Sosialisme Negara Abad ke-20: Saat Birokrat Menggantikan Majikan - Erwin Basrin

Breaking

Jumat, 19 Juni 2026

Sosialisme Negara Abad ke-20: Saat Birokrat Menggantikan Majikan

 


Di Jerman Timur, orang memesan mobil lalu menunggu. Bukan menunggu seminggu atau sebulan. Daftar tunggu mobil Trabant bisa lebih dari sepuluh tahun. Kamu memesan saat anak lahir, dan mobilnya datang saat anak itu hampir masuk SMP.

Itu bukan lelucon. Itu cara kerja sehari-hari di banyak negara sosialis abad ke-20. Bukan karena perang. Bukan karena bencana alam. Tapi karena begitulah sistem itu dirancang. tulisan ini mau menjelaskan kenapa, dengan contoh-contoh nyata.

Sosialisme negara abad ke-20 punya janji yang gampang dipahami. Hapus pemilik modal. Serahkan pabrik dan tanah ke negara. Negara mengatur produksi demi rakyat, bukan demi laba. Bahkan dalam teori Marx, lama-lama negara akan melemah dan hilang dengan sendirinya karena kelas sosial sudah lenyap.

Yang terjadi justru kebalikannya. Negara tidak mengecil. Negara membengkak. Ekonomi modern butuh banyak orang untuk mengaturnya. Maka lahirlah lapisan pejabat raksasa: para perencana, manajer pabrik, dan pengurus partai. Di Uni Soviet, kelompok ini punya nama resmi, yaitu nomenklatura.

Nomenklatura sebenarnya adalah daftar jabatan penting. Siapa yang boleh mengisi jabatan itu ditentukan oleh partai. Mereka mengatur pemerintahan, industri, pertanian, sampai pendidikan. Untuk naik posisi, kamu butuh restu partai, bukan suara rakyat.

Banyak orang menyebut kelompok ini kelas baru. Yang menarik, kritik ini tidak datang dari musuh kapitalis saja, tapi justru dari dalam gerakan kiri sendiri. Leon Trotsky, salah satu tokoh Revolusi Rusia, menulis dalam The Revolution Betrayed (1936) bahwa birokrasi Soviet sudah berubah menjadi kasta istimewa. Milovan Djilas, mantan pejabat tinggi Yugoslavia, menulis The New Class (1957). Ia menyimpulkan revolusi justru melahirkan kelas penguasa baru, bukan masyarakat tanpa kelas. Djilas dipenjara gara-gara buku itu. Belakangan, Mikhail Voslensky, orang dalam yang membelot, menulis Nomenklatura (1980) dan memperkuat gambaran tersebut.

Kelas baru ini hidup di dunia yang lain. Warga biasa dijatah ruang tinggal yang sempit. Aturannya sekitar sembilan meter persegi per orang. Kalau lebih, kelebihannya bisa disita. Pada praktiknya, rata-rata orang Soviet hanya punya sekitar tujuh meter persegi. Sementara itu, pejabat tinggi menikmati dacha atau vila, toko khusus, kantin murah, dan liburan di sanatorium milik negara.

Simbol status mereka kadang sepele tapi telak. Punya beberapa pesawat telepon di atas meja, misalnya. Satu telepon khusus untuk memberi perintah ke bawahan. Barang yang langka dan susah dicari rakyat biasa, mudah mereka dapatkan. Di atas kertas semua setara. Di lapangan, jarak antara penguasa dan rakyat justru menganga.

Ini bagian yang paling sering disalahpahami. Kelangkaan di negara-negara ini bukan kecelakaan sesekali. Itu sifat bawaan sistemnya.

Ekonom Hungaria Janos Kornai menjelaskannya dalam Economics of Shortage (1980). Ia memperkenalkan istilah soft budget constraint, atau batas anggaran yang lunak. Maksudnya begini: perusahaan negara tidak pernah benar-benar takut bangkrut. Kalau rugi, negara akan menalanginya. Pabrik yang payah jarang dibiarkan tutup.

Akibatnya, pabrik mengejar target produksi, bukan efisiensi. Mereka menimbun bahan baku dan tenaga kerja sebanyak-banyaknya supaya target tercapai. Biaya bukan urusan utama. Hasilnya bisa ditebak: pemborosan, proyek mangkrak, dan rak toko yang sering kosong. Studi terbaru di The Economic History Review (2024) menegaskan pola ini. Sistem semacam ini cukup ampuh untuk memacu pertumbuhan cepat pada masa awal industrialisasi, dari 1930-an sampai 1950-an. Tapi mesinnya tersendat begitu ekonomi makin rumit sejak 1960-an.

Antrean panjang di depan toko Soviet menjadi gambar paling ikonik dari era ini. Anehnya, banyak orang sebenarnya punya uang, tapi tidak bisa membelanjakannya. Akses ke barang tidak ditentukan oleh uang, melainkan oleh status dan koneksi. Muncul pula praktik yang disebut blat, yaitu jaringan saling bantu dan kenalan untuk mendapatkan barang langka. Punya uang saja tidak cukup. Kamu harus kenal orang yang tepat.

Rumania di bawah Nicolae Ceausescu adalah contoh paling kelam. Pada 1970-an, negara ini menumpuk utang besar ke bank-bank asing, sekitar 10 miliar dolar. Lalu Ceausescu mengambil keputusan ekstrem: lunasi semua utang itu secepat mungkin. Banyak negara lain yang kena masalah serupa memilih menjadwal ulang utang. Ceausescu menolak. Para ahli sering menyebut keputusan ini tidak masuk akal.

Caranya brutal. Mulai 1981, hampir semua yang bisa dijual diekspor demi mengumpulkan devisa. Akibatnya rakyat kekurangan di negeri sendiri. Makanan dijatah pakai kupon. Daging, susu, minyak, dan gula diatur jumlahnya per orang per bulan. Listrik, gas, dan pemanas ikut dijatah. Siaran televisi dipangkas jadi dua sampai tiga jam sehari. Di rumah, kadang hanya boleh ada satu bohlam 15 watt per ruangan. Padahal Rumania memproduksi listrik per kepala lebih banyak daripada Spanyol atau Italia.

Gambar yang paling diingat orang sederhana saja. Malam hari kota gelap gulita, sementara setiap jendela istana Ceausescu benderang. Istana raksasa itu, yang kini jadi gedung parlemen, menelan biaya miliaran dolar di tengah penghematan. Konsumsi nasional anjlok sekitar 25 persen pada pertengahan 1980-an. Ada perkiraan bahwa ribuan anak meninggal akibat kekurangan gizi pada masa itu.

Rumania akhirnya melunasi seluruh utang luar negerinya pada April 1989. Itu menjadikannya satu-satunya negara Blok Timur yang benar-benar bebas utang di era komunis. Tapi harganya mahal. Beberapa bulan kemudian rakyat memberontak. Ceausescu dan istrinya ditangkap lalu dieksekusi pada Desember 1989. Pelajarannya keras. Ketika satu orang beserta birokrasi patuh di sekelilingnya bisa menentukan nasib jutaan orang tanpa harus mempertanggungjawabkannya, penderitaan bisa berlangsung lama sebelum ada yang berani melawan.

Tidak semua negara sosialis meniru model komando Soviet. Yugoslavia mencoba jalan lain. Dari 1945 sampai 1991, negara ini membangun sistem yang disebut swakelola buruh atau self-management. Pabrik bukan milik negara pusat, melainkan milik sosial. Para buruh punya hak ikut mengatur tempat kerja lewat dewan. Pasar tetap dipakai untuk mengarahkan produksi dan perdagangan. Banyak orang melihatnya sebagai jalan tengah antara kapitalisme dan perencanaan ala Soviet.

Model ini menarik banyak pengagum. Para reformis anti-Stalin di Eropa Timur menjadikannya contoh. Kaum sosialis demokratik di Barat menganggapnya versi sosialisme yang lebih manusiawi. Yang menarik, sebagian pemikir degrowth dan pasca-pertumbuhan hari ini pun melirik Yugoslavia. Mereka melihat benih gagasan soal ekonomi yang dikelola bersama dari bawah, bukan dari meja birokrat. Ini menyambung langsung dengan apa yang dicari Saito.

Tapi jangan buru-buru meromantisasi. Penelitian terbaru memberi catatan penting. Sebagian sejarawan menilai swakelola juga dipakai untuk mendisiplinkan buruh, bukan semata memberdayakan mereka. Konflik sosial tetap pecah. Ada pemogokan penambang di Slovenia pada 1957 sampai 1958, lalu protes mahasiswa besar pada 1968. Secara ekonomi, sistem ini tampak sukses sampai akhir 1970-an. Setelah 1979, saat pinjaman luar negeri mengering, pertumbuhan berhenti. Lalu datang stagnasi, utang, dan inflasi, masalah yang sama persis dengan tetangga-tetangga sosialisnya.

Jadi Yugoslavia bukan surga, tapi juga bukan kegagalan total. Ia membuktikan satu hal yang berguna: ada ruang untuk versi sosialisme yang lebih demokratis di tempat kerja. Tapi ia juga menunjukkan bahwa swakelola saja tidak otomatis menyelesaikan soal utang, efisiensi, dan tekanan pasar global. Negara ini akhirnya pecah pada awal 1990-an, meski pemicu utamanya lebih banyak soal nasionalisme dan politik ketimbang ekonomi semata.

Model komando juga sampai ke Asia, dan di Tiongkok hasilnya paling tragis. Pada 1958, Mao Zedong meluncurkan Lompatan Jauh ke Depan, nama lain dari Rencana Lima Tahun kedua. Targetnya ambisius: kejar industrialisasi secepat mungkin. Petani digiring masuk ke komune-komune raksasa. Properti pribadi dihapus. Banyak petani ditarik dari sawah untuk membuat baja di tungku-tungku kecil di belakang rumah.

Hasilnya bencana. Produksi pangan anjlok. Negara justru mengalihkan sumber daya pertanian ke industri dan menarik gabah dari petani secara berlebihan. Sebuah studi ekonomi yang berpengaruh berjudul The Great Leap Forward: Anatomy of a Central Planning Disaster (2005) memperkirakan sekitar 61 persen penurunan output berasal dari pengalihan sumber daya dan penarikan gabah yang berlebihan ini, bukan semata akibat cuaca buruk. Kelaparan besar melanda dari 1959 sampai 1961. Perkiraan jumlah korban sangat lebar, dari sekitar 15 juta sampai puluhan juta jiwa, dan angka pastinya masih diperdebatkan para sejarawan sampai sekarang.

Bagian yang paling nyambung dengan tulisan ini adalah soal pertanggungjawaban. Pada 1959, dalam Konferensi Lushan, Menteri Pertahanan Peng Dehuai memberanikan diri memperingatkan Mao soal dampak kebijakan tersebut. Mao menolak mengakui kesalahan. Ia malah menuntut kepatuhan penuh dan melancarkan kampanye anti-kanan untuk membungkam para pengkritik. Akibatnya, kabar buruk berhenti mengalir ke atas. Pejabat di bawah takut melapor apa adanya. Bahkan kunjungan Mao ke desa pun diatur rapi, dengan petani disuruh memindahkan tanaman padi di sepanjang rutenya agar terlihat seperti panen melimpah. Saat orang yang berkuasa hanya mau mendengar kabar baik, sistem kehilangan kemampuan mengoreksi diri.

Pemerintah mulai membalik kebijakan ini pada awal 1960-an. Lahan pribadi dan alat dikembalikan ke petani, sistem komune dipreteli, dan keahlian kembali dihargai di atas semangat ideologis. Pelajarannya searah dengan Rumania. Birokrasi komando yang takut pada pemimpin bisa mengubah satu target yang salah menjadi tragedi berskala besar.

Vietnam menempuh jalur yang sedikit berbeda, dan akhirnya berbelok. Dari 1976 sampai 1985, Vietnam yang sudah bersatu menjalankan perencanaan terpusat. Hasilnya pahit. Pendapatan per kapita hanya sekitar 125 sampai 200 dolar setahun, menempatkan Vietnam di antara negara paling miskin di dunia. Barang langka, produksi macet, dan inflasi meroket sampai sekitar 700 persen menjelang akhir 1986. Yang menarik, partai yang berkuasa sendiri akhirnya menunjuk biang keladinya, yaitu mekanisme terpusat birokratis yang bergantung pada subsidi negara. Pada Kongres Partai keenam, Desember 1986, Vietnam meluncurkan Doi Moi atau pembaruan. Mereka membongkar perencanaan terpusat, memberi petani lebih banyak kebebasan, dan membuka diri ke pasar. Vietnam tidak membuang label sosialis, tapi meninggalkan model birokrat yang mengatur semuanya dari atas.

Apakah semuanya buruk? tidak sesederhana itu, dan penting untuk jujur soal ini. Sistem ini menjamin pekerjaan, pendidikan murah, dan perumahan dasar. Ia mendorong industrialisasi cepat dan menaikkan angka melek huruf secara besar-besaran. Bagi banyak orang, ada rasa aman yang nyata di tingkat paling dasar.

Para ahli pun masih berdebat soal akar masalahnya. Sebagian, seperti Trotsky, menyalahkan hilangnya demokrasi dan menguatnya birokrasi. Sebagian lain, seperti Kornai, menyimpulkan bahwa masalahnya ada pada perencanaan tanpa pasar dan harga itu sendiri. Dua sudut pandang ini masih dipakai orang sampai hari ini, dan keduanya punya bukti masing-masing.

Ada satu hal yang sering dilupakan. Kelas birokrat ini tidak lenyap begitu saja saat Uni Soviet runtuh pada 1991. Banyak mantan nomenklatura malah menjadi pemain utama dalam ekonomi dan politik pasca-Soviet. Sebuah perkiraan pada 2022 menyebut sekitar 60 persen elite di lingkaran kekuasaan Putin punya latar belakang nomenklatura. Birokrat lama berganti baju, lalu tetap memegang kendali.

Inilah salah satu alasan kenapa banyak pemikir kiri masa kini sengaja menjauh dari model ini. Dalam buku Slow Down, misalnya, Kohei Saito tegas menolak sosialisme yang diatur birokrat dari atas. Ia mencari bentuk yang lebih demokratis, yang dikelola bersama dari bawah. Sejarah abad ke-20 menjadi pengingat kenapa kehati-hatian itu masuk akal.

Buat pembaca Indonesia, ini bukan sekadar cerita negeri jauh. Kita akrab dengan birokrasi yang besar, badan usaha milik negara, dan urusan perizinan yang berbelit. Pelajaran intinya bukan negara selalu jahat, dan bukan pula pasar selalu benar. Pelajarannya soal kekuasaan dan pertanggungjawaban. Ketika segelintir orang memegang kendali tanpa harus menjawab kepada publik, hasilnya cenderung mirip di mana saja: yang di atas nyaman, yang di bawah antre.

Jadi sosialisme negara abad ke-20 tidak tersandung karena orang-orangnya kurang ikhlas. Ia tersandung pada rancangannya sendiri. Negara yang seharusnya melemah malah tumbuh jadi raksasa. Kelas yang seharusnya hilang malah lahir kembali dengan wajah baru.

Mobil Trabant tadi akhirnya tetap datang, sepuluh tahun kemudian. Pertanyaan yang lebih penting: sistem seperti apa yang memaksa orang menunggu selama itu, dan siapa saja yang tidak perlu antre sama sekali? Jawaban atas dua pertanyaan itu menjelaskan hampir seluruh ceritanya.


Tulisan ini terinspirasi setelah membaca buku Slow Down Kohei Saito, Erwin Basrin. 2026.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar