Dua
film. Dua benua. Dua era yang berbeda. Namun keduanya merekam satu skenario
yang sama: hutan dibuka paksa, manusia diusir dari tanah leluhur mereka, dan
mereka yang melawan dibungkam.
The
Burning Season (1994) mengisahkan Chico Mendes, penyadap karet Brasil yang
dibunuh pada 1988 karena menolak penggundulan hutan Amazon. Pesta Babi:
Kolonialisme di Zaman Kita (2026), karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju
Dale, merekam perjuangan suku Malind, Yei, Awyu, dan Muyu di Papua Selatan yang
kehilangan tanah adat mereka akibat ekspansi perkebunan sawit dan bioetanol.
Keduanya
bukan sekadar film. Keduanya adalah dokumen kejahatan yang terorganisir.
Chico
Mendes tidak melarang pembangunan. Ia menuntut pengakuan hak. Ia memimpin
empates, aksi damai di mana komunitas penyadap karet berdiri di depan alat
berat untuk menghentikan penebangan. Ia membangun reservat ekstraktivis,
kawasan yang melindungi hutan sekaligus memungkinkan komunitas hidup dari hasil
hutan tanpa merusaknya.
Di
Papua Selatan, kapal-kapal membawa ratusan ekskavator ke wilayah Papua Selatan,
dikawal ketat oleh aparat keamanan. Proyeknya adalah konversi 2,5 juta hektar
hutan adat menjadi perkebunan industri. Ribuan tentara dikerahkan untuk
mengamankan proyek bioetanol dan biodiesel sawit dari protes masyarakat adat.
Skripnya
identik. Yang berubah hanya nama aktor dan koordinat geografisnya.
Di
Brasil tahun 1980-an, aktor utama adalah fazendeiros, tuan tanah peternak sapi
yang didukung pemerintah militer. Di Papua Selatan 2026, aktornya adalah
korporasi yang mendapat konsesi dari Proyek Strategis Nasional (PSN). Luasnya
setara 37 kali Jakarta. Keduanya membawa argumen yang sama: pembangunan,
ketahanan pangan, kemajuan nasional.
Argumen
itu bukan baru. Argumen itu klasik.
Yang
dirampas bukan hanya lahan dalam pengertian properti. Yang dirampas adalah
sistem hidup.
Chico
Mendes memahami ini. Ia tidak sekadar membela pohon karet. Ia membela seluruh
sistem reproduksi sosial komunitas hutan Amazon: cara mereka makan, cara mereka
berorganisasi, cara mereka mempertahankan pengetahuan tentang hutan selama
beberapa generasi.
Pesta
Babi merekam logika yang sama. Bagi suku Malind, Awyu, Muyu, dan
subsuku lain di Papua Selatan, hutan bukan sumber daya kosong. Ia adalah rumah,
kuburan leluhur, dan ruang politik. Ketika hutan ditebang, yang hilang bukan
hanya pohon. Yang hilang adalah sistem hidup yang tidak bisa diganti dengan
ganti rugi atau transmigrasi.
Pesta
babi dalam tradisi suku Muyu butuh persiapan 10 tahun. Babi tidak dibeli,
tetapi dipelihara sendiri dan dilepasliarkan di hutan milik marga. Ini bukan
ritual sederhana. Ini adalah sistem manajemen ekologi yang berlangsung selama
berabad-abad. Ketika hutan dibabat, ritual itu mustahil dijalankan. Ketika ritual
itu mustahil, identitas komunal ikut runtuh.
Di
sinilah konsep keretakan metabolisme (metabolic rift) yang dirumuskan
Karl Marx dan dikembangkan John Bellamy Foster menjadi relevan untuk membaca
kedua film ini.
Marx
pertama kali menulis tentang keretakan metabolisme dalam konteks pertanian
industri di Eropa abad ke-19. Ia mengamati bagaimana sistem pertanian kapitalis
menguras nutrisi tanah, mengirimkan produk pertanian ke kota, namun tidak
mengembalikan nutrisi itu ke tanah. Tercipta retakan dalam siklus materi antara
manusia dan alam.
Foster
mengembangkan konsep ini lebih jauh. Kapitalisme, argumentasinya, secara
struktural memutus hubungan metabolis antara manusia dan alam. Bukan karena
kecelakaan. Tetapi karena logika akumulasi memang menuntut ekstraksi tanpa
batas dari alam dan tenaga kerja.
The
Burning Season memperlihatkan keretakan metabolisme dalam skala Amazon.
Hutan tropis yang menyimpan karbon, mengatur siklus air regional, dan menopang
keanekaragaman hayati, dibabat untuk padang penggembalaan sapi. Padang itu
cepat terdegradasi karena tanah Amazon tipis dan mudah mengeras. Para peternak
lalu berpindah, membakar hutan baru. Siklus alam terputus. Siklus kapital terus
berputar.
Pesta
Babi merekam versi kontemporer dari keretakan yang sama. Tebu
untuk bioetanol dan sawit untuk biodiesel dijual sebagai solusi krisis iklim
dan energi. Tetapi jika bahan bakunya berasal dari hutan primer yang ditebang
dan tanah adat yang diserobot tanpa persetujuan, maka transisi itu hanya
memindahkan beban dari satu tempat ke tempat lain.
Sungai
tercemar, hutan sagu yang menopang kehidupan mulai hilang diganti dengan
monokultur perkebunan. Inilah keretakan metabolisme dalam praktik. Sagu tumbuh
dalam siklus ekologis yang terintegrasi dengan sistem sungai, hutan, dan tanah
adat.
Monokultur
sawit mengganti semua itu dengan satu variabel: profit per hektar per tahun.
Chico
Mendes selamat selama bertahun-tahun bukan karena negara melindunginya. Ia
selamat karena kamera wartawan terus menyorotnya.
Ia
memahami kekuatan media internasional. Ia membangun jaringan dengan aktivis
lingkungan global, dengan jurnalis dari Amerika Serikat dan Eropa. Ketika
ancaman pembunuhan semakin serius, namanya sudah terlalu dikenal untuk dibunuh
tanpa konsekuensi diplomatik. Strategi itu akhirnya gagal. Ia dibunuh pada 22
Desember 1988 di halaman belakang rumahnya.
Namun
kematiannya justru mengglobalkan isu Amazon, sesuatu yang tidak dicapainya
semasa hidup.
The
Burning Season sendiri adalah produk dari jurnalisme. Andrew Revkin
menulis buku yang menjadi dasarnya. Film ini mengubah nama Chico Mendes dari
berita halaman dalam menjadi narasi yang ditonton jutaan orang.
Pesta
Babi beroperasi dalam logika yang sama. Dokumenter ini berbasis
penelitian sejarah dan antropologi yang dibalut investigasi jurnalistik serta
analisis kebijakan. Dandhy Laksono, yang sebelumnya membuat Sexy Killers
dan Dirty Vote, konsisten menggunakan kamera sebagai instrumen advokasi.
Film
ini diproduksi oleh kolaborasi Ekspedisi Indonesia Baru, WatchDoc, Jubi.id,
Greenpeace, dan lembaga lain. Film ini sempat mengalami pembubaran di beberapa
lokasi nobar, yang justru semakin menyulut rasa penasaran publik.
Pembubaran
nobar adalah kesalahan strategis yang dilakukan pihak yang merasa terancam oleh
film ini. Setiap tindakan pembubaran menciptakan liputan baru. Setiap liputan
baru menarik penonton baru. Selama 40 hari musim nonton bareng yang dimulai 12
April 2026, setidaknya ada 15.000 pendaftar nobar dari berbagai daerah di
Indonesia dan luar negeri.
Angka
itu lebih besar dari kapasitas bioskop mana pun.
Chico
Mendes menggunakan tubuhnya sebagai penghalang di depan alat berat. Ia memimpin
empates dengan ratusan orang, berdiri diam di depan gergaji mesin. Pendekatan
ini memenangkan waktu, mencegah penebangan, dan memaksa negosiasi.
Masyarakat
adat Malind, Yei, Awyu, dan Muyu bertransformasi dari korban ketidakadilan
negara menjadi pejuang. Mereka mengorganisasi diri, membangun jaringan
solidaritas, dan bersama masyarakat sipil mencari keadilan ke pusat-pusat
pemerintahan di Papua dan Jakarta.
Mereka
menempuh jalur hukum, kendati perjuangan mencari keadilan menemukan jalan
buntu. Mereka juga melakukan perlawanan langsung di lokasi, termasuk dengan
memasang ribuan palang adat dan salib merah, serta menyelenggarakan pesta babi.
Pesta
babi sebagai perlawanan bukan hanya simbolis. Ia adalah pernyataan kepemilikan.
Komunitas yang menggelar pesta babi menyatakan kepada negara dan korporasi:
tanah ini masih milik kami, sistem hidup kami masih berjalan, dan kami tidak
pergi.
Ini
persis yang dilakukan Chico Mendes dengan empates. Kehadiran fisik sebagai
klaim atas eksistensi.
Dari
Amazon 1980-an ke Papua Selatan 2026, satu hal tidak berubah: negara cenderung
berpihak pada modal ketika berhadapan dengan masyarakat adat.
Masalahnya
bukan pada ide pembangunan itu sendiri. Masalahnya pada cara, kecepatan, dan
siapa yang membayar harga. Ketika proyek datang tanpa proses konsultasi yang
bermakna, ketika hutan adat tidak diakui secara hukum, dan ketika kritik
dianggap penghalang investasi, maka yang terjadi bukan pembangunan. Yang
terjadi adalah pengulangan sejarah kolonial dengan baju baru.
Chico
Mendes tahu ini. Ia berulang kali menyebutnya bukan masalah lingkungan, tetapi
masalah kelas dan kekuasaan.
Pesta
Babi menyebutnya kolonialisme. Kata yang lebih akurat.
Pertanyaan
etisnya sederhana: apakah ketahanan pangan dan energi boleh dicapai dengan
mengorbankan masyarakat yang sudah tahan pangan dan tahan energi selama
berabad-abad?
Pertanyaan
itu belum dijawab oleh negara mana pun dengan jujur, termasuk Brasil dan Indonesia.
The
Burning Season tidak menyelamatkan Chico Mendes. Namun film itu, bersama
liputan jurnalistik yang mendahuluinya, menghasilkan tekanan internasional yang
memaksa pemerintah Brasil membentuk reservat ekstraktivis. Hari ini, lebih dari
90 reservat ekstraktivis di Brasil melindungi 15 juta hektar hutan Amazon.
Chico
Mendes tidak melihat hasilnya. Namun kerjanya yang menggerakkannya.
Pesta
Babi baru saja tayang. Pertarungannya baru dimulai. Film ini
telah menghimpun energi besar untuk mendukung perjuangan masyarakat adat di
Tanah Papua.
Film
tidak mengubah kebijakan secara langsung. Film mengubah siapa yang peduli. Dan
ketika cukup banyak orang peduli, tekanan politik menjadi mungkin.
Itu
yang dipelajari dari Amazon. Itu yang sedang dicoba di Papua Selatan.
The
Burning Season dan Pesta Babi bukan sekadar dokumentasi kasus
lingkungan. Keduanya merekam proses sistematis di mana kapital menggunakan
kekuatan negara untuk merampas hak komunitas adat atas tanah, hutan, dan sistem
hidup mereka.
Keduanya
memperlihatkan bagaimana keretakan metabolisme bukan hanya bencana ekologis. Ia
adalah bencana sosial. Ketika siklus antara manusia dan alam diputus, yang
runtuh bukan hanya ekosistem. Yang runtuh adalah identitas, spiritualitas, dan
sistem pengetahuan yang dibangun selama ratusan tahun.
Dan
keduanya memperlihatkan bahwa jurnalisme dan aktivisme, ketika bergerak
bersama, adalah satu-satunya cara untuk memaksa masalah ini masuk ke dalam
ruang publik.
Chico
Mendes tidak berhasil menghentikan keserakahan. Namun ia berhasil membuat dunia
menyaksikannya.
Dandhy
Laksono dan Cypri Paju Dale sedang mencoba melakukan hal yang sama untuk Papua.
Kita
yang menonton punya satu tanggung jawab: jangan berhenti menyaksikan.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar