Tanah di Bawah Angin: Kehidupan Sehari-hari Asia Tenggara pada Masa Perdagangan Ramai - Erwin Basrin

Breaking

Sabtu, 25 Juli 2026

Tanah di Bawah Angin: Kehidupan Sehari-hari Asia Tenggara pada Masa Perdagangan Ramai

 


Erwin Basrin

Bayangkan Anda seorang pelaut dari India atau Persia, lima abad lalu. Anda menunggu angin musim. Angin itulah yang mendorong perahu layar Anda menyeberangi Lautan Hindia ke arah timur. Begitu sampai, Anda menyebut daerah tujuan itu "tanah di bawah angin."

Orang Cina memberi nama lain. Mereka menyebutnya Nanyang, Laut Selatan. Dua sebutan, satu maksud yang sama. Keduanya menegaskan bahwa daerah ini hanya bisa dicapai lewat samudera, dan irama hidupnya diatur oleh angin.

Kawasan itu sekarang kita kenal sebagai Asia Tenggara. Isinya berbeda-beda. Ada Jawa dan Sumatera, ada Siam dan Birma, ada Vietnam, Kamboja, Semenanjung Malaya, kepulauan Filipina, sampai Maluku. Bahasanya bermacam-macam. Agamanya berlapis-lapis. Sekilas, sulit membayangkan semua tempat ini sebagai satu kesatuan.

Tapi sejarawan Anthony Reid melihat pola yang sama muncul di mana-mana. Bukan pada istana atau agama besar, melainkan pada kehidupan orang biasa. Cara mereka makan, membangun rumah, menghitung keturunan, dan merayakan hidup. Di situ Asia Tenggara terasa seperti satu keluarga besar. Tulisan saya kali ini mengajak Anda menengok ke dalam rumah keluarga itu, pada masa yang oleh Reid disebut kurun niaga, kira-kira antara tahun 1450 dan 1680.

Ada beberapa hal yang mengikat kawasan ini. Yang pertama datang dari alam. Hampir seluruh Asia Tenggara diselimuti hutan tropis yang lebat. Hujannya turun dapat diandalkan sepanjang tahun. Empat abad lalu, sawah dan ladang tetap hanyalah kantong-kantong kecil di tengah rimba. Bahkan penduduk di tepi kota besar seperti Malaka dan Banten masih waspada terhadap harimau.

Karena tanahnya serupa, makanannya pun mirip. Beras, ikan, dan pohon palem menjadi tiga tiang utama. Orang Asia Tenggara jarang beternak dan sedikit sekali makan daging. Sagu jadi sumber tepung di beberapa daerah. Kelapa dan aren memberi gula sekaligus arak. Dari Luzon sampai Sumatera, kaum perempuan memanen padi bukan dengan sabit, melainkan dengan ani-ani, memotong satu tangkai demi satu tangkai untuk menghormati roh padi.

Yang kedua datang dari sejarah manusia. Lebih dari separuh penduduk kawasan ini berbicara bahasa yang berakar sama, rumpun Austronesia, yang bersumber dari satu pokok sekitar lima ribu tahun lalu. Dari akar itu tumbuh kebiasaan yang bertahan lama dan tersebar luas.

Kebiasaan-kebiasaan itu khas dan mudah dikenali. Orang di seluruh kawasan mengunyah sirih. Mereka gemar menyabung ayam dan bermain sepak raga, bola rotan yang ditendang tanpa jatuh ke tanah. Mereka percaya pada roh yang menghuni benda hidup. Mereka memberi kedudukan tinggi kepada perempuan. Dan mereka memakai utang sebagai pengikat kewajiban sosial. Semua ini membedakan Asia Tenggara dari dua tetangga raksasanya, Cina dan India.

Yang ketiga adalah perdagangan laut. Hingga abad ke-17, pelayaran justru mengikat bangsa-bangsa Asia Tenggara satu sama lain lebih erat daripada mengikat mereka ke dunia luar. Pengaruh Cina dan India memang masuk. Tapi masuknya lewat dagang, bukan lewat penaklukan. Karena itu kawasan ini menyerap banyak hal dari luar, sambil tetap menjadi dirinya sendiri.

Berapa banyak orang yang tinggal di sini pada tahun 1600? Angka pastinya sulit dicari. Kerajaan seperti Jawa, Siam, Birma, dan Vietnam memang biasa menghitung rumah tangga untuk pajak dan wajib kerja. Tapi catatan itu jarang selamat sampai ke tangan kita, dan budak serta petugas agama sering tidak masuk hitungan.

Reid menaksir dengan cara mundur. Ia mengambil angka abad ke-19 yang lebih dapat dipercaya, lalu menghitung ke belakang dengan asumsi pertumbuhan yang sangat lambat, sekitar 0,2 persen setahun. Hasilnya jelas: penduduk Asia Tenggara sangat jarang. Kepadatannya kira-kira 5,5 jiwa per kilometer persegi. Bandingkan dengan Asia Selatan yang 32 dan Cina yang 37 pada masa yang sama. Orang berkumpul di beberapa kantong padat, seperti delta Sungai Merah, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Di luar itu, kawasan ini tampak sebagai rimba yang nyaris kosong.

Yang menarik, penduduk yang jarang ini justru terhitung sehat. Orang Eropa yang datang pada abad ke-16 dan ke-17 sering terkejut. Banyak dari mereka sendiri mati muda di daerah tropis, tapi mereka melihat penduduk setempat jarang sakit parah. Seorang pengunjung dari Persia mencatat bahwa di Aceh, penyakit selain karena usia tua sangat langka. Seorang pengamat lain di Cochin-China menulis bahwa orang di sana bahkan tidak tahu apa itu wabah.

Ukuran yang lebih terpercaya adalah tinggi badan. Data awal abad ke-19 menunjukkan pria dewasa rata-rata sekitar 157 sentimeter, perempuan sekitar 150 sentimeter. Itu memang lebih pendek daripada orang Cina dan Eropa pada abad yang sama. Tapi begitu kita mundur ke abad ke-18, selisih itu hilang. Beberapa pengamat menyebut orang Jawa dan Sumatera setinggi orang Eropa rata-rata. Artinya, sebelum Eropa melewati lonjakan gizi mereka sendiri, tubuh orang Asia Tenggara sebanding.

Rahasianya sebagian ada pada makanan. Beras dan ikan tersedia cukup pasti. Kelaparan besar jarang terjadi, kecuali saat perang merusak sawah. Selain itu ada satu kebiasaan yang menemani hampir setiap orang: sirih.

Sirih adalah campuran tiga bahan, yakni buah pinang, daun sirih, dan kapur dari kerang yang dihancurkan. Ketiganya bereaksi dan melepaskan zat penenang ringan. Orang mengunyahnya sepanjang hari, di rumah maupun di jalan. Bagi tamu yang datang, sepiring sirih adalah sambutan, seperti kopi atau teh sekarang. Bagi orang yang bepergian, sebakul sirih lebih penting daripada bekal makan, karena menahan lapar dan haus. Prajurit memakainya untuk memulihkan tenaga. Dalam pertunangan dan pernikahan, sirih punya tempat khusus.

Ada hal yang aneh di mata orang Eropa. Penduduk Asia Tenggara punya rumah yang sangat sederhana, tapi pakaian yang mewah. Seorang pengamat menirukan alasan orang Birma: pakaian dilihat semua orang, sedangkan tidak ada yang masuk ke rumah untuk melihat isinya.

Rumah dibangun dari kayu, bambu, dan daun palem. Bahannya murah dan gampang didapat, tapi juga gampang rusak. Atap ilalang harus diganti tiap sepuluh tahun. Tiang rumah tidak ditanam ke tanah, hanya bertumpu di atasnya, supaya rumah bisa dipindahkan utuh bila perlu.

Karena itu rumah dianggap sesuatu yang tidak permanen. Membangunnya cepat. Crawfurd menaksir satu rumah biasa hanya butuh sekitar enam puluh hari kerja. Lima puluh buruh Birma menyelesaikan rumah empat kamar dalam empat jam. Ketika kota terbakar, kota itu bangkit lagi dengan kecepatan yang membuat orang asing tercengang. La Loubère menyaksikan tiga ratus rumah di Ayutthaya berdiri kembali dalam dua hari. Lodewycksz melihat seluruh tepi pantai Banten dibangun ulang dalam tiga sampai empat jam. Hampir setiap orang bisa jadi tukang kayu, dan tetangga saling membantu.

Ciri paling khas rumah kawasan ini adalah panggungnya. Rumah diangkat di atas tiang, sebagai perlindungan dari banjir dan binatang buas. Untuk naik, orang memakai tangga. Kata Melayu "rumah tangga" merekam betapa pentingnya tangga itu dalam bayangan tentang keluarga.

Berbeda dari rumah, tubuh justru dihias dengan sungguh-sungguh. Kain tekstil ditenun dengan sulaman emas dan permata. Perhiasan emas, perak, dan batu berharga dipakai perempuan maupun laki-laki. Kain mahal ini juga menjadi tanda status dan alat tukar yang bernilai. Bagi Reid, cara berpakaian ini bukan kesia-siaan. Ia bagian dari bahasa sosial, cara orang menunjukkan siapa dirinya di tengah masyarakat.

Di Filipina bagian tengah, seorang Spanyol bernama Legazpi terkejut. Ia bertemu masyarakat yang seolah tidak punya raja. Orang yang paling banyak budaknya bisa mendapat hampir apa saja yang ia mau, dan budak pun hanya mengabdi dengan syarat tertentu.

Keterkejutan itu menunjuk pada satu ciri penting. Di seluruh Asia Tenggara, hierarki yang berjenjang hidup berdampingan dengan struktur politik yang longgar. Raja bisa sangat berkuasa, tapi kekuasaannya bertumpu pada kekuatan pribadi dan kekayaan pelabuhan, bukan pada wilayah yang terkunci rapi.

Kuncinya ada pada satu hal: pengikut. Di kawasan yang tanahnya melimpah tapi penduduknya sedikit, kekayaan tidak diukur dari luas tanah. Kekayaan diukur dari berapa banyak orang yang berada di bawah Anda. Sebab itu penguasa terobsesi menghitung rakyat, dan berebut pengikut satu sama lain.

Ikatan yang mengikat orang bukan garis darah, melainkan hubungan antara dua orang. Seorang tuan memberi perlindungan dan kadang mata pencaharian. Sang sahaya membalas dengan tenaga: membantu pesta, ikut perjalanan jauh, membuat kapal dan rumah, atau maju perang.

Dan di sinilah utang menjadi pusat cerita. Perbudakan di Asia Tenggara sering bermula dari utang. Orang yang tak mampu membayar utang besar atau denda pengadilan bisa jatuh jadi sahaya. Keluarga yang tak sanggup membiayai upacara pernikahan atau kematian harus mencari pelindung. Seorang laki-laki yang tak punya mas kawin bisa terikat pada mertua atau pada orang yang menalanginya.

Dari sini tumbuh kompleks-kompleks bangunan besar milik orang penting. Di dalamnya berkumpul keluarga dekat, kaum kerabat, sahaya, selir, dan pengikut. Status mereka berbeda-beda. Ada yang budak, ada yang terikat utang, ada kerabat miskin. Tapi di mata masyarakat, perbedaan itu kalah penting dibanding satu kenyataan: mereka semua milik satu patron. Yang menarik, perempuan pun bisa memimpin kelompok semacam ini.

Kalau ada satu hal yang membuat Asia Tenggara berbeda tajam dari Cina, India, dan Timur Tengah, itu adalah kedudukan perempuan. Bahkan setelah Islam, Kristen, Buddha, dan Konfusianisme menguat, pola lama ini tidak hilang.

Perempuan bukan pesaing langsung laki-laki. Mereka punya peran sendiri yang tak tergantikan. Mereka menyemai dan menuai padi, menenun, dan menguasai pasar. Peran melahirkan memberi mereka kekuatan ritual yang sulit ditandingi laki-laki. Karena itu nilai perempuan tidak pernah dipertanyakan. Seperti dicatat seorang pengamat, semakin banyak anak perempuan yang dimiliki seseorang, semakin kaya ia dianggap.

Buktinya terlihat pada mas kawin. Di Asia Tenggara, harta mengalir dari laki-laki ke perempuan, kebalikan dari kebiasaan Eropa. Tomé Pires mencatat orang Melayu yang ia kenal: laki-laki harus memberi pengantin perempuan mahar yang benar-benar menjadi milik si perempuan. Ini berbeda dari Afrika, tempat mahar diambil ayah dan diwariskan lewat garis laki-laki. Di sini perempuan diuntungkan langsung.

Setelah menikah, pasangan lebih sering tinggal di desa istri daripada di desa suami. Hukum setempat menegaskan harta dimiliki bersama suami-istri. Dalam warisan, semua anak berhak sama tanpa memandang jenis kelamin. Aturan Islam soal bagian anak laki-laki dua kali lipat tidak pernah benar-benar berjalan. Aturan Cina yang tak memberi istri hak apa pun juga gagal dipraktikkan di Vietnam.

Otonomi itu bahkan sampai ke urusan cinta. Sastra Melayu dan Jawa masa itu menggambarkan perempuan sebagai pihak yang aktif dalam bercinta, yang menuntut pasangannya adil dalam hal kepuasan. Kisah Panji tentang gairah sang pangeran sangat populer di Jawa antara abad ke-15 dan ke-17, lalu menyebar ke dunia Melayu, Siam, Birma, dan Kamboja. Di Filipina tengah, laki-laki dan perempuan saling berbalas pantun, beradu kata dan sindiran, sebuah pertandingan lidah yang penuh gairah.

Karena iklim ramah dan makanan cukup pasti, orang Asia Tenggara punya sesuatu yang langka: waktu luang. Orang Eropa mencatat mereka melewatkan malam dengan bernyanyi, berpesta, dan saling menghibur.

Tapi kata "waktu luang" mungkin kurang tepat. Bagi mereka, ikut pesta dan ritus bukan sekadar hiburan, melainkan kewajiban sosial yang sama pentingnya dengan bekerja. Orang Thai dan Melayu bahkan memakai kata "kerja" untuk menyebut keikutsertaan dalam pesta keramaian.

Yang menarik, pesta di sini biasanya memperkuat, bukan meruntuhkan, jenjang masyarakat. Di Eropa ada karnaval tempat peran sosial dijungkirbalikkan sementara. Di Asia Tenggara, hal semacam itu jarang terlihat. Kelonggaran memang muncul di pinggiran pesta, tapi susunan masyarakat tetap kokoh.

Sebabnya, banyak dari kegembiraan itu diatur oleh negara. Reid meminjam gagasan Clifford Geertz tentang "pusat teladan" dan "negara panggung." Perlombaan, teater, musik, dan tarian bukan cuma hiburan. Semua itu pameran kekuatan penguasa. Dengan menggelar pertunjukan besar yang melibatkan ribuan orang, raja menampilkan diri sebagai pusat tempat berputarnya kehidupan negeri.

Aceh memberi contoh yang jelas. Naskah Adat Aceh menggambarkan arak-arakan Sultan Iskandar Muda menuju masjid pada hari raya. Barisan dibuka penunggang kuda berhias, disusul pasukan tombak, lalu raja sendiri di atas gajah dikelilingi para satrianya. Di belakangnya ratusan pejabat, ribuan budak, tiga puluh gajah berhias, dan ribuan prajurit bersenjata. Catatan orang asing menegaskan kemegahan ini bukan khayalan penulis istana. Orang asing pun diberi tempat dalam arak-arakan, dan mereka selalu terkagum-kagum.

Di tengah semua itu, sabung ayam hadir hampir di setiap pesta. Ia bukan sekadar judi. Di Bali, ia lama dikaitkan dengan candi dan makna keagamaan. Hiburan, agama, dan kekuasaan berjalin menjadi satu.

Reid menyebut abad ke-15 sampai ke-17 sebagai kurun niaga. Menurutnya, pada periode inilah jaringan pelayaran di Asia Tenggara paling ramai, dan kota-kota pelabuhan paling berkuasa, lebih dari masa sebelum maupun sesudahnya.

Pusat dagang berpindah dari waktu ke waktu. Mula-mula Sriwijaya. Lalu Pasai, Melaka, Johor, Patani, Aceh, dan Brunei. Dari kota-kota inilah bahasa Melayu naik menjadi bahasa dagang utama seluruh kawasan. Pedagang dari berbagai asal, entah Jawa, Mon, India, Cina, atau Filipina, sama-sama disebut orang Melayu karena memakai bahasa itu dan memeluk Islam.

Jangkauan bahasa ini mengejutkan. Budak Magellan yang berasal dari Sumatera bisa langsung dimengerti penduduk Filipina tengah pada tahun 1521. Hampir dua abad kemudian, orang Inggris yang bekerja untuk Dampier belajar bahasa Melayu di Mindanao, lalu memakainya lagi di lepas pantai selatan Vietnam. Ratusan kata Melayu masuk ke bahasa Tagalog. Kata-kata seperti amok, gudang, perahu, dan keris dikenal orang sampai ke Pegu dan pantai Malabar di India.

Kenapa periode ini berakhir sekitar 1680? Karena datang perubahan besar. Perusahaan Hindia Timur Belanda, VOC, membangun jaringan pelayaran yang teratur dan gigih. Mereka memborong sebagian besar ekspor kawasan menuju Tanjung Harapan. Pada saat yang sama, pelayaran orang Cina ke Nanyang meningkat. Keseimbangan lama bergeser. Kota-kota niaga Asia Tenggara yang dulu dominan mulai kehilangan panggungnya.

Ada kaitan menarik dengan sejarah dunia. Di Eropa, rentang 1450 sampai 1680 adalah masa Renaisans, Reformasi, dan ekspansi ke Amerika dan Asia. Kapitalisme Eropa mulai tumbuh. Tapi pada awal masa itu, kekuatan Barat masih pinggiran belaka di mata dunia Asia Tenggara. Pagan, Ayutthaya, Mataram, Hue, dan Johor masih menjadi pusat cerita mereka sendiri.

Ada alasan kenapa gambaran ini penting. Selama paruh pertama abad ke-20, sejarah kolonial memperlakukan bangsa-bangsa Asia Tenggara sebagai latar yang kabur di belakang ekspansi Barat. Sebagian sejarah nasionalis memperparahnya, dengan menampilkan mereka sebagai korban tak berdaya.

Kajian Reid menolak dua-duanya. Ia menyusun potret kawasan ini dari dalam. Ia membaca babad, hikayat, dan catatan pengunjung, lalu menautkannya pada dunia produksi dan perdagangan. Hasilnya adalah masyarakat yang hidup, punya cara sendiri untuk makan, membangun, memerintah, memuliakan perempuan, dan merayakan hidup.

Menengok kembali ke tanah di bawah angin bukan soal nostalgia. Ia soal cara kita memandang. Empat abad lalu, kawasan ini bukan panggung kosong yang menunggu diisi orang lain. Ia sudah penuh dengan orang yang menjalani hidupnya, membuat pilihannya, dan menulis babadnya sendiri. Tugas kita hanya belajar membacanya kembali.

 

Sumber: Tulisan ini disarikan dari Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450–1680, Jilid I: Tanah di Bawah Angin (judul asli Southeast Asia in the Age of Commerce 1450–1680, Volume One: The Lands Below the Winds, Yale University Press, 1988; terjemahan Mochtar Pabotinggi, Yayasan Pustaka Obor Indonesia). Kutipan pengamat lama seperti La Loubère, Legazpi, Tomé Pires, dan Ma Huan dikutip melalui buku tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar