Orang Ulu Tulen: Catatan seorang Rejang atas The History of Sumatra karya William Marsden, 1783 - Erwin Basrin

Breaking

Sabtu, 11 Juli 2026

Orang Ulu Tulen: Catatan seorang Rejang atas The History of Sumatra karya William Marsden, 1783

 


Erwin Basrin

Ada satu jenis buku yang membuat orang seperti saya membaca dengan dua kepala sekaligus.

Kepala pertama membaca sebagai orang Rejang. Ia mencari nama sungai yang ia kenal, mencari kata yang pernah diucapkan neneknya, mencari dirinya sendiri di antara halaman yang ditulis orang asing. Kepala kedua membaca sebagai orang yang bekerja dengan catatan lapangan. Ia bertanya siapa yang bicara, siapa yang mencatat, siapa yang dibayar, dan bagian mana yang hilang di antara keduanya.

The History of Sumatra terbit di London pada 1783. Penulisnya William Marsden, pegawai East India Company yang bertahun-tahun tinggal di pesisir barat Sumatra. Ia bukan antropolog. Kata itu belum ada. Tetapi cara kerjanya sudah menyerupai antropolog, dan ia sadar betul akan hal itu.

Di kata pengantar, ia menulis bahwa ia tidak ingin membuat buku yang menghibur. Ia ingin menyediakan fakta bagi para filsuf yang sedang menyusun sejarah manusia. Ia mengeluh bahwa ilmu tentang manusia terlalu sering dirusak oleh khayalan para pelancong. Yang ia janjikan sederhana: ia hanya menulis apa yang ia lihat sendiri, atau apa yang ia dengar dari orang yang ia percaya.

Itu janji seorang etnograf. Dan seperti semua etnograf, ia menepatinya sebagian.

Pada halaman 37, Marsden menjelaskan metodenya. Ia tidak mungkin menulis semua bangsa di Sumatra satu per satu. Jadi ia memilih satu bangsa sebagai patokan, menggambarkannya sedetail mungkin, lalu mengukur bangsa lain dari penyimpangannya.

Bangsa yang ia pilih itu Rejang.

Alasannya ia daftar dengan tenang. Kami dianggapnya paling sedikit tersentuh Melayu dari utara dan Jawa dari selatan, jadi paling asli. Hukum dan bentuk pemerintahan kami berlaku jauh melampaui batas kami sendiri. Kami punya bahasa sendiri. Kami punya aksara sendiri, dan aksara itu dipakai orang di daerah-daerah jauh. Lalu ia menambahkan alasan terakhir dengan jujur: karena kedudukannya membuat ia paling kenal kami.

Saya membaca kalimat itu berkali-kali.

Kalimat terakhir itu adalah pengakuan yang jarang. Ia memilih kami bukan hanya karena kami penting, tetapi karena kami ada di jangkauannya. Kantor dagangnya ada di sungai kami. Residennya duduk di Lais. Lada yang ia catat tumbuh di kebun kami. Objek penelitian adalah orang yang kebetulan berada di dekat meja peneliti. Itu berlaku pada 1783 dan masih berlaku sekarang.

Kepala pertama saya tersanjung. Kepala kedua saya waspada. Kami dipilih sebagai alat ukur, bukan sebagai lawan bicara.

Marsden menandai tanah Rejang dengan air.

Di barat laut ada sungai kecil bernama Uri, dekat Ketaun, yang memisahkan kami dari kerajaan Anak Sungai yang beribu kota di Muko Muko. Di sisi hulu, Ketaun dan daerah Labun jadi batas. Di timur ada negeri Musi, tempat sungai Palembang berhulu. Di tenggara, sungai Bengkulu. Sungai besarnya ia sebut satu per satu: Lais, Palik, Sungai Lamo. Di semua sungai itu Inggris punya kantor dagang.

Lalu ada catatan kaki yang membuat saya berhenti lama. Marsden bilang nama yang orang Eropa pakai untuk menyebut daerah sebenarnya nama sungai. Penduduknya lebih sering berkata "orang sungai anu" ketimbang "orang negeri anu". Ia menambahkan pengamatan yang tajam: di Eropa sungai memisahkan provinsi, di sini sungai justru mengalir di tengahnya.

Ini kelihatan seperti detail kecil. Bukan. Ini seluruh cara kami membaca ruang.

Dusun berdiri di tepi sungai. Musyawarah para proatin digelar di muara. Orang berpindah mengikuti air, bukan mengikuti garis. Ketika kemudian datang kekuasaan yang berpikir dalam bidang, bukan dalam aliran, tabrakannya tidak bisa dihindari. Peta kawasan hutan, batas desa administratif, blok konsesi. Semuanya digambar oleh orang yang membaca ruang seperti orang Eropa abad kedelapan belas, dan hasilnya menimpa kampung yang dibangun dengan logika sungai.

Marsden mencatat perbedaan itu tanpa tahu ia sedang mencatat sumber sengketa yang akan berumur dua ratus tahun.

Bagian yang paling sering saya baca ulang justru sebuah catatan kaki di halaman 36.

Marsden sedang berbincang dengan Pangeran Sungai Lamo, kepala orang Rejang. Dalam percakapan itu ia menyangka lawan bicaranya orang Melayu. Sang pangeran tersinggung, dan menjawab dengan nada tinggi: "Malayo tedah, orang ulu betul sayo." Bukan Melayu. Saya ini orang ulu tulen.

Marsden menambahkan keterangan yang membuat kalimat itu makin bernyawa. Pangeran itu fasih menulis dan bicara dalam dua bahasa. Tapi Rejang yang ia anggap bahasa ibunya.

Renungkan situasinya. Ini sekitar tahun 1770-an. Islam sudah masuk, dan pangeran itu seorang muslim yang oleh Marsden disebut sangat terpelajar. Tetangganya, Sultan Anak Sungai, meniru gaya Menangkabau dan menyebut dirinya beserta rakyatnya orang Melayu. Menjadi Melayu berarti masuk ke kategori yang dipahami dan dihormati orang asing. Itu pilihan yang menguntungkan.

Pangeran Sungai Lamo menolaknya. Di depan pegawai Inggris yang sedang mencatat, ia bersikeras menyebut dirinya orang ulu.

Antropolog menyebut peristiwa seperti ini momen ketika kategori peneliti ditolak di depan mukanya sendiri. Marsden cukup jujur untuk menuliskan penolakan itu, dan cukup jujur untuk mengakui bahwa ia yang keliru. Buku ini menyimpan banyak suara semacam itu. Suara yang berhasil menyelinap keluar dari kerangka penulisnya.

Marsden mendeskripsikan pemerintahan kami dengan rapi. Orang Rejang tinggal di dusun. Setiap dusun dipimpin dupati. Pengikutnya disebut anak buah, jarang lebih dari seratus orang. Sebagian dupati dari tiap sungai berkumpul di muara untuk memutus perkara, dan mereka itulah para proatin. Pangeran ada di atas semua.

Lalu ia mengaku kalah.

Ia bilang ia ingin menjelaskan di mana persisnya letak kesetiaan dupati kepada pangeran, dan anak buah kepada dupati, tetapi begitu sedikit yang bisa dilihat sehingga sulit dijelaskan. Kekuasaan para kepala hampir hanya nama. Mereka tidak punya alat paksa. Harta mereka tidak jauh berbeda dari harta orang biasa. Pemerintahan itu, tulisnya, berdiri di atas pendapat orang banyak, dan kepatuhan diberikan secara sukarela.

Dua kutipan dalam bab itu bekerja seperti sepasang cermin.

Seorang proatin, ditanya sejauh mana ia tunduk, menjawab: kami rakyatnya, bukan budaknya.

Sang pangeran, dalam obrolan politik, menyebut beberapa dusun sebagai mesiu dan pelurunya. Ia menjelaskan sendiri maksudnya. Penduduk dusun itu bisa ia jual untuk membeli amunisi, persis seperti yang dilakukan nenek moyangnya.

Marsden meletakkan dua kalimat itu berdampingan dan tidak berusaha mendamaikannya. Justru di situ nilainya. Dari bawah, kekuasaan pangeran terlihat tipis. Dari atas, ia terasa mutlak. Keduanya benar, dan keduanya bicara tentang sistem yang sama.

Saya ingin menahan diri dari godaan meromantisasi. Pemerintahan Rejang bukan taman demokrasi. Ia adalah kekuasaan yang tidak punya gigi, dan karena tidak punya gigi, ia sesekali menggigit diam-diam. Marsden mencatat bahwa pangeran yang tak sanggup menghukum orang yang membangkang kadang menyingkirkannya lewat pembunuhan gelap.

Tetapi ada satu hal yang ia lihat dengan benar. Kepala yang melanggar adat kehilangan haknya untuk dipatuhi. Rakyat merasa bebas menarik kesetiaan. Kekuasaan diikat oleh adat, bukan oleh tentara. Sistem itu bertahan bukan karena lembut, melainkan karena mahal untuk dilanggar.

Sampai di sini, buku ini masih terasa seperti catatan lapangan. Lalu Marsden menyalin sebuah dokumen, dan nada bukunya berubah.

Para residen Inggris merasa hukum lisan kami menghasilkan putusan yang berubah-ubah. Mereka memutuskan menuliskannya. Di Lais, yang ia eja Laye, pangeran, pambarap, dan proatin duduk bersama pegawai Kompeni. Hasilnya sebuah kitab hukum. Marsden memuatnya utuh. Di bawahnya tertulis bulan Rabiul Akhir 1193 Hijriah, bertepatan dengan April 1779, ditandatangani John Marsden, Residen. Adik penulis buku ini.

Pembukaan kitab itu memakai bahasa kami sendiri. Hukum dan adat orang Rejang, yang selama ini dijaga lewat tuturan, kini dibahas, diperbaiki, disahkan dalam satu majelis, lalu dituliskan supaya tidak bisa diubah lagi.

Tiga kata itu yang penting. Dibahas. Diperbaiki. Disahkan.

Yang mereka "perbaiki" bukan hal remeh. Bunga pinjaman diturunkan dari seratus lima puluh persen setahun menjadi lima puluh persen. Kawin ambil anak dilarang sama sekali. Jujur dibatasi seratus lima puluh dolar dan wajib dibayar tunai di tempat, sebab kalau diutang tidak lagi bisa ditagih lewat pengadilan. Semendo, yang mereka sebut semendo merdeka, didorong sebagai bentuk kawin yang dianjurkan.

Marsden menerangkan strateginya tanpa malu. Dengan mempersulit jujur, adat itu diharapkan mati sendiri tanpa perlu dilarang secara terbuka. Ia bahkan menulis kalimat yang seharusnya dibaca setiap orang yang mengurus adat hari ini: mereka tidak ingin menghapus kebiasaan leluhur secara sewenang-wenang, jadi mereka membuatnya mustahil dijalankan.

Dan pasal penutupnya menyerahkan kekuasaan pelaksana untuk menegakkan seluruh hukum itu kepada Residen Kompeni.

Inilah yang membuat saya menutup buku sebentar dan berjalan keluar.

Kita sering mendengar bahwa penjajah merusak adat dengan melarangnya. Yang terjadi di Lais lebih halus dan lebih dalam. Adat tidak dilarang. Adat diundang rapat, dicatat, ditandatangani, lalu diberi penegak baru. Setelah 1779, adat Rejang tetap bernama adat Rejang. Tapi ia sudah punya editor.

Antropolog belakangan punya istilah untuk ini. Adat yang ditulis oleh kolonial berhenti menjadi kesepakatan yang hidup dan berubah menjadi teks yang bisa dikutip, dibekukan, dan dipakai melawan orang yang melahirkannya. Saya tidak perlu istilah itu. Saya cukup membaca tanggalnya.

Saya harus jujur soal isi kitab itu, karena kalau tidak, saya sedang melakukan hal yang sama dengan Marsden: memilih bagian yang enak dibaca.

Dalam kawin jujur, kalau tali kulo sudah putus, artinya harga sudah lunas, perempuan itu menjadi milik suaminya, dan suami boleh menjualnya. Denda melukai istri jujur lebih ringan daripada melukai istri semendo. Jujur seorang gadis dulunya seratus dua puluh dolar ditambah beberapa adat. Janda delapan puluh.

Ada pula bangun, ganti rugi pembunuhan. Besarnya ditentukan oleh pangkat orang yang dibunuh, bukan oleh niat pembunuhnya. Marsden bertanya kepada seorang kepala kenapa bangun seorang perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Jawabannya dingin: harga budak perempuan memang lebih mahal.

Marsden sendiri menunjukkan siapa yang diuntungkan. Orang kaya bisa membunuh lalu membayar. Orang miskin membunuh lalu dijual sebagai budak, karena keluarga korban lebih suka uang ketimbang melihat orang hina digantung. Ia menyebut kesetaraan denda itu justru bentuk ketimpangan yang paling telanjang, sebab yang berpunya nyaris tak merasakannya.

Saya orang Rejang, dan saya tidak sedang membela nenek moyang saya. Saya hanya menolak dua cara membaca yang sama-sama malas. Yang pertama menyembunyikan pasal-pasal ini dan menjual adat sebagai kearifan yang serba manis. Yang kedua mengangkat pasal-pasal ini untuk membuktikan bahwa kami memang layak diperintah orang lain. Keduanya berbohong, dan keduanya membuat kami berhenti berpikir.

Di ruang bicara kami, saksi tidak bersumpah sebelum bicara. Sumpah datang di ujung perkara, sebagai penutup, dan ia tidak berhenti pada orang yang mengucapkannya.

Marsden menjelaskan aturannya dengan teliti. Kalau yang disengketakan harta kakek, seluruh keturunan kakek itu terikat oleh sumpah. Kalau satu saja menolak ikut, sumpah batal, dan batal berarti kalah. Ia mencatat satu perkara yang ia saksikan: tiga orang dituduh mencuri, dua berhasil mengajak keluarganya bersumpah, yang ketiga gagal membujuk keluarganya, dan ia menanggung seluruh ganti rugi.

Alat sumpahnya benda pusaka. Keris tua berkarat. Laras bedil patah. Barang lama yang entah sejak kapan dianggap bertuah. Benda itu dicelup ke air, lalu airnya diminum. Kadang bilah keris ditetesi air jeruk, dan bibir orang yang bersumpah membekas. Di Manna, laras bedil dibawa ke tempat sumpah dalam iring-iringan, dipayungi, dibungkus sutra. Marsden mengomentari upacara itu dengan mata seorang pengamat kekuasaan. Kemegahan itu, katanya, bekerja. Ia menanamkan rasa penting ke dalam kepala orang yang akan bersumpah. Lalu ia menambahkan sindiran untuk negerinya sendiri. Di Inggris, sumpah diucapkan terlalu sering dan terlalu cepat, sampai kehilangan bobotnya.

Orang Rejang menyimpan kisah seorang dupati yang ia tulis sebagai Dupati Gunung Ceylong. Sekitar 1770 ia bersumpah palsu dengan cara yang paling khidmat. Ia punya lima anak lelaki dewasa. Satu mati kena luka dalam perkelahian. Ia sendiri mati dalam kerusuhan setahun kemudian. Dua anak lagi mati berselang seminggu. Yang keempat buta. Yang kelima lumpuh. Marsden menulis bahwa kisah itu terus dikutip orang Rejang, dan bahwa kisah itu punya bobot yang besar dalam menahan orang dari sumpah palsu.

Ia lalu melakukan sesuatu yang tidak saya duga. Ia membandingkan cara kami dengan hukum Anglo-Saxon, yang juga memakai penyumpah pendukung, lalu menyimpulkan bahwa cara kami lebih memahami manusia. Orang Inggris bisa mengumpulkan tiga puluh tetangga untuk bersumpah demi dirinya tanpa risiko apa pun. Orang Rejang mempertaruhkan seluruh garis keturunannya.

Saya tumbuh dengan logika itu tanpa pernah menamainya. Sumpah bukan soal Tuhan menghukum si pendusta. Sumpah adalah soal berapa banyak orang yang ikut hangus bersamanya.

Ada paragraf dalam buku ini yang, kalau dikutip setengah, bisa dipakai merampas kampung.

Marsden menulis bahwa tanah begitu berlimpah dibanding jumlah penduduk sehingga orang Rejang hampir tidak memperlakukannya sebagai objek hak, sebagaimana mereka tidak memperlakukan udara dan air sebagai objek hak.

Kalimat itu sudah cukup untuk membangun seluruh doktrin tanah kosong. Tapi bacalah kalimat berikutnya, yang biasanya tidak ikut dikutip.

Ia menerangkan bahwa tanah yang seseorang tanami atau diami, dengan persetujuan tetangganya, menjadi semacam milik dan bisa dipindahtangankan. Yang dinilai adalah hasilnya. Harga sebidang tanah dihitung dari kelapa, durian, dan pohon buah lain yang tumbuh di atasnya. Selama pohon-pohon itu hidup, keturunan penanamnya tetap berhak, sekalipun tempat itu lama ditinggalkan. Kalau orang lain menebangnya, ia bisa dituntut ganti rugi. Baru ketika pohon itu habis oleh usia, tanahnya kembali menjadi milik bersama.

Itu bukan ketiadaan hak. Itu sistem hak yang bertumpu pada kerja dan pada pohon, bukan pada kertas. Hak yang bisa diwariskan, bisa dijual, bisa dilanggar, dan bisa berakhir. Marsden menuliskannya lengkap. Pembaca sesudahnya mengambil kalimat pertama, membuang sisanya, dan pergi membawa peta.

Saya bekerja untuk urusan tanah di Bengkulu. Saya tahu persis ke mana kalimat setengah itu bermuara.

Marsden memuat tabel aksara kami di antara halaman-halamannya. Ka, ga, nga, dan seterusnya. Ia mencatat kami menulis dari kiri ke kanan, berbeda dengan Melayu dan Arab, dan huruf-huruf kami tidak disambung.

Tulisan penting dibuat dengan tinta di kulit bagian dalam sebuah pohon, dipotong memanjang, lalu dilipat sehingga tiap lipatan menjadi satu halaman. Untuk keperluan sehari-hari, orang menulis di ruas bambu, kadang utuh, kadang dibelah, digores dengan ujung keris. Marsden menyimpan beberapa contohnya dan menyebut goresan itu sering dikerjakan dengan sangat rapi.

Ia juga mengamati sesuatu yang ia sendiri anggap luar biasa. Rejang dan Batak sama-sama punya aksara sendiri, dan urutan hurufnya tidak sama. Menurutnya itu bukti dua penemuan yang terpisah, bukan turunan satu sama lain. Dua bangsa di satu pulau, sama-sama menulis, dengan sistem yang tidak saling meniru.

Tapi kami tidak menyimpan yang penting di bambu. Marsden mencatat bahwa setiap perjanjian, urusan umum maupun pribadi, selalu disahkan dengan menggelar bimbang. Alasan yang orang Rejang berikan kepadanya sederhana. Tulisan bisa diubah atau dipalsukan. Ingatan atas apa yang diputuskan di depan seribu saksi akan tetap terjaga. Kalau perkara selesai, mereka menakik tiang kayu di hadapan para kepala.

Bimbang itu sendiri ia gambarkan dengan detail yang hanya bisa ditulis orang yang pernah duduk di sana sampai pagi. Gadis-gadis di ujung balai, di balik tirai, di atas tikar terbaik. Siang untuk sabung ayam. Orang tua-tua memakai kesempatan itu untuk membicarakan perbaikan bangunan umum atau urusan dengan dusun sebelah. Malam untuk menari dan bernyanyi. Seorang gadis memulai lagu, seorang bujang menyahut, dan syairnya dikarang di tempat. Marsden bilang hasilnya kadang tajam, bahkan lucu. Pesta bubar menjelang subuh dan sanggup berlanjut berhari-hari sampai persediaan makanan habis.

Jadi kami bukan orang yang tidak punya arsip. Kami punya arsip yang berbeda bentuknya. Arsip itu berupa orang banyak, makanan, lagu, dan satu takik di tiang.

Ironinya sempurna. Pada 1779, arsip itu diminta pindah ke kertas, oleh orang yang di buku yang sama menjelaskan dengan baik kenapa kami tidak memercayai kertas.

Sampai di bab agama, pengamat yang tadi begitu awas itu mendadak buta.

Ia menulis bahwa agama asli orang Rejang, kalau memang pernah ada, hampir tidak bisa dilacak lagi. Lalu ia menyimpulkan. Kalau agama berarti ibadah, doa, arak-arakan, sesaji, patung, atau pendeta, maka orang Rejang sama sekali tidak punya agama, dan bahkan tidak pantas disebut pagan.

Padahal ia sendiri yang menuliskan sumpah di keramat, di kuburan nenek moyang. Ia sendiri yang menuliskan pusaka yang disimpan di rumah dan dikeluarkan hanya ketika sumpah diambil. Ia sendiri yang menuliskan orang alus, makhluk halus yang bisa mendatangkan untung dan celaka, dan yang orang takuti ketika musibah datang.

Ia melihat seluruhnya, lalu menyebutnya kosong.

Kesalahannya bukan kurang data. Kesalahannya ada di definisi. Ia datang membawa daftar isi tentang apa itu agama, gagal menemukan butir-butirnya, lalu menyimpulkan bahwa yang ada di depannya bukan apa-apa. Ini kegagalan yang paling sering menimpa orang yang menulis tentang orang lain, dan ia tidak kebal.

Buku yang sama menyimpan sebuah perdebatan yang lebih cerdas daripada kesimpulan penulisnya. Seorang Melayu mencela seorang Pasemah: apa dasarmu percaya nenek moyang yang sudah mati bisa menolongmu? Si Pasemah balik bertanya: apa dasarmu percaya Allah dan Muhammad akan menolongmu? Si Melayu menjawab, karena hal itu tertulis di dalam sebuah kitab. Marsden menulis bahwa orang Pasemah itu terdiam, merasa kalah.

Selalu soal kitab. Yang tertulis mengalahkan yang dituturkan. Argumen yang sama menang di Lais pada 1779, dan adat kami masuk ke kertas.

Marsden menempatkan kami di kelas ketiga dari lima tingkat peradaban yang ia karang sendiri. Ia mendaftar sifat kami seperti orang mendaftar barang dagangan. Lembut, hemat, sabar, murah hati sampai batas kemampuan. Juga suka berperkara, malas, gemar berjudi, tidak peduli hari esok. Saya tidak tersanjung dan tidak tersinggung. Daftar itu disusun pada 1783 oleh pegawai perusahaan dagang yang sedang membeli lada kami.

Yang menahan saya sampai halaman terakhir adalah kejujurannya di satu titik.

Ia bertanya kenapa orang Sumatra tidak meniru banyak hal dari Inggris setelah seratus tahun bertetangga. Jawabannya ia tulis sendiri, dan jawabannya memberatkan bangsanya. Inggris tidak membuat apa pun di sini. Mereka tidak memintal kapas kami. Mereka tidak melebur logam kami. Mereka bahkan tidak memahat batu kami. Semua barang datang jadi dari Eropa, dan penduduk setempat tidak pernah diberi kesempatan melihat prosesnya. Percuma memamerkan jam dan sulaman kepada orang yang tidak pernah diizinkan menonton cara membuatnya.

Ia juga merekam satu percakapan yang tidak bisa saya lupakan. Seorang lelaki mengamati jam dinding, terpesona, lalu berkata bahwa pantas orang seperti mereka menjadi budak bangsa yang sanggup membuat mesin sehebat itu. Matahari juga mesin semacam ini, katanya. Kawannya menyahut: lalu siapa yang memutarnya? Siapa lagi kalau bukan Allah, jawab lelaki itu.

Saya menutup buku ini dengan satu kesimpulan yang sederhana.

The History of Sumatra bukan cermin orang Rejang. Ia catatan lapangan yang ditulis dari seberang meja, oleh orang yang menggaji juru bicara kami dan membeli hasil kebun kami. Tetapi justru karena itu ia berguna. Catatan pihak seberang menyimpan hal yang tidak disimpan oleh ingatan kami sendiri. Ia menyimpan tanggal. Ia menyimpan angka. Ia menyimpan nama orang yang meneken.

Berkat buku ini saya tahu bulan dan tahun ketika adat Rejang dipindahkan ke kertas, siapa yang mengetuk palunya, dan pasal mana yang mereka ubah dalam perjalanan.

Perkara yang dibuka di Lais pada April 1779 belum ditutup. Ia berjalan terus, sekarang dalam bentuk peta kawasan hutan, izin konsesi, dan sertifikat tanah di kampung-kampung kami.

Dan setiap kali saya lelah, saya kembali ke catatan kaki di halaman 36. Seorang pangeran, tersinggung karena dikira Melayu, menegakkan punggungnya di depan pegawai Inggris yang sedang mencatat, dan berkata: bukan Melayu, saya ini orang ulu tulen.

Kalimat itu bertahan dua ratus empat puluh tahun di dalam buku orang lain. Kalimat itu masih bekerja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar