Muntah yang Mengajari Cahaya - Erwin Basrin

Breaking

Recent Posts

 photo Untitled-1_1.jpg

Jumat, 16 Januari 2026

Muntah yang Mengajari Cahaya

 


Perawi; Erwin Basrin

Siang itu datang tanpa tanda. Matahari berdiri tegak di atas atap seng, seperti hakim yang memandang dunia tanpa berkedip. Angin hampir tak bergerak. Daun-daun pisang di belakang rumah menggantung lesu, seakan kelelahan menyimpan rahasia panas. Di dalam rumah panggung tua yang lantainya telah licin oleh waktu, Kakek Syamsudin tiba-tiba muntah.

Bukan muntah orang sakit.

Bukan muntah karena masuk angin, atau perut yang berontak.

Muntah itu datang tenang, tanpa demam, tanpa nyeri, tanpa pusing.

Ia bangkit perlahan dari tikar pandan tempatnya biasa berbaring selepas zuhur. Wajahnya pucat, tetapi matanya tetap jernih. Ia melangkah ke serambi, menahan dadanya, lalu muntah dengan tertib seperti seseorang yang melepaskan sesuatu yang memang tak layak tinggal di dalam tubuh.

Paraduta yang sedang membelah kayu bakar di halaman mendengar suara itu. Ia terkejut. Kapak terhenti di udara. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Kakeknya jarang sekali sakit. Bahkan kata sakit hampir tak pernah punya tempat dalam kamus hidup lelaki tua itu.

Seumur hidupnya, Syamsudin hidup dengan aturan yang ia tetapkan sendiri. Aturan yang tak tertulis, tetapi tegas. Ia makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Ia minum sekadar memenuhi kebutuhan, bukan memuaskan lidah. Tak ada kopi berlebihan, tak ada gula berlebih, tak ada lauk yang dipilih demi gengsi atau selera zaman.

“Perut ini,” begitu ia sering berkata, “adalah ladang puji-pujian. Jangan ditanami benih yang tak jelas asalnya.”

Paraduta masuk ke rumah dengan langkah cemas. Kakeknya sudah duduk kembali, menyandarkan punggung ke tiang kayu. Napasnya teratur. Tidak tergesa, tidak terengah.

“Kek…?” suara Paraduta bergetar, setengah bertanya, setengah memohon.

Syamsudin mengangkat tangannya pelan, isyarat agar cucunya tenang.

“Aku baik-baik saja,” katanya. “Tubuhku tidak rusak. Tapi ada yang tak beres.”

Ia menutup mata sejenak. Di balik kelopak mata itu, pikirannya bekerja. Bertahun-tahun ia menjalani hidup dengan keteraturan yang nyaris asketik. Jam makan terjaga. Porsi terukur. Doa selalu mendahului suapan pertama. Ia tidak pernah memakan sesuatu yang statusnya abu-abu. Semua jelas, semua halal, semua didapat dengan cara yang ia pahami benar.

Maka pertanyaan itu muncul bukan sebagai panik, melainkan sebagai perenungan. Apa gerangan yang salah di dalam diriku, sehingga tubuh ini menolak makanan?

Ia menelusuri ingatan. Tidak ada masuk angin. Tidak ada perut melilit. Tidak ada sakit kepala. Pagi tadi ia bangun seperti biasa, shalat subuh, duduk di serambi, memandang kabut yang turun dari bukit, lalu membaca wirid pendek yang selalu ia ulang sejak muda.

Tak ada yang berubah.

Tak ada yang cacat.

Kecuali makan siang tadi.

Syamsudin membuka mata dan memandang Paraduta. Tatapannya tajam, tapi tidak menghakimi. Tatapan orang yang sedang mencari kebenaran, bukan kambing hitam.

“Duta,” katanya perlahan, “dari mana kau beli sayur yang kau masak tadi pagi?”

Pertanyaan itu jatuh seperti batu kecil ke dalam dada Paraduta. Ia tahu, di sanalah sumber kegelisahan. Ia tahu, kejujuran adalah satu-satunya jalan.

“Saya… agak kesiangan ke Pekan, Kek,” jawabnya pelan. “Sayur di pasar sudah habis. Pedagang sedikit, sebagian sudah pulang.”

Syamsudin mengangguk pelan. Ia mengenal Pekan atau pasar mingguan itu. Pasar kecil, berumur pendek, hidup hanya beberapa jam sejak fajar. Siapa terlambat, pulang dengan tangan kosong atau akal yang bekerja lebih cepat dari hati.

Paraduta menelan ludah. Ia melanjutkan.

“Di galangan sawah tetangga kita… ada bayam tumbuh subur. Saya petik segenggam. Saya pikir… itu cuma daun. Tidak apa-apa.”

Suara itu pecah sebelum sampai ke ujung kalimat.

Syamsudin menghela napas panjang. Tidak ada amarah di sana. Tidak ada suara tinggi. Hanya kesadaran yang mengendap, seperti air keruh yang akhirnya menemukan dasar.

“Sekarang aku tahu,” katanya pelan. “Tubuh ini tidak salah. Yang salah bukan pencernaan. Yang salah bukan niatmu memberi makan.”

Ia menepuk lututnya sendiri, seolah menegaskan.

“Yang salah adalah jalan makanan itu sampai ke piring.”

Paraduta menunduk. Dadanya terasa sesak. Ia ingin berkata banyak hal bahwa bayam itu tumbuh liar, bahwa ia tak berniat mencuri, bahwa itu hanya segenggam kecil. Tetapi kata-kata itu layu sebelum sempat tumbuh. Ia tahu, pembelaan tidak akan mengubah hakikat.

Syamsudin memandang cucunya lama. Waktu seperti melambat. Jam dinding berdetak dengan suara yang lebih keras dari biasanya.

“Kau tahu, Duta,” katanya kemudian, “aku tidak pernah sakit bukan karena tubuhku lebih kuat dari orang lain. Aku sehat karena aku menjaga apa yang masuk ke dalam diriku. Bukan hanya zatnya, tapi juga jalannya.”

Paraduta mengangkat kepala. Matanya berkaca-kaca.

“Makan dan minum bagiku,” lanjut Syamsudin, “hanya sarana memuji kebesaran Allah. Tidak lebih. Jika sarana itu tercemar, pujian pun tak sampai.”

Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan suara yang lebih dalam, seakan membaca sesuatu dari lapisan hidup yang lebih tua.

“Mengambil milik orang lain, apapun bentuknya, apapun jumlahnya, adalah haram.”

Kata haram itu tidak diucapkan keras. Justru karena itulah ia menghantam lebih dalam. Tidak seperti palu, melainkan seperti air yang meresap ke retakan batu.

Paraduta merasa wajahnya panas. Bukan karena dimarahi, tetapi karena disadarkan.

“Aku tahu kau tidak berniat jahat,” kata Syamsudin, seolah membaca isi hati cucunya. “Dan aku tidak menyalahkanmu. Tapi niat baik tidak pernah menghalalkan jalan yang salah.”

Ia lalu tersenyum kecil, senyum orang tua yang lebih memilih menanam daripada mencabut.

“Tubuh ini muntah bukan untuk menghukummu,” katanya. “Tubuh ini muntah untuk mengajarimu.”

Paraduta merasakan air mata jatuh satu-satu ke lantai. Ia teringat semua hal kecil yang sering dianggap sepele. Memetik buah di kebun orang tanpa izin, memotong jalan lewat sawah orang lain, meminjam tanpa bilang. Semua itu tiba-tiba berdiri sebagai barisan kesalahan yang selama ini berlindung di balik kata kecil.

“Maafkan saya, Kek,” katanya lirih.

Syamsudin mengangguk. “Aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kau meminta. Yang penting adalah janji yang kau buat setelah ini.”

Paraduta tidak menjawab. Ia hanya berjanji di dalam hatinya, janji yang tidak bersuara, tetapi berat. Janji yang kelak akan ia bawa ke mana pun ia melangkah.

Hari itu berlalu dengan sunyi yang berbeda. Tidak ada lagi muntah. Kakek Syamsudin kembali minum air hangat, membaca doa pendek, dan tidur siang seperti biasa. Tubuhnya pulih secepat datangnya gejala. Seolah apa yang keluar dari perutnya bukan makanan, melainkan sebuah pesan yang telah selesai disampaikan.

Malamnya, Paraduta duduk di serambi sendirian. Bulan menggantung rendah. Katak bersahutan di sawah. Ia memandang galangan tempat bayam itu tumbuh. Daun-daunnya bergoyang pelan tertiup angin malam.

Ia merasa malu, tetapi juga bersyukur. Tidak semua orang belajar dari muntah seorang kakek. Tidak semua orang diberi guru yang tubuhnya sendiri menjadi kitab.

Beberapa hari kemudian, Paraduta mendatangi tetangga pemilik sawah. Ia membawa beras, gula, dan seekor ayam kecil. Ia meminta maaf. Tetangganya tertawa kecil dan berkata, “Bayam itu tumbuh sendiri, Nak.” Tetapi Paraduta tetap menyerahkan bingkisan itu.

Karena yang ingin ia bayar bukan daun bayam, melainkan pelajaran.

Tahun-tahun berlalu. Paraduta tumbuh menjadi lelaki yang kakinya melangkah jauh, pikirannya menyusuri banyak jalan. Hukum, tanah, adat, dan perlawanan. Ia bertemu banyak orang, mendengar banyak cerita, dan menyaksikan banyak ketidakadilan yang dibungkus rapi oleh kata-kata besar.

Namun setiap kali ia berhadapan dengan pilihan, mengambil jalan pintas atau bertahan pada yang benar, wajah Kakek Syamsudin selalu muncul. Wajah seorang lelaki tua yang muntah bukan karena sakit, tetapi karena prinsip.

Ia belajar bahwa integritas tidak selalu diuji di meja besar, tetapi sering diuji di dapur kecil. Bahwa keadilan tidak selalu lahir dari pidato panjang, tetapi dari segenggam daun yang seharusnya tidak dipetik.

Pada suatu kesempatan, ketika Paraduta ditanya oleh seorang kawan tentang apa arti halal baginya, ia menjawab tanpa berpikir Panjang.

“Halal bukan hanya soal apa yang kita makan. Halal adalah tentang bagaimana dunia mempercayai kita.”

Dan jauh di dalam hatinya, ia tahu, kalimat itu berasal dari siang yang panas, dari muntah yang sunyi, dan dari suara Kakek Syamsudin yang lembut tapi tak tergoyahkan.

Sejak hari muntah itu, Paraduta melihat Kakek Syamsudin dengan cara yang berbeda. Bukan karena tubuh renta lelaki tua itu rapuh, justru sebaliknya. Ia melihat kekuatan yang tidak berteriak, kekuatan yang bekerja diam-diam, seperti akar yang menahan bukit agar tidak runtuh. Kakek dan para sufi, begitu Paraduta mulai menyebut mereka dalam benaknya, memang lain. Mereka tidak mengejar kesaktian, tidak mengoleksi karomah, tidak memburu pujian. Mereka berlatih hidup. Menata niat, membersihkan jalan, memilih yang halal, menjauhi yang syubhat, apalagi yang haram.

Latihan itu bukan sekali jadi. Ia adalah kerja seumur hidup. Seperti menggosok kaca setiap pagi agar cahaya bisa masuk tanpa distorsi. Seperti menyapu halaman meski angin akan kembali menaburkan daun. Kakek Syamsudin melakukannya dengan disiplin yang nyaris tak terlihat. Bangun sebelum subuh, berwudhu pelan, shalat dengan bacaan yang tidak panjang tapi penuh jeda, lalu duduk memandangi langit yang masih biru tua. Ia mendengarkan dunia, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyelaraskan diri.

“Kepekaan,” kata Kakek suatu pagi ketika Paraduta bertanya mengapa para sufi tampak mudah terguncang oleh hal-hal kecil. “Kepekaan itu buah dari kebersihan. Kalau engkau membersihkan jalan hidupmu, engkau akan merasa bila ada duri sekecil apa pun.”

Paraduta mengingat muntah itu. Betapa sedikitnya bayam. Hanya segenggam saja. Betapa kecilnya pelanggaran, tanpa izin, tanpa niat jahat. Namun tubuh Kakek bereaksi seperti lonceng yang dipukul. Mungkin benar, pikir Paraduta, perutnya diguncangkan dan isinya otomatis dimuntahkan. Mungkin pula lingkungan sekitar yang terguncang adalah sebuah sinyal yang merambat dari dapur kecil ke jantung kehidupan.

Hari-hari berikutnya, Paraduta mulai memperhatikan hal-hal yang dulu luput. Ia melihat bagaimana Kakek memilih beras dari lumbung sendiri atau dari tetangga yang jelas asalnya. Ia melihat bagaimana Kakek menolak pemberian yang samar, meski dibungkus senyum. “Kalau ragu,” kata Kakek, “lebih baik tidak. Dunia tidak runtuh karena kita menolak satu suapan.”

Dari sana, pelajaran itu melebar. Paraduta mulai memahami bahwa harmoni di dalam diri, ketenangan yang membuat tidur nyenyak dan bangun ringan, sebagian ditentukan oleh ukuran halal-haram makanan. Bukan hanya zatnya, tetapi jalannya. Dan jika makanan adalah pintu, maka di balik pintu itu ada hubungan-hubungan. Dengan teman, tetangga, saudara, orang tua, suami-istri, anak-anak. Pintu yang sama. Jika pintu itu bengkok, rumah akan berderit.

Ia menyaksikan sendiri. Pada hari-hari ketika Kakek makan dengan tenang, rumah terasa lapang. Percakapan mengalir. Senyum muncul tanpa dipaksa. Pada hari-hari ketika ada keraguan bukan hanya soal makanan, tetapi soal berita, gosip, atau niat udara di rumah mengeras. Bukan karena ada yang marah, melainkan karena keseimbangan goyah. Seperti senar yang ditarik terlalu kencang.

“Kita sering lupa,” kata Kakek suatu sore, ketika mereka duduk di serambi dan menatap sawah yang menguning. “Atau kita memang tidak peduli. Halal-haram tidak lagi jadi kredo hidup. Halal dimakan, haram pun dihantam. Yang penting kenyang, yang penting cepat.”

Kata-kata itu menancap. Paraduta melihat sekelilingnya, melihat dunia yang berlari. Ia melihat hutan-hutan dibabat tanpa rasa bersalah. Kayu diangkut seperti memindahkan kursi. Isi perut bumi ditelan habis, seolah-olah ia warisan pribadi. Padahal, kata Kakek, hutan dan isi bumi bukan nenek moyang kita sendiri yang punya. Ia titipan. Ia amanah. Ia punya hak untuk bernapas.

Paraduta melihat jalanan yang dipoles aspal panas. Debu mengepul, lalu hujan turun. Jalan becek, berlubang-lubang. Orang mengeluh, tetapi tak ada yang bertanya. Aspal dari mana, kontrak ke mana, mutu ke mana. Ia melihat semen bangunan “ditelan” seperti pil, cepat, tanpa dikunyah. Gedung roboh, korban jatuh, berita berlalu. Proposal demi proposal disusun, dana demi dana diklaim untuk pemberdayaan dan pendampingan masyarakat rentan. Laporan rapi. Foto tersenyum. Namun masyarakat tetap rentan. Urusan umum dilupakan karena kelewat sibuk memikirkan diri sendiri.

Paraduta menelan ludah. Di kepalanya bergema satu pertanyaan yang sederhana dan mengerikan. “Mengapa kita tidak muntah?”

Ia mengajukan pertanyaan itu kepada Kakek. Mereka sedang menyeduh teh pahit. Uap naik perlahan.

Kakek Syamsudin menatap cangkirnya lama. “Itu pertanyaan yang berat,” katanya akhirnya. “Dan jawabannya tidak selalu baik.”

Ia mengangkat cangkir, menyesap, lalu meletakkannya kembali. “Tidak muntah bukan tanda berkah. Kadang itu tanda peringatan yang sangat lembut begitu lembut sampai kita tak merasakannya. Tubuh kita kebal. Jiwa kita tumpul. Kita terus menelan, menelan, menelan.”

Paraduta membayangkan perut raksasa dunia. Ia membayangkan kayu-kayu, semen utuh, aspal mendidih, proposal-proposal berlembar-lembar semuanya masuk, tidak dikeluarkan. Ia bergidik.

“Kalau peringatan lembut itu diabaikan,” lanjut Kakek, suaranya turun, “bisa saja suatu saat bukan cuma muntah biasa. Bisa meledak.”

Kata meledak jatuh seperti batu. Paraduta melihat kilasan. Banjir bandang membawa batang kayu, gedung runtuh, jalan ambles, konflik pecah, kemarahan menetes dari pori-pori kota. Dari perut terloncat dan keluar kayu-kayu, semen utuh, aspal yang masih mendidih. Bukan sebagai metafora belaka, melainkan sebagai kenyataan yang menuntut tebusan.

“Menakutkan,” bisik Paraduta.

“Karena itu,” kata Kakek, “para sufi berlatih peka. Bukan untuk jadi rapuh, tetapi untuk mencegah ledakan. Mereka ingin muntah lebih awal, muntah yang menyelamatkan.”

Paraduta terdiam. Ia memahami kini bahwa muntah Kakek bukan aib, bukan kelemahan. Ia adalah alarm. Sebuah sistem peringatan dini yang bekerja karena kebersihan dijaga. Karena jalur hidup tidak dipenuhi sumbatan. Karena hati tidak menoleransi keburukan, betapapun kecil.

Malam itu, Paraduta menulis. Ia menulis bukan untuk mengajar, melainkan untuk mengingatkan diri. Ia menulis tentang skala, bagaimana pelanggaran kecil yang dibiarkan menjadi kebiasaan, lalu menjadi sistem. Bagaimana sistem yang dibiarkan menjadi bencana. Ia menulis tentang kredo halal-haram yang bukan dogma kaku, melainkan kompas. Tanpa kompas, kapal cepat pun akan karam.

Hari-hari berikutnya, Paraduta mulai mempraktikkan apa yang ia tulis. Ia menolak jalan pintas, meski waktu mendesak. Ia memilih sumber yang jelas, meski mahal. Ia meminta izin, meski tampak sepele. Ia membayar utang kecil, meski tak ada yang menagih. Ia belajar mengatakan “tidak” pada proyek yang kabur, meski imbalannya menggiurkan.

Tak semua orang menyukai perubahan itu. Ada yang mengejeknya idealis. Ada yang menyebutnya sok suci. Paraduta mengingat wajah Kakek Syamsudin, tenang, tidak membela diri. Ia memilih diam, bekerja, dan membiarkan waktu menjadi saksi.

Suatu hari, seorang kawan lama datang membawa kabar. Peluang besar, dana besar, waktu singkat. “Semua orang melakukannya,” kata kawan itu. “Kalau kita tidak ambil, orang lain ambil.”

Paraduta menghela napas. Ia melihat lagi segenggam bayam. Ia melihat muntah yang mengajari cahaya. “Kalau semua orang melakukannya,” jawabnya pelan, “barangkali dunia sedang menunggu seseorang untuk berhenti.”

Kawan itu pergi dengan gelengan kepala. Paraduta tidak merasa menang. Ia hanya merasa ringan. Seperti meletakkan beban yang bukan miliknya.

Pada suatu sore, Kakek Syamsudin memanggil Paraduta. Mereka duduk berhadapan. “Aku senang melihatmu belajar,” kata Kakek. “Tapi ingat, jangan merasa lebih baik dari orang lain. Kepekaan bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menjaga.”

Paraduta mengangguk. “Aku takut,” katanya jujur. “Takut dunia benar-benar meledak.”

Kakek tersenyum samar. “Takut yang sehat itu perlu. Ia membuat kita berhati-hati. Tapi jangan biarkan takut membekukanmu. Tugasmu adalah menata dirimu dan lingkaran terdekatmu. Dari sana, gelombang kecil bisa jadi ombak yang menenangkan.”

Mereka diam. Senja turun. Burung pulang. Di kejauhan, suara azan mengalun, merajut waktu.

Malam itu, Paraduta bermimpi. Ia melihat perut besar, bukan perut manusia, melainkan perut dunia. Ia melihat makanan masuk. Kayu, semen, aspal, kertas proposal. Perut itu tegang, berkilat. Lalu, dari sudut kecil, muncul segenggam bayam. Perut bergetar. Alarm berbunyi. Dunia muntah bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menyelamatkan. Kayu-kayu keluar dan ditanam kembali. Semen dilelehkan ulang untuk bangunan yang kokoh. Aspal ditata ulang agar jalan aman. Kertas-kertas disederhanakan menjadi janji yang ditepati.

Paraduta terbangun dengan keringat dingin. Ia bersyukur mimpi itu bukan ramalan, melainkan peringatan.

Pagi harinya, ia menemui Kakek. Mereka minum air hangat. “Aku mengerti sekarang,” kata Paraduta. “Muntah itu bahasa.”

Kakek mengangguk. “Bahasa yang jarang kita pelajari. Karena kita lebih suka menelan daripada mendengar.”

Mereka tersenyum. Di halaman, daun bayam tumbuh lagi, kali ini di kebun sendiri. Paraduta memetiknya dengan izin, menanamnya kembali dengan doa. Ia memasak dengan hati-hati. Kakek makan dengan tenang. Tidak ada muntah. Ada syukur.

Dan di luar rumah panggung itu, dunia tetap berisik. Hutan masih terancam. Jalan masih berlubang. Proposal masih beredar. Namun di satu titik kecil, sebuah perut peka telah mengajarkan cahaya. Sebuah kredo telah dipulihkan. Sebuah alarm telah diaktifkan.

Paraduta tahu, pekerjaan ini panjang. Tidak semua orang akan muntah pada pelanggaran kecil. Tidak semua peringatan akan didengar. Tetapi selama masih ada orang-orang yang berlatih hidup bersih dan halal yang memilih muntah lebih awal daripada meledak kemudian, harapan tetap bernapas.

Ia menutup catatannya dengan satu kalimat yang ia tulis pelan, seolah menaruhnya di atas lidah dunia. Lebih baik kita muntah hari ini karena segenggam bayam, daripada dunia meledak esok hari oleh rakus yang kita biarkan.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar