Pergeseran Nilai Menuju Post-Materialisme di Kalangan Generasi Milenial - Erwin Basrin

Breaking

Recent Posts

 photo Untitled-1_1.jpg

Kamis, 28 Mei 2026

Pergeseran Nilai Menuju Post-Materialisme di Kalangan Generasi Milenial




Dua dekade lalu, ukuran sukses itu sederhana: rumah, mobil, tabungan, dan jabatan. Orang tua mengajarkan hal itu. Sekolah memperkuatnya. Pasar tenaga kerja mengonfirmasinya. Tapi sesuatu berubah.


Generasi milenial, mereka yang lahir antara 1981 dan 1996, tumbuh di persimpangan sejarah. Mereka menyaksikan krisis keuangan global 2008 menghancurkan mimpi kelas menengah. Mereka melihat planet memanas. Mereka merasakan mesin perlahan mengambil alih pekerjaan manusia. Dan di tengah semua itu, mereka memulai sesuatu yang tidak terduga: mereka mulai mempertanyakan apakah akumulasi materi memang tujuan hidup yang paling layak diperjuangkan.


Ini bukan narasi generasi pemalas, seperti yang sering dituduhkan. Ini adalah cerita tentang pergeseran nilai yang dalam, sistematis, dan bisa dijelaskan secara ilmiah.


Ronald Inglehart, sosiolog politik dari Universitas Michigan, menghabiskan hampir lima dekade mempelajari satu pertanyaan besar: bagaimana nilai manusia berubah seiring perubahan kondisi ekonomi? Jawabannya ia tuang dalam teori yang kini menjadi referensi dunia.


Inglehart berargumen bahwa nilai manusia mengikuti hierarki kebutuhan. Ketika kebutuhan dasar seperti keamanan ekonomi, pangan, dan keselamatan fisik terpenuhi secara stabil, prioritas manusia bergeser. Mereka tidak lagi berfokus pada kelangsungan hidup. Mereka mulai mencari kualitas hidup, kebebasan berekspresi, otonomi, partisipasi demokratis, dan makna.


"Orang yang tumbuh dalam kondisi aman secara ekonomi cenderung mengembangkan nilai-nilai pasca-materialistis: mereka lebih peduli pada kualitas hidup, kebebasan berekspresi, dan rasa memiliki." - Ronald Inglehart, Modernization and Postmodernization (1997)


Inglehart menyebut proses ini sebagai intergenerational value change. Nilai tidak berubah dalam satu individu secara tiba-tiba. Nilai terbentuk pada masa kanak-kanak dan remaja, periode formatif ketika kondisi sosial-ekonomi meninggalkan bekas paling dalam. Generasi yang tumbuh dalam kemakmuran relatif akan membawa nilai berbeda dibanding generasi yang tumbuh dalam kekurangan.


Di sinilah milenial masuk sebagai subjek yang menarik. Mereka tumbuh pada era 1990-an dan 2000-an awal, periode ekspansi ekonomi global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Akses pendidikan meluas. Teknologi informasi terbuka lebar. Secara relatif, kebutuhan dasar mereka terpenuhi lebih baik dari generasi sebelumnya. Berdasarkan logika Inglehart, kondisi itu seharusnya melahirkan generasi dengan orientasi nilai pasca-materialistis. Dan ternyata, data membuktikannya.


World Values Survey, proyek penelitian global yang Inglehart ikut kembangkan, secara konsisten menunjukkan bahwa milenial di berbagai negara memberikan prioritas lebih tinggi pada kebebasan berekspresi dibanding generasi sebelumnya. Mereka menginginkan pekerjaan yang bermakna, bukan sekadar pekerjaan yang bergaji tinggi.


Survei Deloitte Global Millennial Survey 2022 mengungkap data yang berbicara sendiri: 49% milenial mengutamakan pekerjaan yang selaras dengan nilai-nilai pribadi mereka, bahkan jika itu berarti gaji lebih rendah. Bagi banyak orang tua mereka, pilihan seperti itu terdengar tidak masuk akal.


Tapi ini bukan soal idealisme naif. Ini adalah respons rasional terhadap kondisi yang berbeda. Ketika kelangsungan hidup tidak lagi menjadi ancaman sehari-hari, identitas dan ekspresi diri naik ke permukaan sebagai kebutuhan yang sah.


Fenomena ini terlihat nyata dalam pilihan karier. Banyak milenial memilih menjadi seniman bebas, wirausahawan sosial, atau pekerja di sektor nirlaba. Mereka meninggalkan jalur korporasi yang dijanjikan keamanan finansial jangka panjang. Mereka menukar kepastian dengan kebebasan.


Satu tuduhan paling sering ditujukan ke milenial: mereka tidak mau bekerja keras. Mereka terlalu menginginkan work-life balance. Mereka tidak mau lembur.


Tuduhan itu salah bingkai. Milenial menyaksikan generasi orang tua mereka mengorbankan kesehatan, hubungan keluarga, dan waktu luang demi kemajuan karier yang ternyata tidak memberi rasa puas yang dijanjikan. Mereka melihat burnout, perceraian, dan krisis paruh baya sebagai hasil akhir dari kontrak sosial yang mereka anggap tidak adil.


Studi dari Gallup (2022) menunjukkan bahwa 67% milenial memprioritaskan keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi saat memilih pemberi kerja. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding generasi Baby Boomer pada usia yang sama.


"Milenial tidak menolak kerja keras. Mereka menolak definisi kerja keras yang mengorbankan segala aspek kehidupan lain." - Gallup State of the Global Workplace Report, 2022


Dalam kerangka Inglehart, ini adalah ekspresi klasik nilai pasca-materialistis: waktu, kesehatan, hubungan, dan pengalaman menjadi lebih berharga dibanding upah semata. Pasar kerja yang tidak merespons pergeseran ini akan kehilangan talentanya kepada yang mau beradaptasi.


Milenial adalah generasi pertama yang tumbuh dengan kesadaran krisis iklim sebagai fakta ilmiah, bukan wacana pinggiran. Laporan IPCC, banjir bandang, kebakaran hutan, dan musim kemarau ekstrem bukan lagi berita asing. Mereka hidup di dalamnya.


Ini membentuk nilai mereka secara fundamental. Nielsen Global Sustainability Report (2019) menemukan bahwa 73% milenial global bersedia membayar lebih untuk produk dari merek yang berkomitmen pada dampak sosial dan lingkungan yang positif. Angka ini konsisten di berbagai kawasan, termasuk Asia Tenggara.


Pilihan konsumsi mereka mencerminkan nilai ini. Gerakan zero waste, preferensi terhadap produk lokal dan berkelanjutan, penolakan terhadap fast fashion, dan meningkatnya jumlah milenial yang memilih diet nabati, semua itu bukan sekadar tren. Itu adalah ekspresi nilai pasca-materialistis yang terorganisasi dalam tindakan sehari-hari.


Dalam kerangka Inglehart, kepedulian lingkungan adalah indikator kuat orientasi pasca-materialistis. Orang yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar tidak punya ruang kognitif untuk memikirkan generasi yang belum lahir. Orang yang sudah melampaui ambang keamanan dasar mulai memikirkan warisan dan keberlangsungan.


Di sinilah narasi menjadi lebih rumit dan lebih jujur.


Milenial tidak hidup dalam ruang hampa. Mereka hidup dalam sistem ekonomi yang belum berubah. Kapitalisme yang mereka warisi masih mengukur kemajuan dalam unit produksi dan konsumsi. Pasar perumahan yang tidak terjangkau memaksa mereka menunda pembentukan keluarga. Utang pendidikan mengikuti mereka selama puluhan tahun. Gig economy menawarkan fleksibilitas tapi mencabut jaminan sosial.


Milenial ingin hidup bermakna. Tapi mereka juga harus membayar sewa.


Ketegangan ini menciptakan paradoks yang nyata. Mereka menginginkan pekerjaan bermakna tapi terjebak dalam pekerjaan yang hanya cukup untuk bertahan. Mereka menginginkan konsumsi berkelanjutan tapi produk berkelanjutan sering kali lebih mahal. Mereka menginginkan keseimbangan hidup tapi tekanan ekonomi memaksa mereka bekerja lebih panjang.


Inglehart sendiri mengakui bahwa pergeseran nilai tidak otomatis mengubah struktur ekonomi. Nilai bergeser lebih cepat dari institusi. Itu yang menciptakan gesekan.


Tepat ketika milenial mulai memetakan ulang prioritas hidup, dua kekuatan baru datang menginterupsi.


Pertama, otomasi. McKinsey Global Institute (2023) memproyeksikan bahwa 30% pekerjaan yang ada saat ini berpotensi terotomasi pada 2030. Sektor yang paling terdampak justru sektor tempat banyak milenial bekerja: administrasi, layanan pelanggan, analisis data dasar, dan produksi konten rutin.


Kedua, kecerdasan buatan generatif. AI kini menulis, mendesain, menganalisis, dan bahkan berkomunikasi dengan kualitas yang mendekati manusia. Pekerjaan yang dulu membutuhkan keahlian tinggi mulai bisa digantikan oleh algoritma.


"Ancaman bukan hanya kehilangan pekerjaan. Ancaman adalah kehilangan pekerjaan yang bermakna, persis jenis pekerjaan yang paling dicari milenial." - Future of Jobs Report, World Economic Forum, 2023


Ironisnya, ancaman ini justru memperkuat nilai pasca-materialistis. Ketika mesin bisa mengerjakan tugas rutin dengan lebih efisien, nilai manusia yang sesungguhnya justru terletak pada hal yang tidak bisa diotomasi: kreativitas, empati, penilaian etis, dan hubungan autentik. Ini adalah domain nilai post-materialistis.


Tapi transisi ini tidak datang tanpa biaya. Banyak milenial kehilangan pekerjaan mereka sebelum sempat menemukan pekerjaan baru yang sesuai nilai mereka. Kesenjangan keterampilan melebar. Pasar kerja menjadi lebih tidak pasti.


Pergeseran ini bukan spekulasi. Data global mendukungnya secara konsisten.


World Values Survey Wave 7 (2017-2022) mencatat bahwa milenial di 57 negara menunjukkan skor pasca-materialistis secara rata-rata 18 poin lebih tinggi dibanding generasi Silent Generation pada usia yang sama. Deloitte Global Millennial Survey 2023 melaporkan bahwa 56% milenial menyebutkan isu lingkungan sebagai salah satu dari tiga kekhawatiran utama mereka, jauh di atas rata-rata populasi umum. Edelman Trust Barometer 2023 menemukan bahwa milenial adalah kelompok usia yang paling tidak mempercayai institusi finansial konvensional dan paling cenderung mendukung model bisnis berbasis dampak sosial.


Di Indonesia, survei FISIP UI (2022) mencatat bahwa 61% responden milenial urban menyatakan bahwa kepuasan kerja lebih penting dari besarnya gaji. Angka ini naik 12 poin dibanding survei serupa pada 2015.


Pergeseran nilai menuju post-materialisme di kalangan milenial bukan anomali sejarah. Ini adalah pola yang dapat diprediksi berdasarkan teori Inglehart: ketika kondisi keamanan ekonomi tercukupi pada masa formatif, nilai bergeser dari kelangsungan menuju ekspresi.


Yang membuat generasi ini unik adalah konteks yang mereka hadapi. Mereka adalah generasi pertama yang berhadapan secara bersamaan dengan krisis ekologi global, disruption teknologi yang masif, dan kontradiksi internal antara nilai-nilai baru yang mereka pegang dan sistem ekonomi lama yang belum berubah.


Mereka tidak sempurna. Mereka terjebak dalam kontradiksi. Mereka berbelanja online sambil peduli lingkungan. Mereka mendambakan kebebasan tapi takut ketidakpastian. Mereka menginginkan makna tapi juga butuh bayaran.

Tapi justru dalam ketegangan itulah mereka menarik untuk dipelajari. Milenial sedang menulis ulang kontrak sosial antara manusia dan pekerjaan, antara individu dan lingkungan, antara kemajuan ekonomi dan kualitas hidup. Proses itu tidak selesai. Dan hasilnya belum pasti.


Yang jelas: jika Inglehart benar, dan bukti sejauh ini mendukungnya, maka pergeseran ini tidak akan berbalik. Generasi Z yang mengikuti milenial tumbuh dalam kondisi yang bahkan lebih intens secara informasi dan lebih tertekan secara ekologis. Nilai mereka akan bergeser lebih jauh lagi.


Pertanyaannya sekarang bukan apakah nilai masyarakat sedang bergeser. Pertanyaannya adalah: apakah institusi ekonomi, politik, dan sosial kita akan bergeser cukup cepat untuk menampung generasi yang sudah berubah itu?

 

Referensi

Inglehart, R. (1997). Modernization and Postmodernization: Cultural, Economic, and Political Change in 43 Societies. Princeton University Press.

Inglehart, R., & Welzel, C. (2005). Modernization, Cultural Change, and Democracy. Cambridge University Press.

FISIP UI. (2022). Survei Nilai Kerja Generasi Milenial Urban Indonesia. Universitas Indonesia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar