Setelah Kapitalisme - Erwin Basrin

Breaking

Kamis, 11 Juni 2026

Setelah Kapitalisme

 


Saya menutup buku ini dengan kepala yang penuh. Paul Mason mengajukan satu klaim besar yang sulit diabaikan. Menurutnya, kapitalisme sedang menuju akhir, dan penggantinya sudah mulai tumbuh di antara kita tanpa banyak orang sadari.

Mason adalah jurnalis ekonomi dari Inggris. Ia lama meliput krisis keuangan, gerakan protes, dan dunia kerja. Buku ini bukan ramalan kosong. Ia menggabungkan sejarah ekonomi, gagasan para pemikir, dan pengamatan langsung di lapangan untuk menyusun argumennya.

Saya akui buku ini tidak ringan. Mason memakai banyak istilah ekonomi dan menyinggung tokoh-tokoh yang mungkin asing bagi pembaca umum. Karena itu, dalam tulisan ini saya akan menerjemahkan gagasannya ke dalam bahasa sehari-hari, selangkah demi selangkah, agar bisa diikuti siapa saja. Anda tidak perlu latar belakang ekonomi untuk memahami inti pesannya.

Mari kita mulai dari diagnosisnya. Apa yang sebenarnya sedang rusak?

Mason membuka dengan satu vonis. Sistem ekonomi yang mengatur dunia selama beberapa dekade terakhir, yang ia sebut neoliberalisme, sudah rusak.

Apa itu neoliberalisme? Sederhananya, ini adalah keyakinan bahwa jalan terbaik menuju kemakmuran adalah membiarkan pasar bebas mengatur segalanya. Negara dibuat sekecil mungkin. Setiap orang dibiarkan mengejar kepentingannya sendiri. Persaingan dianggap baik, dan ketimpangan dianggap wajar.

Mason mengakui sistem ini sempat berhasil. Selama dua puluh lima tahun, ia mendorong pertumbuhan besar dan ledakan teknologi informasi. Tapi ia juga mengembalikan ketimpangan ke tingkat seperti seabad lalu. Lalu datang krisis keuangan 2008. Bagi Mason, krisis itu bukan kecelakaan biasa. Itu tanda bahwa sistemnya gagal.

Yang menarik, Mason juga mengkritik pihak yang menentang kapitalisme. Selama bertahun-tahun, gerakan protes menolak menyusun program yang jelas. Mereka tahu apa yang mereka tolak, tapi tidak tahu apa yang mereka tawarkan. Akibatnya perlawanan mereka selalu kalah. Mason ingin mengisi kekosongan itu dengan sebuah alternatif yang utuh.

Untuk menjelaskan mengapa krisis ini berbeda, Mason memakai gagasan ekonom Rusia bernama Nikolai Kondratieff. Gagasannya disebut gelombang panjang.

Idenya begini. Ekonomi kapitalis tidak hanya naik turun dalam siklus pendek. Ada juga irama besar yang berlangsung sekitar lima puluh tahun. Setiap gelombang dimulai dengan teknologi baru yang mendorong pertumbuhan. Setelah beberapa dekade, gelombang itu kehabisan tenaga dan ekonomi memasuki masa sulit. Lalu, biasanya, sistem menata ulang dirinya dan gelombang baru dimulai.

Mason berpendapat kita sekarang berada di puncak gelombang keempat. Seharusnya, setelah masa sulit, sebuah gelombang baru sudah dimulai. Tapi kali ini hal itu tidak terjadi. Gelombangnya macet. Penataan ulang yang biasanya menyelamatkan kapitalisme gagal berjalan, dan menurut Mason teknologi informasilah yang menjadi penyebabnya.

Di sinilah Mason mengajak kita menengok Karl Marx, tapi bukan Marx yang biasa kita dengar. Ia menyoroti sebuah catatan tua Marx yang dikenal sebagai Fragment on Machines, atau Catatan tentang Mesin.

Dalam catatan itu, Marx membayangkan masa depan yang jauh. Ia menulis bahwa suatu hari mesin akan melakukan hampir semua pekerjaan. Saat itu terjadi, kekuatan produksi yang utama bukan lagi tenaga otot manusia, melainkan pengetahuan. Marx menyebutnya general intellect, atau kecerdasan kolektif. Maksudnya adalah gabungan ilmu, keterampilan, dan informasi yang dimiliki masyarakat.

Bagi Mason, ramalan ini sangat penting. Kalau pengetahuan menjadi sumber utama kekayaan, maka cara lama menghitung nilai menjadi kacau. Selama ini nilai sebuah barang diukur dari jumlah kerja yang dipakai untuk membuatnya. Tapi pengetahuan bisa dipakai berulang kali tanpa habis. Marx melihat, jauh sebelum komputer ada, bahwa hal ini bisa meruntuhkan dasar kapitalisme itu sendiri. Mason berpendapat zaman yang dibayangkan Marx kini sudah tiba.

Inilah jantung argumen Mason, dan untungnya ini paling mudah dipahami. Kuncinya ada pada sifat informasi yang berbeda dari semua barang lain.

Bayangkan Anda membuat sebuah lagu. Membuat lagu pertama butuh kerja, waktu, dan biaya. Tapi setelah lagu itu jadi, menyalinnya menjadi salinan kedua, keseribu, atau kesejuta nyaris tidak butuh biaya sama sekali. Cukup salin dan tempel. Para ekonom menyebut ini biaya marginal nol. Artinya, biaya untuk membuat satu salinan tambahan mendekati nol.

Sifat ini menabrak cara kerja pasar. Pasar dibangun di atas kelangkaan. Harga muncul karena barang terbatas. Tapi informasi tidak langka. Ia berlimpah. Ia bisa disalin tanpa batas, dan saat Anda memakainya, orang lain tetap bisa memakainya juga. Mason menyebut sifat ini bisa dibagi tanpa berkurang. Sepotong kue yang saya makan tidak bisa Anda makan. Tapi sebuah lagu yang saya dengar tetap bisa Anda dengar.

Akibatnya, mekanisme harga goyah. Kalau sesuatu bisa disalin gratis, berapa harganya yang wajar? Pasar kesulitan menjawab. Inilah yang Mason maksud saat ia bilang informasi cenderung melarutkan pasar. Begitu sesuatu bisa disalin dan ditempel, ia bisa diperbanyak secara gratis. Dalam bahasa ekonomi, biayanya nol.

Kalau informasi cenderung menjadi gratis, bagaimana perusahaan tetap menghasilkan uang? Jawabannya, mereka membangun tembok buatan.

Mason menjelaskan bahwa perusahaan teknologi mempertahankan keuntungan dengan membuat informasi sulit disalin secara hukum. Inilah fungsi hak cipta dan hak paten. Anda boleh menyalin lagu ke ponsel sendiri, tapi tidak boleh membagikannya ke ribuan orang. Desain sebuah mesin pesawat dijaga ketat. Tanpa tembok hukum ini, banyak bisnis informasi akan runtuh karena produknya bisa digandakan gratis.

Strategi kedua adalah membangun monopoli raksasa. Beberapa perusahaan teknologi tumbuh sangat besar dan menguasai pasarnya hampir sepenuhnya. Mason menilai monopoli sebesar ini adalah mekanisme pertahanan kapitalisme menghadapi limpahan informasi. Tapi ia yakin pertahanan ini tidak akan bertahan selamanya. Tembok yang dibangun melawan kelimpahan pada akhirnya akan retak.

Mason lalu menunjukkan bahwa benih ekonomi baru sudah tumbuh, dan contoh terbaiknya ada di depan mata kita. Contoh itu adalah Wikipedia, Google dan AI.

Wikipedia, Google dan AI adalah produk informasi terbesar di dunia. Ia dibuat oleh puluhan ribu relawan, secara gratis, tanpa bos dan tanpa motif keuntungan. Hasilnya menggusur bisnis ensiklopedia dan menghapus pemasukan iklan bernilai miliaran dolar. Ini bukan perusahaan, bukan pula lembaga negara. Ini sesuatu yang baru.

Wikipedia, Google dan AI hanyalah satu contoh dari pola yang lebih luas. Mason menunjuk perangkat lunak sumber terbuka yang dibuat bersama-sama secara sukarela, koperasi, bank waktu, dan berbagai ruang yang dikelola bersama. Ia menyebut semua ini produksi kolaboratif. Orang membuat sesuatu yang bernilai bukan karena disuruh pasar atau atasan, melainkan karena ingin berbagi dan bekerja sama.

Siapa penggerak ekonomi baru ini? Mason menyebut mereka generasi yang terhubung jaringan. Berbeda dari kelas buruh pabrik di masa lalu, agen perubahan sekarang adalah jutaan orang yang terhubung lewat internet, terdidik, dan terbiasa berbagi. Mereka inilah, menurut Mason, yang akan membentuk dunia setelah kapitalisme.

Mason tidak berhenti pada teori. Ia berpendapat transisi ini harus dipercepat, karena ada dua ancaman besar yang tidak bisa ditunggu.

Ancaman pertama adalah perubahan iklim. Kalau dibiarkan, pemanasan global akan menimbulkan bencana yang mengubah hidup miliaran orang. Ancaman kedua adalah perubahan penduduk. Di banyak negara, jumlah orang tua tumbuh cepat sementara jumlah pekerja muda menyusut. Beban menanggung penduduk yang menua akan menekan ekonomi dengan keras.

Bagi Mason, kapitalisme dalam bentuknya sekarang tidak sanggup menghadapi dua tekanan ini sekaligus. Justru di sinilah ia melihat peluang. Ekonomi baru yang berbasis informasi, kolaborasi, dan automasi bisa menjadi jalan keluar, asalkan kita berani membangunnya dengan sengaja, bukan menunggu ia muncul sendiri.

Di bagian akhir, Mason menawarkan sesuatu yang jarang dilakukan penulis seperti dirinya. Ia memberi cetak biru. Ia menyebutnya Project Zero.

Nama itu berasal dari tiga sasaran yang semuanya menuju angka nol. Pertama, energi tanpa karbon. Kedua, barang dan jasa dengan biaya produksi nyaris nol. Ketiga, jam kerja wajib yang dipangkas mendekati nol berkat bantuan mesin. Singkatnya, sebuah dunia dengan energi bersih, barang murah, dan manusia yang lebih bebas dari kerja yang melelahkan.

Mason mengusulkan beberapa langkah untuk menuju ke sana. Ia mengajak menguji setiap kebijakan dalam skala kecil dan memodelkannya dulu sebelum diterapkan luas, agar kita tidak mengulang kegagalan masa lalu. Ia mengusulkan mendorong kerja kolaboratif seperti koperasi modern. Ia mengusulkan menjinakkan monopoli raksasa. Ia juga mengusulkan agar sistem keuangan ditata ulang demi kepentingan publik.

Usulan yang paling ia tekankan adalah pendapatan dasar untuk semua orang. Idenya sederhana. Setiap orang dewasa menerima sejumlah uang dari negara tanpa syarat. Tujuannya bukan sekadar bantuan sosial. Bagi Mason, pendapatan dasar memutus kaitan kaku antara kerja dan upah. Saat mesin mengambil alih banyak pekerjaan, orang tetap punya penghasilan, dan mereka bebas bekerja lebih sedikit atau mengerjakan hal yang bermakna. Pendapatan dasar menanggung biaya peralihan menuju dunia yang lebih otomatis.

PostCapitalism adalah buku yang ambisius. Mason tidak takut mengajukan klaim besar di saat banyak orang hanya berani mengusulkan tambalan kecil. Setelah menutupnya, saya melihat dunia digital dengan cara baru. Wikipedia , Google dan AI, perangkat lunak gratis, dan budaya berbagi tidak lagi terasa sebagai hal sepele. Mungkin saja itu adalah cikal bakal sesuatu yang jauh lebih besar.

Kekuatan utama buku ini ada pada satu pengamatan yang sulit dibantah. Barang informasi memang berperilaku berbeda dari barang biasa. Sifatnya yang bisa disalin gratis benar-benar menekan logika pasar yang berbasis kelangkaan. Mason menjelaskan hal ini dengan sangat meyakinkan.

Tapi saya perlu jujur. Buku ini provokatif dan banyak diperdebatkan. Sejumlah ekonom menilai Mason terlalu cepat menyimpulkan bahwa kapitalisme akan berakhir, dan menunjuk bahwa sistem ini sudah berkali-kali bertahan dari ramalan kematiannya. Sebagian menilai usulannya, seperti membiarkan pasar lenyap secara bertahap, terlalu jauh dan berisiko. Kritik semacam ini wajar dan perlu didengar. Membaca buku ini sebagai kepastian akan keliru.

Meski begitu, pertanyaan yang diajukan Mason tetap penting. Apa yang terjadi pada ekonomi kita saat makin banyak hal bisa diperbanyak nyaris gratis? Bagaimana kita bekerja dan hidup saat mesin mengambil alih lebih banyak tugas? Anda boleh tidak setuju dengan jawabannya. Tapi sulit menyangkal bahwa pertanyaannya layak dipikirkan oleh kita semua. Buku ini mengajak kita berhenti menganggap sistem yang sekarang sebagai satu-satunya yang mungkin, lalu berani membayangkan yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar