Catatan Erwin Basrin setelah membaca “Asal Bahasa Rejang” karya Richard McGinn
Di bagian awal artikel itu, Richard McGinn menaruh sebuah kalimat contoh.
Ia memakainya untuk menunjukkan bahwa bahasa Rejang tidak mengenal akhiran.
Bunyinya kira-kira begini: Uku nelai nak Topos. Saya dibesarkan di Topos.
Saya berhenti lama di kalimat itu. Sebab kalimat itu memang tentang saya.
Saya lahir dan besar di tanah Rejang, di wilayah yang menjadi lokasi penelitian
McGinn selama puluhan tahun. Jalan yang ia susuri untuk merekam bunyi bahasa
kami adalah jalan yang saya lewati waktu kecil. Seorang profesor dari Ohio
menyeberangi setengah bumi untuk mempelajari bahasa ibu saya. Sementara banyak
dari kami membiarkan bahasa itu pelan-pelan pergi.
McGinn bukan peneliti singgah. Ia mempelajari bahasa Rejang sejak
1970-an. Bukunya tentang tata bahasa Rejang terbit tahun 1982. Ia kembali lagi
dan lagi, merekam lima dialek kami satu per satu, dari pegunungan sampai
pesisir. Bersama Zainubi Arbi ia menyiapkan buku bacaan bahasa Rejang untuk
anak-anak dalam lima dialek. Artikel Asal Bahasa Rejang ia tulis dalam bahasa
Indonesia dan terbit lewat jurnal Lingua Universitas Sriwijaya tahun 2008. Ia
sengaja menulis untuk kami, bukan hanya untuk sesama ahli.
Dalam artikel itu ia mengajukan tiga hipotesa. Ia jujur sejak halaman
pertama. Ketiganya tidak harus diterima sekaligus. Hipotesa pertama sudah lama
diterima para ahli. Hipotesa kedua dan ketiga adalah teorinya sendiri. Sudah
terbit di jurnal, sudah punya pendukung, sudah punya pengritik, dan ia menyebut
nama keduanya. Saya menghargai kejujuran semacam ini. Ia tidak menjual
kepastian.
Hipotesa pertama berbunyi sederhana. Bahasa Rejang adalah anggota
keluarga Austronesia, subkelompok Melayu-Polinesia. Keluarga ini beranggota
lebih dari seribu bahasa. Penuturnya ratusan juta orang, tersebar dari Taiwan
sampai Madagaskar.
Untuk membuktikannya, McGinn menderetkan kata sehari-hari dari tujuh
bahasa. Deretan itu membuat saya tersenyum. Orang Rejang menyebut dua sebagai duai.
Orang Tagalog di Filipina menyebutnya dalawa. Orang Samoa di tengah
Pasifik bilang lua. Orang Malagasy di Afrika bilang rua. Untuk
mata: matai, mata, mata, maso. Untuk batu: butau,
bato, fatu, vato.
Kemiripan sebanyak ini mustahil kebetulan. Perubahan bunyi bahasa
berjalan teratur. McGinn memberi contoh bunyi c dalam bahasa Rukai di Taiwan.
Bunyi itu selalu muncul sebagai t, s, atau hilang sama sekali dalam
bahasa-bahasa lain. Tanpa kecuali. Pola serapi itu hanya mungkin kalau semua
bahasa tadi mewarisi kosakatanya dari satu bahasa induk. Para ahli menamai
induk itu Austronesia Purba. Bahasa itu sudah lama mati sebagai bahasa
sehari-hari. Tapi ia masih terdengar setiap kali kami menyebut matai, butau, atau
ujen.
Hipotesa kedua lebih berani. McGinn merekonstruksi bahasa Rejang Purba,
bahasa induk semua dialek Rejang sekarang. Caranya membandingkan lima dialek:
Lebong, Musi, Pesisir, Kebanagung, dan Rawas. Bahasa purba hasil rekonstruksi
itu ia sebut “menara berlampu”, alat untuk melihat lebih jauh ke masa lalu.
Hasilnya mengejutkan saya. Bukan Lebong yang paling penting dalam
rekonstruksi ini. Bukan pula Musi atau Pesisir. Ketiganya terlalu mirip satu
sama lain, jadi tidak banyak memberi petunjuk. Yang paling berharga justru dua
dialek pinggiran: Rawas dan Kebanagung.
Orang Rawas masih menyebut niol untuk nyiur, biol untuk
air, tenol untuk telur. Dialek lain sudah melunakkan bunyi itu menjadi nioa,
bioa, tenoa. Bunyi l di ujung kata itu warisan tua yang selamat.
Yang lebih mengejutkan lagi soal diftong. Menurut McGinn, bunyi ui dalam
upui, api, dan bunyi iu dalam kiiu, kayu, diwariskan tanpa
perubahan sejak enam ribu tahun. Enam ribu tahun. Angka itu saya baca dua kali.
Petani di hulu Sungai Rawas hari ini masih mengucapkan bunyi yang sama dengan
leluhurnya yang paling awal.
Kebanagung menyimpan hal lain. Dialek ini mempertahankan bunyi h dari r
purba yang hilang di dialek lain: hotos untuk ratus, kehing untuk
kering, libeh untuk lebar. Sementara Lebong, Musi, dan Pesisir lebih
banyak memperlihatkan perubahan baru. McGinn menyimpulkan dengan kalimat yang
adil. Sumbangan setiap dialek sama penting, tetapi tidak sama guna.
Lalu semua ini menunjuk ke mana? McGinn memakai prinsip dari dua ahli
bahasa, Blust dan Ross. Dialek para perantau cenderung berubah cepat. Dialek
orang yang menetap cenderung awet. Ross menambah alasan psikologis. Perantau
lebih longgar menerima ucapan baru dari mulut anak-anak. Orang yang menetap lebih
ketat menjaga cara bicara lama. Kalau prinsip ini benar, dialek paling awet
menandai kampung paling tua. Dan dialek paling awet adalah Rawas.
Letak geografisnya cocok. Tanah Rawas berada di hulu Sungai Rawas. Sungai
itu mengalir jauh ke timur tanpa air terjun, sampai ke laut di sekitar Pulau
Bangka. Perahu bisa naik jauh ke pedalaman. Dari hulu Rawas, orang tinggal
berjalan kaki ke Lebong lewat jalan gajah. Menurut McGinn, perjalanan itu tidak
terlalu payah.
Di titik ini saya menarik napas. Saya besar dengan tembo yang menempatkan
Lebong sebagai tanah asal. Di sanalah para Ajai memerintah. Di sanalah kisah
kami dimulai. Sekarang seorang ahli bahasa datang dengan data yang menunjuk ke
arah lain. Menurut rekonstruksinya, penutur Rejang Purba paling lama menetap di
Rawas, di wilayah yang kini masuk Sumatera Selatan. Dari sana mereka menyebar,
termasuk ke Lebong? dan jawabannya, bukan. Rejang Purba di Rawas asalnya dari Kutai Mawua, berlokasi
di Topos tepat di bagian hulu sungai Ketahun, mereka anak dari Ajai siang yeng
bermigrasi ke Rawas.
Apakah temuan ini meruntuhkan tembo? Saya rasa tidak. Keduanya menjawab
pertanyaan yang berbeda. Tembo menjawab siapa kami dan bagaimana kami mengatur
diri. Ilmu perbandingan bahasa menjawab dari mana bunyi-bunyi kami datang. Tapi
saya tidak mau berpura-pura keduanya mudah didamaikan. Ada rasa tidak nyaman
waktu membacanya, dan rasa itu saya biarkan. Ilmu yang jujur memang kadang membuat
tidak nyaman.
Hipotesa ketiga jangkauannya paling jauh. Sebelum tiba di Sumatra, dari
mana leluhur penutur Rejang Purba berangkat? McGinn mencari bahasa lain di Asia
Tenggara yang paling mirip dengan Rejang Purba. Ia menemukannya bukan di
Sumatra. Bukan pula di Jawa atau Semenanjung. Ia menemukannya di Kalimantan
Utara, di Sarawak, Malaysia, di selatan kota Kuching. Nama bahasanya
Bukar-Sadong, satu dari dua puluhan bahasa Bidayuh, bahasa orang Dayak Darat.
Penuturnya petani di pegunungan antara Sungai Bukar dan Sungai Sadong. Dan
tidak jauh dari sana mengalir sebuah sungai besar bernama Sungai Rejang.
Bukti yang ia ajukan bukan kesan sepintas. Sebelas perkembangan bunyi
bersama dan sembilan kesamaan tata bahasa. Yang paling meyakinkan justru sebuah
aturan kecil yang aneh. Dalam kedua bahasa, vokal a di suku kata terakhir
berubah menjadi e, kecuali kata itu ditutup bunyi velar seperti k dan ng. Maka
bulan menjadi bulen, ujan menjadi ujen, surat menjadi suret.
Tapi anak tetap anak. Orang Kebanagung bilang bulen. Orang
Bukar-Sadong di Tibakang, Sarawak, bilang burĕtn. Aturan ganjil yang
sama hidup di dua pulau yang dipisahkan laut.
Ada lagi bunyi sengau khas kami, yang membuat jambu terdengar sebagai jam’beu
dan ibu sebagai in’ok. Penutur Bukar-Sadong memakai bunyi serupa. Mereka
juga sama-sama menambah bunyi hambat kecil di ujung sengau akhir kata. Ciri
sehalus ini yang paling sulit dijelaskan sebagai kebetulan atau pinjaman.
Kesimpulan McGinn: bahasa Rejang dan Bukar-Sadong turun dari satu induk
yang ia namai Rejang-Bukar-Sadong Purba. Sesudah berpisah dari kerabatnya,
leluhur kami masih tinggal di Kalimantan sekitar seribu tahun. Baru kemudian
mereka menyeberang ke Sumatra. Kenapa mereka pergi? Artikel ini tidak menjawab.
Data bahasa bisa menunjuk arah. Data bahasa tidak bisa menceritakan alasan.
McGinn juga tidak menyembunyikan batas teorinya sendiri. Paling dekat,
tulisnya, tidak berarti dekat. Rejang dan Bukar-Sadong tetap dua bahasa yang
jauh berbeda. Hipotesa ini baru ia ajukan sejak 2003. Zorc mendukungnya pada
2006. Adelaar mengritiknya pada 2007. Perdebatan itu belum selesai, dan ia
menuliskan itu terang-terangan di ringkasan artikelnya.
Buat apa orang Rejang memikirkan semua ini sekarang? Bagi saya jawabannya
tidak rumit. Bahasa kami adalah arsip tertua yang kami punya. Naskah ka-ga-nga
bisa lapuk. Rumah bisa roboh. Tapi setiap penutur Rejang membawa dokumen
berumur ribuan tahun di lidahnya, dan kebanyakan tidak menyadarinya.
Arsip itu sedang menipis. Di banyak rumah, anak disapa dalam bahasa
Rejang lalu menjawab dalam bahasa Indonesia. Dialek Rawas, yang paling banyak
menyimpan bentuk tua, hanya dituturkan di segelintir desa di wilayah Rawas.
Kalau dialek itu hilang, hilang pula alat paling penting untuk membaca masa
lalu kami. McGinn tahu itu. Karena itu ia tidak berhenti di jurnal. Ia ikut
menyiapkan buku bacaan anak dalam lima dialek. Seorang profesor asing berbuat
sejauh itu untuk bahasa kami. Pertanyaannya kembali kepada kami sendiri.
Satu hal lagi. Kami sedang berjuang agar negara mengakui hak adat kami
atas tanah dan hutan. Perjuangan macam itu selalu dimintai bukti. Sejak kapan
kalian di sini? Artikel ini mengingatkan saya bahwa bukti itu tidak hanya
tersimpan di arsip kolonial dan peta. Bukti itu tersimpan dalam cara kami
menyebut air, telur, dan bulan. Merawat bahasa berarti merawat alat bukti.
Saya kembali ke kalimat contoh tadi. Uku nelai nak Topos. Saya
dibesarkan di Topos. Dulu kalimat itu hanya keterangan tempat. Sesudah membaca
McGinn, ia terdengar lain. Kata ganti uku sudah dipakai sejak zaman
Rejang Purba. Bunyi-bunyi di dalamnya menyimpan sisa perjalanan panjang: dari
satu bahasa induk di Kalimantan Utara, menyeberangi laut, menyusuri sungai,
mendaki Bukit Barisan, sampai ke lidah saya. Saya dibesarkan di Topos. Bahasa
yang membesarkan saya ternyata jauh lebih tua dari semua yang pernah saya duga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar