Gubuk di Tanah Pusako Baru - Erwin Basrin

Breaking

Selasa, 22 September 2026

Gubuk di Tanah Pusako Baru

 


Di Tanah Pusako Baru, kalender tidak dihitung dari matahari. Matahari planet ini terbit dua kali sehari, kadang tiga kali kalau atmosfer sedang bermain-main dengan cahaya. Orang-orang menghitung waktu dari bunga kambia, tanaman rimba asli yang hanya mekar sekali dalam siklus tertentu, delapan hingga empat belas minggu, tergantung curah hujan di dataran tinggi.

Paraduta menikahi Saluna pada minggu ketiga sebelum musim tanam. Catatan pernikahan di arsip balai desa menyebut usia mereka dua puluh dua dan dua puluh tahun. Tidak ada yang istimewa dari pernikahan itu, kecuali bahwa keduanya berasal dari garis keturunan berbeda, dan Paraduta memilih jalan semendo. Ia pindah ke rumah keluarga Saluna, bukan sebaliknya. Di koloni ini, pilihan itu masih dianggap berat. Banyak lelaki muda menghindarinya.

"Saya tidak menyesal," kata Paraduta, delapan tahun kemudian, duduk di beranda gubuk ladangnya yang sudah reyot. "Tapi saya juga tidak akan bilang itu mudah."

Rumah keluarga Saluna dibangun dari kayu matiak, bahan lokal yang tumbuh cepat dan tahan kelembaban. Rancangannya mengikuti pola lama dari Bumi Jurukalang, disesuaikan seadanya dengan bahan-bahan baru. Ada satu ruangan khusus di bagian dalam rumah, disebut warga setempat sebagai kamar pengantin. Setelah menikah, Saluna tinggal di sana.

Paraduta, meski sudah menjadi bagian dari rumah itu secara hukum, tidak diizinkan masuk begitu saja. Ia harus menjaga jarak di siang hari, duduk di ruang depan bersama mertua dan ipar-iparnya, membantu pekerjaan kasar, dan menahan diri agar tidak terlihat terlalu dekat dengan istrinya sendiri. Rasa malu itu, kata warga setempat, bukan aturan tertulis. Tidak ada yang menghukum jika dilanggar. Tapi semua orang mematuhinya.

Siang hari, Paraduta menghabiskan waktu dengan lelaki lain yang senasib, memancing di tepian sungai atau berjudi kecil-kecilan dengan kartu yang dibawa nenek moyang mereka. Malam hari, ketika rumah sudah sunyi, ia menyelinap lewat jendela sempit di dinding belakang kamar Saluna. Jendela itu sengaja dibuat pas untuk tubuh orang dewasa, tidak lebih. Ia masuk diam-diam, membangunkan istrinya, dan kembali sebelum subuh lewat jalan yang sama.

"Itu bukan rahasia," kata Saluna, tertawa kecil saat mengingatnya. "Semua orang tahu. Tapi semua orang juga pura-pura tidak tahu. Begitu caranya."

Tiga bulan setelah menikah, keluarga Saluna mulai membicarakan ladang. Paraduta harus membuka lahan sendiri sebelum ia diizinkan tinggal terpisah dari rumah induk. Ini bukan hanya soal ekonomi. Ini soal kelayakan.

Ia pergi ke tepi hutan sekunder bersama ayah mertuanya dan dua tetua garis keturunan Saluna. Rimba di bumi Jurukalang ini berbeda dari hutan tropis yang diceritakan nenek moyang mereka. Pohonnya tinggi dan berbatang licin, dengan akar yang saling menyambung di bawah tanah membentuk jaringan yang, menurut ahli botani, bisa mengirim sinyal kimia antar pohon ketika salah satu ditebang.

Sebelum menebang pohon pertama, salah satu tetua membakar getah damar lokal dan menyebut nama leluhur yang mereka, juga nama-nama baru yang mereka berikan untuk kekuatan tak kasat mata di. Mereka menyebutnya penjaga akar. Tidak semua warga percaya penjaga akar itu nyata. Tapi hampir semua tetap menjalankan upacaranya.

"Bukan soal percaya atau tidak," kata salah satu tetua, Imam Merti, saat ditanya. "Soal menjaga hubungan baik dengan tempat yang akan kita tinggali seumur hidup."

Setelah upacara, tetua menandai batas ladang dengan torehan pada pohon-pohon pembatas. Batas itu, menurut hukum adat, berlaku selamanya, bahkan jika lahan kelak dibiarkan kembali menjadi hutan.

Paraduta membangun gubuk ladangnya sendiri, di tengah lahan yang baru ditebang, menghadap ke arah matahari terbit pertama. Ia memilih posisi itu bukan karena pemandangan, tapi karena nasihat dari tetangganya. Jangan bangun di persimpangan jalur binatang. Ada cerita lama tentang predator lokal yang menganggap jalur lama sebagai miliknya. Seorang petani di talang sebelah pernah diserang makhluk mirip kucing besar bermata delapan setelah gubuknya berdiri tepat di jalur itu. Tidak ada yang berani membuktikan cerita itu salah.

Gubuk itu sederhana. Satu ruangan, tinggi kurang dari satu setengah meter, lantai dari bilah bambu di atas tiang kayu, ditinggikan tiga meter dari tanah untuk menghindari banjir kilat musim hujan. Tidak ada kursi. Tidak ada meja. Dua tikar tidur digulung dan digantung di siang hari.

Pembangunannya selesai dalam satu hari, dengan bantuan sepuluh lelaki dari keluarga Saluna dan dua tetangga. Mereka datang pagi-pagi, membawa alat masing-masing, dan bekerja tanpa upah selain makan siang dan janji balas budi di lain waktu. Ayah Saluna memimpin kerja itu. Di sela pekerjaan, seorang perempuan tua membacakan doa dalam bahasa campuran, sebagian sudah berubah bentuk setelah empat puluh tahun.

Sore harinya, ketika atap sudah terpasang, keluarga membawa nasi dan ikan sungai yang diasapi. Mereka makan bersama di lantai gubuk yang masih berbau kayu segar. Ayah Saluna berdiri, membakar sedikit damar, dan mengumumkan bahwa gubuk ini dibangun untuk anak cucu Paraduta dan Saluna kelak, bukan hanya untuk mereka berdua.

Malam itu, kerabat dekat tidur di gubuk, berjaga bergiliran. Bukan karena takut pencuri. Warga percaya malam pertama di gubuk baru rawan gangguan dari penjaga akar yang belum terbiasa dengan penghuni baru.

Paraduta dan Saluna menghabiskan dua tahun pertama pernikahan mereka sebagian besar di gubuk itu, jauh dari rumah induk. Mereka menanam padi, dan sedikit demi sedikit menambah tanaman kopi eksperimental yang baru mulai dicoba di Jurukalang.

Bagi Paraduta, sebagai suami semendo, ladang itu berarti lebih dari sekadar sumber pangan. Di rumah mertua, ia harus melayani, menahan diri, dan menerima posisi di belakang. Di ladang, ia bebas. Ia menentukan sendiri kapan bangun, kapan menanam, kapan istirahat.

"Saya lebih suka sendirian di sini," katanya, "daripada pulang ke rumah mertua dan merasa seperti tamu yang tidak pernah pulang."

Saluna tidak selalu setuju dengan caranya melihat itu. "Bagi saya, gubuk ini bukan pelarian," katanya. "Ini rumah pertama saya. Rumah yang saya bangun sendiri, bukan yang saya warisi."

Ketika hasil panen kopi pertama mereka terjual, keduanya mulai memperluas gubuk itu. Mereka menambah satu ruangan, memasang atap kedua, dan menanam pohon buah di sekitar halaman. Tetangga mereka menyebutnya bercanda "rumah desa versi kecil". Paraduta tidak keberatan dengan sebutan itu.

Delapan tahun setelah pernikahan mereka, gubuk itu masih berdiri, meski sudah diperbaiki berkali-kali. Di sekitarnya, hutan sekunder mulai tumbuh kembali di lahan-lahan tetangga yang sudah ditinggalkan, meninggalkan kerangka gubuk-gubuk lama yang perlahan ditelan akar dan daun. Pemandangan itu biasa terlihat di sepanjang lereng dataran tinggi Tanah Pusako Baru, saksi dari berapa banyak keluarga yang pernah memulai hidup dengan cara yang sama seperti Paraduta dan Saluna, satu gubuk, satu ladang, satu janji kepada tempat yang belum sepenuhnya mereka kenal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar