Kondangan dan Peta Kelas - Erwin Basrin

Breaking

Recent Posts

 photo Untitled-1_1.jpg

Minggu, 25 Januari 2026

Kondangan dan Peta Kelas

 


Perawi: Erwin Basrin


Saya datang ke kondangan tetangga dengan langkah yang sudah hafal medan. Gang sempit itu becek seperti biasa, bau comberan bercampur minyak goreng menyambut sebelum salam diucapkan. Tenda biru berdiri miring, organ tunggal sudah meraung meski sore belum benar-benar matang, dan kursi plastik berjejer tak beraturan seolah siapa pun duduk di sana harus siap menyesuaikan diri. Di pintu masuk, wajah-wajah akrab menyapa dengan senyum lelah yang jujur, senyum orang-orang yang tahu bahwa pesta ini bukan sekadar perayaan, melainkan pengumuman diam-diam tentang bagaimana kelas kami merayakan cinta, dengan segala keterbatasan yang tak perlu disembunyikan.


Di antara langkah yang harus hati-hati agar tidak terpeleset dan kertas undangan yang sudah lebih dulu mengabarkan nasibnya, saya menyadari bahwa kondangan ini bekerja sebagai bahasa sosial yang tak pernah diajarkan di sekolah. Sebelum saya duduk, sebelum makanan disajikan, bahkan sebelum doa dibacakan, segalanya sudah berbicara. Tentang ruang hidup yang menyempit, tentang pesta yang dirancang agar cukup bukan berlebih dan tentang cinta yang sejak awal harus bernegosiasi dengan kelas. Di sinilah undangan dan gang saling menguatkan maknanya. Yang satu memberi alamat, yang lain memberi konteks, sama-sama menegaskan bahwa perayaan ini tidak pernah netral, melainkan bagian dari cara hidup kami memahami kebahagiaan dalam batas-batas yang sudah lama kami kenal.


Undangan itu datang dengan cara yang sama seperti berita lain di kampung. Dilipat seadanya, diselipkan di antara iklan galon dan brosur kredit motor. Kertasnya tipis, hurufnya padat, nama mempelai dicetak miring seolah ingin tampak anggun, padahal alamatnya sudah mengkhianati segalanya. Gang sempit, nomor rumah yang sering tertukar, RT dan RW yang ditulis tangan, bukan diketik. Kondangan ini bukan sekadar ajakan makan. Ia adalah penanda. Penanda siapa kita, dari mana kita datang, dan sampai di mana hidup mengizinkan kita duduk.


Gang itu becek sejak siang. Bukan karena hujan besar, melainkan karena air comberan yang tak pernah menemukan jalan pulang. Selokan dangkal meluap, menggendong sisa-sisa dapur, minyak jelantah, nasi basi, dan aroma yang tak punya nama. Tenda biru dipasang setengah hati, tiangnya ditanam di tanah yang menyerah. Karpet merah yang digelar di pintu masuk bukan karpet. Ia kain lusuh yang memerah karena kenangan, bukan karena warna. Di ujung gang, spanduk bertuliskan “Selamat Menempuh Hidup Baru” bergelantungan seperti doa yang kelelahan.


Organ tunggal mulai berbunyi sebelum sore. Nadanya patah-patah, bukan karena lagu yang salah, tetapi karena listrik yang sering padam, atau karena kabel yang sudah terlalu sering disambung ulang. Penyanyinya berdiri di panggung kecil, sebenarnya hanya papan triplek yang disangga bata. Suaranya naik turun, seperti hidup yang tak pernah diberi tangga. Kadang fals, kadang tepat, tapi tak pernah dituntut sempurna. Di sini, yang penting berbunyi. Yang penting ada suara. Diam adalah kemewahan yang tak terjangkau.


Tempat duduk disusun tanpa rencana. Kursi plastik biru, sebagian retak, sebagian kehilangan kaki karet. Orang-orang duduk sambil menggeser, menawar ruang, meminjam sandaran. Anak-anak berlarian, sandal mereka menampar genangan, membuat percikan kecil yang mengotori celana tamu. Tidak ada yang marah. Marah butuh energi, dan energi di gang ini disimpan untuk bertahan.


Di dapur, ibu-ibu bergerak seperti mesin yang belajar dari kelelahan. Panci besar mendidih, uapnya membawa aroma santan yang dicampur kekhawatiran. Nasi dimasak bertahap, karena gas tak pernah pasti. Ayam digoreng tipis-tipis, bukan untuk menipu, tapi agar cukup. Sambal diulek bersama obrolan tentang harga beras, tentang cicilan yang belum lunas, tentang anak yang baru saja putus sekolah. Semua hal berat ditaruh di meja yang sama, disandingkan dengan piring plastik dan sendok yang warnanya sudah pudar.


Pengantin duduk di pelaminan sederhana. Hiasannya bunga plastik, disusun rapat untuk menutupi dinding yang mengelupas. Wajah mereka tegang, bukan karena gugup, tetapi karena tahu pesta ini bukan sekadar perayaan, melainkan pengumuman. Pengumuman bahwa mereka kini resmi memasuki dunia yang sama, dunia kerja tak menentu, gaji pas-pasan, dan mimpi yang harus dibagi dua agar muat di rumah kontrakan. Senyum mereka lebar, karena senyum adalah satu-satunya hal yang bisa dipamerkan tanpa biaya.


Sumbangan ditaruh di kotak kardus yang dibungkus kertas kado. Angkanya kecil-kecil, tapi jumlahnya jujur. Setiap lembar uang adalah potongan waktu, potongan tenaga, potongan kesabaran. Orang-orang menulis nama dengan pulpen yang sering macet, seolah takut jika namanya tak terbaca, pemberiannya akan sia-sia. Di sini, memberi bukan tentang berlebih. Memberi adalah tentang ikut bertahan.


Nyanyian berganti. Lagu dangdut lama, lagu yang sudah hapal di luar kepala. Orang-orang ikut menyanyi, bukan untuk menunjukkan suara, tapi untuk mengikat kebersamaan. Mereka tahu nada-nada ini sejak kecil, dari radio tetangga, dari hajatan lain yang tak pernah jauh beda. Liriknya tentang cinta, tentang janji, tentang perpisahan. Semua terdengar ironis, tapi tidak sinis. Ironi adalah bahasa sehari-hari di gang ini.


Sementara itu, di seberang kota, jauh, tapi masih dalam satu kalender kondangan lain berlangsung. Undangannya tebal, kertasnya dingin, hurufnya elegan. Amplopnya berat, bukan oleh isi, tapi oleh wibawa. Lokasinya gedung. Bukan sekadar gedung, melainkan ruang steril yang dilapisi pendingin udara dan janji-janji profesionalisme. Parkiran luas, dijaga petugas. Sepatu tamu mengilap, langkah mereka senyap.


Di pintu masuk, buku tamu dijaga resepsionis. Senyum mereka terlatih. Tamu dipersilakan, bukan diajak. Di dalam, kursi empuk disusun simetris. Tidak ada yang berebut ruang. Semua orang tahu di mana harus duduk. Musik bukan organ tunggal, ia orkestra kecil, atau setidaknya band dengan tata suara yang memanjakan. Penyanyinya tak pernah fals, karena fals adalah kesalahan yang mahal.


Catering tersaji berlapis. Hidangan datang dalam urutan yang direncanakan. Ada salad yang namanya asing, sup yang warnanya bening, daging yang dimasak tanpa tulang. Pramusaji bergerak cepat, seragam mereka rapi. Tidak ada piring plastik. Tidak ada sendok pudar. Tidak ada kecemasan tentang cukup atau tidak. Yang ada adalah pilihan. Mau yang ini atau itu.


Pengantin di gedung berdiri di pelaminan megah. Lampu menyorot wajah mereka, kamera menangkap setiap sudut. Senyum mereka juga lebar, tapi senyum ini punya konteks berbeda. Di baliknya ada perencanaan, ada investasi, ada masa depan yang dipetakan. Mereka akan memulai hidup di rumah yang alamatnya jelas, dengan pekerjaan yang kontraknya tertulis. Mimpi mereka tak perlu dibagi dua agar muat. Mimpi mereka diberi ruang sendiri.


Amplop sumbangan di gedung lebih berat. Angkanya lebih besar, namanya ditulis rapi. Memberi di sini adalah etiket, bukan pengorbanan. Tidak ada rasa kehilangan. Ada rasa menjaga relasi. Uang berfungsi sebagai bahasa yang sopan, bukan jeritan.


Di gang sempit, hujan turun malam hari. Tenda bocor di beberapa titik. Orang-orang menggeser kursi, mengangkat kaki. Penyanyi terus bernyanyi, suaranya beradu dengan rintik. Organ tunggal berderak, tapi bertahan. Anak-anak tidur di pangkuan, wajah mereka damai sejenak. Pesta tidak berhenti karena hujan. Pesta berhenti karena waktu dan tenaga habis.


Di gedung, pesta berakhir tepat waktu. Jadwal ditegakkan. Lampu dipadamkan satu per satu. Tamu pulang dengan mobil, membawa goodie bag yang isinya manis. Besok, foto-foto akan diunggah. Tagar dipilih. Cerita ditulis ulang dengan filter.


Kondangan, pada akhirnya, adalah cermin. Ia memantulkan lebih dari sekadar cinta. Ia memantulkan struktur. Di gang, cinta dipeluk bersama keterbatasan. Di gedung, cinta dirayakan bersama kelimpahan. Keduanya sah, kata orang. Tapi sah tidak selalu adil.


Di gang, konflik kecil muncul dan hilang. Kursi yang hilang, piring yang tertukar, lagu yang diulang. Semua diselesaikan dengan tawa lelah. Di gedung, konflik disembunyikan oleh profesionalisme. Jika ada, ia ditangani di belakang layar. Tidak ada yang perlu tahu.


Seorang bapak di gang berdiri lama di depan pelaminan. Ia menghitung tamu dengan mata, bukan dengan daftar. Ia mengangguk pada setiap orang yang datang, mengingat wajah, mengingat nama. Ia tahu, suatu hari nanti, ia akan menerima undangan dari mereka. Roda itu berputar, lambat tapi pasti. Kondangan adalah ekonomi solidaritas. Hari ini memberi, besok berharap.


Di gedung, relasi bekerja lain. Undangan adalah jaringan. Hari ini hadir, besok diingat. Ada kartu nama yang berpindah tangan. Ada janji makan siang. Kondangan adalah ekonomi reputasi.


Di gang, doa dibaca pelan. Tidak ada pengeras suara yang megah. Doa itu pendek, tapi penuh. Mereka mendoakan agar rumah tangga kuat, karena badai pasti datang. Mereka tahu badai itu. Mereka sudah lama hidup di bawah hujan.


Di gedung, doa dibaca formal. Mikrofon jernih. Kata-katanya panjang, indah. Mereka mendoakan kebahagiaan, keberhasilan, keberkahan. Mereka percaya, doa itu akan menemukan jalannya.


Malam makin larut. Di gang, sisa makanan dibagi. Tidak ada yang terbuang. Setiap bungkus adalah bukti bahwa pesta ini berarti. Orang-orang pulang dengan langkah hati-hati, menghindari genangan. Gang kembali sunyi, tapi tidak kosong. Ada sisa-sisa tawa yang menempel di dinding.


Di gedung, sisa makanan dikemas profesional. Ada yang dibawa pulang, ada yang entah ke mana. Gedung kembali steril, seolah tidak pernah ada perayaan.


Kondangan bukan sekadar pesta. Ia adalah pelajaran diam-diam tentang kelas. Tentang siapa yang harus bersuara keras agar didengar, dan siapa yang cukup berbisik. Tentang siapa yang harus berbagi sempit, dan siapa yang bisa memilih luas. Tentang siapa yang menari di becek, dan siapa yang melangkah di lantai mengilap.


Jika cinta adalah janji, maka kondangan adalah kontrak sosial yang tak tertulis. Di gang, kontrak itu berbunyi. Kita saling jaga, karena tidak ada yang lain. Di gedung, kontrak itu berbunyi. Kita saling kenal, karena suatu saat berguna.


Tidak ada yang salah mencintai. Yang perlu dipertanyakan adalah sistem yang membuat cinta harus merayakan diri dengan cara yang begitu berbeda. Gang dan gedung hidup di kota yang sama, tapi hukum-hukum yang mengatur langkah mereka berbeda. Satu bertahan dengan kebersamaan, yang lain melaju dengan kepastian.


Mungkin suatu hari, gang akan punya gedung. Mungkin suatu hari, gedung akan belajar tentang gang. Tapi hari ini, kondangan masih memisahkan kita dengan jelas. Ia memanggil kita untuk datang, duduk, dan makan sambil diam-diam menempatkan kita di peta yang tak pernah kita gambar sendiri.


Dan ketika undangan berikutnya datang, kita akan tahu, bahkan sebelum membaca alamatnya, di mana kita akan berdiri.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar