Kalimat Itu Berbunyi: Uku Nelai Nak Topos - Erwin Basrin

Breaking

Jumat, 17 Juli 2026

Kalimat Itu Berbunyi: Uku Nelai Nak Topos

 


Catatan Erwin Basrin setelah membaca “Asal Bahasa Rejang” karya Richard McGinn


Di bagian awal artikel itu, Richard McGinn menaruh sebuah kalimat contoh. Ia memakainya untuk menunjukkan bahwa bahasa Rejang tidak mengenal akhiran. Bunyinya kira-kira begini: Uku nelai nak Topos. Saya dibesarkan di Topos.

Saya berhenti lama di kalimat itu. Sebab kalimat itu memang tentang saya. Saya lahir dan besar di tanah Rejang, di wilayah yang menjadi lokasi penelitian McGinn selama puluhan tahun. Jalan yang ia susuri untuk merekam bunyi bahasa kami adalah jalan yang saya lewati waktu kecil. Seorang profesor dari Ohio menyeberangi setengah bumi untuk mempelajari bahasa ibu saya. Sementara banyak dari kami membiarkan bahasa itu pelan-pelan pergi.

McGinn bukan peneliti singgah. Ia mempelajari bahasa Rejang sejak 1970-an. Bukunya tentang tata bahasa Rejang terbit tahun 1982. Ia kembali lagi dan lagi, merekam lima dialek kami satu per satu, dari pegunungan sampai pesisir. Bersama Zainubi Arbi ia menyiapkan buku bacaan bahasa Rejang untuk anak-anak dalam lima dialek. Artikel Asal Bahasa Rejang ia tulis dalam bahasa Indonesia dan terbit lewat jurnal Lingua Universitas Sriwijaya tahun 2008. Ia sengaja menulis untuk kami, bukan hanya untuk sesama ahli.

Dalam artikel itu ia mengajukan tiga hipotesa. Ia jujur sejak halaman pertama. Ketiganya tidak harus diterima sekaligus. Hipotesa pertama sudah lama diterima para ahli. Hipotesa kedua dan ketiga adalah teorinya sendiri. Sudah terbit di jurnal, sudah punya pendukung, sudah punya pengritik, dan ia menyebut nama keduanya. Saya menghargai kejujuran semacam ini. Ia tidak menjual kepastian.

Hipotesa pertama berbunyi sederhana. Bahasa Rejang adalah anggota keluarga Austronesia, subkelompok Melayu-Polinesia. Keluarga ini beranggota lebih dari seribu bahasa. Penuturnya ratusan juta orang, tersebar dari Taiwan sampai Madagaskar.

Untuk membuktikannya, McGinn menderetkan kata sehari-hari dari tujuh bahasa. Deretan itu membuat saya tersenyum. Orang Rejang menyebut dua sebagai duai. Orang Tagalog di Filipina menyebutnya dalawa. Orang Samoa di tengah Pasifik bilang lua. Orang Malagasy di Afrika bilang rua. Untuk mata: matai, mata, mata, maso. Untuk batu: butau, bato, fatu, vato.

Kemiripan sebanyak ini mustahil kebetulan. Perubahan bunyi bahasa berjalan teratur. McGinn memberi contoh bunyi c dalam bahasa Rukai di Taiwan. Bunyi itu selalu muncul sebagai t, s, atau hilang sama sekali dalam bahasa-bahasa lain. Tanpa kecuali. Pola serapi itu hanya mungkin kalau semua bahasa tadi mewarisi kosakatanya dari satu bahasa induk. Para ahli menamai induk itu Austronesia Purba. Bahasa itu sudah lama mati sebagai bahasa sehari-hari. Tapi ia masih terdengar setiap kali kami menyebut matai, butau, atau ujen.

Hipotesa kedua lebih berani. McGinn merekonstruksi bahasa Rejang Purba, bahasa induk semua dialek Rejang sekarang. Caranya membandingkan lima dialek: Lebong, Musi, Pesisir, Kebanagung, dan Rawas. Bahasa purba hasil rekonstruksi itu ia sebut “menara berlampu”, alat untuk melihat lebih jauh ke masa lalu.

Hasilnya mengejutkan saya. Bukan Lebong yang paling penting dalam rekonstruksi ini. Bukan pula Musi atau Pesisir. Ketiganya terlalu mirip satu sama lain, jadi tidak banyak memberi petunjuk. Yang paling berharga justru dua dialek pinggiran: Rawas dan Kebanagung.

Orang Rawas masih menyebut niol untuk nyiur, biol untuk air, tenol untuk telur. Dialek lain sudah melunakkan bunyi itu menjadi nioa, bioa, tenoa. Bunyi l di ujung kata itu warisan tua yang selamat. Yang lebih mengejutkan lagi soal diftong. Menurut McGinn, bunyi ui dalam upui, api, dan bunyi iu dalam kiiu, kayu, diwariskan tanpa perubahan sejak enam ribu tahun. Enam ribu tahun. Angka itu saya baca dua kali. Petani di hulu Sungai Rawas hari ini masih mengucapkan bunyi yang sama dengan leluhurnya yang paling awal.

Kebanagung menyimpan hal lain. Dialek ini mempertahankan bunyi h dari r purba yang hilang di dialek lain: hotos untuk ratus, kehing untuk kering, libeh untuk lebar. Sementara Lebong, Musi, dan Pesisir lebih banyak memperlihatkan perubahan baru. McGinn menyimpulkan dengan kalimat yang adil. Sumbangan setiap dialek sama penting, tetapi tidak sama guna.

Lalu semua ini menunjuk ke mana? McGinn memakai prinsip dari dua ahli bahasa, Blust dan Ross. Dialek para perantau cenderung berubah cepat. Dialek orang yang menetap cenderung awet. Ross menambah alasan psikologis. Perantau lebih longgar menerima ucapan baru dari mulut anak-anak. Orang yang menetap lebih ketat menjaga cara bicara lama. Kalau prinsip ini benar, dialek paling awet menandai kampung paling tua. Dan dialek paling awet adalah Rawas.

Letak geografisnya cocok. Tanah Rawas berada di hulu Sungai Rawas. Sungai itu mengalir jauh ke timur tanpa air terjun, sampai ke laut di sekitar Pulau Bangka. Perahu bisa naik jauh ke pedalaman. Dari hulu Rawas, orang tinggal berjalan kaki ke Lebong lewat jalan gajah. Menurut McGinn, perjalanan itu tidak terlalu payah.

Di titik ini saya menarik napas. Saya besar dengan tembo yang menempatkan Lebong sebagai tanah asal. Di sanalah para Ajai memerintah. Di sanalah kisah kami dimulai. Sekarang seorang ahli bahasa datang dengan data yang menunjuk ke arah lain. Menurut rekonstruksinya, penutur Rejang Purba paling lama menetap di Rawas, di wilayah yang kini masuk Sumatera Selatan. Dari sana mereka menyebar, termasuk ke Lebong? dan jawabannya, bukan. Rejang Purba di Rawas asalnya dari Kutai Mawua, berlokasi di Topos tepat di bagian hulu sungai Ketahun, mereka anak dari Ajai siang yeng bermigrasi ke Rawas.

Apakah temuan ini meruntuhkan tembo? Saya rasa tidak. Keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda. Tembo menjawab siapa kami dan bagaimana kami mengatur diri. Ilmu perbandingan bahasa menjawab dari mana bunyi-bunyi kami datang. Tapi saya tidak mau berpura-pura keduanya mudah didamaikan. Ada rasa tidak nyaman waktu membacanya, dan rasa itu saya biarkan. Ilmu yang jujur memang kadang membuat tidak nyaman.

Hipotesa ketiga jangkauannya paling jauh. Sebelum tiba di Sumatra, dari mana leluhur penutur Rejang Purba berangkat? McGinn mencari bahasa lain di Asia Tenggara yang paling mirip dengan Rejang Purba. Ia menemukannya bukan di Sumatra. Bukan pula di Jawa atau Semenanjung. Ia menemukannya di Kalimantan Utara, di Sarawak, Malaysia, di selatan kota Kuching. Nama bahasanya Bukar-Sadong, satu dari dua puluhan bahasa Bidayuh, bahasa orang Dayak Darat. Penuturnya petani di pegunungan antara Sungai Bukar dan Sungai Sadong. Dan tidak jauh dari sana mengalir sebuah sungai besar bernama Sungai Rejang.

Bukti yang ia ajukan bukan kesan sepintas. Sebelas perkembangan bunyi bersama dan sembilan kesamaan tata bahasa. Yang paling meyakinkan justru sebuah aturan kecil yang aneh. Dalam kedua bahasa, vokal a di suku kata terakhir berubah menjadi e, kecuali kata itu ditutup bunyi velar seperti k dan ng. Maka bulan menjadi bulen, ujan menjadi ujen, surat menjadi suret. Tapi anak tetap anak. Orang Kebanagung bilang bulen. Orang Bukar-Sadong di Tibakang, Sarawak, bilang burĕtn. Aturan ganjil yang sama hidup di dua pulau yang dipisahkan laut.

Ada lagi bunyi sengau khas kami, yang membuat jambu terdengar sebagai jam’beu dan ibu sebagai in’ok. Penutur Bukar-Sadong memakai bunyi serupa. Mereka juga sama-sama menambah bunyi hambat kecil di ujung sengau akhir kata. Ciri sehalus ini yang paling sulit dijelaskan sebagai kebetulan atau pinjaman.

Kesimpulan McGinn: bahasa Rejang dan Bukar-Sadong turun dari satu induk yang ia namai Rejang-Bukar-Sadong Purba. Sesudah berpisah dari kerabatnya, leluhur kami masih tinggal di Kalimantan sekitar seribu tahun. Baru kemudian mereka menyeberang ke Sumatra. Kenapa mereka pergi? Artikel ini tidak menjawab. Data bahasa bisa menunjuk arah. Data bahasa tidak bisa menceritakan alasan.

McGinn juga tidak menyembunyikan batas teorinya sendiri. Paling dekat, tulisnya, tidak berarti dekat. Rejang dan Bukar-Sadong tetap dua bahasa yang jauh berbeda. Hipotesa ini baru ia ajukan sejak 2003. Zorc mendukungnya pada 2006. Adelaar mengritiknya pada 2007. Perdebatan itu belum selesai, dan ia menuliskan itu terang-terangan di ringkasan artikelnya.

Buat apa orang Rejang memikirkan semua ini sekarang? Bagi saya jawabannya tidak rumit. Bahasa kami adalah arsip tertua yang kami punya. Naskah ka-ga-nga bisa lapuk. Rumah bisa roboh. Tapi setiap penutur Rejang membawa dokumen berumur ribuan tahun di lidahnya, dan kebanyakan tidak menyadarinya.

Arsip itu sedang menipis. Di banyak rumah, anak disapa dalam bahasa Rejang lalu menjawab dalam bahasa Indonesia. Dialek Rawas, yang paling banyak menyimpan bentuk tua, hanya dituturkan di segelintir desa di wilayah Rawas. Kalau dialek itu hilang, hilang pula alat paling penting untuk membaca masa lalu kami. McGinn tahu itu. Karena itu ia tidak berhenti di jurnal. Ia ikut menyiapkan buku bacaan anak dalam lima dialek. Seorang profesor asing berbuat sejauh itu untuk bahasa kami. Pertanyaannya kembali kepada kami sendiri.

Satu hal lagi. Kami sedang berjuang agar negara mengakui hak adat kami atas tanah dan hutan. Perjuangan macam itu selalu dimintai bukti. Sejak kapan kalian di sini? Artikel ini mengingatkan saya bahwa bukti itu tidak hanya tersimpan di arsip kolonial dan peta. Bukti itu tersimpan dalam cara kami menyebut air, telur, dan bulan. Merawat bahasa berarti merawat alat bukti.

Saya kembali ke kalimat contoh tadi. Uku nelai nak Topos. Saya dibesarkan di Topos. Dulu kalimat itu hanya keterangan tempat. Sesudah membaca McGinn, ia terdengar lain. Kata ganti uku sudah dipakai sejak zaman Rejang Purba. Bunyi-bunyi di dalamnya menyimpan sisa perjalanan panjang: dari satu bahasa induk di Kalimantan Utara, menyeberangi laut, menyusuri sungai, mendaki Bukit Barisan, sampai ke lidah saya. Saya dibesarkan di Topos. Bahasa yang membesarkan saya ternyata jauh lebih tua dari semua yang pernah saya duga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar