Madilog: Ajakan Tan Malaka untuk Berpikir dengan Bukti, Bukan dengan Mistik - Erwin Basrin

Breaking

Kamis, 23 Juli 2026

Madilog: Ajakan Tan Malaka untuk Berpikir dengan Bukti, Bukan dengan Mistik

 


Pertengahan 1942, di sebuah pondok kecil dekat pabrik sepatu di Kalibata, Jakarta, seorang laki-laki menulis dengan nama samaran Iljas Hussein. Ia menulis sekitar tiga jam sehari, sambil menyamar dari kejaran polisi dan tentara Jepang. Hurufnya sengaja dibuat kecil dan naskahnya disembunyikan di tempat yang tidak mencolok, supaya lolos dari penggeledahan. Nama asli laki-laki itu adalah Tan Malaka, dan naskah yang sedang ia tulis diam-diam itu kelak dikenal sebagai Madilog.

Butuh delapan bulan dan sekitar 720 jam kerja untuk menyelesaikannya, dari Juli 1942 sampai Maret 1943. Setelah itu naskahnya sempat ikut berpindah-pindah bersama Tan Malaka, dari Jakarta ke Bayah di Banten, tempat ia bekerja mengurus romusha, sampai akhirnya diterbitkan tiga tahun kemudian. Buku ini nyaris hilang beberapa kali. Tapi isinya bertahan, dan sampai sekarang masih dibaca sebagai salah satu karya pemikiran paling ambisius yang pernah ditulis orang Indonesia.

Saya sengaja menjelaskan isi Madilog secara sederhana, berdasarkan teks aslinya, untuk pembaca yang penasaran kenapa buku setebal ratusan halaman tentang cara berpikir ini masih dianggap penting sampai sekarang.

Madilog adalah singkatan dari tiga kata: Materialisme, Dialektika, dan Logika. Menurut Tan Malaka sendiri, Madilog bukan sebuah ajaran baku yang harus dihafal, melainkan sebuah cara berpikir. Cara berpikir itu bertumpu pada bukti yang cukup banyak, diuji lewat percobaan, dan diamati langsung, bukan sekadar dipercaya begitu saja.

Tan Malaka menulis dengan terus terang bahwa Madilog bukan gagasan orisinal miliknya. Ia menyebutnya sebagai warisan pemikiran dari Barat, hasil kerja panjang para filsuf dan ilmuwan sejak zaman Yunani kuno sampai Karl Marx dan Friedrich Engels. Yang ia lakukan adalah menerjemahkan dan menyusun ulang warisan itu dengan bahasa dan contoh yang lebih dekat dengan kehidupan orang Indonesia, supaya lebih mudah dicerna.

Tujuannya jelas. Tan Malaka menilai rakyat Indonesia, khususnya kaum buruh dan tani yang ia sebut proletar, punya kekuatan besar untuk merebut kemerdekaan dari penjajahan. Tapi kekuatan itu belum cukup, sebab menurutnya rakyat masih kekurangan pandangan dunia yang jernih. Ia menyebut rakyat masih diselimuti campuran ilmu akhirat dan takhayul, yang menurutnya menghalangi kemampuan berpikir jernih dan bertindak strategis. Madilog ditulis untuk mengisi kekosongan itu.

Bab pertama Madilog dibuka dengan cerita tentang kepercayaan Mesir kuno tentang Dewa Rah, dewa matahari yang dipuja sebagai penguasa tertinggi. Menurut kepercayaan itu, Dewa Rah cukup mengucapkan satu kata, Ptah, dan seketika itu juga langit, bumi, bintang, serta sungai Nil tercipta. Tan Malaka menyebut cara berpikir semacam ini sebagai logika mistika, yaitu logika yang meletakkan sesuatu yang bersifat rohani sebagai asal-usul segala benda, dan menganggap penciptaan bisa terjadi seketika, di luar waktu dan proses.

Tan Malaka lalu membandingkan logika mistika ini dengan penemuan-penemuan ilmu pasti yang sudah diajarkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia. Menurut teori evolusi Charles Darwin, makhluk hidup tidak muncul seketika, tapi berkembang perlahan selama jutaan tahun dari bentuk paling sederhana. Menurut hukum kekekalan energi yang dirumuskan ilmuwan Inggris James Prescott Joule, jumlah energi di alam semesta selalu tetap, hanya berubah bentuk, tidak pernah muncul dari kekosongan. Menurut hukum perpaduan zat yang dirumuskan kimiawan John Dalton, setiap unsur selalu bergabung dengan unsur lain menurut perbandingan yang tetap dan bisa diukur, seperti hidrogen dan oksigen yang selalu membentuk air dengan perbandingan yang sama, di laboratorium maupun di alam bebas.

Dari perbandingan ini, Tan Malaka menyimpulkan bahwa logika mistika bertentangan dengan hampir semua hukum ilmu pasti yang sudah teruji lewat percobaan berulang kali di berbagai benua. Baginya, ini bukan sekadar perdebatan filsafat yang abstrak, tapi persoalan mendasar tentang cara sebuah bangsa memandang dunia dan mengambil keputusan.

Pada bab kedua, Tan Malaka mengambil kerangka pemikiran dari Friedrich Engels untuk memetakan sejarah filsafat Barat menjadi dua kubu besar, kaum idealis dan kaum materialis. Kaum idealis berpendapat bahwa pikiran atau ide muncul lebih dulu, dan kenyataan fisik hanyalah pantulan dari ide tersebut. Kaum materialis berpendapat sebaliknya, bahwa kenyataan fisik dan kondisi hidup manusia yang menentukan bagaimana manusia berpikir, bukan sebaliknya.

Tan Malaka menguraikan argumen filsuf Skotlandia David Hume sebagai contoh paling murni dari idealisme. Menurut Hume, ketika seseorang mengenali sebuah jeruk, yang sebenarnya ia kenali hanyalah kumpulan kesan di kepalanya sendiri, seperti rasa manis, warna kuning, dan bentuk bulat. Jeruk sebagai benda yang berdiri sendiri di luar pikiran, menurut Hume, sebenarnya tidak bisa dipastikan ada. Tan Malaka menunjukkan bahwa logika ini, jika diteruskan secara konsisten, akan berakhir pada kesimpulan yang aneh, yaitu keberadaan diri Hume sendiri pun jadi tidak bisa dipastikan, karena orang lain hanya mengenalnya lewat kesan di kepala mereka masing-masing.

Filsuf Jerman Immanuel Kant mencoba jalan tengah dengan konsep yang disebutnya Ding an Sich, benda pada dirinya sendiri, yang menurutnya tidak pernah bisa benar-benar diketahui manusia, hanya kesan-kesannya saja yang bisa ditangkap oleh indra. Tan Malaka mengutip jawaban Engels atas gagasan ini, bahwa apa yang dulu dianggap tidak terjangkau justru makin lama makin diketahui lewat perkembangan ilmu pengetahuan. Air misalnya, dulu dianggap zat tunggal yang misterius, sekarang diketahui persis tersusun dari hidrogen dan oksigen dengan perbandingan yang bisa dihitung.

Filsuf Jerman berikutnya, Georg Wilhelm Friedrich Hegel, mengembangkan gagasan bahwa sejarah dunia digerakkan oleh sesuatu yang disebutnya Absolute Idee, sebuah ide mutlak yang menjadi sumber dari segala peristiwa dan bentuk masyarakat. Karl Marx, yang pada masa mudanya sempat sangat terpengaruh Hegel, kemudian membalik gagasan ini sepenuhnya. Menurut Marx, bukan ide yang menggerakkan sejarah, melainkan pertentangan kelas yang berakar pada kondisi ekonomi. Perbudakan berganti feodalisme, feodalisme berganti kapitalisme, dan pergantian itu digerakkan oleh pertentangan nyata antara kelompok yang menguasai alat produksi dan kelompok yang bekerja untuk mereka, bukan oleh pertarungan ide semata.

Pada bagian yang membahas dialektika, Tan Malaka menunjukkan bagaimana teknologi dan alat produksi ikut membentuk struktur sosial suatu masyarakat. Ia membandingkan perkumpulan tukang besi di Eropa abad pertengahan dengan kelompok pandai besi di Minangkabau, Aceh, dan kerajaan Majapahit, yang menurutnya juga menempati kedudukan sosial yang cukup tinggi karena keahlian mereka mengolah logam.

Contoh lain yang ia bahas panjang lebar adalah sistem kasta dalam masyarakat Hindu, yang membagi manusia menjadi empat kelompok besar, Brahmana sebagai kasta pendeta, Satria sebagai kasta bangsawan dan raja, Waisa sebagai kasta pedagang dan petani, serta Sudra sebagai kasta pekerja kasar. Alih-alih menerima begitu saja penjelasan keagamaan tentang asal-usul kasta ini, Tan Malaka menelusurinya sampai ke akar ekonomi, yaitu pembagian kerja dan jenis mata pencaharian yang sudah ada lebih dulu dalam masyarakat, sebelum akhirnya dibungkus dengan kepercayaan tentang perjalanan jiwa dan reinkarnasi. Baginya, filsafat dan kepercayaan sebuah masyarakat selalu mencerminkan cara masyarakat itu mengatur kehidupan ekonominya, bukan sebaliknya.

Di bagian penutup buku, yang diberi judul Peninjauan dengan Madilog, Tan Malaka mengambil contoh perjalanan ilmu pengetahuan dari atom sampai ke seluruh alam semesta untuk menunjukkan sifat dasar ilmu pengetahuan modern: ia tidak pernah benar-benar selesai. Ia mengangkat nama Demokritus, filsuf Yunani dari 2500 tahun lalu yang sudah membayangkan keberadaan atom sebagai satuan benda terkecil, jauh sebelum ada teropong atau alat laboratorium yang bisa membuktikannya secara langsung.

Tan Malaka lalu menjelaskan perkembangan pemahaman tentang atom sampai ke masanya sendiri, mulai dari John Dalton di awal abad ke-19 sampai eksperimen Ernest Rutherford yang berhasil memotret hasil tumbukan antaratom di awal abad ke-20, membuktikan keberadaan proton dan elektron yang sebelumnya hanya berupa dugaan ilmiah. Perkembangan bertahap seperti inilah yang menurut Tan Malaka jadi ciri utama pengetahuan berdasarkan bukti. Ia menulis, tidak ada batas akhir pengetahuan, karena setiap jawaban baru akan selalu memunculkan pertanyaan baru. Bagi Tan Malaka, siapa pun yang mengaku sudah memegang kebenaran akhir yang tidak bisa dipertanyakan lagi, sesungguhnya sedang terjerumus ke cara berpikir mistik yang ia kritik sejak bab pertama.

Cara Tan Malaka mengakhiri buku ini cukup mengejutkan untuk sebuah risalah pemikiran yang tebal dan padat. Ia menutup Madilog dengan sebuah gambaran khayalan yang ia sebut Taman Manusia, semacam taman raksasa berisi patung-patung tokoh yang pernah membentuk sejarah dunia, disusun menurut jasa mereka pada kemanusiaan, bukan menurut kekuasaan atau kemasyhuran semata.

Dalam khayalan itu, patung Napoleon dan Julius Caesar ditempatkan di bagian paling bawah taman, karena menurut Tan Malaka kehebatan mereka sebagai penakluk hanya melayani ambisi pribadi, dengan mengorbankan darah dan air mata banyak orang. Sebaliknya, patung Abraham Lincoln ditempatkan lebih tinggi, karena jasanya dianggap lebih tulus untuk kemanusiaan. Di puncak taman, ia menempatkan patung para ilmuwan seperti Galileo, Newton, Darwin, dan Einstein, berdampingan dengan patung para pemikir dan pejuang gerakan buruh seperti Marx, Engels, dan Lenin.

Taman Manusia ini ditutup dengan sebuah renungan tentang moralitas. Menurut Tan Malaka, baik dan buruk sebuah perbuatan sebaiknya tidak lagi diukur dari perintah dewa atau hantu, melainkan dari akibatnya bagi masyarakat itu sendiri. Perbuatan baik akan mendatangkan akibat baik bagi masyarakat, perbuatan buruk akan mendatangkan akibat buruk, dan hukum tentang baik buruk ini bisa dipelajari dari sejarah nyata berbagai bangsa, bukan dari kitab yang dianggap datang dari luar dunia manusia.

Madilog ditulis dalam suasana yang sangat spesifik, di tengah pendudukan Jepang yang menurut Tan Malaka justru menggencarkan propaganda tentang keunggulan spiritual dunia timur dibanding barat yang dianggap terlalu materialistis. Tan Malaka menulis buku ini sebagian sebagai bantahan langsung terhadap propaganda tersebut, sekaligus sebagai bekal berpikir bagi generasi muda yang menurutnya akan segera memikul tanggung jawab besar memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan.

Terlepas dari setuju atau tidak dengan seluruh kesimpulan politiknya, ajakan dasar Tan Malaka dalam Madilog tetap sederhana dan relevan untuk dibaca siapa saja hari ini. Sebelum memutuskan apa yang benar dan apa yang salah, periksa dulu buktinya. Jangan berhenti bertanya hanya karena sebuah jawaban terasa nyaman atau sudah lama dipercaya turun-temurun. Dan sadari bahwa pengetahuan manusia, seberapa pun majunya, tidak akan pernah benar-benar selesai.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar