Saya
menutup buku ini dengan kepala yang penuh. Paul Mason mengajukan satu klaim
besar yang sulit diabaikan. Menurutnya, kapitalisme sedang menuju akhir, dan
penggantinya sudah mulai tumbuh di antara kita tanpa banyak orang sadari.
Mason
adalah jurnalis ekonomi dari Inggris. Ia lama meliput krisis keuangan, gerakan
protes, dan dunia kerja. Buku ini bukan ramalan kosong. Ia menggabungkan
sejarah ekonomi, gagasan para pemikir, dan pengamatan langsung di lapangan
untuk menyusun argumennya.
Saya
akui buku ini tidak ringan. Mason memakai banyak istilah ekonomi dan
menyinggung tokoh-tokoh yang mungkin asing bagi pembaca umum. Karena itu, dalam
tulisan ini saya akan menerjemahkan gagasannya ke dalam bahasa sehari-hari,
selangkah demi selangkah, agar bisa diikuti siapa saja. Anda tidak perlu latar
belakang ekonomi untuk memahami inti pesannya.
Mari
kita mulai dari diagnosisnya. Apa yang sebenarnya sedang rusak?
Mason
membuka dengan satu vonis. Sistem ekonomi yang mengatur dunia selama beberapa
dekade terakhir, yang ia sebut neoliberalisme, sudah rusak.
Apa
itu neoliberalisme? Sederhananya, ini adalah keyakinan bahwa jalan terbaik
menuju kemakmuran adalah membiarkan pasar bebas mengatur segalanya. Negara
dibuat sekecil mungkin. Setiap orang dibiarkan mengejar kepentingannya sendiri.
Persaingan dianggap baik, dan ketimpangan dianggap wajar.
Mason
mengakui sistem ini sempat berhasil. Selama dua puluh lima tahun, ia mendorong
pertumbuhan besar dan ledakan teknologi informasi. Tapi ia juga mengembalikan
ketimpangan ke tingkat seperti seabad lalu. Lalu datang krisis keuangan 2008.
Bagi Mason, krisis itu bukan kecelakaan biasa. Itu tanda bahwa sistemnya gagal.
Yang
menarik, Mason juga mengkritik pihak yang menentang kapitalisme. Selama bertahun-tahun,
gerakan protes menolak menyusun program yang jelas. Mereka tahu apa yang mereka
tolak, tapi tidak tahu apa yang mereka tawarkan. Akibatnya perlawanan mereka
selalu kalah. Mason ingin mengisi kekosongan itu dengan sebuah alternatif yang
utuh.
Untuk
menjelaskan mengapa krisis ini berbeda, Mason memakai gagasan ekonom Rusia
bernama Nikolai Kondratieff. Gagasannya disebut gelombang panjang.
Idenya
begini. Ekonomi kapitalis tidak hanya naik turun dalam siklus pendek. Ada juga
irama besar yang berlangsung sekitar lima puluh tahun. Setiap gelombang dimulai
dengan teknologi baru yang mendorong pertumbuhan. Setelah beberapa dekade,
gelombang itu kehabisan tenaga dan ekonomi memasuki masa sulit. Lalu, biasanya,
sistem menata ulang dirinya dan gelombang baru dimulai.
Mason
berpendapat kita sekarang berada di puncak gelombang keempat. Seharusnya,
setelah masa sulit, sebuah gelombang baru sudah dimulai. Tapi kali ini hal itu
tidak terjadi. Gelombangnya macet. Penataan ulang yang biasanya menyelamatkan
kapitalisme gagal berjalan, dan menurut Mason teknologi informasilah yang
menjadi penyebabnya.
Di
sinilah Mason mengajak kita menengok Karl Marx, tapi bukan Marx yang biasa kita
dengar. Ia menyoroti sebuah catatan tua Marx yang dikenal sebagai Fragment on
Machines, atau Catatan tentang Mesin.
Dalam
catatan itu, Marx membayangkan masa depan yang jauh. Ia menulis bahwa suatu
hari mesin akan melakukan hampir semua pekerjaan. Saat itu terjadi, kekuatan
produksi yang utama bukan lagi tenaga otot manusia, melainkan pengetahuan. Marx
menyebutnya general intellect, atau kecerdasan kolektif. Maksudnya adalah
gabungan ilmu, keterampilan, dan informasi yang dimiliki masyarakat.
Bagi
Mason, ramalan ini sangat penting. Kalau pengetahuan menjadi sumber utama
kekayaan, maka cara lama menghitung nilai menjadi kacau. Selama ini nilai
sebuah barang diukur dari jumlah kerja yang dipakai untuk membuatnya. Tapi
pengetahuan bisa dipakai berulang kali tanpa habis. Marx melihat, jauh sebelum komputer
ada, bahwa hal ini bisa meruntuhkan dasar kapitalisme itu sendiri. Mason
berpendapat zaman yang dibayangkan Marx kini sudah tiba.
Inilah
jantung argumen Mason, dan untungnya ini paling mudah dipahami. Kuncinya ada
pada sifat informasi yang berbeda dari semua barang lain.
Bayangkan
Anda membuat sebuah lagu. Membuat lagu pertama butuh kerja, waktu, dan biaya.
Tapi setelah lagu itu jadi, menyalinnya menjadi salinan kedua, keseribu, atau
kesejuta nyaris tidak butuh biaya sama sekali. Cukup salin dan tempel. Para
ekonom menyebut ini biaya marginal nol. Artinya, biaya untuk membuat satu
salinan tambahan mendekati nol.
Sifat
ini menabrak cara kerja pasar. Pasar dibangun di atas kelangkaan. Harga muncul
karena barang terbatas. Tapi informasi tidak langka. Ia berlimpah. Ia bisa
disalin tanpa batas, dan saat Anda memakainya, orang lain tetap bisa memakainya
juga. Mason menyebut sifat ini bisa dibagi tanpa berkurang. Sepotong kue yang
saya makan tidak bisa Anda makan. Tapi sebuah lagu yang saya dengar tetap bisa
Anda dengar.
Akibatnya,
mekanisme harga goyah. Kalau sesuatu bisa disalin gratis, berapa harganya yang
wajar? Pasar kesulitan menjawab. Inilah yang Mason maksud saat ia bilang
informasi cenderung melarutkan pasar. Begitu sesuatu bisa disalin dan ditempel,
ia bisa diperbanyak secara gratis. Dalam bahasa ekonomi, biayanya nol.
Kalau
informasi cenderung menjadi gratis, bagaimana perusahaan tetap menghasilkan
uang? Jawabannya, mereka membangun tembok buatan.
Mason
menjelaskan bahwa perusahaan teknologi mempertahankan keuntungan dengan membuat
informasi sulit disalin secara hukum. Inilah fungsi hak cipta dan hak paten.
Anda boleh menyalin lagu ke ponsel sendiri, tapi tidak boleh membagikannya ke
ribuan orang. Desain sebuah mesin pesawat dijaga ketat. Tanpa tembok hukum ini,
banyak bisnis informasi akan runtuh karena produknya bisa digandakan gratis.
Strategi
kedua adalah membangun monopoli raksasa. Beberapa perusahaan teknologi tumbuh
sangat besar dan menguasai pasarnya hampir sepenuhnya. Mason menilai monopoli
sebesar ini adalah mekanisme pertahanan kapitalisme menghadapi limpahan informasi.
Tapi ia yakin pertahanan ini tidak akan bertahan selamanya. Tembok yang
dibangun melawan kelimpahan pada akhirnya akan retak.
Mason
lalu menunjukkan bahwa benih ekonomi baru sudah tumbuh, dan contoh terbaiknya
ada di depan mata kita. Contoh itu adalah Wikipedia, Google dan AI.
Wikipedia,
Google dan AI adalah produk informasi terbesar di dunia. Ia dibuat oleh puluhan
ribu relawan, secara gratis, tanpa bos dan tanpa motif keuntungan. Hasilnya
menggusur bisnis ensiklopedia dan menghapus pemasukan iklan bernilai miliaran
dolar. Ini bukan perusahaan, bukan pula lembaga negara. Ini sesuatu yang baru.
Wikipedia,
Google dan AI hanyalah satu contoh dari pola yang lebih luas. Mason menunjuk
perangkat lunak sumber terbuka yang dibuat bersama-sama secara sukarela,
koperasi, bank waktu, dan berbagai ruang yang dikelola bersama. Ia menyebut
semua ini produksi kolaboratif. Orang membuat sesuatu yang bernilai bukan
karena disuruh pasar atau atasan, melainkan karena ingin berbagi dan bekerja
sama.
Siapa
penggerak ekonomi baru ini? Mason menyebut mereka generasi yang terhubung
jaringan. Berbeda dari kelas buruh pabrik di masa lalu, agen perubahan sekarang
adalah jutaan orang yang terhubung lewat internet, terdidik, dan terbiasa
berbagi. Mereka inilah, menurut Mason, yang akan membentuk dunia setelah
kapitalisme.
Mason
tidak berhenti pada teori. Ia berpendapat transisi ini harus dipercepat, karena
ada dua ancaman besar yang tidak bisa ditunggu.
Ancaman
pertama adalah perubahan iklim. Kalau dibiarkan, pemanasan global akan
menimbulkan bencana yang mengubah hidup miliaran orang. Ancaman kedua adalah
perubahan penduduk. Di banyak negara, jumlah orang tua tumbuh cepat sementara
jumlah pekerja muda menyusut. Beban menanggung penduduk yang menua akan menekan
ekonomi dengan keras.
Bagi
Mason, kapitalisme dalam bentuknya sekarang tidak sanggup menghadapi dua
tekanan ini sekaligus. Justru di sinilah ia melihat peluang. Ekonomi baru yang
berbasis informasi, kolaborasi, dan automasi bisa menjadi jalan keluar, asalkan
kita berani membangunnya dengan sengaja, bukan menunggu ia muncul sendiri.
Di
bagian akhir, Mason menawarkan sesuatu yang jarang dilakukan penulis seperti
dirinya. Ia memberi cetak biru. Ia menyebutnya Project Zero.
Nama
itu berasal dari tiga sasaran yang semuanya menuju angka nol. Pertama, energi
tanpa karbon. Kedua, barang dan jasa dengan biaya produksi nyaris nol. Ketiga,
jam kerja wajib yang dipangkas mendekati nol berkat bantuan mesin. Singkatnya,
sebuah dunia dengan energi bersih, barang murah, dan manusia yang lebih bebas
dari kerja yang melelahkan.
Mason
mengusulkan beberapa langkah untuk menuju ke sana. Ia mengajak menguji setiap
kebijakan dalam skala kecil dan memodelkannya dulu sebelum diterapkan luas,
agar kita tidak mengulang kegagalan masa lalu. Ia mengusulkan mendorong kerja
kolaboratif seperti koperasi modern. Ia mengusulkan menjinakkan monopoli
raksasa. Ia juga mengusulkan agar sistem keuangan ditata ulang demi kepentingan
publik.
Usulan
yang paling ia tekankan adalah pendapatan dasar untuk semua orang. Idenya
sederhana. Setiap orang dewasa menerima sejumlah uang dari negara tanpa syarat.
Tujuannya bukan sekadar bantuan sosial. Bagi Mason, pendapatan dasar memutus
kaitan kaku antara kerja dan upah. Saat mesin mengambil alih banyak pekerjaan,
orang tetap punya penghasilan, dan mereka bebas bekerja lebih sedikit atau mengerjakan
hal yang bermakna. Pendapatan dasar menanggung biaya peralihan menuju dunia
yang lebih otomatis.
PostCapitalism
adalah buku yang ambisius. Mason tidak takut mengajukan klaim besar di saat
banyak orang hanya berani mengusulkan tambalan kecil. Setelah menutupnya, saya
melihat dunia digital dengan cara baru. Wikipedia , Google dan AI, perangkat
lunak gratis, dan budaya berbagi tidak lagi terasa sebagai hal sepele. Mungkin
saja itu adalah cikal bakal sesuatu yang jauh lebih besar.
Kekuatan
utama buku ini ada pada satu pengamatan yang sulit dibantah. Barang informasi
memang berperilaku berbeda dari barang biasa. Sifatnya yang bisa disalin gratis
benar-benar menekan logika pasar yang berbasis kelangkaan. Mason menjelaskan
hal ini dengan sangat meyakinkan.
Tapi
saya perlu jujur. Buku ini provokatif dan banyak diperdebatkan. Sejumlah ekonom
menilai Mason terlalu cepat menyimpulkan bahwa kapitalisme akan berakhir, dan
menunjuk bahwa sistem ini sudah berkali-kali bertahan dari ramalan kematiannya.
Sebagian menilai usulannya, seperti membiarkan pasar lenyap secara bertahap,
terlalu jauh dan berisiko. Kritik semacam ini wajar dan perlu didengar. Membaca
buku ini sebagai kepastian akan keliru.
Meski
begitu, pertanyaan yang diajukan Mason tetap penting. Apa yang terjadi pada
ekonomi kita saat makin banyak hal bisa diperbanyak nyaris gratis? Bagaimana
kita bekerja dan hidup saat mesin mengambil alih lebih banyak tugas? Anda boleh
tidak setuju dengan jawabannya. Tapi sulit menyangkal bahwa pertanyaannya layak
dipikirkan oleh kita semua. Buku ini mengajak kita berhenti menganggap sistem
yang sekarang sebagai satu-satunya yang mungkin, lalu berani membayangkan yang
lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar