Bayangkan
pemerintah mengeluarkan satu aturan baru. Aturan itu menguntungkan banyak
orang. Kota jadi lebih rapi, anggaran lebih sehat, mayoritas warga senang. Tapi
aturan yang sama merugikan Anda secara langsung. Anda kehilangan sesuatu yang
penting, entah kebebasan menyuarakan pendapat, entah kesempatan yang selama ini
terbuka. Muncul satu pertanyaan yang sederhana tapi tidak mudah dijawab.
Bolehkah negara mengorbankan Anda demi keuntungan orang banyak?
Ronald
Dworkin menjawab tegas. Tidak boleh, setidaknya tidak selalu. Jawaban itu
menjadi inti dari salah satu buku filsafat hukum paling berpengaruh, Taking
Rights Seriously, yang terbit pertama kali pada 1977. Buku ini menantang cara
berpikir yang saat itu dominan. Gagasannya masih dipakai orang sampai sekarang
untuk berdebat soal hak asasi, keadilan, dan tugas seorang hakim.
Tulisan
ini menjelaskan ide-ide utama Dworkin dengan bahasa sehari-hari. Anda tidak
perlu latar belakang hukum untuk mengikutinya.
Kita
sering memakai kata hak tanpa memikirkan artinya. Dworkin memberi definisi yang
tajam. Menurut dia, hak individu adalah semacam kartu truf yang dipegang warga.
Dalam permainan kartu, kartu truf mengalahkan kartu biasa, sekuat apa pun kartu
biasa itu. Begitu juga hak.
Dworkin
menulis bahwa seseorang punya hak ketika suatu tujuan bersama bukan alasan yang
cukup untuk menolak apa yang ia inginkan, atau untuk menimpakan kerugian
kepadanya. Perhatikan kalimat bukan alasan yang cukup. Di sinilah letak
kekuatannya. Kalau sesuatu benar-benar hak Anda, pemerintah tidak bisa
mencabutnya hanya dengan berkata ini demi kepentingan umum.
Jadi
hak bukan hadiah dari negara. Hak justru membatasi apa yang boleh dilakukan
negara terhadap Anda.
Untuk
paham posisi Dworkin, kita perlu tahu apa yang ia lawan. Lawannya adalah cara
berpikir utilitarian. Inti utilitarianisme kira-kira begini. Aturan yang baik
adalah aturan yang menghasilkan kebaikan terbesar untuk jumlah orang terbanyak.
Terdengar
masuk akal. Masalahnya, logika ini bisa dipakai untuk menindas. Kalau yang
dihitung hanya jumlah total kebahagiaan, maka merugikan satu orang atau satu
kelompok kecil jadi sah asalkan mayoritas untung.
Dworkin
menolak jalan pikiran itu. Baginya, sistem hukum tidak boleh disusun semata
karena menghasilkan keuntungan terbesar bagi terbanyak. Ada individu yang harus
dilindungi lebih dulu. Hak justru ada untuk mencegah kebutuhan dan kepentingan
seseorang dikorbankan hanya atas nama kesejahteraan bersama. Inilah yang menempatkan
Dworkin di barisan pemikir anti-utilitarian.
Kalau
hak begitu kuat, dari mana asalnya? Dworkin tidak menyandarkan hak pada
kelahiran, kekayaan, atau prestasi. Ia menyandarkannya pada dua hal, yaitu
martabat manusia dan kesetaraan politik.
Menurut
Dworkin, setiap orang berhak diperlakukan sebagai manusia yang punya martabat,
dan setiap orang berhak atas perhatian serta rasa hormat yang setara. Hak ini
melekat pada kita bukan karena kita hebat, tapi semata karena kita manusia yang
mampu membuat rencana hidup dan punya rasa keadilan.
Ada
kaitan menarik di sini. Punya hak dan punya harga diri saling terhubung. Orang
yang sadar dirinya pemegang hak bisa memandang orang lain sebagai setara.
Sebaliknya, kalau seseorang tidak dianggap sebagai pemilik hak, sebagian
martabatnya ikut hilang. Karena itu, menurut cara pandang ini, membuang gagasan
hak sama saja dengan membuang penghormatan terhadap manusia.
Di
titik ini Dworkin mengambil posisi yang mengejutkan banyak orang. Banyak
pemikir menganggap hak yang paling mendasar adalah kebebasan. Kaum libertarian
bahkan menganggap kebebasan sebagai satu-satunya hak. Dworkin tidak setuju.
Menurut
dia, tidak ada hak umum atas kebebasan. Alasannya, kita memang tidak bebas
melakukan apa saja, dan tidak ada yang menganggap kita seharusnya bebas
melakukan apa saja. Yang benar-benar mendasar, kata Dworkin, adalah hak atas
perhatian dan rasa hormat yang setara.
Hak
dasar ini punya dua tafsir, dan bedanya penting. Tafsir pertama adalah hak atas
perlakuan yang sama. Ini soal mendapat pembagian barang atau kesempatan yang
sama seperti orang lain. Tafsir kedua adalah hak untuk diperlakukan sebagai
orang yang setara. Ini bukan soal mendapat bagian yang persis sama, melainkan
soal diperhitungkan dengan perhatian dan hormat yang setara ketika negara
memutuskan bagaimana barang dan kesempatan itu dibagi.
Dworkin
memilih yang kedua sebagai yang paling mendasar. Hak atas perlakuan yang sama
hanya berlaku kalau ia mengalir dari hak yang lebih dasar tadi. Perbedaan halus
ini nanti sangat menentukan ketika ia membahas kebijakan yang kontroversial.
Bagian
ini mungkin sumbangan Dworkin yang paling terkenal. Ia bicara soal cara hakim
berpikir.
Kebanyakan
kasus mudah. Undang-undang jelas, ada aturan yang pas, hakim tinggal
menerapkannya. Yang menarik perhatian Dworkin adalah kasus sulit, yaitu ketika
undang-undang kabur, ketika aturan bertabrakan, atau ketika belum ada aturan
yang benar-benar cocok.
Apa
yang harus dilakukan hakim dalam kasus seperti itu? Menurut Dworkin, hakim
harus menggali lebih dalam. Ia harus mencari prinsip di balik aturan yang ada.
Untuk menjelaskan ini, Dworkin membayangkan seorang hakim ideal yang ia beri
nama Hercules. Hercules bukan hakim biasa. Ia sanggup menyusun satu rangkaian
prinsip yang utuh, yang mampu menjelaskan dan membenarkan hampir semua putusan
hukum sebelumnya.
Hercules
bekerja dengan dua arah konsistensi. Secara vertikal, ia menata tingkatan
otoritas, dari konstitusi di puncak, lalu putusan mahkamah tertinggi, lalu
undang-undang, lalu putusan pengadilan biasa. Prinsip di tingkat bawah harus
cocok dengan prinsip di tingkat atas. Secara horizontal, prinsip yang dipakai
untuk satu putusan harus cocok dengan prinsip yang dipakai untuk putusan lain
di tingkat yang sama.
Hasilnya,
memutus perkara bukan urusan menebak atau ikut selera pribadi. Memutus perkara
adalah mencari putusan yang paling pas dengan keseluruhan bangunan hukum dan
prinsip yang menopangnya. Para filsuf menyebut cara berpikir semacam ini teori
koherensi.
Dworkin
menambahkan satu pembedaan yang tajam, yaitu antara argumen prinsip dan argumen
kebijakan.
Argumen
kebijakan membenarkan sebuah keputusan dengan menunjuk keuntungan bagi
masyarakat secara keseluruhan. Contohnya, aturan ini bagus karena mendorong
pertumbuhan ekonomi. Argumen prinsip membenarkan keputusan dengan menunjuk hak
seseorang atau kelompok. Contohnya, orang ini menang karena memang itu haknya.
Menurut
Dworkin, hakim seharusnya memutus berdasarkan prinsip, bukan kebijakan.
Alasannya masuk akal. Keputusan soal kebijakan sebaiknya diambil oleh pejabat
yang dipilih rakyat, bukan oleh hakim yang tidak dipilih. Selain itu, kebijakan
menimbang akibat di masa depan, sementara hak berpijak pada sesuatu yang sudah
melekat pada seseorang. Dengan bertumpu pada prinsip, hakim memutus atas dasar
hak salah satu pihak, bukan atas dasar perhitungan untung rugi masyarakat.
Dari
sini lahir salah satu klaim Dworkin yang paling banyak diperdebatkan. Ia
berpendapat bahwa untuk setiap kasus, termasuk kasus sulit, ada satu jawaban
yang benar.
Maksudnya
begini. Sebuah pernyataan hukum bisa disebut benar kalau ia lebih cocok dengan
teori hukum yang menjelaskan putusan sebelumnya dibanding pernyataan lawannya.
Kalau kurang cocok, ia keliru. Jadi walau para hakim berdebat sengit, perbedaan
pendapat itu tidak berarti tidak ada jawaban yang benar.
Klaim
ini memancing banyak bantahan, dan Dworkin sendiri tahu ini tidak mudah
diterima. Tapi maksud utamanya jelas. Hakim tidak boleh cepat menyerah pada
anggapan bahwa dalam kasus sulit ia bebas memilih sesuka hati. Ia tetap terikat
pada prinsip.
Dworkin
juga membahas pembangkangan sipil, dan pembahasannya nyambung langsung dengan
gagasan haknya.
Ia
bertanya, apakah seseorang pernah punya hak untuk melanggar hukum, dalam arti
pemerintah keliru kalau menangkap dan menghukumnya. Jawaban Dworkin, ada, yaitu
ketika hukum itu secara keliru melanggar hak orang tersebut terhadap
pemerintah. Kalau Anda punya hak moral atas kebebasan bicara, maka Anda punya
hak moral untuk melanggar aturan yang sebenarnya tidak berhak dibuat pemerintah,
karena aturan itu menabrak hak Anda.
Dworkin
juga menegaskan hal yang sering dilupakan. Tidak ada seorang pun yang punya hak
agar seluruh hukum ditegakkan tanpa kecuali. Ini koreksi penting bagi mereka
yang menganggap hak selalu bisa dikalahkan demi ketertiban.
Tentu
ada pertanyaan sulit yang tersisa. Siapa yang menentukan bahwa pemerintah sudah
melanggar hak seseorang? Kalau pemerintah yang jadi penentu akhir, kita bisa
jatuh ke tirani. Kalau tiap individu yang jadi penentu akhir, kita bisa jatuh
ke kekacauan. Dworkin tidak menuntaskan ketegangan ini, dan itu salah satu
bagian yang masih terus diperdebatkan.
Dworkin
punya pandangan menarik soal cara membaca konstitusi. Ia memakainya untuk
membela putusan pengadilan yang progresif pada masanya.
Ia
memisahkan dua hal. Pertama, mengikuti teks konstitusi dan maksud para
penyusunnya. Kedua, mempersempit hak hanya sebatas yang diakui oleh sekelompok
kecil orang pada satu titik waktu di masa lalu. Dworkin bersedia disebut
penganut teks yang setia dalam arti pertama, tapi menolak arti kedua.
Ia
memberi contoh sederhana dari cara kita mendidik anak. Ketika orang tua
mengajari anak untuk tidak bersikap tidak adil, orang tua itu bermaksud
membimbing anaknya dengan konsep keadilan, bukan dengan daftar contoh keadilan
yang kebetulan ada di kepalanya saat itu. Kalau kelak si anak menemukan bentuk
ketidakadilan yang tidak terpikir orang tuanya, prinsipnya tetap berlaku.
Begitu
juga konstitusi. Seberapa luas hak kita membentang harus dipandu oleh konsep
besar seperti keadilan, kesetaraan, dan larangan kekejaman, bukan sekadar oleh
contoh sempit yang ada di benak para penyusun beberapa abad lalu.
Salah
satu penerapan teori Dworkin yang paling panas adalah soal diskriminasi
terbalik, yang hari ini sering disebut kebijakan afirmatif. Dworkin memakai
kasus DeFunis, seorang pelamar sekolah hukum yang merasa dirugikan oleh program
yang memberi kesempatan khusus bagi kelompok minoritas.
Dworkin
berpendapat program semacam itu tidak melanggar hak individu. Di sini pembedaan
tadi bekerja. Menurut Dworkin, seseorang memang punya hak untuk diperlakukan
sebagai orang yang setara ketika standar penerimaan disusun dan diterapkan.
Tapi ia tidak punya hak atas jatah kursi yang sama persis di sekolah hukum.
Setiap standar penerimaan, apa pun bentuknya, pasti merugikan sebagian pelamar.
Selama kebijakan itu memberi keuntungan bagi masyarakat yang melampaui
kerugiannya, hak untuk diperlakukan setara tidak dilanggar.
Perlu
dicatat, banyak orang tidak setuju dengan cara Dworkin di sini. Ada pengkritik
yang menilai argumennya justru bertumpu pada perhitungan manfaat, bukan pada
hak. Perdebatan soal ini belum selesai sampai hari ini. Bagian ini menunjukkan
bahwa teori yang rapi di atas kertas bisa jadi sangat rumit begitu diterapkan
pada masalah nyata.
Kenapa
buku ini berjudul Taking Rights Seriously, atau menganggap hak secara serius?
Karena bagi Dworkin, banyak orang mengaku menghormati hak tapi mencabutnya
begitu terasa merepotkan.
Menganggap
hak secara serius berarti bersedia membiarkan seorang individu menang,
sekalipun mayoritas kehilangan sesuatu. Hak yang bisa dibatalkan kapan saja
demi kenyamanan bukanlah hak. Itu cuma izin yang sewaktu-waktu bisa ditarik.
Di
situlah kekuatan gagasan Dworkin. Ia mengingatkan bahwa negara yang adil bukan
negara yang selalu memuaskan mayoritas, melainkan negara yang tahu batas. Ada
hal yang tidak boleh diambil dari seorang warga, betapa pun menggodanya
keuntungan yang ditawarkan. Setelah puluhan tahun, pertanyaan yang ia ajukan
tetap relevan. Setiap kali kekuasaan berhadapan dengan seorang individu, kita
masih perlu bertanya hal yang sama. Apakah kita benar-benar menganggap hak
secara serius?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar