Hutan Terbakar, Tanah Dirampas; Benang Merah The Burning Season dan Pesta Babi - Erwin Basrin

Breaking

Recent Posts

 photo Untitled-1_1.jpg

Sabtu, 23 Mei 2026

Hutan Terbakar, Tanah Dirampas; Benang Merah The Burning Season dan Pesta Babi

 


Dua film. Dua benua. Dua era yang berbeda. Namun keduanya merekam satu skenario yang sama: hutan dibuka paksa, manusia diusir dari tanah leluhur mereka, dan mereka yang melawan dibungkam.

The Burning Season (1994) mengisahkan Chico Mendes, penyadap karet Brasil yang dibunuh pada 1988 karena menolak penggundulan hutan Amazon. Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (2026), karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale, merekam perjuangan suku Malind, Yei, Awyu, dan Muyu di Papua Selatan yang kehilangan tanah adat mereka akibat ekspansi perkebunan sawit dan bioetanol.

Keduanya bukan sekadar film. Keduanya adalah dokumen kejahatan yang terorganisir.

Chico Mendes tidak melarang pembangunan. Ia menuntut pengakuan hak. Ia memimpin empates, aksi damai di mana komunitas penyadap karet berdiri di depan alat berat untuk menghentikan penebangan. Ia membangun reservat ekstraktivis, kawasan yang melindungi hutan sekaligus memungkinkan komunitas hidup dari hasil hutan tanpa merusaknya.

Di Papua Selatan, kapal-kapal membawa ratusan ekskavator ke wilayah Papua Selatan, dikawal ketat oleh aparat keamanan. Proyeknya adalah konversi 2,5 juta hektar hutan adat menjadi perkebunan industri. Ribuan tentara dikerahkan untuk mengamankan proyek bioetanol dan biodiesel sawit dari protes masyarakat adat.

Skripnya identik. Yang berubah hanya nama aktor dan koordinat geografisnya.

Di Brasil tahun 1980-an, aktor utama adalah fazendeiros, tuan tanah peternak sapi yang didukung pemerintah militer. Di Papua Selatan 2026, aktornya adalah korporasi yang mendapat konsesi dari Proyek Strategis Nasional (PSN). Luasnya setara 37 kali Jakarta. Keduanya membawa argumen yang sama: pembangunan, ketahanan pangan, kemajuan nasional.

Argumen itu bukan baru. Argumen itu klasik.

Yang dirampas bukan hanya lahan dalam pengertian properti. Yang dirampas adalah sistem hidup.

Chico Mendes memahami ini. Ia tidak sekadar membela pohon karet. Ia membela seluruh sistem reproduksi sosial komunitas hutan Amazon: cara mereka makan, cara mereka berorganisasi, cara mereka mempertahankan pengetahuan tentang hutan selama beberapa generasi.

Pesta Babi merekam logika yang sama. Bagi suku Malind, Awyu, Muyu, dan subsuku lain di Papua Selatan, hutan bukan sumber daya kosong. Ia adalah rumah, kuburan leluhur, dan ruang politik. Ketika hutan ditebang, yang hilang bukan hanya pohon. Yang hilang adalah sistem hidup yang tidak bisa diganti dengan ganti rugi atau transmigrasi.

Pesta babi dalam tradisi suku Muyu butuh persiapan 10 tahun. Babi tidak dibeli, tetapi dipelihara sendiri dan dilepasliarkan di hutan milik marga. Ini bukan ritual sederhana. Ini adalah sistem manajemen ekologi yang berlangsung selama berabad-abad. Ketika hutan dibabat, ritual itu mustahil dijalankan. Ketika ritual itu mustahil, identitas komunal ikut runtuh.

Di sinilah konsep keretakan metabolisme (metabolic rift) yang dirumuskan Karl Marx dan dikembangkan John Bellamy Foster menjadi relevan untuk membaca kedua film ini.

Marx pertama kali menulis tentang keretakan metabolisme dalam konteks pertanian industri di Eropa abad ke-19. Ia mengamati bagaimana sistem pertanian kapitalis menguras nutrisi tanah, mengirimkan produk pertanian ke kota, namun tidak mengembalikan nutrisi itu ke tanah. Tercipta retakan dalam siklus materi antara manusia dan alam.

Foster mengembangkan konsep ini lebih jauh. Kapitalisme, argumentasinya, secara struktural memutus hubungan metabolis antara manusia dan alam. Bukan karena kecelakaan. Tetapi karena logika akumulasi memang menuntut ekstraksi tanpa batas dari alam dan tenaga kerja.

The Burning Season memperlihatkan keretakan metabolisme dalam skala Amazon. Hutan tropis yang menyimpan karbon, mengatur siklus air regional, dan menopang keanekaragaman hayati, dibabat untuk padang penggembalaan sapi. Padang itu cepat terdegradasi karena tanah Amazon tipis dan mudah mengeras. Para peternak lalu berpindah, membakar hutan baru. Siklus alam terputus. Siklus kapital terus berputar.

Pesta Babi merekam versi kontemporer dari keretakan yang sama. Tebu untuk bioetanol dan sawit untuk biodiesel dijual sebagai solusi krisis iklim dan energi. Tetapi jika bahan bakunya berasal dari hutan primer yang ditebang dan tanah adat yang diserobot tanpa persetujuan, maka transisi itu hanya memindahkan beban dari satu tempat ke tempat lain.

Sungai tercemar, hutan sagu yang menopang kehidupan mulai hilang diganti dengan monokultur perkebunan. Inilah keretakan metabolisme dalam praktik. Sagu tumbuh dalam siklus ekologis yang terintegrasi dengan sistem sungai, hutan, dan tanah adat.

Monokultur sawit mengganti semua itu dengan satu variabel: profit per hektar per tahun.

Chico Mendes selamat selama bertahun-tahun bukan karena negara melindunginya. Ia selamat karena kamera wartawan terus menyorotnya.

Ia memahami kekuatan media internasional. Ia membangun jaringan dengan aktivis lingkungan global, dengan jurnalis dari Amerika Serikat dan Eropa. Ketika ancaman pembunuhan semakin serius, namanya sudah terlalu dikenal untuk dibunuh tanpa konsekuensi diplomatik. Strategi itu akhirnya gagal. Ia dibunuh pada 22 Desember 1988 di halaman belakang rumahnya.

Namun kematiannya justru mengglobalkan isu Amazon, sesuatu yang tidak dicapainya semasa hidup.

The Burning Season sendiri adalah produk dari jurnalisme. Andrew Revkin menulis buku yang menjadi dasarnya. Film ini mengubah nama Chico Mendes dari berita halaman dalam menjadi narasi yang ditonton jutaan orang.

Pesta Babi beroperasi dalam logika yang sama. Dokumenter ini berbasis penelitian sejarah dan antropologi yang dibalut investigasi jurnalistik serta analisis kebijakan. Dandhy Laksono, yang sebelumnya membuat Sexy Killers dan Dirty Vote, konsisten menggunakan kamera sebagai instrumen advokasi.

Film ini diproduksi oleh kolaborasi Ekspedisi Indonesia Baru, WatchDoc, Jubi.id, Greenpeace, dan lembaga lain. Film ini sempat mengalami pembubaran di beberapa lokasi nobar, yang justru semakin menyulut rasa penasaran publik.

Pembubaran nobar adalah kesalahan strategis yang dilakukan pihak yang merasa terancam oleh film ini. Setiap tindakan pembubaran menciptakan liputan baru. Setiap liputan baru menarik penonton baru. Selama 40 hari musim nonton bareng yang dimulai 12 April 2026, setidaknya ada 15.000 pendaftar nobar dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.

Angka itu lebih besar dari kapasitas bioskop mana pun.

Chico Mendes menggunakan tubuhnya sebagai penghalang di depan alat berat. Ia memimpin empates dengan ratusan orang, berdiri diam di depan gergaji mesin. Pendekatan ini memenangkan waktu, mencegah penebangan, dan memaksa negosiasi.

Masyarakat adat Malind, Yei, Awyu, dan Muyu bertransformasi dari korban ketidakadilan negara menjadi pejuang. Mereka mengorganisasi diri, membangun jaringan solidaritas, dan bersama masyarakat sipil mencari keadilan ke pusat-pusat pemerintahan di Papua dan Jakarta.

Mereka menempuh jalur hukum, kendati perjuangan mencari keadilan menemukan jalan buntu. Mereka juga melakukan perlawanan langsung di lokasi, termasuk dengan memasang ribuan palang adat dan salib merah, serta menyelenggarakan pesta babi.

Pesta babi sebagai perlawanan bukan hanya simbolis. Ia adalah pernyataan kepemilikan. Komunitas yang menggelar pesta babi menyatakan kepada negara dan korporasi: tanah ini masih milik kami, sistem hidup kami masih berjalan, dan kami tidak pergi.

Ini persis yang dilakukan Chico Mendes dengan empates. Kehadiran fisik sebagai klaim atas eksistensi.

Dari Amazon 1980-an ke Papua Selatan 2026, satu hal tidak berubah: negara cenderung berpihak pada modal ketika berhadapan dengan masyarakat adat.

Masalahnya bukan pada ide pembangunan itu sendiri. Masalahnya pada cara, kecepatan, dan siapa yang membayar harga. Ketika proyek datang tanpa proses konsultasi yang bermakna, ketika hutan adat tidak diakui secara hukum, dan ketika kritik dianggap penghalang investasi, maka yang terjadi bukan pembangunan. Yang terjadi adalah pengulangan sejarah kolonial dengan baju baru.

Chico Mendes tahu ini. Ia berulang kali menyebutnya bukan masalah lingkungan, tetapi masalah kelas dan kekuasaan.

Pesta Babi menyebutnya kolonialisme. Kata yang lebih akurat.

Pertanyaan etisnya sederhana: apakah ketahanan pangan dan energi boleh dicapai dengan mengorbankan masyarakat yang sudah tahan pangan dan tahan energi selama berabad-abad?

Pertanyaan itu belum dijawab oleh negara mana pun dengan jujur, termasuk Brasil dan Indonesia.

The Burning Season tidak menyelamatkan Chico Mendes. Namun film itu, bersama liputan jurnalistik yang mendahuluinya, menghasilkan tekanan internasional yang memaksa pemerintah Brasil membentuk reservat ekstraktivis. Hari ini, lebih dari 90 reservat ekstraktivis di Brasil melindungi 15 juta hektar hutan Amazon.

Chico Mendes tidak melihat hasilnya. Namun kerjanya yang menggerakkannya.

Pesta Babi baru saja tayang. Pertarungannya baru dimulai. Film ini telah menghimpun energi besar untuk mendukung perjuangan masyarakat adat di Tanah Papua.

Film tidak mengubah kebijakan secara langsung. Film mengubah siapa yang peduli. Dan ketika cukup banyak orang peduli, tekanan politik menjadi mungkin.

Itu yang dipelajari dari Amazon. Itu yang sedang dicoba di Papua Selatan.

The Burning Season dan Pesta Babi bukan sekadar dokumentasi kasus lingkungan. Keduanya merekam proses sistematis di mana kapital menggunakan kekuatan negara untuk merampas hak komunitas adat atas tanah, hutan, dan sistem hidup mereka.

Keduanya memperlihatkan bagaimana keretakan metabolisme bukan hanya bencana ekologis. Ia adalah bencana sosial. Ketika siklus antara manusia dan alam diputus, yang runtuh bukan hanya ekosistem. Yang runtuh adalah identitas, spiritualitas, dan sistem pengetahuan yang dibangun selama ratusan tahun.

Dan keduanya memperlihatkan bahwa jurnalisme dan aktivisme, ketika bergerak bersama, adalah satu-satunya cara untuk memaksa masalah ini masuk ke dalam ruang publik.

Chico Mendes tidak berhasil menghentikan keserakahan. Namun ia berhasil membuat dunia menyaksikannya.

Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale sedang mencoba melakukan hal yang sama untuk Papua.

Kita yang menonton punya satu tanggung jawab: jangan berhenti menyaksikan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar