Di Tanah Pusako Baru, kalender
tidak dihitung dari matahari. Matahari planet ini terbit dua kali sehari,
kadang tiga kali kalau atmosfer sedang bermain-main dengan cahaya. Orang-orang
menghitung waktu dari bunga kambia, tanaman rimba asli yang hanya mekar sekali
dalam siklus tertentu, delapan hingga empat belas minggu, tergantung curah
hujan di dataran tinggi.
Paraduta menikahi Saluna pada
minggu ketiga sebelum musim tanam. Catatan pernikahan di arsip balai desa
menyebut usia mereka dua puluh dua dan dua puluh tahun. Tidak ada yang istimewa
dari pernikahan itu, kecuali bahwa keduanya berasal dari garis keturunan
berbeda, dan Paraduta memilih jalan semendo. Ia pindah ke rumah keluarga
Saluna, bukan sebaliknya. Di koloni ini, pilihan itu masih dianggap berat.
Banyak lelaki muda menghindarinya.
"Saya tidak
menyesal," kata Paraduta, delapan tahun kemudian, duduk di beranda gubuk
ladangnya yang sudah reyot. "Tapi saya juga tidak akan bilang itu
mudah."
Rumah keluarga Saluna dibangun
dari kayu matiak, bahan lokal yang tumbuh cepat dan tahan kelembaban.
Rancangannya mengikuti pola lama dari Bumi Jurukalang, disesuaikan seadanya
dengan bahan-bahan baru. Ada satu ruangan khusus di bagian dalam rumah, disebut
warga setempat sebagai kamar pengantin. Setelah menikah, Saluna tinggal di
sana.
Paraduta, meski sudah menjadi
bagian dari rumah itu secara hukum, tidak diizinkan masuk begitu saja. Ia harus
menjaga jarak di siang hari, duduk di ruang depan bersama mertua dan
ipar-iparnya, membantu pekerjaan kasar, dan menahan diri agar tidak terlihat
terlalu dekat dengan istrinya sendiri. Rasa malu itu, kata warga setempat,
bukan aturan tertulis. Tidak ada yang menghukum jika dilanggar. Tapi semua
orang mematuhinya.
Siang hari, Paraduta
menghabiskan waktu dengan lelaki lain yang senasib, memancing di tepian sungai atau
berjudi kecil-kecilan dengan kartu yang dibawa nenek moyang mereka. Malam hari,
ketika rumah sudah sunyi, ia menyelinap lewat jendela sempit di dinding
belakang kamar Saluna. Jendela itu sengaja dibuat pas untuk tubuh orang dewasa,
tidak lebih. Ia masuk diam-diam, membangunkan istrinya, dan kembali sebelum
subuh lewat jalan yang sama.
"Itu bukan rahasia,"
kata Saluna, tertawa kecil saat mengingatnya. "Semua orang tahu. Tapi
semua orang juga pura-pura tidak tahu. Begitu caranya."
Tiga bulan setelah menikah,
keluarga Saluna mulai membicarakan ladang. Paraduta harus membuka lahan sendiri
sebelum ia diizinkan tinggal terpisah dari rumah induk. Ini bukan hanya soal
ekonomi. Ini soal kelayakan.
Ia pergi ke tepi hutan
sekunder bersama ayah mertuanya dan dua tetua garis keturunan Saluna. Rimba di bumi
Jurukalang ini berbeda dari hutan tropis yang diceritakan nenek moyang mereka.
Pohonnya tinggi dan berbatang licin, dengan akar yang saling menyambung di
bawah tanah membentuk jaringan yang, menurut ahli botani, bisa mengirim sinyal
kimia antar pohon ketika salah satu ditebang.
Sebelum menebang pohon
pertama, salah satu tetua membakar getah damar lokal dan menyebut nama leluhur
yang mereka, juga nama-nama baru yang mereka berikan untuk kekuatan tak kasat
mata di. Mereka menyebutnya penjaga akar. Tidak semua warga percaya penjaga
akar itu nyata. Tapi hampir semua tetap menjalankan upacaranya.
"Bukan soal percaya atau
tidak," kata salah satu tetua, Imam Merti, saat ditanya. "Soal
menjaga hubungan baik dengan tempat yang akan kita tinggali seumur hidup."
Setelah upacara, tetua
menandai batas ladang dengan torehan pada pohon-pohon pembatas. Batas itu,
menurut hukum adat, berlaku selamanya, bahkan jika lahan kelak dibiarkan
kembali menjadi hutan.
Paraduta membangun gubuk
ladangnya sendiri, di tengah lahan yang baru ditebang, menghadap ke arah
matahari terbit pertama. Ia memilih posisi itu bukan karena pemandangan, tapi
karena nasihat dari tetangganya. Jangan bangun di persimpangan jalur binatang.
Ada cerita lama tentang predator lokal yang menganggap jalur lama sebagai
miliknya. Seorang petani di talang sebelah pernah diserang makhluk mirip kucing
besar bermata delapan setelah gubuknya berdiri tepat di jalur itu. Tidak ada
yang berani membuktikan cerita itu salah.
Gubuk itu sederhana. Satu
ruangan, tinggi kurang dari satu setengah meter, lantai dari bilah bambu di
atas tiang kayu, ditinggikan tiga meter dari tanah untuk menghindari banjir
kilat musim hujan. Tidak ada kursi. Tidak ada meja. Dua tikar tidur digulung
dan digantung di siang hari.
Pembangunannya selesai dalam
satu hari, dengan bantuan sepuluh lelaki dari keluarga Saluna dan dua tetangga.
Mereka datang pagi-pagi, membawa alat masing-masing, dan bekerja tanpa upah
selain makan siang dan janji balas budi di lain waktu. Ayah Saluna memimpin
kerja itu. Di sela pekerjaan, seorang perempuan tua membacakan doa dalam bahasa
campuran, sebagian sudah berubah bentuk setelah empat puluh tahun.
Sore harinya, ketika atap
sudah terpasang, keluarga membawa nasi dan ikan sungai yang diasapi. Mereka
makan bersama di lantai gubuk yang masih berbau kayu segar. Ayah Saluna
berdiri, membakar sedikit damar, dan mengumumkan bahwa gubuk ini dibangun untuk
anak cucu Paraduta dan Saluna kelak, bukan hanya untuk mereka berdua.
Malam itu, kerabat dekat tidur
di gubuk, berjaga bergiliran. Bukan karena takut pencuri. Warga percaya malam
pertama di gubuk baru rawan gangguan dari penjaga akar yang belum terbiasa
dengan penghuni baru.
Paraduta dan Saluna
menghabiskan dua tahun pertama pernikahan mereka sebagian besar di gubuk itu,
jauh dari rumah induk. Mereka menanam padi, dan sedikit demi sedikit menambah
tanaman kopi eksperimental yang baru mulai dicoba di Jurukalang.
Bagi Paraduta, sebagai suami
semendo, ladang itu berarti lebih dari sekadar sumber pangan. Di rumah mertua,
ia harus melayani, menahan diri, dan menerima posisi di belakang. Di ladang, ia
bebas. Ia menentukan sendiri kapan bangun, kapan menanam, kapan istirahat.
"Saya lebih suka
sendirian di sini," katanya, "daripada pulang ke rumah mertua dan
merasa seperti tamu yang tidak pernah pulang."
Saluna tidak selalu setuju
dengan caranya melihat itu. "Bagi saya, gubuk ini bukan pelarian,"
katanya. "Ini rumah pertama saya. Rumah yang saya bangun sendiri, bukan
yang saya warisi."
Ketika hasil panen kopi
pertama mereka terjual, keduanya mulai memperluas gubuk itu. Mereka menambah
satu ruangan, memasang atap kedua, dan menanam pohon buah di sekitar halaman.
Tetangga mereka menyebutnya bercanda "rumah desa versi kecil".
Paraduta tidak keberatan dengan sebutan itu.
Delapan tahun setelah
pernikahan mereka, gubuk itu masih berdiri, meski sudah diperbaiki
berkali-kali. Di sekitarnya, hutan sekunder mulai tumbuh kembali di lahan-lahan
tetangga yang sudah ditinggalkan, meninggalkan kerangka gubuk-gubuk lama yang
perlahan ditelan akar dan daun. Pemandangan itu biasa terlihat di sepanjang
lereng dataran tinggi Tanah Pusako Baru, saksi dari berapa banyak keluarga yang
pernah memulai hidup dengan cara yang sama seperti Paraduta dan Saluna, satu
gubuk, satu ladang, satu janji kepada tempat yang belum sepenuhnya mereka
kenal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar