Pertengahan 1942, di sebuah
pondok kecil dekat pabrik sepatu di Kalibata, Jakarta, seorang laki-laki
menulis dengan nama samaran Iljas Hussein. Ia menulis sekitar tiga jam sehari,
sambil menyamar dari kejaran polisi dan tentara Jepang. Hurufnya sengaja dibuat
kecil dan naskahnya disembunyikan di tempat yang tidak mencolok, supaya lolos
dari penggeledahan. Nama asli laki-laki itu adalah Tan Malaka, dan naskah yang
sedang ia tulis diam-diam itu kelak dikenal sebagai Madilog.
Butuh delapan bulan dan
sekitar 720 jam kerja untuk menyelesaikannya, dari Juli 1942 sampai Maret 1943.
Setelah itu naskahnya sempat ikut berpindah-pindah bersama Tan Malaka, dari
Jakarta ke Bayah di Banten, tempat ia bekerja mengurus romusha, sampai akhirnya
diterbitkan tiga tahun kemudian. Buku ini nyaris hilang beberapa kali. Tapi
isinya bertahan, dan sampai sekarang masih dibaca sebagai salah satu karya
pemikiran paling ambisius yang pernah ditulis orang Indonesia.
Saya sengaja menjelaskan isi
Madilog secara sederhana, berdasarkan teks aslinya, untuk pembaca yang
penasaran kenapa buku setebal ratusan halaman tentang cara berpikir ini masih
dianggap penting sampai sekarang.
Madilog adalah singkatan dari
tiga kata: Materialisme, Dialektika, dan Logika. Menurut Tan Malaka sendiri,
Madilog bukan sebuah ajaran baku yang harus dihafal, melainkan sebuah cara
berpikir. Cara berpikir itu bertumpu pada bukti yang cukup banyak, diuji lewat
percobaan, dan diamati langsung, bukan sekadar dipercaya begitu saja.
Tan Malaka menulis dengan terus
terang bahwa Madilog bukan gagasan orisinal miliknya. Ia menyebutnya sebagai
warisan pemikiran dari Barat, hasil kerja panjang para filsuf dan ilmuwan sejak
zaman Yunani kuno sampai Karl Marx dan Friedrich Engels. Yang ia lakukan adalah
menerjemahkan dan menyusun ulang warisan itu dengan bahasa dan contoh yang
lebih dekat dengan kehidupan orang Indonesia, supaya lebih mudah dicerna.
Tujuannya jelas. Tan Malaka
menilai rakyat Indonesia, khususnya kaum buruh dan tani yang ia sebut proletar,
punya kekuatan besar untuk merebut kemerdekaan dari penjajahan. Tapi kekuatan
itu belum cukup, sebab menurutnya rakyat masih kekurangan pandangan dunia yang
jernih. Ia menyebut rakyat masih diselimuti campuran ilmu akhirat dan takhayul,
yang menurutnya menghalangi kemampuan berpikir jernih dan bertindak strategis.
Madilog ditulis untuk mengisi kekosongan itu.
Bab pertama Madilog dibuka
dengan cerita tentang kepercayaan Mesir kuno tentang Dewa Rah, dewa matahari
yang dipuja sebagai penguasa tertinggi. Menurut kepercayaan itu, Dewa Rah cukup
mengucapkan satu kata, Ptah, dan seketika itu juga langit, bumi, bintang, serta
sungai Nil tercipta. Tan Malaka menyebut cara berpikir semacam ini sebagai
logika mistika, yaitu logika yang meletakkan sesuatu yang bersifat rohani
sebagai asal-usul segala benda, dan menganggap penciptaan bisa terjadi
seketika, di luar waktu dan proses.
Tan Malaka lalu membandingkan
logika mistika ini dengan penemuan-penemuan ilmu pasti yang sudah diajarkan di
sekolah-sekolah di seluruh dunia. Menurut teori evolusi Charles Darwin, makhluk
hidup tidak muncul seketika, tapi berkembang perlahan selama jutaan tahun dari
bentuk paling sederhana. Menurut hukum kekekalan energi yang dirumuskan ilmuwan
Inggris James Prescott Joule, jumlah energi di alam semesta selalu tetap, hanya
berubah bentuk, tidak pernah muncul dari kekosongan. Menurut hukum perpaduan
zat yang dirumuskan kimiawan John Dalton, setiap unsur selalu bergabung dengan
unsur lain menurut perbandingan yang tetap dan bisa diukur, seperti hidrogen
dan oksigen yang selalu membentuk air dengan perbandingan yang sama, di
laboratorium maupun di alam bebas.
Dari perbandingan ini, Tan
Malaka menyimpulkan bahwa logika mistika bertentangan dengan hampir semua hukum
ilmu pasti yang sudah teruji lewat percobaan berulang kali di berbagai benua.
Baginya, ini bukan sekadar perdebatan filsafat yang abstrak, tapi persoalan
mendasar tentang cara sebuah bangsa memandang dunia dan mengambil keputusan.
Pada bab kedua, Tan Malaka
mengambil kerangka pemikiran dari Friedrich Engels untuk memetakan sejarah
filsafat Barat menjadi dua kubu besar, kaum idealis dan kaum materialis. Kaum
idealis berpendapat bahwa pikiran atau ide muncul lebih dulu, dan kenyataan fisik
hanyalah pantulan dari ide tersebut. Kaum materialis berpendapat sebaliknya,
bahwa kenyataan fisik dan kondisi hidup manusia yang menentukan bagaimana
manusia berpikir, bukan sebaliknya.
Tan Malaka menguraikan argumen
filsuf Skotlandia David Hume sebagai contoh paling murni dari idealisme.
Menurut Hume, ketika seseorang mengenali sebuah jeruk, yang sebenarnya ia
kenali hanyalah kumpulan kesan di kepalanya sendiri, seperti rasa manis, warna
kuning, dan bentuk bulat. Jeruk sebagai benda yang berdiri sendiri di luar
pikiran, menurut Hume, sebenarnya tidak bisa dipastikan ada. Tan Malaka
menunjukkan bahwa logika ini, jika diteruskan secara konsisten, akan berakhir
pada kesimpulan yang aneh, yaitu keberadaan diri Hume sendiri pun jadi tidak
bisa dipastikan, karena orang lain hanya mengenalnya lewat kesan di kepala
mereka masing-masing.
Filsuf Jerman Immanuel Kant
mencoba jalan tengah dengan konsep yang disebutnya Ding an Sich, benda pada
dirinya sendiri, yang menurutnya tidak pernah bisa benar-benar diketahui manusia,
hanya kesan-kesannya saja yang bisa ditangkap oleh indra. Tan Malaka mengutip
jawaban Engels atas gagasan ini, bahwa apa yang dulu dianggap tidak terjangkau
justru makin lama makin diketahui lewat perkembangan ilmu pengetahuan. Air
misalnya, dulu dianggap zat tunggal yang misterius, sekarang diketahui persis
tersusun dari hidrogen dan oksigen dengan perbandingan yang bisa dihitung.
Filsuf Jerman berikutnya,
Georg Wilhelm Friedrich Hegel, mengembangkan gagasan bahwa sejarah dunia
digerakkan oleh sesuatu yang disebutnya Absolute Idee, sebuah ide mutlak yang
menjadi sumber dari segala peristiwa dan bentuk masyarakat. Karl Marx, yang
pada masa mudanya sempat sangat terpengaruh Hegel, kemudian membalik gagasan
ini sepenuhnya. Menurut Marx, bukan ide yang menggerakkan sejarah, melainkan
pertentangan kelas yang berakar pada kondisi ekonomi. Perbudakan berganti
feodalisme, feodalisme berganti kapitalisme, dan pergantian itu digerakkan oleh
pertentangan nyata antara kelompok yang menguasai alat produksi dan kelompok
yang bekerja untuk mereka, bukan oleh pertarungan ide semata.
Pada bagian yang membahas
dialektika, Tan Malaka menunjukkan bagaimana teknologi dan alat produksi ikut
membentuk struktur sosial suatu masyarakat. Ia membandingkan perkumpulan tukang
besi di Eropa abad pertengahan dengan kelompok pandai besi di Minangkabau,
Aceh, dan kerajaan Majapahit, yang menurutnya juga menempati kedudukan sosial
yang cukup tinggi karena keahlian mereka mengolah logam.
Contoh lain yang ia bahas
panjang lebar adalah sistem kasta dalam masyarakat Hindu, yang membagi manusia
menjadi empat kelompok besar, Brahmana sebagai kasta pendeta, Satria sebagai
kasta bangsawan dan raja, Waisa sebagai kasta pedagang dan petani, serta Sudra
sebagai kasta pekerja kasar. Alih-alih menerima begitu saja penjelasan
keagamaan tentang asal-usul kasta ini, Tan Malaka menelusurinya sampai ke akar
ekonomi, yaitu pembagian kerja dan jenis mata pencaharian yang sudah ada lebih
dulu dalam masyarakat, sebelum akhirnya dibungkus dengan kepercayaan tentang
perjalanan jiwa dan reinkarnasi. Baginya, filsafat dan kepercayaan sebuah
masyarakat selalu mencerminkan cara masyarakat itu mengatur kehidupan
ekonominya, bukan sebaliknya.
Di bagian penutup buku, yang
diberi judul Peninjauan dengan Madilog, Tan Malaka mengambil contoh perjalanan
ilmu pengetahuan dari atom sampai ke seluruh alam semesta untuk menunjukkan
sifat dasar ilmu pengetahuan modern: ia tidak pernah benar-benar selesai. Ia
mengangkat nama Demokritus, filsuf Yunani dari 2500 tahun lalu yang sudah
membayangkan keberadaan atom sebagai satuan benda terkecil, jauh sebelum ada
teropong atau alat laboratorium yang bisa membuktikannya secara langsung.
Tan Malaka lalu menjelaskan
perkembangan pemahaman tentang atom sampai ke masanya sendiri, mulai dari John
Dalton di awal abad ke-19 sampai eksperimen Ernest Rutherford yang berhasil
memotret hasil tumbukan antaratom di awal abad ke-20, membuktikan keberadaan
proton dan elektron yang sebelumnya hanya berupa dugaan ilmiah. Perkembangan
bertahap seperti inilah yang menurut Tan Malaka jadi ciri utama pengetahuan
berdasarkan bukti. Ia menulis, tidak ada batas akhir pengetahuan, karena setiap
jawaban baru akan selalu memunculkan pertanyaan baru. Bagi Tan Malaka, siapa
pun yang mengaku sudah memegang kebenaran akhir yang tidak bisa dipertanyakan
lagi, sesungguhnya sedang terjerumus ke cara berpikir mistik yang ia kritik
sejak bab pertama.
Cara Tan Malaka mengakhiri
buku ini cukup mengejutkan untuk sebuah risalah pemikiran yang tebal dan padat.
Ia menutup Madilog dengan sebuah gambaran khayalan yang ia sebut Taman Manusia,
semacam taman raksasa berisi patung-patung tokoh yang pernah membentuk sejarah
dunia, disusun menurut jasa mereka pada kemanusiaan, bukan menurut kekuasaan
atau kemasyhuran semata.
Dalam khayalan itu, patung
Napoleon dan Julius Caesar ditempatkan di bagian paling bawah taman, karena
menurut Tan Malaka kehebatan mereka sebagai penakluk hanya melayani ambisi
pribadi, dengan mengorbankan darah dan air mata banyak orang. Sebaliknya, patung
Abraham Lincoln ditempatkan lebih tinggi, karena jasanya dianggap lebih tulus
untuk kemanusiaan. Di puncak taman, ia menempatkan patung para ilmuwan seperti
Galileo, Newton, Darwin, dan Einstein, berdampingan dengan patung para pemikir
dan pejuang gerakan buruh seperti Marx, Engels, dan Lenin.
Taman Manusia ini ditutup
dengan sebuah renungan tentang moralitas. Menurut Tan Malaka, baik dan buruk
sebuah perbuatan sebaiknya tidak lagi diukur dari perintah dewa atau hantu,
melainkan dari akibatnya bagi masyarakat itu sendiri. Perbuatan baik akan
mendatangkan akibat baik bagi masyarakat, perbuatan buruk akan mendatangkan
akibat buruk, dan hukum tentang baik buruk ini bisa dipelajari dari sejarah
nyata berbagai bangsa, bukan dari kitab yang dianggap datang dari luar dunia
manusia.
Madilog ditulis dalam suasana
yang sangat spesifik, di tengah pendudukan Jepang yang menurut Tan Malaka
justru menggencarkan propaganda tentang keunggulan spiritual dunia timur
dibanding barat yang dianggap terlalu materialistis. Tan Malaka menulis buku
ini sebagian sebagai bantahan langsung terhadap propaganda tersebut, sekaligus
sebagai bekal berpikir bagi generasi muda yang menurutnya akan segera memikul
tanggung jawab besar memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan.
Terlepas dari setuju atau
tidak dengan seluruh kesimpulan politiknya, ajakan dasar Tan Malaka dalam
Madilog tetap sederhana dan relevan untuk dibaca siapa saja hari ini. Sebelum
memutuskan apa yang benar dan apa yang salah, periksa dulu buktinya. Jangan
berhenti bertanya hanya karena sebuah jawaban terasa nyaman atau sudah lama
dipercaya turun-temurun. Dan sadari bahwa pengetahuan manusia, seberapa pun
majunya, tidak akan pernah benar-benar selesai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar