Saya baru saja menutup halaman terakhir Thinking to Some Purpose karya
Susan Stebbing. Buku ini terbit tahun 1939 di London. Usianya sudah lebih dari
delapan puluh tahun. Tapi isinya terasa seperti ditulis kemarin sore. Stebbing
membahas satu hal sederhana yang sering kita abaikan, yaitu cara kita berpikir.
Susan Stebbing adalah filsuf Inggris. Ia ahli logika. Tahun 1933 ia
menjadi perempuan pertama yang memegang jabatan profesor filsafat di Inggris.
Ia menulis banyak buku teks logika untuk mahasiswa. Tapi buku yang satu ini
berbeda. Ia tidak menulisnya untuk para sarjana. Ia menulisnya untuk orang
biasa. Untuk pembaca koran. Untuk pendengar radio. Untuk siapa saja yang setiap
hari dibanjiri berita, slogan, dan pidato politik.
Stebbing menulis buku ini menjelang Perang Dunia Kedua. Saat itu
propaganda ada di mana-mana. Banyak orang menelan ucapan pemimpin tanpa
berpikir panjang. Stebbing khawatir. Ia ingin memberi pembaca alat untuk
melawan. Alat itu bukan senjata. Alat itu adalah cara berpikir yang jernih.
Stebbing memberi nama untuk cara berpikir yang buruk. Ia menyebutnya
potted thinking. Dalam bahasa kita, istilah ini bisa kita terjemahkan menjadi
berpikir instan atau berpikir kalengan.
Nama itu ia ambil dari potted meat. Potted meat adalah daging olahan yang
dimasukkan ke dalam kaleng. Daging itu sudah dihaluskan. Sudah diawetkan.
Tinggal buka kaleng, lalu makan. Praktis. Tapi ada harganya.
Stebbing menjelaskan tiga ciri daging kalengan ini, dan ketiganya juga
melekat pada berpikir instan. Pertama, ia mudah ditelan. Kedua, ia padat dan
ringkas. Ketiga, ia sudah kehilangan gizi yang dibutuhkan otak kita. Ringkas
dan mudah ditelan terdengar bagus. Tapi gizinya hilang. Itulah masalahnya.
Berpikir instan adalah berpikir yang terlalu cepat dan tidak jelas. Kita
menerima ide yang sudah jadi. Kita tidak memeriksanya. Kita langsung
memakainya. Contohnya banyak di sekitar kita. Slogan politik. Jargon iklan.
Ucapan klise yang kita ulang tanpa tahu artinya. Semua itu masuk ke kepala kita
dalam bentuk kemasan rapi. Kita tinggal menelannya.
Masalahnya, ide yang sudah dikemas itu sering menyembunyikan banyak hal.
Ia memadatkan persoalan rumit menjadi satu kalimat pendek. Kalimat itu
terdengar pintar. Tapi ia tidak membuat kita paham. Ia hanya membuat kita
merasa paham. Itu dua hal yang sangat berbeda.
Stebbing menunjukkan bahaya berpikir instan dengan jelas. Saat kita
menerima ide jadi, kita berhenti berpikir. Kita menyerahkan keputusan kepada
orang lain. Orang lain itu bisa siapa saja. Bisa pembuat iklan. Bisa juru
kampanye. Bisa tokoh yang ingin menggiring opini kita.
Bahasa yang kabur memperburuk keadaan. Kata yang tidak jelas bisa berarti
banyak hal sekaligus. Orang bisa memakai kata itu untuk menipu kita. Mereka
berkata satu hal, tapi kita memahaminya dengan cara lain. Kita pikir kita
setuju. Padahal kita tidak tahu persis apa yang kita setujui.
Stebbing hidup di masa propaganda sedang kuat. Ia melihat bagaimana kata
yang dikemas rapi bisa menggerakkan jutaan orang. Ia tahu betapa berbahayanya
hal itu. Maka ia mengajak pembaca berhenti sejenak. Periksa dulu. Pikir dulu.
Jangan langsung menelan.
Lalu apa solusi Stebbing? Jawabannya sederhana. Kita harus membongkar
kemasan itu. Stebbing menyebut proses ini un-potting. Kita buka kalengnya. Kita
keluarkan isinya. Kita periksa apa yang sebenarnya ada di dalam.
Cara membongkarnya adalah dengan analisis. Stebbing memakai keahliannya
sebagai ahli logika di sini. Analisis berarti memecah sesuatu yang rumit
menjadi bagian yang lebih sederhana. Stebbing menyebutnya analisis terarah,
yaitu gerak dari yang rumit menuju yang sederhana. Dengan begitu kita bisa
memahami sesuatu dengan lebih baik.
Ada beberapa langkah praktis yang bisa kita tarik dari ajakannya. Periksa
makna setiap kata yang kita pakai. Tanyakan apa arti kata itu sebenarnya. Periksa
hubungan antarkata itu. Lihat bagaimana mereka saling menyambung dalam sebuah
kalimat. Uraikan bagian yang masih kabur. Lalu ganti yang kabur itu dengan kata
yang jelas dan tepat.
Hasilnya adalah pemahaman yang lebih utuh. Kita tidak lagi sekadar merasa
paham. Kita benar-benar paham. Inilah inti pesan Stebbing. Berpikir jernih
bukan bakat langka. Ia keterampilan. Siapa pun bisa melatihnya.
Stebbing tidak hanya memberi nasihat. Ia juga memberi alat. Ia menulis
buku teks logika untuk pembaca awam. Dalam buku berjudul Logic in Practice, ia
mengajarkan bentuk penalaran deduktif. Ia menjelaskan hubungan antarpernyataan.
Dua pernyataan bisa saling cocok. Bisa saling bertentangan. Bisa juga berdiri
sendiri tanpa kaitan. Pengetahuan kecil ini sangat berguna. Ia membantu kita
melihat kapan sebuah argumen masuk akal dan kapan tidak.
Dalam Thinking to Some Purpose sendiri, Stebbing membahas sesat pikir
secara rinci. Sesat pikir adalah kesalahan dalam menalar yang sering terlihat
benar. Kita sering tertipu olehnya. Stebbing mengajak kita mengenali pola-pola
itu. Kalau kita bisa mengenalinya, kita tidak mudah terjebak.
Stebbing menulis di era radio dan koran. Kita hidup di era yang berbeda.
Kita punya media sosial. Kita punya berita yang muncul setiap detik. Kita punya
video pendek yang habis dalam sekejap. Tapi masalah intinya tetap sama. Bahkan
kini lebih besar.
Hari ini kita menerima lebih banyak ide kemasan daripada sebelumnya.
Tagar viral adalah ide kemasan. Judul berita yang memancing klik adalah ide
kemasan. Potongan video tanpa konteks adalah ide kemasan. Semuanya mudah
ditelan. Semuanya padat. Dan banyak di antaranya sudah kehilangan gizi seperti
yang Stebbing peringatkan.
Maka ajakan Stebbing terasa makin relevan. Berhenti sejenak sebelum
menelan. Periksa kata-katanya. Periksa siapa yang berbicara dan apa maksudnya.
Bongkar kemasannya. Cari isi yang sebenarnya. Itu pekerjaan yang melelahkan.
Tapi itu pekerjaan yang menyelamatkan akal sehat kita.
Thinking to Some Purpose bukan buku yang sulit. Justru sebaliknya.
Stebbing menulis dengan bahasa yang ringan. Ia memberi contoh dari kehidupan
sehari-hari. Ia tidak memamerkan kepintarannya. Ia ingin pembacanya pintar,
bukan ingin terlihat pintar sendiri.
Pesannya bertahan melewati zaman karena ia menyentuh sesuatu yang
manusiawi. Kita semua tergoda jalan pintas. Kita semua suka jawaban cepat.
Stebbing tidak melarang itu. Ia hanya meminta kita waspada. Ia meminta kita
membuka kaleng sebelum makan.
Setelah membaca buku ini, saya melihat dunia dengan cara yang sedikit
berbeda. Saya lebih sering bertanya apa arti sebuah kata. Saya lebih sering
ragu pada slogan yang terlalu rapi. Mungkin itulah hadiah terbaik dari Susan
Stebbing. Ia tidak memberi kita jawaban. Ia memberi kita cara untuk mencari
jawaban sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar