Penjaga Bara Tungku Garis Keturunan - Erwin Basrin

Breaking

Jumat, 21 Agustus 2026

Penjaga Bara Tungku Garis Keturunan

 


Erwin Basrin

"Sebelum van Vollenhoven dan mazhabnya mulai mengkodifikasi apa yang tampak bagi para yuris Barat sebagai aspek-aspek yuridis dari adat asli, hukum adat tidak berdiri sebagai entitas yang terpisah dan independen, melainkan dalam kebanyakan kasus terjalin dengan sejarah, mitologi, dan piagam-piagam institusional dari setiap unit etnis atau budaya." - M.A. Jaspan, 1965

 

 Api itu tidak pernah benar-benar padam.

Bukan karena ada yang selalu menjaganya. Bukan karena kayu bakarnya tidak habis. Tapi karena ada perempuan tua yang tidurnya ringan. Yang matanya terbuka begitu bara mulai melemah. Yang bangun sebelum subuh hanya untuk menunduk di depan tungku dan meniup pelan.

Namanya Dayang Saluna.

Di dusun Kutai Tuwai Topos, di lekungan Bukit Lekenei yang anginnya turun menusuk setelah tengah malam, tidak ada yang meragukan otoritasnya. Bukan karena ia perempuan tertua. Bukan karena ia pernah bicara keras kepada siapa pun. Tapi karena ia tahu silsilah. Ia tahu siapa berasal dari mana, siapa kawin dengan siapa, siapa menanggung utang siapa.

Dan di sini, di tanah Jekalang. Tanah Rejang, itu adalah pengetahuan yang paling berat.

Tungku milik keluarga Saluna adalah tungku tiga batu, seperti semua tungku di dusun ini. Tiga batu besar yang ditaruh dalam segitiga, cukup untuk menopang periuk atau dandang. Di antara tiga batu itu, di celah-celahnya yang hitam dan hangat, bara selalu ada. Selalu. Sejak nenek Dayang Saluna menaruh batu-batu itu enam puluh tahun yang lalu, belum pernah sekali pun api di tungku itu benar-benar padam.

Itu bukan kebetulan. Itu pekerjaan.

Pagi ini Dayang Saluna duduk di depan tungku seperti biasa. Udara masih hitam. Anak-anak belum bangun. Ia meniup bara pelan, memasukkan ranting kering, menunggu sampai lidah api kecil muncul. Tangannya tidak gemetar meski umurnya sudah tujuh puluh tiga. Tangannya hitam dan keras, tapi gerakannya masih tepat.

Di luar, suara sungai Ketahun terdengar dari kejauhan.

Dan di balik pintu, Dayang Saluna tahu ada masalah yang sedang menunggu.

Masalah itu bernama Juaso.

Juaso, dua puluh delapan tahun, anak adik kandungnya yang kawin semendo dua puluh tahun lalu dan kini sudah pindah ke dusun lain. Juaso yang kata orang tangannya ringan. Juaso yang kata orang mulutnya berat. Artinya: banyak mengambil, sedikit berkata.

Dua hari lalu, seorang lelaki dari hilir datang ke dusun ini. Ia membawa serta dua orang, satu di antaranya berbadan besar dan berdiri di belakang seperti bayangan. Lelaki itu mengaku anak dari pedagang Komering yang meninggal di jalan tiga bulan lalu, tepat setelah melewati wilayah yang biasa dilalui Juaso.

Ia bilang pedagang itu kehilangan tiga kain sutra dan satu ikat uang sebelum meninggal.

Ia bilang Juaso yang mengambilnya.

Dan ia bertanya: siapa yang harus bertanggung jawab?

Bukan kepada Juaso, karena Juaso sudah kabur entah ke mana. Bukan kepada tanah, karena tanah tidak bisa menjawab. Ia bertanya kepada dusun. Kepada keluarga. Kepada garis darah.

Kepala marga menyuruh lelaki itu menunggu. Beri waktu dua hari. Dan malam tadi, kepala marga datang ke pnigo Dayang Saluna dan duduk di kursi rotan yang sudah lama berbunyi waktu diduduki.

"Dayang," ia berkata, "kami perlu tahu. Juaso itu darah siapa?"

Dayang Saluna tidak langsung menjawab.

Ia menuangkan air dari towong ke dalam gelas, menyodorkannya kepada kepala marga, dan duduk kembali di tikar yang sudah tipis. Di luar, jangkrik berbunyi. Di dalam, tungku masih menyala.

"Juaso itu," ia mulai pelan, "anak dari Muning Remas. Remas itu adik saya yang nomor tiga."

Kepala marga mengangguk.

"Remas kawin semendo ke dusun Kutai Kauk dua puluh tahun lalu. Ia masuk ke keluarga istrinya. Tapi Juaso lahir sebelum itu. Juaso lahir di sini. Di pnigo  ini. Juaso lahir dari darah kami."

Di sini perlu dijelaskan sesuatu yang orang-orang dari hilir sering tidak mengerti.

Di tanah Rejang, ada dua pertanyaan yang bisa diajukan waktu sesuatu yang salah terjadi. Pertanyaan pertama: di mana kejadiannya? Pertanyaan kedua: kepada siapa pelakunya terkait?

Orang-orang dari kota, orang-orang yang membawa kertas dan peta, selalu menanya yang pertama. Di mana? Di batas mana? Di wilayah marga mana? Seolah tanah bisa menanggung malu. Seolah tanah bisa membayar.

Tapi tanah tidak punya darah. Tanah tidak menangis waktu ada yang tertimpa musibah.

Yang punya darah adalah keluarga.

Jadi pertanyaan yang benar adalah yang kedua: kepada siapa Juaso terkait? Siapa yang menanggung Juaso? Siapa yang sejak kecil memberikan ia makan, memberikan ia nama, memberikan ia tempat berdiri di dunia ini?

Jawabannya: keluarga Saluna.

Dayang Saluna tahu itu sebelum kepala marga datang. Ia tahu itu sejak ia mendengar nama Juaso disebut. Karena ia yang menjaga bara. Ia yang ingat.

Ada yang perlu dipahami tentang tungku tiga batu di pnigo Saluna.

Bukan Dayang Saluna yang memilikinya. Bukan anaknya. Bukan cucu-cucunya. Tungku itu milik garis. Garis yang panjang, yang membentang ke belakang sebelum ada orang yang ingat, dan akan membentang ke depan setelah semua yang hidup sekarang sudah jadi tanah.

Nenek dari neneknya Dayang Saluna, perempuan yang namanya hanya diingat sebagai Dayang Reginang, yang menaruh tiga batu itu. Dayang Reginang yang datang ke tanah ini dari utara, kawin ke dalam keluarga yang sudah ada di lekungan Bukit Lekenei. Ia membawa serta pengetahuan tentang menanam padi di ladang yang miring. Ia membawa serta cara melipat daun pinang. Dan ia membawa serta kebiasaan bahwa api di tungku tidak boleh mati.

Bukan mitos. Bukan sihir.

Hanya kebiasaan yang jadi aturan. Aturan yang jadi adat. Adat yang jadi tulang punggung semua orang yang datang sesudahnya.

Waktu Dayang Reginang meninggal, ia meninggalkan tungkunya kepada menantunya. Ketika menantu itu meninggal, tungku pindah ke generasi berikutnya. Bukan karena ada surat. Bukan karena ada saksi. Tapi karena semua orang tahu: siapa yang menjaga bara, ia yang menjaga garis.

Dan sekarang Dayang Saluna yang menjaganya.

Ia tidak pernah memilih pekerjaan ini. Tidak ada upacara. Tidak ada penobatan. Suatu hari ia sadar bahwa dialah yang selalu bangun paling pagi. Dialah yang selalu meniup bara sebelum orang lain membuka mata. Dan dari kebiasaan itu, orang-orang mulai datang kepadanya waktu ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab orang lain.

"Dayang Saluna, siapa bapaknya si Anu itu?"

"Dayang Saluna, ibunya si Fulan itu saudara siapa?"

"Dayang Saluna, kalau dia kawin jujur ke keluarga sana, apakah anak-anaknya masih masuk darah kita?"

Selalu pertanyaan tentang darah. Tentang asal. Tentang garis.

Dan Dayang Saluna selalu tahu jawabannya.

Waktu ia berumur dua belas tahun, ada sebuah keluarga datang dari dusun sebelah.

Mereka datang untuk melamar kakaknya, perempuan yang waktu itu sudah tujuh belas tahun dan cantik dengan cara orang di lereng bukit mawua: kuat, berkulit gelap, matanya seperti tahu lebih banyak dari yang ia katakan. Lamaran itu adalah lamaran jujur. Artinya: keluarga laki-laki datang membawa harga. Mereka mau membawa kakaknya pergi ke dusun mereka, masuk ke keluarga mereka, memberi keluarga mereka seorang perempuan yang akan meneruskan garis.

Bagi keluarga yang menerima seorang perempuan melalui jujur, itu artinya lebih dari sekadar perkawinan. Mereka menerima darah baru. Dan darah baru itu membawa serta sejarahnya sendiri, ikatan-ikatannya sendiri, tanggung jawabnya sendiri.

Keluarga laki-laki membayar harga yang sudah dirundingkan. Bukan harga manusia. Itu salah paham yang sering dibuat orang-orang luar. Harga itu adalah pengakuan. Pengakuan bahwa perempuan ini bukan kosong, bahwa ia membawa serta sesuatu yang berharga: garis keturunan, pengetahuan, koneksi ke keluarga-keluarga yang sudah terjalin selama generasi.

Kakaknya pergi.

Dan Dayang Saluna, yang waktu itu masih dua belas tahun dan duduk di pojok sambil pura-pura memilih beras, memperhatikan semuanya. Ia perhatikan bagaimana Bapak menandatangani dengan jempolnya. Ia perhatikan bagaimana Ibu menangis dengan tenang. Ia perhatikan bagaimana kakaknya mengenakan kain terbaik keluarga itu untuk terakhir kalinya sebelum pergi.

Dan ia perhatikan sesuatu yang tidak diperhatikan orang lain: bahwa setelah kakaknya pergi, beban yang dibawa kakaknya tidak ikut pergi. Beban itu tetap di sini. Tetap di pnigo  ini. Tetap dalam darah yang sama yang mengalir di kakaknya dan di dirinya.

Kalau suatu hari kakaknya berbuat sesuatu di sana, di dusun suaminya, maka bukan suaminya saja yang menanggung. Keluarga di sini ikut menanggung. Karena darahnya berasal dari sini.

Itu yang disebut tanggung-menanggung.

Bukan pilihan. Bukan moralitas yang dipilih karena alasan indah. Tapi kenyataan hidup seperti kenyataan bahwa api butuh kayu.

Dua malam sebelum kepala marga datang, Dayang Saluna sudah tidak tidur nyenyak.

Bukan karena ia tahu tentang Juaso waktu itu. Tapi karena tubuhnya yang tua sudah belajar mendeteksi semacam kegelisahan di udara. Seperti bagaimana ia bisa merasakan hujan akan datang dua jam sebelum awan muncul. Seperti bagaimana ia bisa tahu bara di tungku hampir habis sebelum cahayanya benar-benar melemah.

Ia bangun, duduk di depan tungku, dan mulai mengingat.

Mengingat bukan seperti orang yang membaca buku. Lebih seperti orang yang menelusuri benang. Satu benang ke benang lain, satu nama ke nama lain.

Juaso. Anak Mining Remas. Remas, adiknya yang ketiga. Remas yang lahir di pnigo  ini, yang bermain di halaman yang sama, yang makan dari tungku yang sama. Remas yang kemudian kawin semendo dan pindah ke Kutai Kauk, tapi yang darahnya tetap darah ini.

Juaso lahir sebelum Remas pindah. Juaso tumbuh di sini, di pnigo  ini, sampai umur tujuh tahun. Lalu ikut bapaknya ke Kutai Kauk.

Tujuh tahun itu cukup. Tujuh tahun berarti ia makan dari tungku yang sama. Berarti ia tidur di bawah atap yang sama. Berarti akar-akarnya ada di sini, bahkan kalau cabang-cabangnya sudah tumbuh ke arah lain.

Dayang Saluna meniup bara pelan. Api mengecil, lalu besar lagi.

Ia tahu apa yang harus ia katakan besok.

Dan ia tidak suka.

Bukan karena ia tidak mau menanggung. Bukan karena ia takut. Tapi karena ia tua dan lelah, dan karena Juaso adalah anak yang waktu kecil selalu lari ke arahnya waktu ia jatuh dan lutut berdarah. Sekarang anak itu sudah menghilang, dan orang-orang dari hilir datang dengan wajah yang tidak ramah, dan Dayang Saluna yang harus berdiri dan mengaku: ya, kami yang menanggung.

"Juaso itu darah kami," kata Dayang Saluna kepada kepala marga.

Suaranya tidak gemetar. Tapi juga tidak keras.

"Ia lahir di sini. Tujuh tahun ia makan dari tungku ini. Bapaknya adalah adik kandung saya. Ibunya juga dari marga yang sama sebelum Remas bawa ia ke Kutai Kauk."

Kepala marga mendengarkan.

"Jadi kalau ia ambil sesuatu yang bukan miliknya dan orang itu mati sebelum ada penyelesaian, siapa yang menanggung?"

Bukan pertanyaan sungguhan. Kepala marga sudah tahu jawabannya. Ia hanya ingin mendengarnya dari Dayang Saluna.

"Kami," kata Dayang Saluna.

Satu kata. Tidak ada cara lain mengatakannya.

Kepala marga mengangguk lambat. "Keluarga dari hilir itu minta tiga kain dan dua kali lipat nilai uang yang hilang."

Dayang Saluna tidak berkedip. Ia menghitung dalam kepala. Bukan dengan angka. Dengan nama. Siapa di keluarga yang bisa memberikan kain. Siapa yang punya tabungan. Siapa yang bisa dipanggil untuk ikut menanggung.

"Beri saya tiga hari," ia berkata.

Tiga hari berikutnya, Dayang Saluna berjalan.

Ia berjalan ke rumah saudaranya yang nomor dua, yang sudah tua juga tapi masih kuat. Ia berjalan ke rumah anak-anaknya. Ke rumah keponakan-keponakannya. Ke tempat-tempat yang masih terhubung dengan tungku pnigo  Saluna melalui benang yang tidak terlihat tapi ada.

Di setiap tempat, ia duduk, minum teh kalau ditawarkan, dan bercerita. Tentang Juaso. Tentang kejadian di jalan. Tentang keluarga dari hilir yang datang.

Tidak ada yang bertanya: apa hubungannya dengan kami?

Mereka semua tahu. Karena mereka semua tahu garis itu. Mereka semua tahu dari mana darah mereka berasal, ke mana ia mengalir, dan beban apa yang ikut mengalir bersamanya.

Ada satu keponakan, Cik Masya, yang waktu mendengar cerita itu langsung mengambil kain terbaiknya dari peti.

"Ini untuk bayar," kata Cik Masya pendek.

Dayang Saluna menerima kain itu. Tidak dengan senang. Tidak dengan air mata haru. Ia menerimanya seperti orang menerima sesuatu yang memang sudah seharusnya ada di sana.

"Makasih," ia berkata.

"Juaso itu dulu sering main di sini waktu kecil," kata Cik Masya. "Bandel. Tapi lucu."

Dayang Saluna tidak menjawab. Ia sudah berdiri dan mau pergi ke rumah berikutnya.

Ada seorang lelaki muda dari kota yang pernah datang ke dusun Kutai Tuwai Topos untuk menulis sesuatu.

Ia datang dengan buku catatan besar dan pertanyaan-pertanyaan yang panjang. Ia bertanya tentang tanah. Tentang batas-batas. Tentang siapa yang punya hak atas mana.

Dayang Saluna meladeninya dengan sabar.

Tapi waktu lelaki itu bertanya, "Jadi kalau ada yang bersalah di wilayah marga ini, marga yang menanggung?" Dayang Saluna menggeleng.

"Bukan begitu," ia berkata.

Lelaki itu membuka buku catatannya, siap menulis penjelasan.

"Kalau ada yang bersalah," kata Dayang Saluna pelan, "yang ditanya pertama bukan di mana kejadiannya. Yang ditanya: siapa pelakunya darah siapa."

"Maksudnya?"

"Kalau anak kandung saya berbuat salah, yang menanggung adalah kami, bukan tetangga saya yang lebih dekat secara jarak. Bukan tanah di sini, bukan batas marga di peta. Tapi darah yang sama. Karena tanah tidak punya darah. Tapi keluarga punya."

Lelaki itu menulis sesuatu. Dayang Saluna tidak tahu apa yang ia tulis.

Tapi ia tahu bahwa apa yang ia katakan adalah sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya masuk ke dalam buku catatan. Pengetahuan tentang garis keturunan bukan pengetahuan yang bisa dituliskan lalu dibaca oleh orang yang tidak hidup di dalamnya. Ia harus dirasakan. Harus dibawa di badan.

Itulah bedanya menjaga bara dengan menggambar bara.

Orang bisa menggambar bara di atas kertas. Tapi bara di kertas tidak hangat.

Hari ketiga, Dayang Saluna kembali ke kepala marga.

Ia membawa kain-kain dan uang yang sudah dikumpulkan. Tidak lengkap seperti yang diminta. Kurang sedikit.

"Setengahnya lagi bulan depan," ia berkata. "Panen belum tiba."

Kepala marga membawa tawaran itu ke keluarga dari hilir. Dua lelaki itu duduk di beranda balai dusun, bicara satu jam. Lalu salah satunya, yang berbadan besar, datang ke arah Dayang Saluna yang duduk menunggu di bawah pohon nangka.

"Ibu kenal Juaso?" tanya lelaki itu.

"Saya yang paling kenal Juaso," jawab Dayang Saluna tanpa berdiri.

"Kenapa dia kabur?"

Dayang Saluna tidak menjawab sebentar. Ia menatap tanah di antara kaki-kakinya.

"Karena dia tidak tahu bahwa kabur itu tidak pernah berhasil. Kemana pun ia pergi, garis itu ikut. Dia tidak bisa melarikan diri dari darahnya sendiri."

Lelaki itu diam.

"Bapak dari hilir juga begitu," tambah Dayang Saluna. "Bapak datang ke sini menuntut karena bapak tahu darah itu bisa ditarik. Bapak benar. Kami yang menanggung, bukan tanah di sana."

Lelaki besar itu mengangguk. Lalu pergi.

Malam itu, Dayang Saluna duduk di depan tungku seperti biasa.

Ia meniup bara. Api muncul kecil, merah-oranye, lalu stabil.

Di luar, suara jangkrik. Di dalam, diam yang berat tapi bukan diam yang kosong.

Ia tidak tahu apakah Juaso masih hidup. Tidak tahu di mana ia sekarang. Tidak tahu apakah ia pernah akan kembali, apakah ia pernah akan mendengar bahwa keluarganya sudah membayar apa yang ia tinggalkan.

Mungkin tidak.

Tapi itu bukan alasan untuk tidak membayar.

Dayang Saluna mengambil ranting kering yang sudah ia siapkan sejak tadi dan meletakkannya perlahan di atas bara. Api menjilat ranting, membesarkan diri, lalu kembali tenang.

Garis itu tidak pilih-pilih. Ia tidak bertanya apakah kamu mau menanggung atau tidak. Ia tidak peduli apakah orangnya ada atau kabur atau mati. Garis itu ada karena darah ada. Dan darah tidak bisa dibatalkan.

Dayang Saluna bukan penjaga adat. Ia bukan tokoh adat. Ia hanya perempuan tua yang kebetulan selalu bangun paling pagi.

Tapi pagi itu, dan pagi-pagi sebelumnya, dan pagi-pagi yang akan datang selama ia masih bisa berlutut di depan tungku dan meniup bara, ia adalah satu-satunya orang yang tahu dengan pasti: api ini dari mana asalnya, sudah berapa lama ia menyala, dan kepada siapa ia akan diberikan waktu ia pergi.

Bara tidak berbicara. Tapi ia menyimpan.

Dan Dayang Saluna menyimpan juga, di dada yang sudah tujuh puluh tiga tahun menghirup asap tungku ini: nama-nama, garis-garis, ikatan-ikatan yang tidak kelihatan tapi nyata seperti rasa panas di telapak tangan yang terlalu dekat dengan api.

Ia tidak akan pergi sebelum ada yang menggantikannya.

Itu bukan kepahlawanan.

Itu hanya pekerjaan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar