dalam praktik sosial. Dengan kata lain, matrilinealitas di Enggano bukan hanya sistem kekerabatan. Ia adalah cara komunitas mengingat asal-usulnya.

 

Dalam konteks ini, perempuan tidak hanya penting karena fungsi biologisnya, tetapi karena posisinya sebagai penjaga kontinuitas. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. Namun, seperti semua sistem sosial, matrilinealitas juga tidak bebas dari relasi kuasa. Ia bisa menjadi ruang emansipasi, tetapi juga bisa menjadi ruang kontrol. Yang penting adalah bagaimana komunitas terus menegosiasikan makna dari sistem tersebut dalam konteks yang berubah.

 

Menariknya, narasi tentang Enggano sebagai “pulau perempuan” tidak hanya muncul dari dalam komunitas, tetapi juga dari luar.

 

Dalam catatan Elio Modigliani melalui bukunya L'isola delle donne, Enggano digambarkan sebagai semacam “pulau perempuan” sebuah ruang eksotik yang dipenuhi oleh imajinasi tentang dominasi perempuan.

 

Namun, pembacaan seperti ini perlu dilihat secara kritis. Bagi Modigliani, Enggano adalah objek. Ia adalah sesuatu yang dilihat, diamati, dan ditafsirkan dari perspektif luar, perspektif kolonial yang sering kali eksotifikasi. Pulau perempuan dalam narasinya bukanlah refleksi dari realitas sosial yang kompleks, melainkan konstruksi imajinatif yang memadukan kekaguman dan ketidakpahaman.

 

Di sinilah terjadi ketegangan. Di satu sisi, memang ada jejak kuat peran perempuan dalam kosmologi dan struktur sosial Enggano. Namun di sisi lain, reduksi Enggano menjadi “pulau perempuan” berisiko menghapus kompleksitas tersebut. Ia mengubah tradisi menjadi tontonan.

 

Jika kita bandingkan antara kisah kosmologis yang hidup dalam komunitas dengan catatan Modigliani, kita akan melihat dua cara berbeda dalam memahami Enggano. Yang pertama adalah dari dalam, tradisi sebagai ingatan hidup. Kisah Nanipah bukan sekadar cerita, tetapi bagian dari cara komunitas memahami dirinya.

 

Yang kedua adalah dari luar, tradisi sebagai objek pengetahuan. Dalam perspektif ini, Enggano menjadi sesuatu yang bisa diklasifikasikan, dijelaskan, dan secara halus dikontrol.

 

Perbedaan ini penting, karena ia menunjukkan bahwa tradisi tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berada dalam relasi dengan kekuatan yang lebih besar, kolonialisme, ilmu pengetahuan, dan modernitas. Dalam banyak kasus, representasi dari luar justru lebih dominan daripada suara dari dalam. Tradisi yang hidup di komunitas sering kali kalah oleh narasi yang ditulis dalam buku.

 

Sekarang mari kita kembali pada kisah asal-usul, kita melihat bahwa tubuh perempuan menjadi pusat dari segala sesuatu. Ia adalah yang bertahan, yang berharap, yang menciptakan.

 

Namun tubuh ini juga rentan terhadap interpretasi.Dalam narasi internal, tubuh perempuan adalah sumber kehidupan. Dalam narasi eksternal, tubuh perempuan sering kali menjadi objek eksotifikasi.

 

Ini menciptakan paradoks. Perempuan dihormati sekaligus direduksi. Dalam konteks matrilineal, perempuan memiliki posisi penting dalam struktur sosial. Namun posisi ini tidak otomatis berarti kekuasaan penuh. Ia tetap berada dalam jaringan relasi yang kompleks dengan laki-laki, dengan adat, dengan negara.

 

Karena itu, penting untuk tidak melihat matrilinealitas sebagai sesuatu yang ideal secara otomatis. Ia perlu terus dibaca secara kritis. Siapa yang diuntungkan? siapa yang dirugikan? bagaimana ia berubah dalam konteks modern?

 

Dalam seluruh lanskap ini, tradisi muncul sebagai sesuatu yang ambivalen. Ia adalah sumber kekuatan karena ia memungkinkan komunitas bertahan. Ia menyediakan kerangka untuk memahami dunia, untuk mengatur kehidupan sosial, untuk menjaga hubungan dengan alam.

 

Namun ia juga bisa menjadi ruang pembatasan ketika ia digunakan untuk mempertahankan struktur yang tidak adil. Dalam konteks Enggano, tradisi tampaknya lebih sering berfungsi sebagai mekanisme bertahan. Ia menyimpan pengetahuan tentang bagaimana hidup di pulau yang terisolasi. Ia mengajarkan pentingnya kebersamaan, karena kesepian adalah ancaman nyata. Ia juga menjadi alat untuk melawan, melawan penghapusan, melawan marginalisasi, melawan narasi luar yang mencoba mendefinisikan komunitas dari luar.

 

Jika kita menarik satu garis dari seluruh cerita ini, maka garis itu adalah garis ibu. Garis yang dimulai dari Nanipah, perempuan yang memecahkan kerang dalam kesepian dan terus berlanjut dalam sistem matrilineal masyarakat Enggano.

 

Garis ini bukan hanya tentang keturunan. Ia adalah tentang keberlangsungan. Dalam dunia yang terus berubah, di mana komunitas-komunitas lokal semakin terdesak oleh kekuatan global, garis ini menjadi penting. Ia adalah pengingat bahwa kehidupan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan besar, tetapi juga oleh tindakan-tindakan kecil. Memecahkan kerang, berharap, dan terus hidup, di sinilah makna terdalam dari tradisi, bukan sebagai sesuatu yang diwariskan begitu saja, tetapi sebagai sesuatu yang terus diperjuangkan dalam diam dan dalam ingatan. Dan mungkin, di balik semua itu, ada satu pelajaran yang paling sederhana namun paling mendasar, bahwa manusia tidak pernah benar-benar bisa hidup sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar