Perawi: Erwin Basrin
Saya datang ke kondangan tetangga dengan
langkah yang sudah hafal medan. Gang sempit itu becek seperti biasa, bau
comberan bercampur minyak goreng menyambut sebelum salam diucapkan. Tenda biru
berdiri miring, organ tunggal sudah meraung meski sore belum benar-benar
matang, dan kursi plastik berjejer tak beraturan seolah siapa pun duduk di sana
harus siap menyesuaikan diri. Di pintu masuk, wajah-wajah akrab menyapa dengan senyum
lelah yang jujur, senyum orang-orang yang tahu bahwa pesta ini bukan sekadar
perayaan, melainkan pengumuman diam-diam tentang bagaimana kelas kami merayakan
cinta, dengan segala keterbatasan yang tak perlu disembunyikan.
Di antara langkah
yang harus hati-hati agar tidak terpeleset dan kertas undangan yang sudah lebih
dulu mengabarkan nasibnya, saya menyadari bahwa kondangan ini bekerja sebagai
bahasa sosial yang tak pernah diajarkan di sekolah. Sebelum saya duduk, sebelum
makanan disajikan, bahkan sebelum doa dibacakan, segalanya sudah berbicara. Tentang
ruang hidup yang menyempit, tentang pesta yang dirancang agar cukup bukan
berlebih dan tentang cinta yang sejak awal harus bernegosiasi dengan kelas. Di
sinilah undangan dan gang saling menguatkan maknanya. Yang satu memberi alamat,
yang lain memberi konteks, sama-sama menegaskan bahwa perayaan ini tidak pernah
netral, melainkan bagian dari cara hidup kami memahami kebahagiaan dalam
batas-batas yang sudah lama kami kenal.
Undangan itu datang
dengan cara yang sama seperti berita lain di kampung. Dilipat seadanya,
diselipkan di antara iklan galon dan brosur kredit motor. Kertasnya tipis,
hurufnya padat, nama mempelai dicetak miring seolah ingin tampak anggun,
padahal alamatnya sudah mengkhianati segalanya. Gang sempit, nomor rumah yang
sering tertukar, RT dan RW yang ditulis tangan, bukan diketik. Kondangan ini
bukan sekadar ajakan makan. Ia adalah penanda. Penanda siapa kita, dari mana
kita datang, dan sampai di mana hidup mengizinkan kita duduk.
Gang itu becek sejak
siang. Bukan karena hujan besar, melainkan karena air comberan yang tak pernah
menemukan jalan pulang. Selokan dangkal meluap, menggendong sisa-sisa dapur,
minyak jelantah, nasi basi, dan aroma yang tak punya nama. Tenda biru dipasang
setengah hati, tiangnya ditanam di tanah yang menyerah. Karpet merah yang
digelar di pintu masuk bukan karpet. Ia kain lusuh yang memerah karena
kenangan, bukan karena warna. Di ujung gang, spanduk bertuliskan “Selamat
Menempuh Hidup Baru” bergelantungan seperti doa yang kelelahan.
Organ tunggal mulai
berbunyi sebelum sore. Nadanya patah-patah, bukan karena lagu yang salah,
tetapi karena listrik yang sering padam, atau karena kabel yang sudah terlalu
sering disambung ulang. Penyanyinya berdiri di panggung kecil, sebenarnya hanya
papan triplek yang disangga bata. Suaranya naik turun, seperti hidup yang tak
pernah diberi tangga. Kadang fals, kadang tepat, tapi tak pernah dituntut
sempurna. Di sini, yang penting berbunyi. Yang penting ada suara. Diam adalah
kemewahan yang tak terjangkau.
Tempat duduk disusun
tanpa rencana. Kursi plastik biru, sebagian retak, sebagian kehilangan kaki karet.
Orang-orang duduk sambil menggeser, menawar ruang, meminjam sandaran. Anak-anak
berlarian, sandal mereka menampar genangan, membuat percikan kecil yang
mengotori celana tamu. Tidak ada yang marah. Marah butuh energi, dan energi di
gang ini disimpan untuk bertahan.
Di dapur, ibu-ibu
bergerak seperti mesin yang belajar dari kelelahan. Panci besar mendidih,
uapnya membawa aroma santan yang dicampur kekhawatiran. Nasi dimasak bertahap,
karena gas tak pernah pasti. Ayam digoreng tipis-tipis, bukan untuk menipu,
tapi agar cukup. Sambal diulek bersama obrolan tentang harga beras, tentang
cicilan yang belum lunas, tentang anak yang baru saja putus sekolah. Semua hal
berat ditaruh di meja yang sama, disandingkan dengan piring plastik dan sendok
yang warnanya sudah pudar.
Pengantin duduk di
pelaminan sederhana. Hiasannya bunga plastik, disusun rapat untuk menutupi
dinding yang mengelupas. Wajah mereka tegang, bukan karena gugup, tetapi karena
tahu pesta ini bukan sekadar perayaan, melainkan pengumuman. Pengumuman bahwa
mereka kini resmi memasuki dunia yang sama, dunia kerja tak menentu, gaji
pas-pasan, dan mimpi yang harus dibagi dua agar muat di rumah kontrakan. Senyum
mereka lebar, karena senyum adalah satu-satunya hal yang bisa dipamerkan tanpa
biaya.
Sumbangan ditaruh di
kotak kardus yang dibungkus kertas kado. Angkanya kecil-kecil, tapi jumlahnya
jujur. Setiap lembar uang adalah potongan waktu, potongan tenaga, potongan
kesabaran. Orang-orang menulis nama dengan pulpen yang sering macet, seolah
takut jika namanya tak terbaca, pemberiannya akan sia-sia. Di sini, memberi
bukan tentang berlebih. Memberi adalah tentang ikut bertahan.
Nyanyian berganti.
Lagu dangdut lama, lagu yang sudah hapal di luar kepala. Orang-orang ikut
menyanyi, bukan untuk menunjukkan suara, tapi untuk mengikat kebersamaan.
Mereka tahu nada-nada ini sejak kecil, dari radio tetangga, dari hajatan lain
yang tak pernah jauh beda. Liriknya tentang cinta, tentang janji, tentang
perpisahan. Semua terdengar ironis, tapi tidak sinis. Ironi adalah bahasa
sehari-hari di gang ini.
Sementara itu, di
seberang kota, jauh, tapi masih dalam satu kalender kondangan lain berlangsung.
Undangannya tebal, kertasnya dingin, hurufnya elegan. Amplopnya berat, bukan
oleh isi, tapi oleh wibawa. Lokasinya gedung. Bukan sekadar gedung, melainkan
ruang steril yang dilapisi pendingin udara dan janji-janji profesionalisme.
Parkiran luas, dijaga petugas. Sepatu tamu mengilap, langkah mereka senyap.
Di pintu masuk, buku
tamu dijaga resepsionis. Senyum mereka terlatih. Tamu dipersilakan, bukan
diajak. Di dalam, kursi empuk disusun simetris. Tidak ada yang berebut ruang.
Semua orang tahu di mana harus duduk. Musik bukan organ tunggal, ia orkestra
kecil, atau setidaknya band dengan tata suara yang memanjakan. Penyanyinya tak
pernah fals, karena fals adalah kesalahan yang mahal.
Catering tersaji
berlapis. Hidangan datang dalam urutan yang direncanakan. Ada salad yang
namanya asing, sup yang warnanya bening, daging yang dimasak tanpa tulang.
Pramusaji bergerak cepat, seragam mereka rapi. Tidak ada piring plastik. Tidak
ada sendok pudar. Tidak ada kecemasan tentang cukup atau tidak. Yang ada adalah
pilihan. Mau yang ini atau itu.
Pengantin di gedung
berdiri di pelaminan megah. Lampu menyorot wajah mereka, kamera menangkap
setiap sudut. Senyum mereka juga lebar, tapi senyum ini punya konteks berbeda.
Di baliknya ada perencanaan, ada investasi, ada masa depan yang dipetakan.
Mereka akan memulai hidup di rumah yang alamatnya jelas, dengan pekerjaan yang
kontraknya tertulis. Mimpi mereka tak perlu dibagi dua agar muat. Mimpi mereka
diberi ruang sendiri.
Amplop sumbangan di
gedung lebih berat. Angkanya lebih besar, namanya ditulis rapi. Memberi di sini
adalah etiket, bukan pengorbanan. Tidak ada rasa kehilangan. Ada rasa menjaga
relasi. Uang berfungsi sebagai bahasa yang sopan, bukan jeritan.
Di gang sempit,
hujan turun malam hari. Tenda bocor di beberapa titik. Orang-orang menggeser
kursi, mengangkat kaki. Penyanyi terus bernyanyi, suaranya beradu dengan
rintik. Organ tunggal berderak, tapi bertahan. Anak-anak tidur di pangkuan,
wajah mereka damai sejenak. Pesta tidak berhenti karena hujan. Pesta berhenti
karena waktu dan tenaga habis.
Di gedung, pesta
berakhir tepat waktu. Jadwal ditegakkan. Lampu dipadamkan satu per satu. Tamu
pulang dengan mobil, membawa goodie bag yang isinya manis. Besok, foto-foto
akan diunggah. Tagar dipilih. Cerita ditulis ulang dengan filter.
Kondangan, pada
akhirnya, adalah cermin. Ia memantulkan lebih dari sekadar cinta. Ia
memantulkan struktur. Di gang, cinta dipeluk bersama keterbatasan. Di gedung,
cinta dirayakan bersama kelimpahan. Keduanya sah, kata orang. Tapi sah tidak
selalu adil.
Di gang, konflik
kecil muncul dan hilang. Kursi yang hilang, piring yang tertukar, lagu yang
diulang. Semua diselesaikan dengan tawa lelah. Di gedung, konflik disembunyikan
oleh profesionalisme. Jika ada, ia ditangani di belakang layar. Tidak ada yang
perlu tahu.
Seorang bapak di
gang berdiri lama di depan pelaminan. Ia menghitung tamu dengan mata, bukan
dengan daftar. Ia mengangguk pada setiap orang yang datang, mengingat wajah,
mengingat nama. Ia tahu, suatu hari nanti, ia akan menerima undangan dari
mereka. Roda itu berputar, lambat tapi pasti. Kondangan adalah ekonomi
solidaritas. Hari ini memberi, besok berharap.
Di gedung, relasi bekerja
lain. Undangan adalah jaringan. Hari ini hadir, besok diingat. Ada kartu nama
yang berpindah tangan. Ada janji makan siang. Kondangan adalah ekonomi
reputasi.
Di gang, doa dibaca
pelan. Tidak ada pengeras suara yang megah. Doa itu pendek, tapi penuh. Mereka
mendoakan agar rumah tangga kuat, karena badai pasti datang. Mereka tahu badai
itu. Mereka sudah lama hidup di bawah hujan.
Di gedung, doa
dibaca formal. Mikrofon jernih. Kata-katanya panjang, indah. Mereka mendoakan
kebahagiaan, keberhasilan, keberkahan. Mereka percaya, doa itu akan menemukan
jalannya.
Malam makin larut.
Di gang, sisa makanan dibagi. Tidak ada yang terbuang. Setiap bungkus adalah
bukti bahwa pesta ini berarti. Orang-orang pulang dengan langkah hati-hati,
menghindari genangan. Gang kembali sunyi, tapi tidak kosong. Ada sisa-sisa tawa
yang menempel di dinding.
Di gedung, sisa
makanan dikemas profesional. Ada yang dibawa pulang, ada yang entah ke mana.
Gedung kembali steril, seolah tidak pernah ada perayaan.
Kondangan bukan
sekadar pesta. Ia adalah pelajaran diam-diam tentang kelas. Tentang siapa yang
harus bersuara keras agar didengar, dan siapa yang cukup berbisik. Tentang
siapa yang harus berbagi sempit, dan siapa yang bisa memilih luas. Tentang
siapa yang menari di becek, dan siapa yang melangkah di lantai mengilap.
Jika cinta adalah
janji, maka kondangan adalah kontrak sosial yang tak tertulis. Di gang, kontrak
itu berbunyi. Kita saling jaga, karena tidak ada yang lain. Di gedung, kontrak
itu berbunyi. Kita saling kenal, karena suatu saat berguna.
Tidak ada yang salah
mencintai. Yang perlu dipertanyakan adalah sistem yang membuat cinta harus
merayakan diri dengan cara yang begitu berbeda. Gang dan gedung hidup di kota
yang sama, tapi hukum-hukum yang mengatur langkah mereka berbeda. Satu bertahan
dengan kebersamaan, yang lain melaju dengan kepastian.
Mungkin suatu hari,
gang akan punya gedung. Mungkin suatu hari, gedung akan belajar tentang gang.
Tapi hari ini, kondangan masih memisahkan kita dengan jelas. Ia memanggil kita
untuk datang, duduk, dan makan sambil diam-diam menempatkan kita di peta yang
tak pernah kita gambar sendiri.
Dan ketika undangan
berikutnya datang, kita akan tahu, bahkan sebelum membaca alamatnya, di mana
kita akan berdiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar