Erwin Basrin
Ada satu jenis buku yang membuat orang seperti saya membaca dengan dua
kepala sekaligus.
Kepala pertama membaca sebagai orang Rejang. Ia mencari nama sungai yang
ia kenal, mencari kata yang pernah diucapkan neneknya, mencari dirinya sendiri
di antara halaman yang ditulis orang asing. Kepala kedua membaca sebagai orang
yang bekerja dengan catatan lapangan. Ia bertanya siapa yang bicara, siapa yang
mencatat, siapa yang dibayar, dan bagian mana yang hilang di antara keduanya.
The History of Sumatra terbit di London pada 1783. Penulisnya William
Marsden, pegawai East India Company yang bertahun-tahun tinggal di pesisir
barat Sumatra. Ia bukan antropolog. Kata itu belum ada. Tetapi cara kerjanya
sudah menyerupai antropolog, dan ia sadar betul akan hal itu.
Di kata pengantar, ia menulis bahwa ia tidak ingin membuat buku yang
menghibur. Ia ingin menyediakan fakta bagi para filsuf yang sedang menyusun
sejarah manusia. Ia mengeluh bahwa ilmu tentang manusia terlalu sering dirusak
oleh khayalan para pelancong. Yang ia janjikan sederhana: ia hanya menulis apa
yang ia lihat sendiri, atau apa yang ia dengar dari orang yang ia percaya.
Itu janji seorang etnograf. Dan seperti semua etnograf, ia menepatinya
sebagian.
Pada halaman 37, Marsden menjelaskan metodenya. Ia tidak mungkin menulis
semua bangsa di Sumatra satu per satu. Jadi ia memilih satu bangsa sebagai
patokan, menggambarkannya sedetail mungkin, lalu mengukur bangsa lain dari
penyimpangannya.
Bangsa yang ia pilih itu Rejang.
Alasannya ia daftar dengan tenang. Kami dianggapnya paling sedikit
tersentuh Melayu dari utara dan Jawa dari selatan, jadi paling asli. Hukum dan
bentuk pemerintahan kami berlaku jauh melampaui batas kami sendiri. Kami punya
bahasa sendiri. Kami punya aksara sendiri, dan aksara itu dipakai orang di
daerah-daerah jauh. Lalu ia menambahkan alasan terakhir dengan jujur: karena
kedudukannya membuat ia paling kenal kami.
Saya membaca kalimat itu berkali-kali.
Kalimat terakhir itu adalah pengakuan yang jarang. Ia memilih kami bukan
hanya karena kami penting, tetapi karena kami ada di jangkauannya. Kantor
dagangnya ada di sungai kami. Residennya duduk di Lais. Lada yang ia catat
tumbuh di kebun kami. Objek penelitian adalah orang yang kebetulan berada di
dekat meja peneliti. Itu berlaku pada 1783 dan masih berlaku sekarang.
Kepala pertama saya tersanjung. Kepala kedua saya waspada. Kami dipilih
sebagai alat ukur, bukan sebagai lawan bicara.
Marsden menandai tanah Rejang dengan air.
Di barat laut ada sungai kecil bernama Uri, dekat Ketaun, yang memisahkan
kami dari kerajaan Anak Sungai yang beribu kota di Muko Muko. Di sisi hulu,
Ketaun dan daerah Labun jadi batas. Di timur ada negeri Musi, tempat sungai
Palembang berhulu. Di tenggara, sungai Bengkulu. Sungai besarnya ia sebut satu
per satu: Lais, Palik, Sungai Lamo. Di semua sungai itu Inggris punya kantor
dagang.
Lalu ada catatan kaki yang membuat saya berhenti lama. Marsden bilang
nama yang orang Eropa pakai untuk menyebut daerah sebenarnya nama sungai.
Penduduknya lebih sering berkata "orang sungai anu" ketimbang
"orang negeri anu". Ia menambahkan pengamatan yang tajam: di Eropa
sungai memisahkan provinsi, di sini sungai justru mengalir di tengahnya.
Ini kelihatan seperti detail kecil. Bukan. Ini seluruh cara kami membaca
ruang.
Dusun berdiri di tepi sungai. Musyawarah para proatin digelar di muara.
Orang berpindah mengikuti air, bukan mengikuti garis. Ketika kemudian datang
kekuasaan yang berpikir dalam bidang, bukan dalam aliran, tabrakannya tidak
bisa dihindari. Peta kawasan hutan, batas desa administratif, blok konsesi.
Semuanya digambar oleh orang yang membaca ruang seperti orang Eropa abad
kedelapan belas, dan hasilnya menimpa kampung yang dibangun dengan logika
sungai.
Marsden mencatat perbedaan itu tanpa tahu ia sedang mencatat sumber
sengketa yang akan berumur dua ratus tahun.
Bagian yang paling sering saya baca ulang justru sebuah catatan kaki di
halaman 36.
Marsden sedang berbincang dengan Pangeran Sungai Lamo, kepala orang
Rejang. Dalam percakapan itu ia menyangka lawan bicaranya orang Melayu. Sang
pangeran tersinggung, dan menjawab dengan nada tinggi: "Malayo tedah,
orang ulu betul sayo." Bukan Melayu. Saya ini orang ulu tulen.
Marsden menambahkan keterangan yang membuat kalimat itu makin bernyawa.
Pangeran itu fasih menulis dan bicara dalam dua bahasa. Tapi Rejang yang ia
anggap bahasa ibunya.
Renungkan situasinya. Ini sekitar tahun 1770-an. Islam sudah masuk, dan
pangeran itu seorang muslim yang oleh Marsden disebut sangat terpelajar.
Tetangganya, Sultan Anak Sungai, meniru gaya Menangkabau dan menyebut dirinya
beserta rakyatnya orang Melayu. Menjadi Melayu berarti masuk ke kategori yang
dipahami dan dihormati orang asing. Itu pilihan yang menguntungkan.
Pangeran Sungai Lamo menolaknya. Di depan pegawai Inggris yang sedang
mencatat, ia bersikeras menyebut dirinya orang ulu.
Antropolog menyebut peristiwa seperti ini momen ketika kategori peneliti
ditolak di depan mukanya sendiri. Marsden cukup jujur untuk menuliskan
penolakan itu, dan cukup jujur untuk mengakui bahwa ia yang keliru. Buku ini
menyimpan banyak suara semacam itu. Suara yang berhasil menyelinap keluar dari
kerangka penulisnya.
Marsden mendeskripsikan pemerintahan kami dengan rapi. Orang Rejang
tinggal di dusun. Setiap dusun dipimpin dupati. Pengikutnya disebut anak buah,
jarang lebih dari seratus orang. Sebagian dupati dari tiap sungai berkumpul di
muara untuk memutus perkara, dan mereka itulah para proatin. Pangeran ada di
atas semua.
Lalu ia mengaku kalah.
Ia bilang ia ingin menjelaskan di mana persisnya letak kesetiaan dupati
kepada pangeran, dan anak buah kepada dupati, tetapi begitu sedikit yang bisa
dilihat sehingga sulit dijelaskan. Kekuasaan para kepala hampir hanya nama.
Mereka tidak punya alat paksa. Harta mereka tidak jauh berbeda dari harta orang
biasa. Pemerintahan itu, tulisnya, berdiri di atas pendapat orang banyak, dan
kepatuhan diberikan secara sukarela.
Dua kutipan dalam bab itu bekerja seperti sepasang cermin.
Seorang proatin, ditanya sejauh mana ia tunduk, menjawab: kami rakyatnya,
bukan budaknya.
Sang pangeran, dalam obrolan politik, menyebut beberapa dusun sebagai
mesiu dan pelurunya. Ia menjelaskan sendiri maksudnya. Penduduk dusun itu bisa
ia jual untuk membeli amunisi, persis seperti yang dilakukan nenek moyangnya.
Marsden meletakkan dua kalimat itu berdampingan dan tidak berusaha
mendamaikannya. Justru di situ nilainya. Dari bawah, kekuasaan pangeran
terlihat tipis. Dari atas, ia terasa mutlak. Keduanya benar, dan keduanya
bicara tentang sistem yang sama.
Saya ingin menahan diri dari godaan meromantisasi. Pemerintahan Rejang
bukan taman demokrasi. Ia adalah kekuasaan yang tidak punya gigi, dan karena
tidak punya gigi, ia sesekali menggigit diam-diam. Marsden mencatat bahwa
pangeran yang tak sanggup menghukum orang yang membangkang kadang
menyingkirkannya lewat pembunuhan gelap.
Tetapi ada satu hal yang ia lihat dengan benar. Kepala yang melanggar
adat kehilangan haknya untuk dipatuhi. Rakyat merasa bebas menarik kesetiaan.
Kekuasaan diikat oleh adat, bukan oleh tentara. Sistem itu bertahan bukan
karena lembut, melainkan karena mahal untuk dilanggar.
Sampai di sini, buku ini masih terasa seperti catatan lapangan. Lalu
Marsden menyalin sebuah dokumen, dan nada bukunya berubah.
Para residen Inggris merasa hukum lisan kami menghasilkan putusan yang
berubah-ubah. Mereka memutuskan menuliskannya. Di Lais, yang ia eja Laye,
pangeran, pambarap, dan proatin duduk bersama pegawai Kompeni. Hasilnya sebuah
kitab hukum. Marsden memuatnya utuh. Di bawahnya tertulis bulan Rabiul Akhir
1193 Hijriah, bertepatan dengan April 1779, ditandatangani John Marsden,
Residen. Adik penulis buku ini.
Pembukaan kitab itu memakai bahasa kami sendiri. Hukum dan adat orang
Rejang, yang selama ini dijaga lewat tuturan, kini dibahas, diperbaiki,
disahkan dalam satu majelis, lalu dituliskan supaya tidak bisa diubah lagi.
Tiga kata itu yang penting. Dibahas. Diperbaiki. Disahkan.
Yang mereka "perbaiki" bukan hal remeh. Bunga pinjaman
diturunkan dari seratus lima puluh persen setahun menjadi lima puluh persen.
Kawin ambil anak dilarang sama sekali. Jujur dibatasi seratus lima puluh dolar
dan wajib dibayar tunai di tempat, sebab kalau diutang tidak lagi bisa ditagih
lewat pengadilan. Semendo, yang mereka sebut semendo merdeka, didorong sebagai
bentuk kawin yang dianjurkan.
Marsden menerangkan strateginya tanpa malu. Dengan mempersulit jujur,
adat itu diharapkan mati sendiri tanpa perlu dilarang secara terbuka. Ia bahkan
menulis kalimat yang seharusnya dibaca setiap orang yang mengurus adat hari
ini: mereka tidak ingin menghapus kebiasaan leluhur secara sewenang-wenang,
jadi mereka membuatnya mustahil dijalankan.
Dan pasal penutupnya menyerahkan kekuasaan pelaksana untuk menegakkan
seluruh hukum itu kepada Residen Kompeni.
Inilah yang membuat saya menutup buku sebentar dan berjalan keluar.
Kita sering mendengar bahwa penjajah merusak adat dengan melarangnya.
Yang terjadi di Lais lebih halus dan lebih dalam. Adat tidak dilarang. Adat
diundang rapat, dicatat, ditandatangani, lalu diberi penegak baru. Setelah
1779, adat Rejang tetap bernama adat Rejang. Tapi ia sudah punya editor.
Antropolog belakangan punya istilah untuk ini. Adat yang ditulis oleh
kolonial berhenti menjadi kesepakatan yang hidup dan berubah menjadi teks yang
bisa dikutip, dibekukan, dan dipakai melawan orang yang melahirkannya. Saya
tidak perlu istilah itu. Saya cukup membaca tanggalnya.
Saya harus jujur soal isi kitab itu, karena kalau tidak, saya sedang
melakukan hal yang sama dengan Marsden: memilih bagian yang enak dibaca.
Dalam kawin jujur, kalau tali kulo sudah putus, artinya harga sudah
lunas, perempuan itu menjadi milik suaminya, dan suami boleh menjualnya. Denda
melukai istri jujur lebih ringan daripada melukai istri semendo. Jujur seorang
gadis dulunya seratus dua puluh dolar ditambah beberapa adat. Janda delapan
puluh.
Ada pula bangun, ganti rugi pembunuhan. Besarnya ditentukan oleh pangkat
orang yang dibunuh, bukan oleh niat pembunuhnya. Marsden bertanya kepada
seorang kepala kenapa bangun seorang perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.
Jawabannya dingin: harga budak perempuan memang lebih mahal.
Marsden sendiri menunjukkan siapa yang diuntungkan. Orang kaya bisa
membunuh lalu membayar. Orang miskin membunuh lalu dijual sebagai budak, karena
keluarga korban lebih suka uang ketimbang melihat orang hina digantung. Ia
menyebut kesetaraan denda itu justru bentuk ketimpangan yang paling telanjang,
sebab yang berpunya nyaris tak merasakannya.
Saya orang Rejang, dan saya tidak sedang membela nenek moyang saya. Saya
hanya menolak dua cara membaca yang sama-sama malas. Yang pertama
menyembunyikan pasal-pasal ini dan menjual adat sebagai kearifan yang serba
manis. Yang kedua mengangkat pasal-pasal ini untuk membuktikan bahwa kami
memang layak diperintah orang lain. Keduanya berbohong, dan keduanya membuat
kami berhenti berpikir.
Di ruang bicara kami, saksi tidak bersumpah sebelum bicara. Sumpah datang
di ujung perkara, sebagai penutup, dan ia tidak berhenti pada orang yang
mengucapkannya.
Marsden menjelaskan aturannya dengan teliti. Kalau yang disengketakan
harta kakek, seluruh keturunan kakek itu terikat oleh sumpah. Kalau satu saja
menolak ikut, sumpah batal, dan batal berarti kalah. Ia mencatat satu perkara
yang ia saksikan: tiga orang dituduh mencuri, dua berhasil mengajak keluarganya
bersumpah, yang ketiga gagal membujuk keluarganya, dan ia menanggung seluruh
ganti rugi.
Alat sumpahnya benda pusaka. Keris tua berkarat. Laras bedil patah.
Barang lama yang entah sejak kapan dianggap bertuah. Benda itu dicelup ke air,
lalu airnya diminum. Kadang bilah keris ditetesi air jeruk, dan bibir orang
yang bersumpah membekas. Di Manna, laras bedil dibawa ke tempat sumpah dalam
iring-iringan, dipayungi, dibungkus sutra. Marsden mengomentari upacara itu
dengan mata seorang pengamat kekuasaan. Kemegahan itu, katanya, bekerja. Ia
menanamkan rasa penting ke dalam kepala orang yang akan bersumpah. Lalu ia
menambahkan sindiran untuk negerinya sendiri. Di Inggris, sumpah diucapkan
terlalu sering dan terlalu cepat, sampai kehilangan bobotnya.
Orang Rejang menyimpan kisah seorang dupati yang ia tulis sebagai Dupati
Gunung Ceylong. Sekitar 1770 ia bersumpah palsu dengan cara yang paling
khidmat. Ia punya lima anak lelaki dewasa. Satu mati kena luka dalam perkelahian.
Ia sendiri mati dalam kerusuhan setahun kemudian. Dua anak lagi mati berselang
seminggu. Yang keempat buta. Yang kelima lumpuh. Marsden menulis bahwa kisah
itu terus dikutip orang Rejang, dan bahwa kisah itu punya bobot yang besar
dalam menahan orang dari sumpah palsu.
Ia lalu melakukan sesuatu yang tidak saya duga. Ia membandingkan cara
kami dengan hukum Anglo-Saxon, yang juga memakai penyumpah pendukung, lalu
menyimpulkan bahwa cara kami lebih memahami manusia. Orang Inggris bisa
mengumpulkan tiga puluh tetangga untuk bersumpah demi dirinya tanpa risiko apa
pun. Orang Rejang mempertaruhkan seluruh garis keturunannya.
Saya tumbuh dengan logika itu tanpa pernah menamainya. Sumpah bukan soal
Tuhan menghukum si pendusta. Sumpah adalah soal berapa banyak orang yang ikut
hangus bersamanya.
Ada paragraf dalam buku ini yang, kalau dikutip setengah, bisa dipakai
merampas kampung.
Marsden menulis bahwa tanah begitu berlimpah dibanding jumlah penduduk
sehingga orang Rejang hampir tidak memperlakukannya sebagai objek hak,
sebagaimana mereka tidak memperlakukan udara dan air sebagai objek hak.
Kalimat itu sudah cukup untuk membangun seluruh doktrin tanah kosong.
Tapi bacalah kalimat berikutnya, yang biasanya tidak ikut dikutip.
Ia menerangkan bahwa tanah yang seseorang tanami atau diami, dengan
persetujuan tetangganya, menjadi semacam milik dan bisa dipindahtangankan. Yang
dinilai adalah hasilnya. Harga sebidang tanah dihitung dari kelapa, durian, dan
pohon buah lain yang tumbuh di atasnya. Selama pohon-pohon itu hidup, keturunan
penanamnya tetap berhak, sekalipun tempat itu lama ditinggalkan. Kalau orang
lain menebangnya, ia bisa dituntut ganti rugi. Baru ketika pohon itu habis oleh
usia, tanahnya kembali menjadi milik bersama.
Itu bukan ketiadaan hak. Itu sistem hak yang bertumpu pada kerja dan pada
pohon, bukan pada kertas. Hak yang bisa diwariskan, bisa dijual, bisa
dilanggar, dan bisa berakhir. Marsden menuliskannya lengkap. Pembaca sesudahnya
mengambil kalimat pertama, membuang sisanya, dan pergi membawa peta.
Saya bekerja untuk urusan tanah di Bengkulu. Saya tahu persis ke mana
kalimat setengah itu bermuara.
Marsden memuat tabel aksara kami di antara halaman-halamannya. Ka, ga,
nga, dan seterusnya. Ia mencatat kami menulis dari kiri ke kanan, berbeda
dengan Melayu dan Arab, dan huruf-huruf kami tidak disambung.
Tulisan penting dibuat dengan tinta di kulit bagian dalam sebuah pohon,
dipotong memanjang, lalu dilipat sehingga tiap lipatan menjadi satu halaman.
Untuk keperluan sehari-hari, orang menulis di ruas bambu, kadang utuh, kadang
dibelah, digores dengan ujung keris. Marsden menyimpan beberapa contohnya dan
menyebut goresan itu sering dikerjakan dengan sangat rapi.
Ia juga mengamati sesuatu yang ia sendiri anggap luar biasa. Rejang dan
Batak sama-sama punya aksara sendiri, dan urutan hurufnya tidak sama.
Menurutnya itu bukti dua penemuan yang terpisah, bukan turunan satu sama lain.
Dua bangsa di satu pulau, sama-sama menulis, dengan sistem yang tidak saling
meniru.
Tapi kami tidak menyimpan yang penting di bambu. Marsden mencatat bahwa
setiap perjanjian, urusan umum maupun pribadi, selalu disahkan dengan menggelar
bimbang. Alasan yang orang Rejang berikan kepadanya sederhana. Tulisan bisa diubah
atau dipalsukan. Ingatan atas apa yang diputuskan di depan seribu saksi akan
tetap terjaga. Kalau perkara selesai, mereka menakik tiang kayu di hadapan para
kepala.
Bimbang itu sendiri ia gambarkan dengan detail yang hanya bisa ditulis
orang yang pernah duduk di sana sampai pagi. Gadis-gadis di ujung balai, di
balik tirai, di atas tikar terbaik. Siang untuk sabung ayam. Orang tua-tua
memakai kesempatan itu untuk membicarakan perbaikan bangunan umum atau urusan
dengan dusun sebelah. Malam untuk menari dan bernyanyi. Seorang gadis memulai
lagu, seorang bujang menyahut, dan syairnya dikarang di tempat. Marsden bilang
hasilnya kadang tajam, bahkan lucu. Pesta bubar menjelang subuh dan sanggup
berlanjut berhari-hari sampai persediaan makanan habis.
Jadi kami bukan orang yang tidak punya arsip. Kami punya arsip yang
berbeda bentuknya. Arsip itu berupa orang banyak, makanan, lagu, dan satu takik
di tiang.
Ironinya sempurna. Pada 1779, arsip itu diminta pindah ke kertas, oleh
orang yang di buku yang sama menjelaskan dengan baik kenapa kami tidak
memercayai kertas.
Sampai di bab agama, pengamat yang tadi begitu awas itu mendadak buta.
Ia menulis bahwa agama asli orang Rejang, kalau memang pernah ada, hampir
tidak bisa dilacak lagi. Lalu ia menyimpulkan. Kalau agama berarti ibadah, doa,
arak-arakan, sesaji, patung, atau pendeta, maka orang Rejang sama sekali tidak
punya agama, dan bahkan tidak pantas disebut pagan.
Padahal ia sendiri yang menuliskan sumpah di keramat, di kuburan nenek
moyang. Ia sendiri yang menuliskan pusaka yang disimpan di rumah dan
dikeluarkan hanya ketika sumpah diambil. Ia sendiri yang menuliskan orang alus,
makhluk halus yang bisa mendatangkan untung dan celaka, dan yang orang takuti
ketika musibah datang.
Ia melihat seluruhnya, lalu menyebutnya kosong.
Kesalahannya bukan kurang data. Kesalahannya ada di definisi. Ia datang
membawa daftar isi tentang apa itu agama, gagal menemukan butir-butirnya, lalu
menyimpulkan bahwa yang ada di depannya bukan apa-apa. Ini kegagalan yang
paling sering menimpa orang yang menulis tentang orang lain, dan ia tidak
kebal.
Buku yang sama menyimpan sebuah perdebatan yang lebih cerdas daripada
kesimpulan penulisnya. Seorang Melayu mencela seorang Pasemah: apa dasarmu
percaya nenek moyang yang sudah mati bisa menolongmu? Si Pasemah balik
bertanya: apa dasarmu percaya Allah dan Muhammad akan menolongmu? Si Melayu
menjawab, karena hal itu tertulis di dalam sebuah kitab. Marsden menulis bahwa
orang Pasemah itu terdiam, merasa kalah.
Selalu soal kitab. Yang tertulis mengalahkan yang dituturkan. Argumen
yang sama menang di Lais pada 1779, dan adat kami masuk ke kertas.
Marsden menempatkan kami di kelas ketiga dari lima tingkat peradaban yang
ia karang sendiri. Ia mendaftar sifat kami seperti orang mendaftar barang
dagangan. Lembut, hemat, sabar, murah hati sampai batas kemampuan. Juga suka
berperkara, malas, gemar berjudi, tidak peduli hari esok. Saya tidak tersanjung
dan tidak tersinggung. Daftar itu disusun pada 1783 oleh pegawai perusahaan
dagang yang sedang membeli lada kami.
Yang menahan saya sampai halaman terakhir adalah kejujurannya di satu
titik.
Ia bertanya kenapa orang Sumatra tidak meniru banyak hal dari Inggris
setelah seratus tahun bertetangga. Jawabannya ia tulis sendiri, dan jawabannya
memberatkan bangsanya. Inggris tidak membuat apa pun di sini. Mereka tidak
memintal kapas kami. Mereka tidak melebur logam kami. Mereka bahkan tidak
memahat batu kami. Semua barang datang jadi dari Eropa, dan penduduk setempat
tidak pernah diberi kesempatan melihat prosesnya. Percuma memamerkan jam dan
sulaman kepada orang yang tidak pernah diizinkan menonton cara membuatnya.
Ia juga merekam satu percakapan yang tidak bisa saya lupakan. Seorang
lelaki mengamati jam dinding, terpesona, lalu berkata bahwa pantas orang
seperti mereka menjadi budak bangsa yang sanggup membuat mesin sehebat itu.
Matahari juga mesin semacam ini, katanya. Kawannya menyahut: lalu siapa yang
memutarnya? Siapa lagi kalau bukan Allah, jawab lelaki itu.
Saya menutup buku ini dengan satu kesimpulan yang sederhana.
The History of Sumatra bukan cermin orang Rejang. Ia catatan lapangan
yang ditulis dari seberang meja, oleh orang yang menggaji juru bicara kami dan
membeli hasil kebun kami. Tetapi justru karena itu ia berguna. Catatan pihak
seberang menyimpan hal yang tidak disimpan oleh ingatan kami sendiri. Ia
menyimpan tanggal. Ia menyimpan angka. Ia menyimpan nama orang yang meneken.
Berkat buku ini saya tahu bulan dan tahun ketika adat Rejang dipindahkan
ke kertas, siapa yang mengetuk palunya, dan pasal mana yang mereka ubah dalam
perjalanan.
Perkara yang dibuka di Lais pada April 1779 belum ditutup. Ia berjalan
terus, sekarang dalam bentuk peta kawasan hutan, izin konsesi, dan sertifikat
tanah di kampung-kampung kami.
Dan setiap kali saya lelah, saya kembali ke catatan kaki di halaman 36.
Seorang pangeran, tersinggung karena dikira Melayu, menegakkan punggungnya di
depan pegawai Inggris yang sedang mencatat, dan berkata: bukan Melayu, saya ini
orang ulu tulen.
Kalimat itu bertahan dua ratus empat puluh tahun di dalam buku orang
lain. Kalimat itu masih bekerja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar