Selama ini kita membayangkan
demokrasi mati dengan cara yang dramatis. Ada tank di jalan. Ada jenderal yang
merebut istana. Ada presiden yang ditembak atau diasingkan ke negeri jauh. Kita
selalu menyangka ada satu hari yang jelas, satu momen yang bisa kita tunjuk dan
kita sebut: di sinilah kebebasan kami berakhir.
Pada 11 September 1973,
gambaran itu benar-benar terjadi di Chili. Tengah hari, pesawat tempur melintas
di atas Santiago dan menjatuhkan bom ke La Moneda, istana kepresidenan.
Presiden Salvador Allende terkepung di dalam. Pasukan penjaga sudah
meninggalkannya. Pidato terakhirnya lewat radio dijawab dengan keheningan.
Dalam hitungan jam, Allende tewas. Demokrasi Chili mati bersamanya.
Sepanjang Perang Dingin,
hampir tiga dari empat demokrasi runtuh dengan pola seperti ini. Argentina,
Brasil, Yunani, Nigeria, Thailand, Turki, dan banyak negara lain kehilangan
demokrasi lewat kudeta militer. Kematiannya cepat. Kasar. Dan semua orang tahu
persis kapan itu terjadi.
Tapi ada cara lain untuk
membunuh demokrasi. Caranya jauh lebih pelan. Jauh lebih senyap. Dan justru
karena itu, jauh lebih berbahaya. Demokrasi zaman sekarang lebih sering mati
bukan di tangan jenderal, melainkan di tangan pemimpin yang dipilih rakyat
sendiri.
Lihat Venezuela. Pada 1998,
seorang tokoh luar bernama Hugo Chavez memenangi pemilu. Ia berjanji membangun
demokrasi yang lebih sejati dan memakai kekayaan minyak untuk rakyat kecil. Ia
menang lewat suara rakyat, bukan lewat senjata. Ia menggelar pemilu bebas untuk
menyusun konstitusi baru. Ia bahkan sempat digulingkan militer pada 2002, lalu
kembali berkuasa dan tampak makin sah di mata pendukungnya.
Baru setelah itu langkahnya
berubah. Ia menjegal referendum yang bisa mencopotnya. Ia memasukkan daftar
hitam bagi mereka yang menandatangani petisi penurunannya. Ia menjejali
Mahkamah Agung dengan orang-orangnya. Ia menutup stasiun televisi besar. Ia
memenjarakan dan mengasingkan lawan politik. Ia menghapus batas masa jabatan
agar bisa berkuasa tanpa ujung. Semua dilakukan bertahap. Tidak ada satu hari
pun yang terasa seperti kudeta.
Pada 2011, sebuah survei
meminta warga Venezuela menilai negaranya dari satu sampai sepuluh untuk soal
demokrasi. Lebih dari separuh memberi nilai delapan atau lebih tinggi. Mereka
belum sadar apa yang sedang terjadi. Inilah yang membuat cara ini begitu
menipu. Tidak ada tank. Tidak ada darurat militer. Konstitusi masih berlaku.
Koran masih terbit. Orang masih mencoblos. Tapi pelan-pelan, isi demokrasi
dikuras habis sampai tinggal kulitnya saja.
Kalau demokrasi bisa mati
diam-diam, kita butuh cara untuk mengenali bahaya lebih awal. Bagaimana kita
tahu seseorang berpotensi menjadi otoriter sebelum ia berkuasa? Kita tidak bisa
menunggu sampai istana dibom, karena dengan model baru ini istana tidak akan
pernah dibom.
Ada empat tanda yang patut
diwaspadai. Cukup satu saja muncul, kita sudah punya alasan untuk khawatir.
Pertama, menolak aturan main
demokrasi. Ia bicara atau bertindak seolah konstitusi boleh dilanggar. Ia
mengisyaratkan pemilu bisa dibatalkan, organisasi bisa dibubarkan, atau hak
dasar bisa dicabut. Ia menolak menerima hasil pemilu yang sah.
Kedua, menyangkal keabsahan
lawan. Ia tidak menganggap lawan sebagai rival biasa, melainkan sebagai
pengkhianat, penjahat, atau ancaman bagi keselamatan bangsa. Ia menuding mereka
tanpa bukti sebagai antek asing atau musuh negara.
Ketiga, membiarkan atau mendorong
kekerasan. Ia punya kaitan dengan kelompok bersenjata atau milisi. Ia memuji
kekerasan, atau menolak mengutuk pendukungnya yang berbuat onar.
Keempat, bersedia memangkas
kebebasan lawan dan pers. Ia mendukung aturan yang menjerat kritik. Ia
mengancam membawa lawan, aktivis, atau wartawan ke pengadilan. Ia memuji negara
lain yang menindas kritik.
Tanda-tanda ini sering muncul
pada figur populis. Populis adalah tokoh yang mengaku mewakili suara rakyat dan
berperang melawan apa yang ia sebut elite busuk. Ia bilang sistem yang ada
sudah dibajak dan dicurangi. Ia berjanji mengubur elite itu dan mengembalikan
kekuasaan kepada rakyat. Pesan ini terdengar menggugah. Tapi sejarah
menunjukkan polanya. Di Amerika Latin, dari lima belas presiden terpilih di
Bolivia, Ekuador, Peru, dan Venezuela pada 1990 sampai 2012, ada lima yang
populis luar. Kelimanya berakhir dengan melemahkan demokrasi.
Di setiap masyarakat, termasuk
yang sehat, tokoh demagog akan muncul dari waktu ke waktu. Itu tidak bisa
dicegah. Pertanyaan sebenarnya bukan apakah mereka muncul, melainkan apakah ada
yang menahan mereka agar tidak sampai berkuasa.
Penahan itu adalah partai
politik. Merekalah penjaga gerbang demokrasi. Tugas mereka sederhana tapi berat:
menolak menjadikan tokoh ekstrem sebagai calon, menolak beraliansi dengan
mereka, dan ketika perlu, bersatu dengan lawan lama demi menghalau ancaman yang
lebih besar. Pekerjaan ini butuh keberanian, karena tokoh ekstrem sering
populer dan bisa mendatangkan banyak suara.
Amerika Serikat punya
pengalaman panjang soal ini. Negara itu pernah melahirkan banyak demagog: Henry
Ford, Huey Long, Joseph McCarthy, George Wallace. Sebagian sangat populer.
Henry Ford, salah satu orang terkaya di dunia kala itu, sempat punya klub pendukung
untuk maju jadi presiden. George Wallace, gubernur segregasionis, pada 1968
disukai sekitar 40 persen warga Amerika. Angka itu setara dengan dukungan untuk
tokoh populis mana pun di masa kini.
Tapi tak satu pun dari mereka
sampai ke Gedung Putih. Bukan karena rakyat menolak, melainkan karena para
pemimpin partai menutup pintu. Di masa itu, calon presiden dipilih oleh
sekelompok tokoh partai di ruang tertutup, yang sering disebut ruang penuh asap
rokok. Cara itu memang tidak demokratis. Rakyat biasa tidak ikut menentukan.
Tapi cara itu punya satu kelebihan: orang-orang partai mengenal para kandidat
secara langsung, menilai watak dan kemampuan mereka, lalu menyaring siapa yang
terlalu berbahaya.
Lalu sistem itu berubah.
Setelah Konvensi Demokrat 1968 yang kacau, muncul desakan agar rakyat punya
suara nyata. Reformasi pada awal 1970-an melahirkan sistem pemilihan
pendahuluan yang mengikat. Sejak itu, calon presiden ditentukan oleh suara
pemilih di tiap negara bagian, bukan lagi oleh tokoh partai di ruang tertutup.
Sistem ini jelas lebih demokratis. Tapi ada harga yang tersembunyi. Gerbang
penyaring itu melemah. Pintu mulai terbuka untuk orang luar.
Selama puluhan tahun, bahaya
itu tidak terlihat. Banyak orang luar mencoba dan gagal, karena memenangi
pemilihan pendahuluan tetap butuh uang, liputan media, dan jaringan pendukung
di lapangan. Pengaruh para tokoh partai belum benar-benar hilang. Sampai
akhirnya datang seorang kandidat yang punya ketenaran sendiri dan liputan media
gratis yang melimpah, yang tidak butuh restu siapa pun. Saat itulah gerbang
yang sudah lama keropos benar-benar jebol.
Banyak orang yakin demokrasi
aman selama konstitusinya kuat. Aturan tertulis, pembagian kekuasaan, dan
saling kontrol antarlembaga dianggap cukup untuk menahan pemimpin yang serakah.
Tapi anggapan ini keliru. Konstitusi hanyalah kertas. Ia tidak menjalankan
dirinya sendiri.
Yang membuat sebuah demokrasi
bertahan adalah dua kebiasaan tak tertulis. Keduanya tidak ada dalam
undang-undang, tapi tanpa keduanya, aturan tertulis akan berubah menjadi
senjata.
Pagar pertama adalah saling
mengakui sebagai lawan yang sah. Artinya, selama rival bermain sesuai aturan,
kita menerima hak mereka untuk ikut bersaing dan berkuasa. Kita boleh tidak
setuju. Kita boleh sangat tidak suka. Tapi kita tidak menganggap mereka
pengkhianat atau ancaman yang harus dimusnahkan. Kita menangis saat kalah, tapi
kita tidak menganggap kekalahan itu kiamat. Singkatnya, kita sepakat untuk
berbeda pendapat.
Ini terdengar biasa, padahal
ini penemuan yang luar biasa. Sepanjang sejarah, menentang penguasa sering
dianggap pengkhianatan. Bahkan para pendiri Amerika awalnya saling memandang
sebagai musuh. Kubu Federalis menuduh kubu Jefferson sebagai antek Prancis.
Kubu Jefferson menuduh Federalis hendak mengembalikan kerajaan. Butuh puluhan
tahun sampai mereka belajar menjadi rival, bukan musuh. Tanpa pelajaran itu,
republik muda itu mungkin sudah pecah sejak dini.
Pagar kedua adalah menahan
diri. Artinya, seorang politikus tidak memakai seluruh kewenangannya secara
maksimal hanya karena ia bisa. Ada banyak hal yang sah secara hukum, tapi
merusak jika benar-benar dilakukan. Menahan diri berarti tidak melakukan semua
itu demi menjaga sistem tetap hidup.
Bayangkan demokrasi sebagai
permainan yang ingin terus dimainkan. Agar ada babak berikutnya, para pemain
tidak boleh melumpuhkan lawan sampai mereka tak mau bermain lagi. Dalam basket
jalanan, kita bermain keras, tapi kita tahu kapan tidak boleh terlalu kasar.
Kita datang untuk bermain, bukan untuk berkelahi. Dalam politik, ini berarti
menghindari taktik licik meski secara teknis dibenarkan aturan.
Dua pagar inilah yang selama
hampir seabad menjaga demokrasi Amerika dari pertarungan sampai mati, jenis
pertarungan yang menghancurkan demokrasi Eropa pada 1930-an dan Amerika Selatan
pada 1970-an. Bukan konstitusinya yang ajaib. Yang menjaga adalah kebiasaan
menghormati lawan dan menahan diri.
Pagar pengaman tidak roboh
dalam semalam. Ia melapuk pelan-pelan. Di Amerika, proses ini mulai pada
1980-an dan 1990-an, lalu makin cepat pada 2000-an. Salah satu titik balik
terjadi ketika satu kubu mulai memperlakukan kubu lain bukan sebagai rival,
melainkan sebagai ancaman yang harus dikalahkan dengan cara apa pun.
Politik berubah menjadi
semacam perang. Taktik penghadangan di parlemen melonjak. Penyelidikan dipakai
sebagai senjata. Pemerintahan ditutup demi memenangi tarik ulur anggaran.
Pemakzulan, yang dulu langka dan butuh dukungan lintas partai, berubah menjadi
sekadar alat baru dalam perang politik. Sekali kebiasaan menahan diri
ditinggalkan, saling kontrol antarlembaga berubah menjadi kebuntuan dan
kelumpuhan.
Akar masalahnya lebih dalam
dari sekadar perbedaan kebijakan. Yang membelah bukan lagi soal pajak atau
anggaran, melainkan soal ras, budaya, dan identitas. Upaya sebuah masyarakat
untuk menjadi lebih setara dan lebih beragam memicu reaksi balik yang keras.
Ketika perbedaan terasa seperti soal hidup dan mati, lawan berubah menjadi musuh.
Dan kalau ada satu pelajaran jelas dari sejarah, polarisasi yang ekstrem bisa
membunuh demokrasi.
Penting dicatat satu hal.
Tokoh yang sering disorot mungkin mempercepat keruntuhan pagar, tapi ia bukan
penyebab utamanya. Pagar itu sudah lama keropos sebelum ia datang. Karena itu,
mencopot satu orang saja tidak akan otomatis memulihkan demokrasi. Masalahnya
jauh lebih besar dari satu nama.
Para pemimpin terpilih yang
ingin berkuasa tanpa batas biasanya memakai resep yang mirip di banyak negara.
Resep itu terdiri dari tiga langkah, dan semuanya bisa dibungkus seolah-olah
demi kebaikan.
Langkah pertama, menguasai
wasit. Pengadilan, badan pemilu, lembaga intelijen, dan kantor etik seharusnya
netral. Penguasa yang ingin abadi akan mengisi lembaga-lembaga ini dengan
orang-orangnya. Setelah wasit berpihak, ia bisa melanggar aturan tanpa dihukum,
sekaligus memakai aturan itu untuk menjerat lawan.
Langkah kedua, menyingkirkan
pemain lawan. Tokoh oposisi, pengusaha besar, dan media yang kritis dibeli,
ditekan, atau dibungkam. Yang menurut dijinakkan. Yang melawan dililit masalah
pajak atau jeratan hukum lain. Tujuannya bukan selalu memenjarakan semua orang,
melainkan membuat biaya untuk menentang menjadi terlalu mahal.
Langkah ketiga, mengubah
aturan main. Penguasa menulis ulang aturan pemilu, menggambar ulang batas
daerah pemilihan, dan mempersulit kelompok tertentu untuk memilih. Lapangan
permainan dimiringkan supaya ia tidak mungkin kalah. Semua sering disahkan
lewat parlemen dan diterima pengadilan, sehingga tampak legal.
Untuk melihat seperti apa
wujud politik tanpa pagar pengaman, tidak perlu jauh-jauh ke negara lain.
Negara bagian North Carolina di Amerika sudah memberi gambaran. Negara bagian
ini terbelah hampir rata antara dua kubu. Setelah satu partai menguasai
parlemen lokal pada 2010, mereka menggambar ulang daerah pemilihan dengan cara
yang memusatkan pemilih kulit hitam ke segelintir distrik, sehingga bobot suara
mereka melemah. Mereka memperketat syarat identitas pemilih dan memangkas masa
pencoblosan, dengan sasaran yang menurut pengadilan banding ditujukan kepada
pemilih kulit hitam dengan ketepatan nyaris bedah.
Ketika kubu lawan akhirnya
memenangi kursi gubernur pada 2016, parlemen menggelar sidang kilat untuk
memangkas kekuasaan gubernur baru sebelum ia menjabat. Mereka mengubah
komposisi badan pemilu dan menyusutkan jumlah kursi pengadilan demi mencuri
jatah pengangkatan hakim. Sebagian besar manuver ini akhirnya dibatalkan
pengadilan. Tapi semua itu menunjukkan satu hal. Ketika rival berubah menjadi
musuh, lembaga negara berubah menjadi senjata, dan negara hidup terus-menerus
di tepi krisis.
Setelah memetakan bahayanya,
muncul pertanyaan yang lebih sulit. Ke mana arah sebuah demokrasi yang pagarnya
sudah lapuk?
Kemungkinan pertama, pemulihan
cepat. Pemimpin yang membahayakan gagal secara politik, kalah dalam pemilu,
atau terpaksa mundur. Publik jijik dengan apa yang terjadi, lalu mendorong
reformasi yang memperbaiki kualitas demokrasi. Ini masa depan yang banyak
diharapkan. Sayangnya, ini juga yang paling kecil kemungkinannya, karena
keropos itu sudah berlangsung jauh sebelum satu orang naik.
Kemungkinan kedua, jauh lebih
gelap. Satu kubu terus menang dengan menggalang sentimen kelompok mayoritas
yang menyusut. Mereka memakai segala cara legal untuk merancang mayoritas yang
awet: memperketat aturan memilih, membersihkan daftar pemilih, dan menghapus
aturan yang melindungi minoritas di parlemen. Langkah seperti ini akan memicu
perlawanan keras, bahkan bisa berujung kekerasan. Sejarah menunjukkan, kelompok
mayoritas yang merasa terancam jarang menyerahkan dominasinya tanpa perlawanan.
Kemungkinan ketiga, dan
menurut banyak pengamat paling mungkin terjadi, adalah demokrasi yang terus
berjalan tapi tanpa pagar yang kokoh. Polarisasi tetap tajam. Kebiasaan tak
tertulis terus dilanggar. Lembaga negara terus dijadikan senjata. Pemimpin yang
membahayakan mungkin gagal, tapi kegagalannya tidak menyembuhkan jurang
antarkubu. Negara hidup dalam ketegangan permanen, selalu satu langkah dari
krisis berikutnya.
Kalau bahayanya sebesar itu, apa
yang harus dilakukan? Godaan pertama biasanya adalah melawan dengan cara yang
sama kotornya. Kalau lawan melanggar aturan, kenapa kita harus bermain bersih?
Bukankah bermain bersih sama saja dengan masuk ring tinju dengan satu tangan
terikat?
Logikanya masuk akal, tapi
buktinya justru sebaliknya. Melawan dengan cara kotor sering membuat keadaan
tambah buruk. Taktik bumi hangus menakuti kelompok moderat, mempersatukan
barisan penguasa, dan memberi penguasa alasan untuk menindas lebih keras.
Bandingkan dua kisah. Di
Venezuela, oposisi mencoba menjatuhkan Chavez dengan segala cara. Mereka
mendukung kudeta militer pada 2002. Kudeta itu gagal dan menghancurkan citra
mereka sebagai pembela demokrasi. Mereka menggelar mogok umum berbulan-bulan
yang merugikan negara miliaran dolar dan tetap gagal. Mereka memboikot pemilu,
yang malah menyerahkan seluruh parlemen kepada kubu Chavez. Ketiga strategi itu
bukan hanya gagal menjatuhkan Chavez, tapi juga memberinya alasan untuk
membersihkan militer, pengadilan, dan media. Oposisi yang lemah dan kehilangan
kepercayaan publik akhirnya tak mampu menahan negaranya jatuh ke
otoritarianisme.
Di Kolombia, ceritanya
berbeda. Presiden Alvaro Uribe juga mencoba memperbesar kekuasaannya. Ia
menyerang kritik sebagai teroris, memata-matai lawan, dan dua kali mencoba
mengubah konstitusi agar bisa maju lagi. Tapi oposisi Kolombia tidak pernah
mencoba menggulingkannya lewat jalan inkonstitusional. Mereka berjuang lewat
parlemen dan pengadilan. Karena itu, Uribe sulit menuding mereka antidemokrasi.
Pada 2010, Mahkamah Konstitusi membatalkan upaya Uribe untuk masa jabatan
ketiga, dan ia harus mundur setelah dua periode. Pelajarannya jelas. Di mana
jalur lembaga masih ada, oposisi harus memakainya.
Perlawanan terhadap penguasa
yang membahayakan harus kuat, tapi harus menjaga, bukan melanggar, aturan dan
kebiasaan demokrasi.
Pelajaran kedua, jangan
berjuang sendirian dalam lingkaran sempit. Koalisi yang paling efektif bukan
kumpulan teman sepaham, melainkan persekutuan antara pihak-pihak yang biasanya
berbeda, bahkan berseberangan. Bayangkan aktivis progresif bergandengan dengan
pengusaha, tokoh agama, dan politikus dari kubu seberang. Mereka mungkin tidak
sepaham soal banyak hal. Tapi mereka punya satu kepentingan yang sama: menjaga
sistem tetap waras.
Koalisi luas seperti ini punya
dua manfaat. Pertama, ia memperkuat barisan pembela demokrasi karena merangkul
bagian masyarakat yang jauh lebih luas. Kedua, ia memotong garis pembelahan
yang ada. Ketika kita bersekutu dengan orang yang biasanya kita anggap lawan,
kita jadi lebih sulit menganggap mereka musuh abadi. Untuk membangun koalisi
semacam ini, kita harus bersedia menunda sejenak isu-isu yang kita pegang erat.
Ini bukan berarti meninggalkan perjuangan kita, melainkan mencari pijakan moral
bersama untuk sementara waktu.
Masalah paling dalam dari
demokrasi yang sakit bukanlah satu pemimpin, melainkan polarisasi itu sendiri.
Lalu apa yang bisa dilakukan terhadap perpecahan yang begitu dalam?
Chili memberi contoh yang
menggugah. Pada 1973, permusuhan tajam antara kubu Sosialis dan Kristen
Demokrat ikut menghancurkan demokrasi negara itu dan membuka jalan bagi
kediktatoran Pinochet. Permusuhan itu begitu pekat sampai bertahan
bertahun-tahun, bahkan ketika kedua kubu sama-sama membenci sang diktator.
Seorang pemimpin Sosialis dalam pengasingan bahkan pernah berpura-pura sakit
hanya agar tidak perlu berbicara dengan bekas presiden Kristen Demokrat.
Tapi pelan-pelan, para
politikus itu mulai bicara lagi. Mereka makan malam bersama. Mereka bertemu
dalam kelompok kecil yang awalnya cuma kumpulan santai di rumah-rumah. Dari
pertemuan-pertemuan itu, tumbuh kepercayaan di antara orang-orang yang dulu
bermusuhan. Pada 1985, berbagai partai berkumpul dan menandatangani kesepakatan
untuk transisi menuju demokrasi penuh. Koalisi yang lahir dari situ kemudian
menumbangkan Pinochet lewat jajak pendapat pada 1988, lalu memenangi kursi
presiden dan memegangnya selama dua dekade.
Mereka mengembangkan gaya
pemerintahan yang mereka sebut demokrasi kesepakatan. Presiden berkonsultasi
dengan semua partai sebelum mengajukan undang-undang, bahkan dengan partai yang
dulu membela kediktatoran. Hasilnya, Chili menjadi salah satu demokrasi paling
stabil di Amerika Latin selama tiga dekade berikutnya. Pelajarannya pahit tapi
jujur. Kebiasaan baru biasanya hanya lahir setelah para pemimpin menatap jurang
dan sadar, kalau mereka tidak menemukan cara mengatasi perpecahan, demokrasi
mereka akan mati.
Mengatasi gejala saja tidak
cukup. Polarisasi yang membahayakan tumbuh dari dua akar yang dalam: perubahan
susunan ras dan agama dalam masyarakat, serta ketimpangan ekonomi yang makin
lebar.
Soal yang pertama, ada godaan
untuk menyelesaikan perpecahan dengan cara yang salah, yaitu meminggirkan
kelompok minoritas agar kelompok mayoritas tidak lagi merasa terancam. Cara ini
mungkin meredakan ketegangan, tapi ia mengulangi kesalahan paling memalukan
dalam sejarah. Membangun demokrasi yang benar-benar setara untuk semua ras justru
merupakan tantangan yang harus dimenangkan, bukan dihindari. Dunia belum pernah
berhasil membangun demokrasi banyak etnis tanpa satu kelompok pun yang dominan,
di mana kesetaraan politik dan ekonomi benar-benar tercapai. Itulah tantangan
besar yang tidak boleh kita tinggalkan.
Soal yang kedua, ketimpangan
ekonomi ikut memanaskan perpecahan. Ketika upah sebagian besar orang lama
menanjak sementara biaya hidup naik, tumbuh rasa frustrasi yang gampang dipakai
untuk mengadu domba. Karena itu, kebijakan yang mengurangi ketimpangan bisa
membantu meredakan polarisasi, asalkan dirancang untuk semua orang, bukan hanya
untuk yang paling miskin. Program yang dinikmati semua warga, seperti jaminan
kesehatan dan pensiun yang luas, cenderung mempersatukan. Program yang hanya
menyasar kelompok tertentu cenderung memecah, karena gampang dibingkai dengan
tuduhan dan prasangka.
Membandingkan satu negara
dengan krisis demokrasi di tempat dan zaman lain memberi satu kesimpulan yang merendahkan
hati. Tidak ada bangsa yang benar-benar kebal. Konstitusi yang tua dan kuat
sekalipun bisa terkena penyakit yang sama, yang sudah membunuh demokrasi di
banyak tempat.
Tapi ada juga sisi yang
menghibur. Keruntuhan bukan takdir. Ia bukan sesuatu yang pasti terjadi dan
tidak bisa diputar balik. Banyak negara pernah berada di tepi jurang lalu
berhasil menarik diri. Mereka melakukannya bukan dengan satu pemimpin
penyelamat, melainkan dengan ribuan keputusan kecil dari banyak orang biasa
yang memilih menjaga aturan main. Tidak ada satu pemimpin yang bisa mengakhiri
demokrasi sendirian. Tidak ada pula satu pemimpin yang bisa menyelamatkannya
sendirian.
Demokrasi adalah usaha
bersama. Nasibnya bergantung pada kita semua. Di tengah perang dunia, ketika
masa depan kebebasan terasa di ujung tanduk, penulis E. B. White pernah diminta
menjelaskan apa itu demokrasi. Jawabannya sederhana dan menggugah. Demokrasi,
katanya, adalah antrean yang terbentuk dengan tertib. Ia adalah kata jangan
dalam jangan main dorong. Ia adalah rasa privasi di bilik suara dan rasa
kebersamaan di perpustakaan. Ia adalah surat pembaca. Ia adalah gagasan yang
sampai sekarang belum terbukti salah.
Untuk menjaga demokrasi tetap
hidup, kita perlu memulihkan kebiasaan dasar yang dulu melindunginya:
menghormati lawan sebagai sesama warga yang sah, dan menahan diri untuk tidak
memakai kekuasaan secara semena-mena. Tapi kita harus melangkah lebih jauh.
Kebiasaan itu harus diperluas untuk seluruh masyarakat yang beragam. Harus
benar-benar mencakup semua orang. Sedikit sekali masyarakat dalam sejarah yang
berhasil menjadi banyak etnis sekaligus benar-benar demokratis. Itulah
tantangan kita. Itu juga peluang kita. Kalau kita berhasil, kita sudah
membuktikan sesuatu yang belum pernah dibuktikan siapa pun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar