Erwin Basrin
"Sebelum van Vollenhoven dan mazhabnya mulai
mengkodifikasi apa yang tampak bagi para yuris Barat sebagai aspek-aspek
yuridis dari adat asli, hukum adat tidak berdiri sebagai entitas yang terpisah
dan independen, melainkan dalam kebanyakan kasus terjalin dengan sejarah,
mitologi, dan piagam-piagam institusional dari setiap unit etnis atau
budaya." - M.A. Jaspan, 1965
Bukan karena
ada yang selalu menjaganya. Bukan karena kayu bakarnya tidak habis. Tapi karena
ada perempuan tua yang tidurnya ringan. Yang matanya terbuka begitu bara mulai
melemah. Yang bangun sebelum subuh hanya untuk menunduk di depan tungku dan
meniup pelan.
Namanya Dayang
Saluna.
Di dusun Kutai
Tuwai Topos, di lekungan Bukit Lekenei yang anginnya turun menusuk setelah
tengah malam, tidak ada yang meragukan otoritasnya. Bukan karena ia perempuan
tertua. Bukan karena ia pernah bicara keras kepada siapa pun. Tapi karena ia
tahu silsilah. Ia tahu siapa berasal dari mana, siapa kawin dengan siapa, siapa
menanggung utang siapa.
Dan di sini, di
tanah Jekalang. Tanah Rejang, itu adalah pengetahuan yang paling berat.
Tungku milik
keluarga Saluna adalah tungku tiga batu, seperti semua tungku di dusun ini.
Tiga batu besar yang ditaruh dalam segitiga, cukup untuk menopang periuk atau
dandang. Di antara tiga batu itu, di celah-celahnya yang hitam dan hangat, bara
selalu ada. Selalu. Sejak nenek Dayang Saluna menaruh batu-batu itu enam puluh
tahun yang lalu, belum pernah sekali pun api di tungku itu benar-benar padam.
Itu bukan
kebetulan. Itu pekerjaan.
Pagi ini Dayang
Saluna duduk di depan tungku seperti biasa. Udara masih hitam. Anak-anak belum
bangun. Ia meniup bara pelan, memasukkan ranting kering, menunggu sampai lidah
api kecil muncul. Tangannya tidak gemetar meski umurnya sudah tujuh puluh tiga.
Tangannya hitam dan keras, tapi gerakannya masih tepat.
Di luar, suara
sungai Ketahun terdengar dari kejauhan.
Dan di balik
pintu, Dayang Saluna tahu ada masalah yang sedang menunggu.
Masalah itu
bernama Juaso.
Juaso, dua
puluh delapan tahun, anak adik kandungnya yang kawin semendo dua puluh tahun
lalu dan kini sudah pindah ke dusun lain. Juaso yang kata orang tangannya
ringan. Juaso yang kata orang mulutnya berat. Artinya: banyak mengambil,
sedikit berkata.
Dua hari lalu,
seorang lelaki dari hilir datang ke dusun ini. Ia membawa serta dua orang, satu
di antaranya berbadan besar dan berdiri di belakang seperti bayangan. Lelaki
itu mengaku anak dari pedagang Komering yang meninggal di jalan tiga bulan
lalu, tepat setelah melewati wilayah yang biasa dilalui Juaso.
Ia bilang
pedagang itu kehilangan tiga kain sutra dan satu ikat uang sebelum meninggal.
Ia bilang Juaso
yang mengambilnya.
Dan ia
bertanya: siapa yang harus bertanggung jawab?
Bukan kepada Juaso,
karena Juaso sudah kabur entah ke mana. Bukan kepada tanah, karena tanah tidak
bisa menjawab. Ia bertanya kepada dusun. Kepada keluarga. Kepada garis darah.
Kepala marga
menyuruh lelaki itu menunggu. Beri waktu dua hari. Dan malam tadi, kepala marga
datang ke pnigo Dayang Saluna dan duduk di kursi rotan yang sudah lama berbunyi
waktu diduduki.
"Dayang,"
ia berkata, "kami perlu tahu. Juaso itu darah siapa?"
Dayang Saluna
tidak langsung menjawab.
Ia menuangkan
air dari towong ke dalam gelas, menyodorkannya kepada kepala marga, dan duduk
kembali di tikar yang sudah tipis. Di luar, jangkrik berbunyi. Di dalam, tungku
masih menyala.
"Juaso
itu," ia mulai pelan, "anak dari Muning Remas. Remas itu adik saya
yang nomor tiga."
Kepala marga
mengangguk.
"Remas
kawin semendo ke dusun Kutai Kauk dua puluh tahun lalu. Ia masuk ke keluarga
istrinya. Tapi Juaso lahir sebelum itu. Juaso lahir di sini. Di pnigo ini. Juaso lahir dari darah kami."
Di sini perlu
dijelaskan sesuatu yang orang-orang dari hilir sering tidak mengerti.
Di tanah
Rejang, ada dua pertanyaan yang bisa diajukan waktu sesuatu yang salah terjadi.
Pertanyaan pertama: di mana kejadiannya? Pertanyaan kedua: kepada siapa
pelakunya terkait?
Orang-orang
dari kota, orang-orang yang membawa kertas dan peta, selalu menanya yang
pertama. Di mana? Di batas mana? Di wilayah marga mana? Seolah tanah bisa
menanggung malu. Seolah tanah bisa membayar.
Tapi tanah
tidak punya darah. Tanah tidak menangis waktu ada yang tertimpa musibah.
Yang punya
darah adalah keluarga.
Jadi pertanyaan
yang benar adalah yang kedua: kepada siapa Juaso terkait? Siapa yang menanggung
Juaso? Siapa yang sejak kecil memberikan ia makan, memberikan ia nama,
memberikan ia tempat berdiri di dunia ini?
Jawabannya:
keluarga Saluna.
Dayang Saluna
tahu itu sebelum kepala marga datang. Ia tahu itu sejak ia mendengar nama Juaso
disebut. Karena ia yang menjaga bara. Ia yang ingat.
Ada yang perlu
dipahami tentang tungku tiga batu di pnigo Saluna.
Bukan Dayang Saluna
yang memilikinya. Bukan anaknya. Bukan cucu-cucunya. Tungku itu milik garis.
Garis yang panjang, yang membentang ke belakang sebelum ada orang yang ingat,
dan akan membentang ke depan setelah semua yang hidup sekarang sudah jadi
tanah.
Nenek dari neneknya
Dayang Saluna, perempuan yang namanya hanya diingat sebagai Dayang Reginang,
yang menaruh tiga batu itu. Dayang Reginang yang datang ke tanah ini dari
utara, kawin ke dalam keluarga yang sudah ada di lekungan Bukit Lekenei. Ia
membawa serta pengetahuan tentang menanam padi di ladang yang miring. Ia
membawa serta cara melipat daun pinang. Dan ia membawa serta kebiasaan bahwa
api di tungku tidak boleh mati.
Bukan mitos.
Bukan sihir.
Hanya kebiasaan
yang jadi aturan. Aturan yang jadi adat. Adat yang jadi tulang punggung semua
orang yang datang sesudahnya.
Waktu Dayang
Reginang meninggal, ia meninggalkan tungkunya kepada menantunya. Ketika menantu
itu meninggal, tungku pindah ke generasi berikutnya. Bukan karena ada surat.
Bukan karena ada saksi. Tapi karena semua orang tahu: siapa yang menjaga bara,
ia yang menjaga garis.
Dan sekarang Dayang
Saluna yang menjaganya.
Ia tidak pernah
memilih pekerjaan ini. Tidak ada upacara. Tidak ada penobatan. Suatu hari ia
sadar bahwa dialah yang selalu bangun paling pagi. Dialah yang selalu meniup
bara sebelum orang lain membuka mata. Dan dari kebiasaan itu, orang-orang mulai
datang kepadanya waktu ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab orang lain.
"Dayang
Saluna, siapa bapaknya si Anu itu?"
"Dayang
Saluna, ibunya si Fulan itu saudara siapa?"
"Dayang
Saluna, kalau dia kawin jujur ke keluarga sana, apakah anak-anaknya masih masuk
darah kita?"
Selalu
pertanyaan tentang darah. Tentang asal. Tentang garis.
Dan Dayang
Saluna selalu tahu jawabannya.
Waktu ia
berumur dua belas tahun, ada sebuah keluarga datang dari dusun sebelah.
Mereka datang
untuk melamar kakaknya, perempuan yang waktu itu sudah tujuh belas tahun dan
cantik dengan cara orang di lereng bukit mawua: kuat, berkulit gelap, matanya
seperti tahu lebih banyak dari yang ia katakan. Lamaran itu adalah lamaran
jujur. Artinya: keluarga laki-laki datang membawa harga. Mereka mau membawa
kakaknya pergi ke dusun mereka, masuk ke keluarga mereka, memberi keluarga
mereka seorang perempuan yang akan meneruskan garis.
Bagi keluarga
yang menerima seorang perempuan melalui jujur, itu artinya lebih dari sekadar
perkawinan. Mereka menerima darah baru. Dan darah baru itu membawa serta
sejarahnya sendiri, ikatan-ikatannya sendiri, tanggung jawabnya sendiri.
Keluarga
laki-laki membayar harga yang sudah dirundingkan. Bukan harga manusia. Itu
salah paham yang sering dibuat orang-orang luar. Harga itu adalah pengakuan.
Pengakuan bahwa perempuan ini bukan kosong, bahwa ia membawa serta sesuatu yang
berharga: garis keturunan, pengetahuan, koneksi ke keluarga-keluarga yang sudah
terjalin selama generasi.
Kakaknya pergi.
Dan Dayang
Saluna, yang waktu itu masih dua belas tahun dan duduk di pojok sambil
pura-pura memilih beras, memperhatikan semuanya. Ia perhatikan bagaimana Bapak
menandatangani dengan jempolnya. Ia perhatikan bagaimana Ibu menangis dengan
tenang. Ia perhatikan bagaimana kakaknya mengenakan kain terbaik keluarga itu
untuk terakhir kalinya sebelum pergi.
Dan ia
perhatikan sesuatu yang tidak diperhatikan orang lain: bahwa setelah kakaknya
pergi, beban yang dibawa kakaknya tidak ikut pergi. Beban itu tetap di sini.
Tetap di pnigo ini. Tetap dalam
darah yang sama yang mengalir di kakaknya dan di dirinya.
Kalau suatu
hari kakaknya berbuat sesuatu di sana, di dusun suaminya, maka bukan suaminya
saja yang menanggung. Keluarga di sini ikut menanggung. Karena darahnya berasal
dari sini.
Itu yang
disebut tanggung-menanggung.
Bukan pilihan.
Bukan moralitas yang dipilih karena alasan indah. Tapi kenyataan hidup seperti
kenyataan bahwa api butuh kayu.
Dua malam
sebelum kepala marga datang, Dayang Saluna sudah tidak tidur nyenyak.
Bukan karena ia
tahu tentang Juaso waktu itu. Tapi karena tubuhnya yang tua sudah belajar
mendeteksi semacam kegelisahan di udara. Seperti bagaimana ia bisa merasakan
hujan akan datang dua jam sebelum awan muncul. Seperti bagaimana ia bisa tahu
bara di tungku hampir habis sebelum cahayanya benar-benar melemah.
Ia bangun,
duduk di depan tungku, dan mulai mengingat.
Mengingat bukan
seperti orang yang membaca buku. Lebih seperti orang yang menelusuri benang.
Satu benang ke benang lain, satu nama ke nama lain.
Juaso. Anak Mining
Remas. Remas, adiknya yang ketiga. Remas yang lahir di pnigo ini, yang bermain di halaman yang sama, yang
makan dari tungku yang sama. Remas yang kemudian kawin semendo dan pindah ke Kutai
Kauk, tapi yang darahnya tetap darah ini.
Juaso lahir
sebelum Remas pindah. Juaso tumbuh di sini, di pnigo ini, sampai umur tujuh tahun. Lalu ikut
bapaknya ke Kutai Kauk.
Tujuh tahun itu
cukup. Tujuh tahun berarti ia makan dari tungku yang sama. Berarti ia tidur di
bawah atap yang sama. Berarti akar-akarnya ada di sini, bahkan kalau
cabang-cabangnya sudah tumbuh ke arah lain.
Dayang Saluna
meniup bara pelan. Api mengecil, lalu besar lagi.
Ia tahu apa
yang harus ia katakan besok.
Dan ia tidak
suka.
Bukan karena ia
tidak mau menanggung. Bukan karena ia takut. Tapi karena ia tua dan lelah, dan
karena Juaso adalah anak yang waktu kecil selalu lari ke arahnya waktu ia jatuh
dan lutut berdarah. Sekarang anak itu sudah menghilang, dan orang-orang dari
hilir datang dengan wajah yang tidak ramah, dan Dayang Saluna yang harus
berdiri dan mengaku: ya, kami yang menanggung.
"Juaso itu
darah kami," kata Dayang Saluna kepada kepala marga.
Suaranya tidak gemetar.
Tapi juga tidak keras.
"Ia lahir
di sini. Tujuh tahun ia makan dari tungku ini. Bapaknya adalah adik kandung
saya. Ibunya juga dari marga yang sama sebelum Remas bawa ia ke Kutai Kauk."
Kepala marga
mendengarkan.
"Jadi
kalau ia ambil sesuatu yang bukan miliknya dan orang itu mati sebelum ada
penyelesaian, siapa yang menanggung?"
Bukan
pertanyaan sungguhan. Kepala marga sudah tahu jawabannya. Ia hanya ingin
mendengarnya dari Dayang Saluna.
"Kami,"
kata Dayang Saluna.
Satu kata.
Tidak ada cara lain mengatakannya.
Kepala marga
mengangguk lambat. "Keluarga dari hilir itu minta tiga kain dan dua kali
lipat nilai uang yang hilang."
Dayang Saluna
tidak berkedip. Ia menghitung dalam kepala. Bukan dengan angka. Dengan nama. Siapa
di keluarga yang bisa memberikan kain. Siapa yang punya tabungan. Siapa yang
bisa dipanggil untuk ikut menanggung.
"Beri saya
tiga hari," ia berkata.
Tiga hari
berikutnya, Dayang Saluna berjalan.
Ia berjalan ke
rumah saudaranya yang nomor dua, yang sudah tua juga tapi masih kuat. Ia
berjalan ke rumah anak-anaknya. Ke rumah keponakan-keponakannya. Ke
tempat-tempat yang masih terhubung dengan tungku pnigo Saluna melalui benang yang tidak terlihat tapi
ada.
Di setiap
tempat, ia duduk, minum teh kalau ditawarkan, dan bercerita. Tentang Juaso.
Tentang kejadian di jalan. Tentang keluarga dari hilir yang datang.
Tidak ada yang
bertanya: apa hubungannya dengan kami?
Mereka semua
tahu. Karena mereka semua tahu garis itu. Mereka semua tahu dari mana darah
mereka berasal, ke mana ia mengalir, dan beban apa yang ikut mengalir
bersamanya.
Ada satu
keponakan, Cik Masya, yang waktu mendengar cerita itu langsung mengambil kain
terbaiknya dari peti.
"Ini untuk
bayar," kata Cik Masya pendek.
Dayang Saluna
menerima kain itu. Tidak dengan senang. Tidak dengan air mata haru. Ia
menerimanya seperti orang menerima sesuatu yang memang sudah seharusnya ada di
sana.
"Makasih,"
ia berkata.
"Juaso itu
dulu sering main di sini waktu kecil," kata Cik Masya. "Bandel. Tapi
lucu."
Dayang Saluna
tidak menjawab. Ia sudah berdiri dan mau pergi ke rumah berikutnya.
Ada seorang
lelaki muda dari kota yang pernah datang ke dusun Kutai Tuwai Topos untuk
menulis sesuatu.
Ia datang
dengan buku catatan besar dan pertanyaan-pertanyaan yang panjang. Ia bertanya
tentang tanah. Tentang batas-batas. Tentang siapa yang punya hak atas mana.
Dayang Saluna
meladeninya dengan sabar.
Tapi waktu
lelaki itu bertanya, "Jadi kalau ada yang bersalah di wilayah marga ini,
marga yang menanggung?" Dayang Saluna menggeleng.
"Bukan
begitu," ia berkata.
Lelaki itu
membuka buku catatannya, siap menulis penjelasan.
"Kalau ada
yang bersalah," kata Dayang Saluna pelan, "yang ditanya pertama bukan
di mana kejadiannya. Yang ditanya: siapa pelakunya darah siapa."
"Maksudnya?"
"Kalau
anak kandung saya berbuat salah, yang menanggung adalah kami, bukan tetangga
saya yang lebih dekat secara jarak. Bukan tanah di sini, bukan batas marga di
peta. Tapi darah yang sama. Karena tanah tidak punya darah. Tapi keluarga
punya."
Lelaki itu
menulis sesuatu. Dayang Saluna tidak tahu apa yang ia tulis.
Tapi ia tahu
bahwa apa yang ia katakan adalah sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya masuk ke
dalam buku catatan. Pengetahuan tentang garis keturunan bukan pengetahuan yang
bisa dituliskan lalu dibaca oleh orang yang tidak hidup di dalamnya. Ia harus
dirasakan. Harus dibawa di badan.
Itulah bedanya
menjaga bara dengan menggambar bara.
Orang bisa
menggambar bara di atas kertas. Tapi bara di kertas tidak hangat.
Hari ketiga, Dayang
Saluna kembali ke kepala marga.
Ia membawa
kain-kain dan uang yang sudah dikumpulkan. Tidak lengkap seperti yang diminta.
Kurang sedikit.
"Setengahnya
lagi bulan depan," ia berkata. "Panen belum tiba."
Kepala marga
membawa tawaran itu ke keluarga dari hilir. Dua lelaki itu duduk di beranda
balai dusun, bicara satu jam. Lalu salah satunya, yang berbadan besar, datang
ke arah Dayang Saluna yang duduk menunggu di bawah pohon nangka.
"Ibu kenal
Juaso?" tanya lelaki itu.
"Saya yang
paling kenal Juaso," jawab Dayang Saluna tanpa berdiri.
"Kenapa
dia kabur?"
Dayang Saluna
tidak menjawab sebentar. Ia menatap tanah di antara kaki-kakinya.
"Karena
dia tidak tahu bahwa kabur itu tidak pernah berhasil. Kemana pun ia pergi,
garis itu ikut. Dia tidak bisa melarikan diri dari darahnya sendiri."
Lelaki itu
diam.
"Bapak
dari hilir juga begitu," tambah Dayang Saluna. "Bapak datang ke sini
menuntut karena bapak tahu darah itu bisa ditarik. Bapak benar. Kami yang
menanggung, bukan tanah di sana."
Lelaki besar
itu mengangguk. Lalu pergi.
Malam itu, Dayang
Saluna duduk di depan tungku seperti biasa.
Ia meniup bara.
Api muncul kecil, merah-oranye, lalu stabil.
Di luar, suara
jangkrik. Di dalam, diam yang berat tapi bukan diam yang kosong.
Ia tidak tahu
apakah Juaso masih hidup. Tidak tahu di mana ia sekarang. Tidak tahu apakah ia
pernah akan kembali, apakah ia pernah akan mendengar bahwa keluarganya sudah
membayar apa yang ia tinggalkan.
Mungkin tidak.
Tapi itu bukan
alasan untuk tidak membayar.
Dayang Saluna
mengambil ranting kering yang sudah ia siapkan sejak tadi dan meletakkannya
perlahan di atas bara. Api menjilat ranting, membesarkan diri, lalu kembali
tenang.
Garis itu tidak
pilih-pilih. Ia tidak bertanya apakah kamu mau menanggung atau tidak. Ia tidak
peduli apakah orangnya ada atau kabur atau mati. Garis itu ada karena darah
ada. Dan darah tidak bisa dibatalkan.
Dayang Saluna
bukan penjaga adat. Ia bukan tokoh adat. Ia hanya perempuan tua yang kebetulan
selalu bangun paling pagi.
Tapi pagi itu,
dan pagi-pagi sebelumnya, dan pagi-pagi yang akan datang selama ia masih bisa
berlutut di depan tungku dan meniup bara, ia adalah satu-satunya orang yang
tahu dengan pasti: api ini dari mana asalnya, sudah berapa lama ia menyala, dan
kepada siapa ia akan diberikan waktu ia pergi.
Bara tidak
berbicara. Tapi ia menyimpan.
Dan Dayang
Saluna menyimpan juga, di dada yang sudah tujuh puluh tiga tahun menghirup asap
tungku ini: nama-nama, garis-garis, ikatan-ikatan yang tidak kelihatan tapi nyata
seperti rasa panas di telapak tangan yang terlalu dekat dengan api.
Ia tidak akan
pergi sebelum ada yang menggantikannya.
Itu bukan
kepahlawanan.
Itu hanya
pekerjaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar