Siang itu
datang tanpa tanda. Matahari berdiri tegak di atas atap seng, seperti hakim
yang memandang dunia tanpa berkedip. Angin hampir tak bergerak. Daun-daun
pisang di belakang rumah menggantung lesu, seakan kelelahan menyimpan rahasia
panas. Di dalam rumah panggung tua yang lantainya telah licin oleh waktu, Kakek
Syamsudin tiba-tiba muntah.
Bukan
muntah orang sakit.
Bukan
muntah karena masuk angin, atau perut yang berontak.
Muntah
itu datang tenang, tanpa demam, tanpa nyeri, tanpa pusing.
Ia
bangkit perlahan dari tikar pandan tempatnya biasa berbaring selepas zuhur.
Wajahnya pucat, tetapi matanya tetap jernih. Ia melangkah ke serambi, menahan
dadanya, lalu muntah dengan tertib seperti seseorang yang melepaskan sesuatu yang
memang tak layak tinggal di dalam tubuh.
Paraduta
yang sedang membelah kayu bakar di halaman mendengar suara itu. Ia terkejut.
Kapak terhenti di udara. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Kakeknya jarang sekali sakit. Bahkan kata sakit hampir tak pernah punya tempat
dalam kamus hidup lelaki tua itu.
Seumur
hidupnya, Syamsudin hidup dengan aturan yang ia tetapkan sendiri. Aturan yang
tak tertulis, tetapi tegas. Ia makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Ia
minum sekadar memenuhi kebutuhan, bukan memuaskan lidah. Tak ada kopi
berlebihan, tak ada gula berlebih, tak ada lauk yang dipilih demi gengsi atau
selera zaman.
“Perut
ini,” begitu ia sering berkata, “adalah ladang puji-pujian. Jangan ditanami
benih yang tak jelas asalnya.”
Paraduta
masuk ke rumah dengan langkah cemas. Kakeknya sudah duduk kembali, menyandarkan
punggung ke tiang kayu. Napasnya teratur. Tidak tergesa, tidak terengah.
“Kek…?”
suara Paraduta bergetar, setengah bertanya, setengah memohon.
Syamsudin
mengangkat tangannya pelan, isyarat agar cucunya tenang.
“Aku
baik-baik saja,” katanya. “Tubuhku tidak rusak. Tapi ada yang tak beres.”
Ia
menutup mata sejenak. Di balik kelopak mata itu, pikirannya bekerja.
Bertahun-tahun ia menjalani hidup dengan keteraturan yang nyaris asketik. Jam
makan terjaga. Porsi terukur. Doa selalu mendahului suapan pertama. Ia tidak
pernah memakan sesuatu yang statusnya abu-abu. Semua jelas, semua halal, semua
didapat dengan cara yang ia pahami benar.
Maka
pertanyaan itu muncul bukan sebagai panik, melainkan sebagai perenungan. Apa
gerangan yang salah di dalam diriku, sehingga tubuh ini menolak makanan?
Ia
menelusuri ingatan. Tidak ada masuk angin. Tidak ada perut melilit. Tidak ada
sakit kepala. Pagi tadi ia bangun seperti biasa, shalat subuh, duduk di serambi,
memandang kabut yang turun dari bukit, lalu membaca wirid pendek yang selalu ia
ulang sejak muda.
Tak ada
yang berubah.
Tak ada
yang cacat.
Kecuali
makan siang tadi.
Syamsudin
membuka mata dan memandang Paraduta. Tatapannya tajam, tapi tidak menghakimi.
Tatapan orang yang sedang mencari kebenaran, bukan kambing hitam.
“Duta,”
katanya perlahan, “dari mana kau beli sayur yang kau masak tadi pagi?”
Pertanyaan
itu jatuh seperti batu kecil ke dalam dada Paraduta. Ia tahu, di sanalah sumber
kegelisahan. Ia tahu, kejujuran adalah satu-satunya jalan.
“Saya…
agak kesiangan ke Pekan, Kek,” jawabnya pelan. “Sayur di pasar sudah habis.
Pedagang sedikit, sebagian sudah pulang.”
Syamsudin
mengangguk pelan. Ia mengenal Pekan atau pasar mingguan itu. Pasar kecil,
berumur pendek, hidup hanya beberapa jam sejak fajar. Siapa terlambat, pulang
dengan tangan kosong atau akal yang bekerja lebih cepat dari hati.
Paraduta
menelan ludah. Ia melanjutkan.
“Di
galangan sawah tetangga kita… ada bayam tumbuh subur. Saya petik segenggam.
Saya pikir… itu cuma daun. Tidak apa-apa.”
Suara itu
pecah sebelum sampai ke ujung kalimat.
Syamsudin
menghela napas panjang. Tidak ada amarah di sana. Tidak ada suara tinggi. Hanya
kesadaran yang mengendap, seperti air keruh yang akhirnya menemukan dasar.
“Sekarang
aku tahu,” katanya pelan. “Tubuh ini tidak salah. Yang salah bukan pencernaan.
Yang salah bukan niatmu memberi makan.”
Ia
menepuk lututnya sendiri, seolah menegaskan.
“Yang
salah adalah jalan makanan itu sampai ke piring.”
Paraduta
menunduk. Dadanya terasa sesak. Ia ingin berkata banyak hal bahwa bayam itu
tumbuh liar, bahwa ia tak berniat mencuri, bahwa itu hanya segenggam kecil.
Tetapi kata-kata itu layu sebelum sempat tumbuh. Ia tahu, pembelaan tidak akan
mengubah hakikat.
Syamsudin
memandang cucunya lama. Waktu seperti melambat. Jam dinding berdetak dengan
suara yang lebih keras dari biasanya.
“Kau
tahu, Duta,” katanya kemudian, “aku tidak pernah sakit bukan karena tubuhku
lebih kuat dari orang lain. Aku sehat karena aku menjaga apa yang masuk ke
dalam diriku. Bukan hanya zatnya, tapi juga jalannya.”
Paraduta
mengangkat kepala. Matanya berkaca-kaca.
“Makan
dan minum bagiku,” lanjut Syamsudin, “hanya sarana memuji kebesaran Allah.
Tidak lebih. Jika sarana itu tercemar, pujian pun tak sampai.”
Ia berhenti
sejenak, lalu berkata dengan suara yang lebih dalam, seakan membaca sesuatu
dari lapisan hidup yang lebih tua.
“Mengambil
milik orang lain, apapun bentuknya, apapun jumlahnya, adalah haram.”
Kata haram
itu tidak diucapkan keras. Justru karena itulah ia menghantam lebih dalam.
Tidak seperti palu, melainkan seperti air yang meresap ke retakan batu.
Paraduta
merasa wajahnya panas. Bukan karena dimarahi, tetapi karena disadarkan.
“Aku tahu
kau tidak berniat jahat,” kata Syamsudin, seolah membaca isi hati cucunya. “Dan
aku tidak menyalahkanmu. Tapi niat baik tidak pernah menghalalkan jalan yang
salah.”
Ia lalu
tersenyum kecil, senyum orang tua yang lebih memilih menanam daripada mencabut.
“Tubuh
ini muntah bukan untuk menghukummu,” katanya. “Tubuh ini muntah untuk
mengajarimu.”
Paraduta
merasakan air mata jatuh satu-satu ke lantai. Ia teringat semua hal kecil yang
sering dianggap sepele. Memetik buah di kebun orang tanpa izin, memotong jalan
lewat sawah orang lain, meminjam tanpa bilang. Semua itu tiba-tiba berdiri
sebagai barisan kesalahan yang selama ini berlindung di balik kata kecil.
“Maafkan
saya, Kek,” katanya lirih.
Syamsudin
mengangguk. “Aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kau meminta. Yang penting
adalah janji yang kau buat setelah ini.”
Paraduta
tidak menjawab. Ia hanya berjanji di dalam hatinya, janji yang tidak bersuara,
tetapi berat. Janji yang kelak akan ia bawa ke mana pun ia melangkah.
Hari itu
berlalu dengan sunyi yang berbeda. Tidak ada lagi muntah. Kakek Syamsudin
kembali minum air hangat, membaca doa pendek, dan tidur siang seperti biasa.
Tubuhnya pulih secepat datangnya gejala. Seolah apa yang keluar dari perutnya
bukan makanan, melainkan sebuah pesan yang telah selesai disampaikan.
Malamnya,
Paraduta duduk di serambi sendirian. Bulan menggantung rendah. Katak bersahutan
di sawah. Ia memandang galangan tempat bayam itu tumbuh. Daun-daunnya bergoyang
pelan tertiup angin malam.
Ia merasa
malu, tetapi juga bersyukur. Tidak semua orang belajar dari muntah seorang
kakek. Tidak semua orang diberi guru yang tubuhnya sendiri menjadi kitab.
Beberapa
hari kemudian, Paraduta mendatangi tetangga pemilik sawah. Ia membawa beras,
gula, dan seekor ayam kecil. Ia meminta maaf. Tetangganya tertawa kecil dan
berkata, “Bayam itu tumbuh sendiri, Nak.” Tetapi Paraduta tetap menyerahkan
bingkisan itu.
Karena
yang ingin ia bayar bukan daun bayam, melainkan pelajaran.
Tahun-tahun
berlalu. Paraduta tumbuh menjadi lelaki yang kakinya melangkah jauh, pikirannya
menyusuri banyak jalan. Hukum, tanah, adat, dan perlawanan. Ia bertemu banyak
orang, mendengar banyak cerita, dan menyaksikan banyak ketidakadilan yang
dibungkus rapi oleh kata-kata besar.
Namun
setiap kali ia berhadapan dengan pilihan, mengambil jalan pintas atau bertahan
pada yang benar, wajah Kakek Syamsudin selalu muncul. Wajah seorang lelaki tua
yang muntah bukan karena sakit, tetapi karena prinsip.
Ia
belajar bahwa integritas tidak selalu diuji di meja besar, tetapi sering diuji
di dapur kecil. Bahwa keadilan tidak selalu lahir dari pidato panjang, tetapi
dari segenggam daun yang seharusnya tidak dipetik.
Pada
suatu kesempatan, ketika Paraduta ditanya oleh seorang kawan tentang apa arti halal
baginya, ia menjawab tanpa berpikir Panjang.
“Halal
bukan hanya soal apa yang kita makan. Halal adalah tentang bagaimana dunia
mempercayai kita.”
Dan jauh
di dalam hatinya, ia tahu, kalimat itu berasal dari siang yang panas, dari
muntah yang sunyi, dan dari suara Kakek Syamsudin yang lembut tapi tak tergoyahkan.
Sejak
hari muntah itu, Paraduta melihat Kakek Syamsudin dengan cara yang berbeda.
Bukan karena tubuh renta lelaki tua itu rapuh, justru sebaliknya. Ia melihat
kekuatan yang tidak berteriak, kekuatan yang bekerja diam-diam, seperti akar
yang menahan bukit agar tidak runtuh. Kakek dan para sufi, begitu Paraduta
mulai menyebut mereka dalam benaknya, memang lain. Mereka tidak mengejar
kesaktian, tidak mengoleksi karomah, tidak memburu pujian. Mereka berlatih
hidup. Menata niat, membersihkan jalan, memilih yang halal, menjauhi yang
syubhat, apalagi yang haram.
Latihan
itu bukan sekali jadi. Ia adalah kerja seumur hidup. Seperti menggosok kaca
setiap pagi agar cahaya bisa masuk tanpa distorsi. Seperti menyapu halaman
meski angin akan kembali menaburkan daun. Kakek Syamsudin melakukannya dengan
disiplin yang nyaris tak terlihat. Bangun sebelum subuh, berwudhu pelan, shalat
dengan bacaan yang tidak panjang tapi penuh jeda, lalu duduk memandangi langit
yang masih biru tua. Ia mendengarkan dunia, bukan untuk menghakimi, melainkan
untuk menyelaraskan diri.
“Kepekaan,”
kata Kakek suatu pagi ketika Paraduta bertanya mengapa para sufi tampak mudah
terguncang oleh hal-hal kecil. “Kepekaan itu buah dari kebersihan. Kalau engkau
membersihkan jalan hidupmu, engkau akan merasa bila ada duri sekecil apa pun.”
Paraduta
mengingat muntah itu. Betapa sedikitnya bayam. Hanya segenggam saja. Betapa
kecilnya pelanggaran, tanpa izin, tanpa niat jahat. Namun tubuh Kakek bereaksi
seperti lonceng yang dipukul. Mungkin benar, pikir Paraduta, perutnya
diguncangkan dan isinya otomatis dimuntahkan. Mungkin pula lingkungan sekitar
yang terguncang adalah sebuah sinyal yang merambat dari dapur kecil ke jantung
kehidupan.
Hari-hari
berikutnya, Paraduta mulai memperhatikan hal-hal yang dulu luput. Ia melihat
bagaimana Kakek memilih beras dari lumbung sendiri atau dari tetangga yang
jelas asalnya. Ia melihat bagaimana Kakek menolak pemberian yang samar, meski
dibungkus senyum. “Kalau ragu,” kata Kakek, “lebih baik tidak. Dunia tidak
runtuh karena kita menolak satu suapan.”
Dari
sana, pelajaran itu melebar. Paraduta mulai memahami bahwa harmoni di dalam
diri, ketenangan yang membuat tidur nyenyak dan bangun ringan, sebagian
ditentukan oleh ukuran halal-haram makanan. Bukan hanya zatnya, tetapi
jalannya. Dan jika makanan adalah pintu, maka di balik pintu itu ada
hubungan-hubungan. Dengan teman, tetangga, saudara, orang tua, suami-istri,
anak-anak. Pintu yang sama. Jika pintu itu bengkok, rumah akan berderit.
Ia
menyaksikan sendiri. Pada hari-hari ketika Kakek makan dengan tenang, rumah
terasa lapang. Percakapan mengalir. Senyum muncul tanpa dipaksa. Pada hari-hari
ketika ada keraguan bukan hanya soal makanan, tetapi soal berita, gosip, atau
niat udara di rumah mengeras. Bukan karena ada yang marah, melainkan karena
keseimbangan goyah. Seperti senar yang ditarik terlalu kencang.
“Kita
sering lupa,” kata Kakek suatu sore, ketika mereka duduk di serambi dan menatap
sawah yang menguning. “Atau kita memang tidak peduli. Halal-haram tidak lagi
jadi kredo hidup. Halal dimakan, haram pun dihantam. Yang penting kenyang, yang
penting cepat.”
Kata-kata
itu menancap. Paraduta melihat sekelilingnya, melihat dunia yang berlari. Ia
melihat hutan-hutan dibabat tanpa rasa bersalah. Kayu diangkut seperti
memindahkan kursi. Isi perut bumi ditelan habis, seolah-olah ia warisan
pribadi. Padahal, kata Kakek, hutan dan isi bumi bukan nenek moyang kita
sendiri yang punya. Ia titipan. Ia amanah. Ia punya hak untuk bernapas.
Paraduta
melihat jalanan yang dipoles aspal panas. Debu mengepul, lalu hujan turun.
Jalan becek, berlubang-lubang. Orang mengeluh, tetapi tak ada yang bertanya. Aspal
dari mana, kontrak ke mana, mutu ke mana. Ia melihat semen bangunan “ditelan”
seperti pil, cepat, tanpa dikunyah. Gedung roboh, korban jatuh, berita berlalu.
Proposal demi proposal disusun, dana demi dana diklaim untuk pemberdayaan dan
pendampingan masyarakat rentan. Laporan rapi. Foto tersenyum. Namun masyarakat
tetap rentan. Urusan umum dilupakan karena kelewat sibuk memikirkan diri
sendiri.
Paraduta
menelan ludah. Di kepalanya bergema satu pertanyaan yang sederhana dan
mengerikan. “Mengapa kita tidak muntah?”
Ia
mengajukan pertanyaan itu kepada Kakek. Mereka sedang menyeduh teh pahit. Uap
naik perlahan.
Kakek
Syamsudin menatap cangkirnya lama. “Itu pertanyaan yang berat,” katanya
akhirnya. “Dan jawabannya tidak selalu baik.”
Ia
mengangkat cangkir, menyesap, lalu meletakkannya kembali. “Tidak muntah bukan
tanda berkah. Kadang itu tanda peringatan yang sangat lembut begitu lembut
sampai kita tak merasakannya. Tubuh kita kebal. Jiwa kita tumpul. Kita terus
menelan, menelan, menelan.”
Paraduta
membayangkan perut raksasa dunia. Ia membayangkan kayu-kayu, semen utuh, aspal
mendidih, proposal-proposal berlembar-lembar semuanya masuk, tidak dikeluarkan.
Ia bergidik.
“Kalau
peringatan lembut itu diabaikan,” lanjut Kakek, suaranya turun, “bisa saja
suatu saat bukan cuma muntah biasa. Bisa meledak.”
Kata meledak
jatuh seperti batu. Paraduta melihat kilasan. Banjir bandang membawa batang
kayu, gedung runtuh, jalan ambles, konflik pecah, kemarahan menetes dari
pori-pori kota. Dari perut terloncat dan keluar kayu-kayu, semen utuh, aspal
yang masih mendidih. Bukan sebagai metafora belaka, melainkan sebagai kenyataan
yang menuntut tebusan.
“Menakutkan,”
bisik Paraduta.
“Karena
itu,” kata Kakek, “para sufi berlatih peka. Bukan untuk jadi rapuh, tetapi
untuk mencegah ledakan. Mereka ingin muntah lebih awal, muntah yang
menyelamatkan.”
Paraduta
terdiam. Ia memahami kini bahwa muntah Kakek bukan aib, bukan kelemahan. Ia
adalah alarm. Sebuah sistem peringatan dini yang bekerja karena kebersihan
dijaga. Karena jalur hidup tidak dipenuhi sumbatan. Karena hati tidak
menoleransi keburukan, betapapun kecil.
Malam
itu, Paraduta menulis. Ia menulis bukan untuk mengajar, melainkan untuk
mengingatkan diri. Ia menulis tentang skala, bagaimana pelanggaran kecil yang
dibiarkan menjadi kebiasaan, lalu menjadi sistem. Bagaimana sistem yang
dibiarkan menjadi bencana. Ia menulis tentang kredo halal-haram yang bukan
dogma kaku, melainkan kompas. Tanpa kompas, kapal cepat pun akan karam.
Hari-hari
berikutnya, Paraduta mulai mempraktikkan apa yang ia tulis. Ia menolak jalan
pintas, meski waktu mendesak. Ia memilih sumber yang jelas, meski mahal. Ia
meminta izin, meski tampak sepele. Ia membayar utang kecil, meski tak ada yang
menagih. Ia belajar mengatakan “tidak” pada proyek yang kabur, meski imbalannya
menggiurkan.
Tak semua
orang menyukai perubahan itu. Ada yang mengejeknya idealis. Ada yang
menyebutnya sok suci. Paraduta mengingat wajah Kakek Syamsudin, tenang, tidak
membela diri. Ia memilih diam, bekerja, dan membiarkan waktu menjadi saksi.
Suatu
hari, seorang kawan lama datang membawa kabar. Peluang besar, dana besar, waktu
singkat. “Semua orang melakukannya,” kata kawan itu. “Kalau kita tidak ambil,
orang lain ambil.”
Paraduta
menghela napas. Ia melihat lagi segenggam bayam. Ia melihat muntah yang
mengajari cahaya. “Kalau semua orang melakukannya,” jawabnya pelan, “barangkali
dunia sedang menunggu seseorang untuk berhenti.”
Kawan itu
pergi dengan gelengan kepala. Paraduta tidak merasa menang. Ia hanya merasa
ringan. Seperti meletakkan beban yang bukan miliknya.
Pada
suatu sore, Kakek Syamsudin memanggil Paraduta. Mereka duduk berhadapan. “Aku
senang melihatmu belajar,” kata Kakek. “Tapi ingat, jangan merasa lebih baik
dari orang lain. Kepekaan bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menjaga.”
Paraduta
mengangguk. “Aku takut,” katanya jujur. “Takut dunia benar-benar meledak.”
Kakek
tersenyum samar. “Takut yang sehat itu perlu. Ia membuat kita berhati-hati.
Tapi jangan biarkan takut membekukanmu. Tugasmu adalah menata dirimu dan
lingkaran terdekatmu. Dari sana, gelombang kecil bisa jadi ombak yang
menenangkan.”
Mereka
diam. Senja turun. Burung pulang. Di kejauhan, suara azan mengalun, merajut
waktu.
Malam
itu, Paraduta bermimpi. Ia melihat perut besar, bukan perut manusia, melainkan
perut dunia. Ia melihat makanan masuk. Kayu, semen, aspal, kertas proposal.
Perut itu tegang, berkilat. Lalu, dari sudut kecil, muncul segenggam bayam.
Perut bergetar. Alarm berbunyi. Dunia muntah bukan untuk menghancurkan,
melainkan untuk menyelamatkan. Kayu-kayu keluar dan ditanam kembali. Semen
dilelehkan ulang untuk bangunan yang kokoh. Aspal ditata ulang agar jalan aman.
Kertas-kertas disederhanakan menjadi janji yang ditepati.
Paraduta
terbangun dengan keringat dingin. Ia bersyukur mimpi itu bukan ramalan,
melainkan peringatan.
Pagi
harinya, ia menemui Kakek. Mereka minum air hangat. “Aku mengerti sekarang,”
kata Paraduta. “Muntah itu bahasa.”
Kakek
mengangguk. “Bahasa yang jarang kita pelajari. Karena kita lebih suka menelan
daripada mendengar.”
Mereka
tersenyum. Di halaman, daun bayam tumbuh lagi, kali ini di kebun sendiri.
Paraduta memetiknya dengan izin, menanamnya kembali dengan doa. Ia memasak
dengan hati-hati. Kakek makan dengan tenang. Tidak ada muntah. Ada syukur.
Dan di
luar rumah panggung itu, dunia tetap berisik. Hutan masih terancam. Jalan masih
berlubang. Proposal masih beredar. Namun di satu titik kecil, sebuah perut peka
telah mengajarkan cahaya. Sebuah kredo telah dipulihkan. Sebuah alarm telah
diaktifkan.
Paraduta
tahu, pekerjaan ini panjang. Tidak semua orang akan muntah pada pelanggaran
kecil. Tidak semua peringatan akan didengar. Tetapi selama masih ada
orang-orang yang berlatih hidup bersih dan halal yang memilih muntah lebih awal
daripada meledak kemudian, harapan tetap bernapas.
Ia
menutup catatannya dengan satu kalimat yang ia tulis pelan, seolah menaruhnya
di atas lidah dunia. Lebih baik kita muntah hari ini karena segenggam bayam,
daripada dunia meledak esok hari oleh rakus yang kita biarkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar