Kopi yang Tidak Pernah Saya Minum dengan Tenang Lagi - Erwin Basrin

Breaking

Rabu, 29 Juli 2026

Kopi yang Tidak Pernah Saya Minum dengan Tenang Lagi


 


Erwin Basrin


Saya menutup buku Jan Breman ini di malam hari, dan entah kenapa saya malah bangun dari kursi, pergi ke dapur, dan menatap toples kopi saya cukup lama. Bukan karena ingin minum. Saya cuma kepikiran, dari mana sebenarnya kebiasaan minum kopi orang Indonesia ini berasal, dan berapa banyak dari sejarah itu yang tidak pernah saya tahu.


Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa bukan buku yang ringan. Empat ratus halaman, penuh angka, catatan kaki, dan nama-nama pejabat kolonial yang panjang. Saya sempat berhenti membaca dua kali di tengah jalan karena capek. Tapi setiap kali saya kembali, saya selalu menemukan sesuatu yang bikin saya diam sejenak, semacam fakta kecil yang tidak bisa saya lewatkan begitu saja.


Yang paling nempel di kepala saya sampai sekarang adalah cerita tentang inspektur bernama Vitalis. Tahun 1837, dia menemukan dua ribu petani kopi di Priangan yang sudah bekerja lima tahun di kebun mereka. Sebagian harus jalan sejauh dua puluh delapan mil cuma untuk sampai ke kebunnya. Lima tahun kerja keras itu, hasilnya cuma tiga pikul kopi. Saya baca ulang angka itu dua kali karena rasanya tidak masuk akal. Lima tahun, tiga pikul. Saya coba bayangkan seperti apa rasanya kerja bertahun-tahun dan hasilnya nyaris tidak ada apa-apanya.


Breman tidak menulis dengan nada marah-marah. Justru itu yang membuat bukunya terasa lebih berat buat saya. Dia menulis dengan tenang, sistematis, dan penuh data, seakan-akan sedang membedah laporan keuangan perusahaan. Tapi isinya soal manusia yang dipaksa kerja setengah tahun penuh, bukan cuma menanam kopi, tapi juga kerja pengabdian lain, jaga, angkut barang, bangun infrastruktur, buat kepentingan penguasa kolonial. Saya jadi mikir, mungkin cara menulis seperti ini justru sengaja. Angka dingin membuat kekejamannya lebih kelihatan, bukan malah tersembunyi.


Satu hal yang bikin saya berpikir ulang soal cara saya memahami sejarah kolonial adalah bagian awal buku ini, tentang bagaimana VOC masuk ke Priangan. Saya selalu membayangkan penjajahan sebagai penaklukan besar-besaran, pasukan datang, perang, lalu kekuasaan berpindah tangan. Ternyata tidak selalu begitu. Breman menunjukkan VOC justru menumpang pada sistem kerajaan Jawa yang sudah ada. Raja sebagai pusat kekuasaan, bupati sebagai perantara, rakyat yang wajib menyetor pajak dan tenaga untuk atasan mereka, semua itu sudah berjalan lama sebelum VOC datang. VOC cuma mengambil alih posisi raja itu, memakai bupati yang sama, dan meneruskan sistem kerja paksa yang sebelumnya disebut kerja pengabdian. Nama barunya herendiensten, tapi bentuknya nyaris sama.


Saya merasa ini justru lebih menakutkan daripada cerita penaklukan biasa. Bukan karena VOC datang lalu menghancurkan segalanya, tapi karena mereka pintar melihat struktur kekuasaan yang sudah ada, lalu menumpang di situ tanpa perlu bangun sistem baru dari nol. Efisien, kalau dilihat dari sisi mereka. Tapi efisiensi itu dibayar oleh rakyat kecil yang tetap harus tunduk, cuma sekarang atasannya berganti wajah.


Bagian lain yang saya baca berkali-kali adalah soal angka keuntungan yang ditarget Gubernur Jenderal Van den Bosch. Awalnya dia mau untung lima juta gulden dari tanam paksa di tahun 1833. Nanti berubah, delapan juta, lalu dua belas juta, sampai akhirnya dia berharap bisa kirim enam belas juta gulden per tahun ke Belanda. Saya bukan orang yang jago hitung-hitungan ekonomi, tapi saya cukup ngerti kalau target yang naik terus seperti itu artinya beban di lapangan juga naik terus. Dan yang menanggung kenaikan itu bukan Van den Bosch di kantornya, tapi petani yang harus merawat seribu pohon kopi per tahun, dua kali lipat dari kewajiban petani di daerah Jawa lainnya, dengan upah yang kurang dari separuh upah petani kopi di tempat lain.


Saya jadi kepikiran, ini pola yang sepertinya tidak asing. Target dari atas terus naik, sementara yang di bawah tidak pernah ditanya sanggup atau tidak. Saya tidak mau buru-buru bikin perbandingan dengan zaman sekarang, karena situasinya jelas beda jauh. Tapi ada semacam bentuk pikiran yang mirip, cara pandang yang menganggap orang di lapangan sebagai angka produksi, bukan manusia dengan batas tenaga.


Bagian yang justru bikin saya paling terdiam adalah bab penutup buku ini, ketika Breman membahas apa yang terjadi setelah tanam paksa kopi resmi dihapus. Saya kira, dan mungkin ini juga yang dipikirkan banyak orang kalau baca sejarah kolonial secara sepintas, begitu kerja paksa dihapus, rakyat jadi bebas dan hidupnya membaik. Breman menolak cerita sesederhana itu. 


Dia bandingkan dua teori besar soal kenapa masyarakat pribumi tetap tertinggal, punya J.H. Boeke yang bilang itu soal mentalitas, dan punya Clifford Geertz yang bilang itu akibat tekanan sistem kolonial bikin pertanian jadi padat karya tanpa pernah maju. Breman bilang keduanya ada benarnya, tapi keduanya juga melewatkan sesuatu.


Yang saya tangkap dari argumen Breman, setelah kerja paksa dihapus, petani miskin dan tak bertanah di Priangan tidak lantas merdeka. Mereka cuma pindah bentuk, dari pekerja paksa jadi buruh lepas, dengan upah rendah dan nyaris tidak ada jalan buat naik kelas. Pembangunan jalan, rel kereta, perluasan dagang yang datang setelahnya memang membuka Priangan dari isolasi. Tapi keuntungannya mengalir ke orang yang membangun infrastruktur itu, bukan ke rakyat yang dulu dipaksa kerja. Sementara petani kaya yang dekat dengan bupati malah makin kuat posisinya begitu kewajiban kerja paksa dicabut, karena mereka sudah punya lahan luas dari awal.


Saya berhenti lama di bagian ini. Rasanya seperti membaca cerita tentang kebebasan yang datang terlambat dan setengah-setengah. Sistemnya berubah nama, tapi orang yang paling bawah tetap di bawah.


Saya tidak akan bilang buku ini gampang dibaca. Kalau kamu berharap narasi yang mengalir kayak novel, kamu akan kecewa. Tapi kalau kamu sabar, buku ini kasih sesuatu yang jarang saya temui di buku sejarah kolonial lain, yaitu detail yang benar-benar sampai ke tingkat orang per orang, kebun per kebun, angka per angka. Bukan cerita besar tentang bangsa dan penjajah, tapi cerita kecil tentang petani yang jalan dua puluh delapan mil demi tiga pikul kopi.


Sekarang, tiap kali saya bikin kopi pagi, saya masih ingat cerita itu. Tidak bikin saya berhenti minum kopi, saya tetap minum. Tapi saya jadi lebih sadar bahwa ada sejarah panjang dan berat di balik sesuatu yang buat saya cuma rutinitas pagi biasa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar