Erwin Basrin
Bayangkan Anda seorang pelaut dari India atau Persia, lima abad lalu.
Anda menunggu angin musim. Angin itulah yang mendorong perahu layar Anda
menyeberangi Lautan Hindia ke arah timur. Begitu sampai, Anda menyebut daerah
tujuan itu "tanah di bawah angin."
Orang Cina memberi nama lain. Mereka menyebutnya Nanyang, Laut Selatan.
Dua sebutan, satu maksud yang sama. Keduanya menegaskan bahwa daerah ini hanya
bisa dicapai lewat samudera, dan irama hidupnya diatur oleh angin.
Kawasan itu sekarang kita kenal sebagai Asia Tenggara. Isinya
berbeda-beda. Ada Jawa dan Sumatera, ada Siam dan Birma, ada Vietnam, Kamboja,
Semenanjung Malaya, kepulauan Filipina, sampai Maluku. Bahasanya
bermacam-macam. Agamanya berlapis-lapis. Sekilas, sulit membayangkan semua
tempat ini sebagai satu kesatuan.
Tapi sejarawan Anthony Reid melihat pola yang sama muncul di mana-mana.
Bukan pada istana atau agama besar, melainkan pada kehidupan orang biasa. Cara
mereka makan, membangun rumah, menghitung keturunan, dan merayakan hidup. Di
situ Asia Tenggara terasa seperti satu keluarga besar. Tulisan saya kali ini
mengajak Anda menengok ke dalam rumah keluarga itu, pada masa yang oleh Reid
disebut kurun niaga, kira-kira antara tahun 1450 dan 1680.
Ada beberapa hal yang mengikat kawasan ini. Yang pertama datang dari
alam. Hampir seluruh Asia Tenggara diselimuti hutan tropis yang lebat. Hujannya
turun dapat diandalkan sepanjang tahun. Empat abad lalu, sawah dan ladang tetap
hanyalah kantong-kantong kecil di tengah rimba. Bahkan penduduk di tepi kota
besar seperti Malaka dan Banten masih waspada terhadap harimau.
Karena tanahnya serupa, makanannya pun mirip. Beras, ikan, dan pohon
palem menjadi tiga tiang utama. Orang Asia Tenggara jarang beternak dan sedikit
sekali makan daging. Sagu jadi sumber tepung di beberapa daerah. Kelapa dan
aren memberi gula sekaligus arak. Dari Luzon sampai Sumatera, kaum perempuan
memanen padi bukan dengan sabit, melainkan dengan ani-ani, memotong satu
tangkai demi satu tangkai untuk menghormati roh padi.
Yang kedua datang dari sejarah manusia. Lebih dari separuh penduduk
kawasan ini berbicara bahasa yang berakar sama, rumpun Austronesia, yang
bersumber dari satu pokok sekitar lima ribu tahun lalu. Dari akar itu tumbuh
kebiasaan yang bertahan lama dan tersebar luas.
Kebiasaan-kebiasaan itu khas dan mudah dikenali. Orang di seluruh kawasan
mengunyah sirih. Mereka gemar menyabung ayam dan bermain sepak raga, bola rotan
yang ditendang tanpa jatuh ke tanah. Mereka percaya pada roh yang menghuni
benda hidup. Mereka memberi kedudukan tinggi kepada perempuan. Dan mereka
memakai utang sebagai pengikat kewajiban sosial. Semua ini membedakan Asia
Tenggara dari dua tetangga raksasanya, Cina dan India.
Yang ketiga adalah perdagangan laut. Hingga abad ke-17, pelayaran justru
mengikat bangsa-bangsa Asia Tenggara satu sama lain lebih erat daripada
mengikat mereka ke dunia luar. Pengaruh Cina dan India memang masuk. Tapi
masuknya lewat dagang, bukan lewat penaklukan. Karena itu kawasan ini menyerap
banyak hal dari luar, sambil tetap menjadi dirinya sendiri.
Berapa banyak orang yang tinggal di sini pada tahun 1600? Angka pastinya
sulit dicari. Kerajaan seperti Jawa, Siam, Birma, dan Vietnam memang biasa
menghitung rumah tangga untuk pajak dan wajib kerja. Tapi catatan itu jarang
selamat sampai ke tangan kita, dan budak serta petugas agama sering tidak masuk
hitungan.
Reid menaksir dengan cara mundur. Ia mengambil angka abad ke-19 yang
lebih dapat dipercaya, lalu menghitung ke belakang dengan asumsi pertumbuhan
yang sangat lambat, sekitar 0,2 persen setahun. Hasilnya jelas: penduduk Asia
Tenggara sangat jarang. Kepadatannya kira-kira 5,5 jiwa per kilometer persegi.
Bandingkan dengan Asia Selatan yang 32 dan Cina yang 37 pada masa yang sama.
Orang berkumpul di beberapa kantong padat, seperti delta Sungai Merah, Jawa
Tengah, dan Sulawesi Selatan. Di luar itu, kawasan ini tampak sebagai rimba
yang nyaris kosong.
Yang menarik, penduduk yang jarang ini justru terhitung sehat. Orang
Eropa yang datang pada abad ke-16 dan ke-17 sering terkejut. Banyak dari mereka
sendiri mati muda di daerah tropis, tapi mereka melihat penduduk setempat
jarang sakit parah. Seorang pengunjung dari Persia mencatat bahwa di Aceh,
penyakit selain karena usia tua sangat langka. Seorang pengamat lain di
Cochin-China menulis bahwa orang di sana bahkan tidak tahu apa itu wabah.
Ukuran yang lebih terpercaya adalah tinggi badan. Data awal abad ke-19
menunjukkan pria dewasa rata-rata sekitar 157 sentimeter, perempuan sekitar 150
sentimeter. Itu memang lebih pendek daripada orang Cina dan Eropa pada abad
yang sama. Tapi begitu kita mundur ke abad ke-18, selisih itu hilang. Beberapa
pengamat menyebut orang Jawa dan Sumatera setinggi orang Eropa rata-rata.
Artinya, sebelum Eropa melewati lonjakan gizi mereka sendiri, tubuh orang Asia
Tenggara sebanding.
Rahasianya sebagian ada pada makanan. Beras dan ikan tersedia cukup
pasti. Kelaparan besar jarang terjadi, kecuali saat perang merusak sawah.
Selain itu ada satu kebiasaan yang menemani hampir setiap orang: sirih.
Sirih adalah campuran tiga bahan, yakni buah pinang, daun sirih, dan
kapur dari kerang yang dihancurkan. Ketiganya bereaksi dan melepaskan zat
penenang ringan. Orang mengunyahnya sepanjang hari, di rumah maupun di jalan.
Bagi tamu yang datang, sepiring sirih adalah sambutan, seperti kopi atau teh
sekarang. Bagi orang yang bepergian, sebakul sirih lebih penting daripada bekal
makan, karena menahan lapar dan haus. Prajurit memakainya untuk memulihkan
tenaga. Dalam pertunangan dan pernikahan, sirih punya tempat khusus.
Ada hal yang aneh di mata orang Eropa. Penduduk Asia Tenggara punya rumah
yang sangat sederhana, tapi pakaian yang mewah. Seorang pengamat menirukan
alasan orang Birma: pakaian dilihat semua orang, sedangkan tidak ada yang masuk
ke rumah untuk melihat isinya.
Rumah dibangun dari kayu, bambu, dan daun palem. Bahannya murah dan
gampang didapat, tapi juga gampang rusak. Atap ilalang harus diganti tiap
sepuluh tahun. Tiang rumah tidak ditanam ke tanah, hanya bertumpu di atasnya,
supaya rumah bisa dipindahkan utuh bila perlu.
Karena itu rumah dianggap sesuatu yang tidak permanen. Membangunnya
cepat. Crawfurd menaksir satu rumah biasa hanya butuh sekitar enam puluh hari
kerja. Lima puluh buruh Birma menyelesaikan rumah empat kamar dalam empat jam.
Ketika kota terbakar, kota itu bangkit lagi dengan kecepatan yang membuat orang
asing tercengang. La Loubère menyaksikan tiga ratus rumah di Ayutthaya berdiri
kembali dalam dua hari. Lodewycksz melihat seluruh tepi pantai Banten dibangun
ulang dalam tiga sampai empat jam. Hampir setiap orang bisa jadi tukang kayu,
dan tetangga saling membantu.
Ciri paling khas rumah kawasan ini adalah panggungnya. Rumah diangkat di
atas tiang, sebagai perlindungan dari banjir dan binatang buas. Untuk naik,
orang memakai tangga. Kata Melayu "rumah tangga" merekam betapa
pentingnya tangga itu dalam bayangan tentang keluarga.
Berbeda dari rumah, tubuh justru dihias dengan sungguh-sungguh. Kain
tekstil ditenun dengan sulaman emas dan permata. Perhiasan emas, perak, dan
batu berharga dipakai perempuan maupun laki-laki. Kain mahal ini juga menjadi
tanda status dan alat tukar yang bernilai. Bagi Reid, cara berpakaian ini bukan
kesia-siaan. Ia bagian dari bahasa sosial, cara orang menunjukkan siapa dirinya
di tengah masyarakat.
Di Filipina bagian tengah, seorang Spanyol bernama Legazpi terkejut. Ia
bertemu masyarakat yang seolah tidak punya raja. Orang yang paling banyak
budaknya bisa mendapat hampir apa saja yang ia mau, dan budak pun hanya
mengabdi dengan syarat tertentu.
Keterkejutan itu menunjuk pada satu ciri penting. Di seluruh Asia
Tenggara, hierarki yang berjenjang hidup berdampingan dengan struktur politik
yang longgar. Raja bisa sangat berkuasa, tapi kekuasaannya bertumpu pada
kekuatan pribadi dan kekayaan pelabuhan, bukan pada wilayah yang terkunci rapi.
Kuncinya ada pada satu hal: pengikut. Di kawasan yang tanahnya melimpah
tapi penduduknya sedikit, kekayaan tidak diukur dari luas tanah. Kekayaan
diukur dari berapa banyak orang yang berada di bawah Anda. Sebab itu penguasa
terobsesi menghitung rakyat, dan berebut pengikut satu sama lain.
Ikatan yang mengikat orang bukan garis darah, melainkan hubungan antara
dua orang. Seorang tuan memberi perlindungan dan kadang mata pencaharian. Sang
sahaya membalas dengan tenaga: membantu pesta, ikut perjalanan jauh, membuat
kapal dan rumah, atau maju perang.
Dan di sinilah utang menjadi pusat cerita. Perbudakan di Asia Tenggara
sering bermula dari utang. Orang yang tak mampu membayar utang besar atau denda
pengadilan bisa jatuh jadi sahaya. Keluarga yang tak sanggup membiayai upacara
pernikahan atau kematian harus mencari pelindung. Seorang laki-laki yang tak
punya mas kawin bisa terikat pada mertua atau pada orang yang menalanginya.
Dari sini tumbuh kompleks-kompleks bangunan besar milik orang penting. Di
dalamnya berkumpul keluarga dekat, kaum kerabat, sahaya, selir, dan pengikut.
Status mereka berbeda-beda. Ada yang budak, ada yang terikat utang, ada kerabat
miskin. Tapi di mata masyarakat, perbedaan itu kalah penting dibanding satu
kenyataan: mereka semua milik satu patron. Yang menarik, perempuan pun bisa
memimpin kelompok semacam ini.
Kalau ada satu hal yang membuat Asia Tenggara berbeda tajam dari Cina,
India, dan Timur Tengah, itu adalah kedudukan perempuan. Bahkan setelah Islam,
Kristen, Buddha, dan Konfusianisme menguat, pola lama ini tidak hilang.
Perempuan bukan pesaing langsung laki-laki. Mereka punya peran sendiri
yang tak tergantikan. Mereka menyemai dan menuai padi, menenun, dan menguasai
pasar. Peran melahirkan memberi mereka kekuatan ritual yang sulit ditandingi
laki-laki. Karena itu nilai perempuan tidak pernah dipertanyakan. Seperti
dicatat seorang pengamat, semakin banyak anak perempuan yang dimiliki
seseorang, semakin kaya ia dianggap.
Buktinya terlihat pada mas kawin. Di Asia Tenggara, harta mengalir dari
laki-laki ke perempuan, kebalikan dari kebiasaan Eropa. Tomé Pires mencatat
orang Melayu yang ia kenal: laki-laki harus memberi pengantin perempuan mahar
yang benar-benar menjadi milik si perempuan. Ini berbeda dari Afrika, tempat
mahar diambil ayah dan diwariskan lewat garis laki-laki. Di sini perempuan
diuntungkan langsung.
Setelah menikah, pasangan lebih sering tinggal di desa istri daripada di
desa suami. Hukum setempat menegaskan harta dimiliki bersama suami-istri. Dalam
warisan, semua anak berhak sama tanpa memandang jenis kelamin. Aturan Islam
soal bagian anak laki-laki dua kali lipat tidak pernah benar-benar berjalan.
Aturan Cina yang tak memberi istri hak apa pun juga gagal dipraktikkan di
Vietnam.
Otonomi itu bahkan sampai ke urusan cinta. Sastra Melayu dan Jawa masa
itu menggambarkan perempuan sebagai pihak yang aktif dalam bercinta, yang
menuntut pasangannya adil dalam hal kepuasan. Kisah Panji tentang gairah sang
pangeran sangat populer di Jawa antara abad ke-15 dan ke-17, lalu menyebar ke
dunia Melayu, Siam, Birma, dan Kamboja. Di Filipina tengah, laki-laki dan
perempuan saling berbalas pantun, beradu kata dan sindiran, sebuah pertandingan
lidah yang penuh gairah.
Karena iklim ramah dan makanan cukup pasti, orang Asia Tenggara punya
sesuatu yang langka: waktu luang. Orang Eropa mencatat mereka melewatkan malam
dengan bernyanyi, berpesta, dan saling menghibur.
Tapi kata "waktu luang" mungkin kurang tepat. Bagi mereka, ikut
pesta dan ritus bukan sekadar hiburan, melainkan kewajiban sosial yang sama
pentingnya dengan bekerja. Orang Thai dan Melayu bahkan memakai kata
"kerja" untuk menyebut keikutsertaan dalam pesta keramaian.
Yang menarik, pesta di sini biasanya memperkuat, bukan meruntuhkan,
jenjang masyarakat. Di Eropa ada karnaval tempat peran sosial dijungkirbalikkan
sementara. Di Asia Tenggara, hal semacam itu jarang terlihat. Kelonggaran
memang muncul di pinggiran pesta, tapi susunan masyarakat tetap kokoh.
Sebabnya, banyak dari kegembiraan itu diatur oleh negara. Reid meminjam
gagasan Clifford Geertz tentang "pusat teladan" dan "negara
panggung." Perlombaan, teater, musik, dan tarian bukan cuma hiburan. Semua
itu pameran kekuatan penguasa. Dengan menggelar pertunjukan besar yang
melibatkan ribuan orang, raja menampilkan diri sebagai pusat tempat berputarnya
kehidupan negeri.
Aceh memberi contoh yang jelas. Naskah Adat Aceh menggambarkan
arak-arakan Sultan Iskandar Muda menuju masjid pada hari raya. Barisan dibuka
penunggang kuda berhias, disusul pasukan tombak, lalu raja sendiri di atas
gajah dikelilingi para satrianya. Di belakangnya ratusan pejabat, ribuan budak,
tiga puluh gajah berhias, dan ribuan prajurit bersenjata. Catatan orang asing
menegaskan kemegahan ini bukan khayalan penulis istana. Orang asing pun diberi
tempat dalam arak-arakan, dan mereka selalu terkagum-kagum.
Di tengah semua itu, sabung ayam hadir hampir di setiap pesta. Ia bukan
sekadar judi. Di Bali, ia lama dikaitkan dengan candi dan makna keagamaan.
Hiburan, agama, dan kekuasaan berjalin menjadi satu.
Reid menyebut abad ke-15 sampai ke-17 sebagai kurun niaga. Menurutnya,
pada periode inilah jaringan pelayaran di Asia Tenggara paling ramai, dan
kota-kota pelabuhan paling berkuasa, lebih dari masa sebelum maupun sesudahnya.
Pusat dagang berpindah dari waktu ke waktu. Mula-mula Sriwijaya. Lalu
Pasai, Melaka, Johor, Patani, Aceh, dan Brunei. Dari kota-kota inilah bahasa
Melayu naik menjadi bahasa dagang utama seluruh kawasan. Pedagang dari berbagai
asal, entah Jawa, Mon, India, Cina, atau Filipina, sama-sama disebut orang
Melayu karena memakai bahasa itu dan memeluk Islam.
Jangkauan bahasa ini mengejutkan. Budak Magellan yang berasal dari
Sumatera bisa langsung dimengerti penduduk Filipina tengah pada tahun 1521.
Hampir dua abad kemudian, orang Inggris yang bekerja untuk Dampier belajar
bahasa Melayu di Mindanao, lalu memakainya lagi di lepas pantai selatan
Vietnam. Ratusan kata Melayu masuk ke bahasa Tagalog. Kata-kata seperti amok,
gudang, perahu, dan keris dikenal orang sampai ke Pegu dan pantai Malabar di
India.
Kenapa periode ini berakhir sekitar 1680? Karena datang perubahan besar.
Perusahaan Hindia Timur Belanda, VOC, membangun jaringan pelayaran yang teratur
dan gigih. Mereka memborong sebagian besar ekspor kawasan menuju Tanjung
Harapan. Pada saat yang sama, pelayaran orang Cina ke Nanyang meningkat.
Keseimbangan lama bergeser. Kota-kota niaga Asia Tenggara yang dulu dominan
mulai kehilangan panggungnya.
Ada kaitan menarik dengan sejarah dunia. Di Eropa, rentang 1450 sampai
1680 adalah masa Renaisans, Reformasi, dan ekspansi ke Amerika dan Asia.
Kapitalisme Eropa mulai tumbuh. Tapi pada awal masa itu, kekuatan Barat masih
pinggiran belaka di mata dunia Asia Tenggara. Pagan, Ayutthaya, Mataram, Hue,
dan Johor masih menjadi pusat cerita mereka sendiri.
Ada alasan kenapa gambaran ini penting. Selama paruh pertama abad ke-20,
sejarah kolonial memperlakukan bangsa-bangsa Asia Tenggara sebagai latar yang
kabur di belakang ekspansi Barat. Sebagian sejarah nasionalis memperparahnya,
dengan menampilkan mereka sebagai korban tak berdaya.
Kajian Reid menolak dua-duanya. Ia menyusun potret kawasan ini dari
dalam. Ia membaca babad, hikayat, dan catatan pengunjung, lalu menautkannya
pada dunia produksi dan perdagangan. Hasilnya adalah masyarakat yang hidup,
punya cara sendiri untuk makan, membangun, memerintah, memuliakan perempuan,
dan merayakan hidup.
Menengok kembali ke tanah di bawah angin bukan soal nostalgia. Ia soal
cara kita memandang. Empat abad lalu, kawasan ini bukan panggung kosong yang
menunggu diisi orang lain. Ia sudah penuh dengan orang yang menjalani hidupnya,
membuat pilihannya, dan menulis babadnya sendiri. Tugas kita hanya belajar
membacanya kembali.
Sumber:
Tulisan ini disarikan dari Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga
1450–1680, Jilid I: Tanah di Bawah Angin (judul asli Southeast Asia in the Age
of Commerce 1450–1680, Volume One: The Lands Below the Winds, Yale University
Press, 1988; terjemahan Mochtar Pabotinggi, Yayasan Pustaka Obor Indonesia).
Kutipan pengamat lama seperti La Loubère, Legazpi, Tomé Pires, dan Ma Huan
dikutip melalui buku tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar