Pergulatan Moral dan Eksistensial dalam Crime and Punishment - Erwin Basrin

Breaking

Recent Posts

 photo Untitled-1_1.jpg

Kamis, 31 Juli 2025

Pergulatan Moral dan Eksistensial dalam Crime and Punishment




Ilustrasi karya Mikhail Klodt (1874) memperlihatkan Raskolnikov berbincang dengan Semyon Marmeladov, seorang pemabuk yang ditemuinya di sebuah kedai. Adegan ini menjadi salah satu pemicu pergulatan batin Raskolnikov, yang merasa iba namun tak berdaya menghadapi penderitaan di sekitarnya. 


Novel Crime and Punishment (diterjemahkan sebagai Kejahatan dan Hukuman) karya Fyodor Dostoevsky adalah sebuah klasik sastra yang penuh refleksi mendalam tentang moralitas dan keberadaan manusia. Berlatar St. Petersburg abad ke-19 yang diliputi kemiskinan dan kesenjangan sosial, novel ini mengisahkan pemuda miskin bernama Rodion Raskolnikov yang melakukan pembunuhan dan kemudian terjebak dalam pergulatan batin yang hebat. Melalui kisah Raskolnikov, Dostoevsky mengajak pembaca merenungkan dilema moral tentang kejahatan dan hukuman, rasa bersalah, serta upaya seseorang mencari makna hidup dan penebusan atas dosa.


Raskolnikov digambarkan sebagai mantan mahasiswa cerdas namun hidup dalam kemiskinan dan keterasingan. Keputusasaan dan kondisi hidup yang keras mendorongnya merencanakan sebuah “eksperimen” moral. Ia memutuskan untuk membunuh seorang rentenir tua yang dianggapnya jahat dan menindas orang miskin, dengan tujuan merampas hartanya demi kebaikan yang lebih besar. Raskolnikov berkhayal bahwa dengan uang hasil kejahatan itu, ia dapat menolong keluarganya dan melanjutkan pendidikannya untuk kelak berbuat banyak bagi sesama. 


Singkat cerita, ia pun melakukan pembunuhan tersebut, bahkan tanpa sengaja turut membunuh adik perempuan sang rentenir yang tak berdosa. Segera setelah aksi mengerikan itu, Raskolnikov dilanda kekacauan batin yang luar biasa. Alih-alih merasa lega, ia justru dicekam ketakutan, kebingungan, dan rasa jijik terhadap dirinya sendiri. Raskolnikov jatuh sakit demam dan terganggu jiwanya. Rasa bersalah yang menghantui dirinya begitu hebat hingga mengguncang kesehatan mental dan fisiknya. Inilah awal dari hukuman batin yang harus ia tanggung sebelum hukuman hukum dijatuhkan, suatu siksaan psikologis akibat nurani yang tidak bisa dibungkam.


Sejak saat itu, hidup Raskolnikov berubah menjadi pergulatan terus-menerus antara kesombongan rasional dan suara hati nurani. Di satu sisi, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa tindakannya benar secara prinsip bahwa ia melakukannya demi tujuan mulia. Di sisi lain, setiap kali ia mencoba membenarkan pembunuhan tersebut, perasaan bersalah segera menyeruak dan membuatnya menderita. Ia mengalami paranoia dan ketakutan terus-menerus. Ia merasa seolah-olah dibayangi kecurigaan dan hukuman di setiap sudut. Tidurnya terganggu mimpi-mimpi buruk, dan sikapnya menjadi labil, terkadang gelisah tak menentu, terkadang apatis tenggelam dalam pikirannya sendiri. Pergulatan batin inilah fokus utama novel Crime and Punishment. Bukan tentang kejahatannya semata atau hukuman legal yang menanti, tetapi tentang siksa moral dan konflik psikologis akibat perbuatan dosa. Dostoevsky dengan brilian menunjukkan bahwa hukuman terberat bagi Raskolnikov adalah hukuman dari hatinya sendiri.


Sebelum melakukan kejahatannya, Raskolnikov membentuk suatu teori filsafat pribadi yang ia gunakan untuk membenarkan rencananya. Ia membagi manusia ke dalam dua golongan: “orang biasa” yang harus taat pada hukum dan “orang luar biasa” atau manusia unggul yang memiliki hak istimewa untuk melanggar hukum demi tujuan besar. Menurut teori ini, tokoh-tokoh jenius dalam sejarah (semacam Napoleon, yang dikagumi Raskolnikov) konon boleh saja melakukan tindakan amoral atau kekerasan asalkan hasil akhirnya bermanfaat bagi umat manusia. Raskolnikov meyakini dirinya termasuk golongan luar biasa ini, sehingga ia merasa berhak “melampaui” hukum moral demi kebaikan yang lebih tinggi. Sang rentenir tua baginya tak lebih dari “kutu” masyarakat yang pantas disingkirkan demi kesejahteraan orang banyak. Bahkan, ia berangan-angan menggunakan uang hasil kejahatan untuk menolong banyak orang yang membutuhkan, seolah-olah pembunuhan itu adalah pengorbanan kecil untuk tujuan kemanusiaan yang agung.


Namun, realitas pasca-pembunuhan justru menggugat habis teori Raskolnikov tersebut. Segera terbukti bahwa ia tak mampu menanggung beban moral perbuatannya. Nurani Raskolnikov menolak tunduk pada justifikasi intelektual yang dingin. Setiap usaha rasionalisasi “aku melakukan ini untuk kebaikan orang banyak” dibalas oleh gelombang rasa bersalah yang menyesakkan dada. Dalam hati kecilnya, Raskolnikov menyadari bahwa ia telah melanggar kodrat moral yang melekat dalam diri manusia. Ia bukanlah “manusia super” kebal dosa. Ia adalah seorang pemuda biasa yang penuh belas kasihan dan simpati, yang kini tersiksa karena telah menumpahkan darah orang lain. 


Teori manusia unggul yang diagung-agungkannya mulai runtuh diterjang kenyataan bahwa tak ada tujuan mulia yang benar-benar bisa membenarkan tindakan sekeji itu. Melalui potret ini, Dostoevsky seolah menegaskan bahwa moralitas bukan sekadar hitung-hitungan utilitarian dingin, melainkan sesuatu yang tertanam dalam nurani dan tidak bisa dinegasikan oleh akal arogan. Parahnya, kebebasan tanpa moral yang ia dambakan justru berujung pada hilangnya kebebasan batinnya, Raskolnikov terpenjara dalam rasa bersalah dan ketakutannya sendiri.


Di tengah keputusasaan dan keterasingannya, secercah harapan muncul bagi Raskolnikov melalui sosok Sofya Marmeladova (Sonya). Sonya adalah putri dari Marmeladov, si pemabuk yang ditemui Raskolnikov pada awal cerita. Gadis muda ini hidup dalam penderitaan, terpaksa menjadi pelacur demi menyokong keluarganya, namun ia tetap teguh memegang iman dan kebaikan hati. Sonya bak cermin nurani bagi Raskolnikov. Ketika akhirnya Raskolnikov, tak kuat menanggung rahasia dosanya sendiri, mengakui perbuatannya kepada Sonya, reaksi Sonya bukanlah kemarahan melainkan empati yang pilu. Ia menangis bersama Raskolnikov, ikut merasakan beban dosa yang ditanggung pemuda itu dalam doa dan cintanya yang tulus. Sonya pula yang mendorong Raskolnikov untuk menyerahkan diri kepada pihak berwajib, bukan semata agar ia dihukum, tetapi agar jiwanya mendapat kesempatan untuk tenang melalui kejujuran.
Penyerahan diri Raskolnikov kepada polisi menjadi titik balik penting dalam perjalanan moralnya. Dengan mengakui kejahatannya secara terbuka, Raskolnikov seolah memecahkan tembok kesombongan yang selama ini memisahkannya dari sesama. Ia menerima hukuman legal. kerja paksa di penjara Siberia dan inilah awal penebusannya. Ironisnya, hukuman fisik tersebut justru membawa kelegaan batin. Raskolnikov tak lagi hidup dalam kebohongan dan ketakutan akan tertangkap. Ia mulai merasakan kembali ikatan kemanusiaan yang sempat terputus. Seperti tergambar dalam novel, Raskolnikov sadar bahwa ia tidak sanggup selamanya terasing dalam kesendirian yang mengerikan. Kerinduannya untuk kembali menjadi “manusia di tengah manusia” itulah yang mendorongnya mengakui dosa. Melalui derita di penjara, perlahan Raskolnikov menemukan makna baru. Sebuah kerendahan hati dan kebutuhan akan kasih sayang dari sesama.


Peran Sonya sangatlah sentral dalam proses penebusan ini. Ia menjadi semacam malaikat pengasih yang setia mendampingi Raskolnikov, bahkan ikut ke pembuangan di Siberia. Melalui penderitaannya, Sonya membuat Raskolnikov sadar akan pentingnya cinta dan kemanusiaan, bahwa tak satu pun manusia layak dianggap sebagai “kutu” yang tak berharga. Cinta Sonya yang penuh pengorbanan menyentuh hati Raskolnikov yang beku, menyalakan kembali kemampuannya untuk merasa menyesal dan berharap. Di akhir novel, digambarkan bahwa dalam sanubari Raskolnikov mulai tumbuh benih penyesalan yang tulus dan cinta mendalam terhadap Sonya. Meskipun Dostoevsky menutup kisah ini dengan nada terbuka, ada isyarat jelas bahwa Raskolnikov akan mengalami “kelahiran kembali” secara spiritual, ia akan meniti jalan penebusan dengan menjalani hukumannya dan memaknai ulang hidupnya berlandaskan cinta serta iman. Penderitaan yang dilalui Raskolnikov berubah menjadi jalan penyucian diri. Bak ular yang melepaskan kulit lama, Raskolnikov meninggalkan keangkuhannya dan lahir kembali sebagai manusia baru yang menyadari kesalahannya.


Walau berlatar lebih dari seabad silam, pergumulan moral dan eksistensial Raskolnikov dalam Crime and Punishment tetap relevan dengan kondisi masyarakat modern. Pertanyaan inti novel ini apakah tujuan yang dianggap mulia dapat menghalalkan cara yang kejam? masih sering muncul di zaman sekarang. Kita kerap menjumpai perdebatan etis tentang “tujuan vs cara” dalam berbagai bidang. Di ranah politik atau aktivisme, misalnya, tak jarang ada yang merasa pembenaran moral untuk melakukan kekerasan atau pelanggaran hukum demi mencapai apa yang diyakini sebagai kebaikan lebih besar. Konsep “manusia unggul” ala Raskolnikov yang merasa dirinya di atas hukum mengingatkan kita pada fenomena orang berkuasa yang seolah kebal aturan. Dostoevsky melalui kisah Raskolnikov memberi peringatan abadi. Mengingkari nurani dan meremehkan nilai nyawa manusia demi ideologi apa pun akhirnya hanya akan menghancurkan jiwa pelakunya sendiri.


Pengalaman Raskolnikov menunjukkan pentingnya keadilan yang disertai penyesalan tulus dan pembaruan diri. Tokoh Sonya melambangkan kekuatan empati dan pengampunan. Sikap mau memaafkan serta memberi kesempatan kedua bagi yang tersesat dapat membuka jalan rekonsiliasi dan perbaikan hidup. Dalam dunia nyata, konsep keadilan restoratif yang menekankan pertobatan dan reintegrasi sejalan dengan pelajaran moral dari kisah Raskolnikov – bahwa hukuman sejati harus menyentuh hati dan mengubah perilaku, bukan sekadar membalas kejahatan.


Tak kalah penting, Crime and Punishment menyoroti dampak tekanan eksistensial dan isolasi sosial yang juga dialami banyak orang di era modern. Raskolnikov merasa terasing dan putus asa, kondisi yang jamak ditemui dalam kehidupan urban individualistis masa kini. Kisahnya mengingatkan bahwa ketika seseorang kehilangan pegangan makna hidup serta keterhubungan dengan sesama, ia menjadi rentan terjerumus secara moral. Nilai kejujuran, empati, dan tanggung jawab moral yang akhirnya memulihkan Raskolnikov merupakan kunci pula untuk menjawab kegelisahan eksistensial di zaman sekarang.


Novel Crime and Punishment menyuguhkan telaah mendalam nan humanis tentang jatuh bangunnya jiwa manusia dalam menghadapi dilema moral. Melalui perjuangan batin Raskolnikov, Dostoevsky menunjukkan bahwa pelarian dari suara hati nurani adalah sesuatu yang mustahil. Ke manapun seseorang pergi, suara moral itu akan terus mengikutinya dari dalam diri. Kebebasan tanpa moralitas hanyalah ilusi yang pasti runtuh di bawah beban rasa bersalah. Namun, Dostoevsky juga menyelipkan optimisme. Selalu ada jalan menuju penebusan. Penderitaan, penyesalan, cinta, dan iman dapat menjadi penuntun bagi jiwa yang tersesat untuk kembali menemukan makna hidupnya. Crime and Punishment tetap menjadi cermin yang relevan, memantulkan pertanyaan-pertanyaan moral abadi yang menggugah nurani kita semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar